BLUR-Bukti dan jurnalisme verifikasi (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(96) Pendekatan Seymour Hers dalam reportase, yang tertanam selama bertahun-tahun, cukup sederhana: akumulasi detil dan fakta yang membutuhkan kesabaran ekstra. Ini adalah filosofi empirisme yang ditanamkan editor City News Bureau di Chicago tempat Hersh bekerja sebagai reporter muda pada 1950-an. Meliput dugaan bunuh diri, Hersh berulang kali dikirim ke kantor polisi untuk mencari detil tambahan soal baju korban, lantas disuruh balik karena tak cukup bisa menjelaskan dasi korban, lalu dikirim lagi untuk mencari tanda-tanda korban menenggak alkohol. Tiap kali mencari fakta tambahan, Hersh merasa kian malu dan polisi kian jengkel. Pada kunjungan terakhir, kenang Hersh, sang kapten memanggil dan “merenggut baju saya dan menarik saya ke mukanya dan bilang, ‘Nak! Aku tak bekerja dengan mengendus wajah tiap korban bunuh diri.”

Hersh mengedepankan detil, sesuatu yang baginya setara dengan kehormatan, dan mengubahnya menjadi metode yang melibatkan rantai liputan sistematis.

(100) “Jangan pernah melompati rantai itu. Pelajari semua yang bisa anda dapat dari orang-orang di bawah atau di sekitar cerita. Setiap langkah, comot dokumen yang bisa ditelusuri. Lalu kembali, dan periksa apa yang telah anda dapat sebelum melanjutkan. Kembalilah pada sumber lebih awal untuk memeriksa apa yang mereka katakana terhadap apa yang telah anda pelajari dari wawancara dan dokumen selanjutnya.”

(100-101) Hersh kesulitan memverifikasi dan mendokumentasikan dugaan itu. Dia mewawancarai lebih dari 50 orang dan menimbun tiap dokumen yang dia dapati seputar penahanan dan interogasi Hambali. Hasil liputannya disimpan dalam koleksi map dan dokumen yang bertumpuk setinggi satu kaki di kantor Hersh. “Fakta, fakta, lebih banyak fakta. Itu yang saya pelajari,” kata Hersh. “Dan dalam tiap langkah, cobalah mendapat dokumen untuk menguatkan fakta. Saya telepon polisi yang semula menangkap hambalid an mendokumentasikan semua, dan saya mendapat beberapa file dari intel.”

Jangan menulis sesuatu yang tak kau ketahui betul.

(102) Tulislah apa yang bisa anda buktikan, bukan yang anda yakini benar. jadilah skeptic, bahkan tentang apa yang anda kira paham dank e  mana bukti mengarah. Mendekati benar saja belum cukup. Untuk “mengetahui” sesuatu, haruslah benar. anda harus bisa menunjukkan, menyusun, mempertahankan, dan membuktikannya, termasuk pada publik yang skeptic dan pandangan sinis para pejabat.

Wartawan-novelis Gabriel Gracia Marquez menyebutnya begini: “Rute kita satu-satunya menuju kebenaran adalah dengan alat bukti… dan konsep kebenaran berlaku pada hasil penyelidikan.. dan tugas kita sebagai jurnalis adalah menjalankan prosedur yang benar.

Kualitas, keahlian, kepentingan, kelangsungan pengetahuan sumber di berita merupakan bentuk bukti. Namun mengetahui sumber saja tak cukup untuk menentukan apakah yang mereka katakana benar-benar sahih. Kita harus tahu cara mengidentifikasi dan mengevaluasi bukti yang diberikan para sumber menanggapi pertanyaan kita. Sumber kuat, yang terbukti layak dan bisa diandalkan pada masa lalu, tetap saja bisa salah. Demikian juga dokumen.

(103)  Cara menguji dan mengevaluasi bukti :

Kenali bukti yang ditawarkan dan pahami sifat dasar bukti (banyak ditemukan ketika kita mengurai dasar tentang cara seorang sumber kemungkinan mengetahui sesuatu).

Ketahuilah cara memeriksa atau menguji bukti terselubung dan apakah bukti yang mendukung kemungkinan sebaliknya juga telah ditelusuri.

