Yang Diselamatkan Akal dan Budi Baik

IMG09135-20130111-1219 (1)

Daughter of Fortune

Penulis: Isabel Allende

Alih bahasa : Eko Indriantarto

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Desember 2009

552 halaman

***

Kegigihan Eliza Sommers dan Tao Chi’en pada bidang yang ditekuni mereka masing-masing, menjadi senjata paling ampuh yang menyelamatkan perut, bahkan nyawa mereka di tengah kebrutalan demam emas di California, pada 1849.

Eliza suka menulis, juga memasak. Perempuan belasan tahun yang gigih mempelajari segala macam resep masakan ini, selamat dari satu-satunya pilihan pekerjaan yang mungkin dilakukan perempuan pada masa itu: menjadi pelacur. Ia membuka restoran, juga menyediakan jasa menulis dan membacakan surat untuk para penambang emas yang rindu akut pada keluarga. Ia juga menuliskan pesan terakhir para terpidana mati yang bakal dihukum gantung.

Sementara Tao Chi’en, tabib dari Cina yang berlayar jauh ke barat tanpa rencana, terus tekun menyempurnakan ilmu pengobatannya dan berlatih menjadi manusia bijaksana. Ketika bangsa Asia menjadi warga kelas dua, ia justru menjadi laki-laki yang paling dihormati, oleh orang baik maupun para penjahat. Keilmuan dan keterampilannya mengobati, memudarkan perbedaan ras, budaya dan keterbatasan bahasa.  

Akal cerdas dan budi baik, menjadi bekal senjata paling ampuh dalam pengejaran obsesi diri masing-masing di California yang liar dan menganut hukum rimba. Kedua hal itu juga yang akhirnya menuntun dan merekatkan mereka satu sama lain. Meruntuhkan pengejaran terhadap obsesi bias yang tak berkesudahan. Membongkar dan mengganti tujuan.  Menjadi tujuan bersama yang berpegang pada kenyataan.

***

 (14) Eliza memutuskan bahwa semua usahanya mencari kebenaran sia-sia saja, karena apapun kenyataan sebenarnya, ia tak kuasa mengubah itu semua. Yang terpenting kini adalah perbuatanmu di dunia, bukannya dari mana asalmu.

(17) Bagi Jeremy Sommers, meskipun tak terlalu kaya, nama baik jauh lebih berharga daripada nyawa.

(117) Dan saat Tao Chi’en yang bijaksana mengenalkannya kepada kemungkinan reinkarnasi, Eliza yakin kisah yang sama telah berulang kali terjadi dalam hidupnya; jika sebelumnya ia sudah ribuan kali lahir dan akan lahir ribuan kali lagi pada masa mendatang, ia akan terus mencintai laki-laki itu dengan cara yang sama di dunia mana pun.

(180) “Aku pernah bilang kepadamu bahwa obsesi itu sangat keras kepala : obsesi itu menyusup hingga ke otaknya dan meremukkan hatinya. Banyak obsesi, tapi cinta adalah yang terburuk.

(198) “Orang-orang yang memiliki pikiran orisinil selalu dianggap sinting,” ujar Paulina.

(229) Kegiatan belajar tak lagi menjadi kewajiban, tapi telah menjadi hasrat. Setiap kali belajar hal baru, Tao akan menghadap gurunya dan berbagi pengetahuan dengan pria tua itu. “Semakin banyak kau belajar, semakin cepat kau tahu betapa terbatasnya pengetahuanmu,” ujar gurunya yang sudah jompo sembari tertawa.

Namun, ia juga mengingatkan muridnya tentang bahaya ketamakan dalam belajar, karena ketamakan juga dapat membelenggu seseorang seperti kerakusan terhadap makanan ataupun nafsu. “Orang bijak tak berhasrat; ia tidak menilai, ia tidak pernah membuat rencana, ia senantiasa menjaga pikirannya tetap terbuka dan hatinya tetap tentram,” ujarnya berkali-kali.

(230) Bukankah sudah kuperingatkan ribuan kali bahwa dosa terburuk di Cina adalah judi dan pelacuran? Pertama-tama dia akan kehilangan hasil keringatnya, dan pada masa depan dia akan kehilangan kesehatan. Kau takkan bisa menjadi tabib atau pujangga yang baik jika kau tergoda dosa-dosa semacam itu.”

