BLUR-Cara berpengetahuan skeptis: keterampilan verifikasi (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(26-27) Dalam banyak kasus para editor memilih menampilkan pandangan pemerintah dalam laporan mereka. Bagaimanapun juga, pejabat pemerintah lebih tahu ketimbang reporter. Mereka adalah pihak yang berwenang. Bigart menyebut laku demikian-praktik menelan mentah-mentah berita resmi-sebagai “paham tukang ketik (cleriksm)”. Para wartawan haruslah bukan hanya seorang pencatat, ujarnya. Mereka punya tanggungg-jawab mengejar fakta untuk mereka sendiri, untuk membangun bukti empiris, dan tak menerima perkataan orang lain dari sumber kedua.

(27) Cara Homer Bigart memilah versi mana yang dipercaya adalah dengan tak mau gampang menelan apapun, dan tak mengambil perkataan seseorang mentah-mentah. Dia memulainya dengan konsep tabula rasa. Dia memulai reportase dengan seolah tak tahu apapun, tak berasumsi apapun, dan dia meminta tiap orang menunjukkan bukti atas apapun yang mereka katakana kepadanya. Halberstam, reporter muda Times yang terjun di Vietnam tak lama setelah Bigart, menyebut metode Bigart sebagai “ketaktahuan portable” (portable ignorance).

“Dia datang dengan pengetahuan sedikit tapi lantas menguak semuanya,” kata Prochnou.

(28) Kebanyakan reporter mempersiapkan diri ala kadarnya untuk perjalanan itu. Namun, tidak dengan Bigart. Sebelum kami turun ke lapangan, Homer meneliti pertanyaan yang akan diajukan ke para penasehat Amerika,“ kenang Sheehan. “Dia akan bertanya, ‘Aoa yang ingin anda temukan? Berapa unit di area? Dari kesatuan mana?’ Pertanyaan-pertanyaan yang tak ada habisnya.”

Reporter lain, termasuk Sheehan, melewatkan semua itu. Mereka tak sabar mengikuti kegiatan itu-yang pernah ditolak Pentagon, sampai kemudian disetujui atas desakan Bigart. Lagi pula, para reporter berpikir bahwa mengajukan semua pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya akan membuat mereka terlihat lamban dan bodoh di hadapan para pentolan pejabat militer, yang ingin mereka dekati untuk membangun jaringan. Pastinya, ini menguji kesabaran para pejabat tersebut, tapi itulah metode Bigart menjawab keraguan. Dia menetapkan kriteria untuk mengetahui apa yang akan dikejar. Dengan cara itu, dia bisa membandingkan antara fakta lapangan dengan harapan para pejabat. Dia akan membuktikan apakah kebijakan itu berjalan atau sekadar pertunjukan kehumasan. Dan setelah perjalanan ke lapangan, capek karena tekanan perang dan merecah lumpur sawah, Bigart melakukannya lagi, bertanya pada para pejabat: “Unit apa yang sudah anda temukan? Apakah anda terkejut? Anda bilang unit ini akan berada di sini. Benar kan? Berapa banyak yang terbunuh? Berapa mayat yang ditemukan?” Lagi dan lagi, dengan elok Bigart membongkar janji yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya.

(28-29) “Dalam perjalanan pulang ke Saigon setelah dua hari yang meletihkan tapi minim aksi, selain perjalanan berjam-jam yang menguras tenaga,” kenang Sheenan, “Saya mengeluh, ‘Demi Tuhan, Homer, kita menghabiskan dua hari berjalan melewati persawahan padi dan kita tak punya satupun cerita.” Hommer memandang saya dan bilang, “kamu belum mengerti, ya? Mereka gagal. Program ini tak berjalan.”

Sekembalinya ke Saigon, para koresponden diberi pengarahan singkat oleh komandan lapangan yang menyuguhkan kisah yang sangat menipu diri soal tentara Vietkong yang terkejut oleh bantuan penuh pasukan ARVN melalui helicopter tempur terbaru dan menaklukan desa persembunyian mereka, dengan lusinan dari mereka terbunuh.

Berita Associated Press yang muncul pada 9 Maret dari Saigon:

Pesawat pengebom Vietnam hari ini menggempur delta Sungai Mekong sementara pasukan darat menekan melalui rawa dekat laut Cina Selatan memburu para gerilyawan.