Identifikasi kesimpulan yang bisa ditarik, dari bukti tersebut (eksplisit dan implisit), ada tidaknya bukti pendukung lain.

Tanyakan apakah bukti ini bisa dipakai untuk menarik kesimpulan lain.

(110) Namun, berbagai elemen penting dalam konfirmasi hilang. Tak ada pernyataan resmi dari satu-satunya pihak berwenang di lapangan yang secara formal berwenang memberi informasi. Secara virtual, semua fakta yang mendasari perayaan itu mengacu pada realitas bahwa para penambang telah tewas. Wartawan melaporkan komentar pejabat negara bagian yang berada di gereja, tapi gagal mengenali bahwa mereka tak mendapat informasi resmi soal ini; dia hanya pihak yang bereaksi. Jika para wartawan berkumpul di rumah sakit, mereka akan melihat cerita lain. Kalau saja mereka mengontak langsung pejabat di pusat komando, mereka akan mendapati kisah berbeda. Jika mereka menunggu di dekat pintu masuk tambang, bukan di gereja bersama keluarga, mereka akan punya cerita lain. Akhirnya, semua yang mereka tahu adalah desas-desus, dari sumber lingkaran kedua atau ketiga. Pesan yang diterima pusat komando tak jelas benar.

(111) Namun Cooper dan reporter lain –tak semua di lokasi- juga gagal mencatat apa yang kurang: bahwa tak banyak konfirmasi resmi yang didapat, tak ada konfirmasi dari pihak rumah sakit, bahwa mereka tak melihat sendiri. Dengan kata lain, para wartawan yang salah di kasus Sago menjadi korban dengan meyakini apa yang mereka lihat, mengabaikan apa yang mereka tahu, dan gagal mencatat apa yang kurang.

Di era televisi dan khususnya TV kabel siaran langsung, untuk terjebak dalam penyederhanaan dengan berimajinasi bahwa melihat sepadan dengan meyakini, dan meletakkan kepercayaan itu setara dengan kebenaran. Ini adalah efek lanjutan jurnalisme pernyataan yang intens di budaya kita.

Metode berpengetahuan skeptis menuntut lebih. Melihat bukan berarti mengetahui. Memilah apa yang benar bukanlah sekadar menerima satu dua fakta dan memberitakannya. Membedakan antara fakta dan kebenaran memerlukan pemahaman tentang bagaimana menimbang nilai dari fakta berbeda –dengan kata lain, tahu untuk memilah dan mengevaluasi bukti.

(112) Kita mungkin memaafkan para reporter yang pada setengah jam pertama memberitakan luapan kegembiraan di jalan, tapi juga akan lebih berterima kasih jika saja reporter memperhatikan ketiadaan konfirmasi resmi, dan jika stasiun berita mengirim seseorang ke rumah sakit untuk melaporkan kondisi para penambang. Ketika dekat pada kejadian, kita kemungkinan besar memberi perhatian lebih intens.

Pers semakin diharapkan menyajikan berita yang tuntas diperiksa, karena mereka diharapkan menyajikan berita yang tuntas diperiksa, karena mereka kemungkinan besar tak terdorong mengonsumsi berita lanjutannya.

(113) Di era berita berkelindan, ketika informasi datang dari banyak sumber, akan lebih baik mengeceknya.

(119) Untuk benar-benar bisa dipercaya, artikel berita musti lolos di tiga tingkat pemaknaan. Kata dan gambar musti dengan jelas menyampaikan arti. Implikasi fakta-fakta itu musti dibangun dengan sederhana. Dan kita musti memahami secara eksplisit apa yang ada di pikiran para penyampai berita. Singkatnya, makna berita musi nyata dan termanifestasi supaya konsumen bisa mempercayainya.

(120) Wartawan terbaik punya semacam disiplin kerendahan hati tentang apa yang dilihat. Mereka melatih diri sendiri untuk tak membiarkan prasangka mendistorsi pengawasan mereka dan tak melompat pada kesimpulan soal makna atau maksud dari apapun yang mereka lihat. Mereka tak buru-buru menyimpulkan atau terburu-buru membangun makna. Mereka bertanya pada diri sendiri apakah mereka benar-benar tahu dan paham apa yang menurut mereka terlihat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s