(259) Selama bertahun-tahun Tao memimpikan anak-anak lelaki, tetapi sekarang yang diinginkan hanyalah melindungi Lin dari kehamilan lain. Perasaannya kepada Lin kini telah menjadi semacam obsesi yang hanya dapat diakuinya kepada Lin; Tao merasa tak seorang pun bisa mengerti cintanya yang begitu mendalam, bahwa tak seorang pun lebih mengerti Lin daripada dirinya, bahwa tak seorang pun bisa mengerti cahaya yang dibawa wanita itu ke dalam hidupnya.

(329) “Kenapa kau tak meminta bayaran pada para penjahat?” tanya Eliza padanya. “Karena aku lebih suka mereka yang berhutang kepadaku,” jawabnya.

(336) Eliza merasa tak perlu mengulangi lagi hal-hal yang mereka lakukan di ruang tempat lemari besar itu tersimpan. Ia tak begitu yakin, tapi mengira bahwa dalam kasusnya cinta dan gairah adalah satu hal yang sama, sehingga tanpa yang satu yang lainnya takkan ada.

(379) Eliza merasa dirinya telah berbuat kejahatan yang tak dapat dimaafkan dunia, tapi cinta membuat semuanya terasa benar. Ia tak tahu apa yang hilang atau ia dapatkan seiring dengan berseminya gairah itu. Ia meninggalkan Chili untuk mencari sang kekasih dan membaktikan diri menjadi budak pria itu selamanya, percaya bahwa hal itu akan memadamkan kehausannya untuk senantiasa tunduk dan keinginan terpendamnya untuk memiliki barang-barang, tapi kini Eliza ragu rela menyerahkan sayap yang mulai bertumbuh di punggungnya ini.

Ia tak menyesali segala hal yang telah dibaginya dengan sang kekasih, atau malu karena telah menyulut api yang mengubah jalan hidupnya; malah sebaliknya, Eliza merasa gairah itu telah menempanya, membuatnya lebih kuat, memberikan kebanggaan karena sekarang ia bisa mengambil keputusan sendiri dan menghadapi segala konsekuensinya. Ia tak berutang penjelasan kepada siapa pun.

(380) Semakin sering dihadapkan pada bahaya, Eliza menjadi semakin pemberani: ia sudah kehilangan ketakutan terhadap rasa takut. “Aku telah menemukan kekuatan baru di dalam diriku; mungkin sebenarnya sejak dulu perasaan ini ada dalam diriku; mungkin sebenarnya sejak dulu perasaan ini sudah ada, tapi aku tak pernah tahu bahwa aku memilikinya. Karena aku tak pernah menggunakannya.”

(418) James menganggap mencari emas bukanlah cara yang terhormat untuk mencari nafkah karena tindakan itu tak menciptakan apa pun dan tidak memberikan pelayanan kepada orang lain. Kekayaan meracuni jiwa, mempersulit hidup, melahirkan ketidakbahagiaan.

(505) Rasa penasarannya terhadap pengobatan modern begitu hebat sehingga ia harus menulis adagium gurunya yang mulia di dinding : “Pengetahuan tak banyak berguna tanpa kebijaksanaan, dan tak ada kebijaksanaan tanpa spiritualitas.” Sains bukanlah segalanya, Tao berkata berulang-ulang di dalam hati, agar ia jangan sampai melupakannya. 

(510) Tao Chi’en benar : ia harus menetapkan tenggat waktu. Ia tak bisa lagi mengabaikan kecurigaan bahwa sebenarnya ia telah jatuh cinta kepada cinta dan kini terperangkap dalam situasi sulit ketika hanya bisa mengkhayalkan gairah tanpa berpegang pada kenyataan. Ia mencoba mengingat-ingat perasaan yang membuatnya menceburkan diri dalam petualangan ini, namun tak sanggup melakukannya. Dirinya sekarang hampir tak memiliki kesamaan sama sekali dengan permempuan yang dimabuk cinta pada masa lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s