Sumber militer mengatakan pasukan Vietnam membunuh 33 gerilyawan dan empat di antaranya tertangkap dalam sebuah operasi pada Kamis, yang didukung helicopter Amerika di Provinsi An Xuyen paling Selatan.

Catatan Bigart berbeda. Dia mampu membangun laporan lapis demi lapis dari kejadian yang dia saksikan dan fakta lain yang dia dapat langsung dari para tentara yang menyambung nyawa di medan perang. Dia mampu menyodorkan konteks cerita lebih kaya dari kisah yang diproduksi Saigon. Dia juga mampu menceritakan mana serangan helicopter yang sukses dan yang gagal, hingga pertanda kegagalan taktik baru yang akan mendominasi pendekatan militer Amerika di Vietnam tersebut.

Artikel Bigart tentang aksi tersebut antara lain berbunyi :

Namun seperti biasa pasukan utama musuh lolos. Mereka lepas dari perangkap meski pesawat-pesawat penggempur memberi kejutan sempurna dengan mengurung mereka di desa itu.

Pasukan pemerintah (Vietnam Selatan) gagal memanfaatkan keterkejutan Vietkong. Mereka malah berkumpul dan berleha-leha di parit dan berteduh di bawah pohon kelapa hingga seorang penasehat Amerika berteriak jengkel, “Ayo maju!”

Hingga akhir petang tampak bahwa pertempuran telah usai dan sebagian besar dari 200 orang komunis yang diperkirakan berada di desa itu berhasil kabur.

(30) Tak ada fakta tangan kedua. Bigart menyaksikan langsung semua itu, mencatat, dan dengan tegas menunjukkan bahwa klaim dalam pengarahan pers di Saigon dibesar-besarkan dan keliru, atau ditutup-tutupi. Poin utamanya adalah tentara Vietnam Selatan tak mampu mengapitalisasi taktik dan teknologi Amerika.

Kini, ketika makin banyak berita yang bersumber dari tangan kedua dan ketiga, dan wartawan terpisah dari sumber pertama oleh “manajer” komunikasi humas, dan konsumen menjadi editor dan terkadang wartawan untuk diri sendiri.

Wartawan-wartawan terbaik meminjam teknik dari guru-guru terbaik yang mereka temui di lapangan, seperti halnya Sheehan belajar dari Bigart. Dan tak semuanya bagus. “Pers yang manjur” dibangun kaum empiris yang tangguh dan disiplin, seperti Bigart, tetapi banyak wartawan naïf bermental tukang ketik-yang memiliki koneksi orang penting lebih dihargai ketimbang wartawan skeptis yang mengejar bukti.

(31) Wartawan terbaik, macam Bigart, berpikir independen. Mereka belajar mengatasi keberpihakan emosi mereka terhadap salah satu pihak atau pihak lain yang diliput. Mereka belajar mempraktikan apa yang kami sebut “cara berpengetahuan skeptis.”

Bagaimanapun juga, jurnalisme bukan ilmu pasti. Mengurai peristiwa publik tak bisa dilakukan melalui persamaan matematis. Dan sebagaimana hendak kita diskusikan, kita jarang melibatkan diri secara empiris dengan berita, sebagaimana halnya kita menjalani kehidupan sehari-hari. Sama seperti kita mencoba mengambil makna dari peristiwa publik, kita cenderung mencampur pemahaman fakta dengan keyakinan subjektif kita.

(33) Apa yang seharusnya memandu cara berpengetahuan skeptis, penanda sebuah karya bisa dipercaya atau tidaknya, adalah sejumlah upaya yang bisa kita deteksi atas ada tidaknya upaya wartawan dan presenter menyisir sumber dan bukti, dan apakah mereka melakukannya dengan pikiran terbuka dan skeptis.

(37) Namun dalam dunia nyata, konteks menjadi penting. Jika informasi disajikan sesuai fakta dan tak memihak, anda memiliki satu set harapan. Jika disajikan dengan analisis atau argumen, anda memiliki ekspektasi lain. Ketika menemukan sebuah berita, anda akan berharap ada gambaran independen atas apa yang terjadi, dengan fakta-fakta dasar yang tersaji dengan cara yang bisa diterima umum. Jika ada kontroversi, anda berharap mendapat uraian dasar dari sudut pandang berbeda. Ketika mendapati analisis atau argumen, anda bisa saja tak terlalu berharap pada kelengkapan deskripsi yang tersedia. Namun, anda cenderung berharap argumen itu diuraikan lebih lengkap, dengan banyak bukti di belakangnya dan mungkin beberapa antisipasi dan respon terhadap berbagai keberatan yang mungkin muncul dari audiens.

