BLUR-Bagaimana menemukan hal yang terpenting (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(155) Ketika mendapat informasi, kita musti tak hanya mempertanyakan kebenarannya, tapi juga sebesar apa persoalannya. Dari berita-berita itu, kita musti bertanya apakah kita sudah mempelajari apa yang diperlukan untuk mengetahui subyek tersebut.

(159) Karya wartawan terbaik cenderung memiliki tanda yang halus. Ia adalah produk kesadaran, plus metode atau pendekatan personal tingkat tinggi yang diterapkan wartawan jempolan dalam meliput. Para wartawan luar biasa ini membangun metode tersebut sebagai cara mendisiplinkan keingintahuan mereka.

(160) Itu menjadi cara mereka menggali semua pertanyaan yang ada secara lebih dalam, mengasah penyelidikan, dan memastikan tak ada fakta yang terlewat. Hasilnya, mereka melihat lebih banyak fakta, mengajukan pertanyaan lain, mencari pola, dan lebih unggul dalam menulis sebuah kejadian ketimbang wartawan lain. Mereka cenderung tak cuma jadi tukang ketik super cepat yang hanya mereproduksi fakta yang ada. Berkat metode tersebut, tingkat verifikasi mereka cenderung lebih dalam. Mereka lebih ingin melihat konteks dan memahami penyebab yang pada giliriannya menghasilkan kisah yang sungguh-sungguh masuk akal, yang mempertontonkan pengetahuan riil berdasarkan bukti, tak cuma berdasarkan kesimpulan atau peralihan kesan-mirip-firasat yang banyak muncul pada apa yang kami sebut sebagai jurnalisme interpretative. Semua itu adalah buah skeptical knowing.

(161) Identifikasi tujuan yang dinyatakan lembaga yang anda liput.

Kenali informasi yang akan membantu anda menunjukkan lembaga tersebut mencapai tujuan tadi (misalnya program-programnya).

Ikuti apa kata data, yang merupakan produk lembaga tersebut kepada anda.

Ukur apakah hasilnya menunjukkan bahwa lembaga tersebut telah melaksanakan tugasnya, dan jika tidak, tanyakan kenapa dan apa yang selama ini mereka lakukan.

Tanyai pihak yang terlibat untuk tahu tanggapan mereka terhadap apa ayng ditunjukkan bukti.

“Seseorang, salah satu sumber, menyebut istilah itu padamu. Dan awalnya kamu Cuma mengangguk, agar terlihat mengerti, seperti orang yang sudah tahu. Ungkapan itu adalah “coping.” Namun kamu lantas mengakui. Jangan pura-pura sok tahu. Itu bisa membuatmu kelewatan sesuatu,” tutur Burnham.

“Apa itu ‘the coop’?” Burnham bertanya pada Curran.

“Itu lho.. ketika seseorang tidur saat tugas, dari tengah malah hingga jam delapan pagi.” Setelah bertanya lebih jauh, Burnham mendengar bahwa setiap hari ribuan di antara ribuan polisi New York yang mustinya bekerja di sift malam malah asyik molor.

(163) Cooping adalah efek alami dan contoh dramatis tentang lembaga pemerintah yang salah memanfaatkan sumber dayanya.

(164) Liputannya unggul karena dikerjakan bukan berdasarkan pada kejadian, melainkan pada pertanyaan.

Diana K. Sugg, dalam penilaian kami, adalah satu di antara wartawan ngepos terbaik di negeri ini. Pertama, Sug coba memastikan dia tak terpengaruh oleh semua berita breaking news reporter lain. “saya bertanya-tanya apakah sudah adil dalam meliput pos saya,” tulisnya. Maksudnya, meliput subyek secara layak. Untuk melakukannya, dia mencatat “perlu mengartikulasikan visi untuk pos anda” –ide pertanyaan yang lebih besar terkait dengan subyek, suatu penjelasan yang anda kejar sehingga membuat berita kecil itu tak  berarti.”

(165) Sugg berkata bahwa dia berjuang untuk melampaui batas antara meliput dan mengeksploitasi orang.

(167) Kenali siapa yang menurut anda bisa membantu menguak (jawabannya). Keluar, kejar apa yang ingin anda ketahui.

Saya pun mencari orang lain, menemui orang paling pas bicara soal itu pertama kali, menghabiskan waktu bersamanya, selalu bertanya di akhir wawancara, “Siapa lagi yang musti saya temui? Apa lagi yang musti saya lihat? Siapa lagi yang pakar soal ini? Siapa lagi yang tahu?”

Selalu bangun fondasi informasi. Narasumber berkata, “Sepertinya dia bimbang.” Anda, reporter bilang, “apa yang anda maksud, ‘bimbang’?” Jelaskan itu. Masukkan dalam cerita. Buat mereka menjelaskan tiap ungkapan. Buat mereka mengungkapkan cerita.

Ada bahaya di diri seorang reporter yang ingin tampil pintar, yang ingin orang lain menilai anda pintar. Namun tugas anda adalah membuat orang bicara. Buat mereka mengingat. Buat mereka menjelaskan. Tak masalah jika berjalan sangat lambat.

(169) Namun yang membuat pekerjaan Kifner begitu istimewa adalah keinginan besarnya untuk menemukan konteks dan makna, bahkan ketika dia dikirim untuk meliput kejadian secara mendadak. “Tak masuk akal, dalam pengertian sebenarnya, jika anda tak bisa melaporkan sebuah peristiwa dalam konteks lebih besar dari yang ada. Konteks adalah sesuatu yang selalu saya cari,” katanya.

(170) Untuk menemukan konteks dan mendasari tema tersembunyi di balik kejadian –yang seringkali belum pernah dia liput, Kifner mengembangkan metode untuk menyiapkan diri. Dia melahap koran, buku, dan majalah, mengumpulkan informasi terbaru dari peristiewa yang ada. Dia membuat perpustakaan pribadi berisi buku sejarah dan kejadian terkini dari wilayah-wilayah konflik, seperti Timur Tengah, di mana ia bisa dikirim sewaktu-waktu. Dia selalu siap karena sudah menyimpan pertanyaan di benaknya. Ketika naik pesawat secara mendadak pada tugas liputan ke Iran, misalnya, dia membawa sejarah negara itu di tangan dan buku-buku lain di tas punggung. Saat mendarat, dia siap bertemu pakar lokal dan otoritas yang bisa membantu menempatkan kejadian yang tengah berlangsung dalam konteks budaya dan sejarah.

Dia mencari pola, membaca sejarah, mencari pelajaran.

(173) Mereka yang belajar bagaimana menjelaskan sesuatu, akan menjadi penulis yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s