-Jurnalisme Verifikasi-

Mungkin ciri etos jurnalisme verifikasi terbaik hanya bisa ditemukan di City News Bureau di Chicago, yang diajarkan kepada para reporter muda penuh cita-cita di mana mereka diasah untuk kuatir jika mendapatkan sesuatu secara salah.

CNS, agensi berita kerjasama pertama di Amerika, meliput berita lokal. Ia jadi terkenal dengan aksioma yang menangkap skeptisisme kuno dosen tua di sana, yang tak menerima apapun begitu saja dan meneror tiap mahasiswa untuk menguatkan dan memverifikasi tiap pernyataan yang bahkan sering ditemukan: “Nak, jika ibumu bilang dia mencintaimu, verifikasilah.”

(38) Memilah informasi akurat di antara yang keliru menjadi tujuan jurnalisme tradisional sepanjang sejarah.

Times memasang iklan sehalaman penuh dalam rubrik laporan luar negerinya, menjelaskan bagaimana salinan berita luar negeri diterima dan diedit, lengkap dengan contoh yang dimuat.

Hanya menerbitkan fakta tidak lagi dianggap cukup. Konteks, jejak dari fakta yang diciptakan dan bagaimana jurnalistik menghadirkan mereka juga harus akurat.

(39) Jurnalisme verifikasi  berhasrat memenuhi syarat pertama berita, sebagaimana diperkenalkan Commission on Freedom of the Press, yang dikenal dengan Hutchins Commission, pada 1947: memberikan “sebuah laporan yang benar, komprehensif, dan cerdas mengenai kejadian sehari-hari dalam konteks yang bermakna.. Laporan itu selanjutnya mengatakan, “syarat pertama adalah media mustri akurat. Mereka tak boleh bohong.” Dan, fakta harus disajikan dengan cara “yang bisa dipahami. Tak lagi cukup melakukan fakta sebenar-benarnya, kini penting untuk melakukan kebenaran soal fakta.”

Lihat upaya verifikasinya. Perangkat pengujian berita ini melibatkan keberagaman sumber dan skeptisme atas apa yang mereka katakana, dan bukti para wartawan tak menelan semuanya mentah-mentah melainkan melalui proses penggalian untuk masuk lebih dalam.

Cari sinyal-sinyal jelas kepada audiens ketika liputan cenderung spekulatif dan bukti-buktinya lemah. Cari informasi yang tak mengklaim memiliki semua jawaban. Cari berita yang jelas mengisyaratkan apa yang belum diketahui. Dan cari berita yang mempertahankan batas jelas antara fakta dan analisis (atas fakta tersebut) menjadi makna. Dengan kata lain, carilah empirisme dan kerendahan hati.

-Jurnalisme Pernyataan-

(39-40) Bias yang tak terhindarkan dari budaya berita 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu ini ialah bahwa ia mementingkan aspek pengumpulan dan pengiriman informasi secepat mungkin. Itu merupakan keunggulan kompetitif teknologi. Namun keunggulan itu mengurangi aspek pemeriksaan informasi sebelum ia diberitakan. Dan ini membuat narasumber bisa dengan mudah menyatakan apa pun seenak udelnya, dengan pemeriksaan dan penyaringan minim.

(41) Menempatkan nilai tertinggi pada upaya mendapatkan berita di luar sana berarti mengurangi nilai pemeriksaan dan proses memperoleh berita secara benar.

Dalam jurnalisme pernyataan, apa yang semula merupakan bahan-bahan kasar jurnalisme—desas-desus, sindiran, dugaan, tuduhan, tuntutan, perkiraan, dan hipotesis-disampaikan pada audien secara langsung. Bahan kasar itu menjadi produk. Pelan-pelan, setahap demi setahap, dan sesegera mungkin, aspek daya tarik dan provokatif pun menjadi poin utama.

(42) Tengoklah klaim senator Arizona Jon Kyl di CNN pada awal 1999 yang mengatakan reformasi layanan kesehatan Obama “akan berujung pada pemangkasan US$500 miliar anggaran kesehatan.” Benarkah? Presenter berita John King tidak memeriksa, sebab CNN ingin pindah ke segmen selanjutnya: “Kita kehabisan waktu hari ini,” katanya.

Lihat juga moderator yang hanya bisa menonton para tamu yang saling bicara dengan bergairah, tapi malah akhirnya membingungkan atau bahkan menjadi perdebatan sengit tak berujung.

(43) Budaya ketergesaan juga telah mengubah hubungan antara peliput dan pembuat berita. Kekuatan diserahkan dari wartawan yang memproduksi isi, beralih ke sumber informasi tempat mereka bergantung untuk mengisi jam siaran. Dalam jurnalisme pernyataan, sumber menduduki posisi untuk mendikte terms of use pemberitaan. Itulah mengapa pejabat dan narasumber yang mencoba mengontrol pesan ke publik memilih tampil di siaran langsung. Mereka bisa mengatakan apapun seenaknya, pidato panjang, memelintir, berbohong, menempatkan pembawa acara pada posisi takzim menyimak kebohongan itu, tapi secara bersamaan berupaya seterampil mungkin menunjukkan poin kebohongan itu secara elegan. Masalah ini jauh lebih serius dari yang mungkin terlihat.

(44) Jurnalisme pernyataan seperti ini minim saringan dan menyampaikan apa adanya. Orang yang mungkin memanipulasi laporan (dalam hal ini, sumber) memiliki pengaruh lebih, kekuatan lebih. Inilah beda antara wawancara langsung dengan yang sudah diedit. Tentu berbeda antara menyiarkan konferensi pers secara langsung dan memeriksa ulang rekaman dan memilah kutipan yang akurat.

Web tak punya deadline, selain kekhawatiran bahwa seseorang di luar sana mengejarmu untuk mendapatkan berita, dan kamu harus segera menyiarkannya.

(45) Pada penelitian koran 2008, the Project of Excellence in Journalism mencatat di antara blog milik wartawan sendiri, hanya 18% yang isinya diedit dulu sebelum dipublikasikan.

Kecepatan dalam berita adalah musuh akurasi. Semakin sedikit waktu yang dimiliki untuk memproduksi sesuatu, makin banyak pula kesalahan di dalamnya.

(46) Dalam jurnalisme pernyataan, para reporter, penyiar, dan koordinator liputan TV jarang memberi jawaban. Mereka menyodorkan diskusi, mengajukan pernyataan. Namun alih-alih menemukan jawaban, yang terjadi pada dasarnya adalah pergeseran mind-set menjadi perdebatan para sumber partisan. Poin pembicaraan dari kedua belah pihak disajikan –meski sering kali hanya diwakili pihak yang saling bertentangan saja. Seringnya, tak ada uji akurasi atas poin pertentangan mereka.

-Jurnalisme Pengukuhan-

Kami menyebutnya jurnalisme pengukuhan karena sifatnya mengejar penegasan atas prasangka audien, meyakinkan mereka, meraih loyalitas mereka, dan menjadikannya sebagai sumber iklan.

Tujuan mereka adalah mengerahkan dukungan politik, melebarkan ide, dan mempengaruhi kotak suara. Kini, jurnalisme jenis ini bahkan muncul dalam konteks komersial.

Secara umum, ada tujuan politis di jurnalisme pengukuhan ini. Praktisi jurnalistik model ini –baik di radio, online, ataupun cetak- tak memiliki ideologi kuat, dan seringkali manipulatif. Apa yang mereka sajikan pada audiens biasanya tak lebih dari arena propaganda, persuasi, dan manipulasi. Verifikasi bukanlah tujuan utama, tapi tak sepasif seperti jurnalisme pernyataan. Model ekonominya berdasarkan pada pengiriman produk berita yang memperkeras prasangka audiens.

(49) Jika informasi datang kian cepat dan berlimpah, maka pengetahuan pun kian susah didapat, karena kita musti mengayak lebih banyak fakta, pernyataan, dan bahan untuk mendapat pengetahuan di situasi demikian. Informasi yang melimpah justru berarti lebih banyak ketidakcocokan dan kontradiksi. Jurnalisme pengukuhan menciptakan kesan seolah ia duduk pada tempatnya, membantu kita mencapai kebenaran dan memahami makna di balik berita. Daya tarik jurnalisme model ini sama dengan keamanan dan kenyamanan yang ditawarkan iman, meski bertentangan dengan fakta dan empirisme.

(51) Majalah-majalah itu berupaya merenungkan dan mencerminkan makna kejadian. Mereka juga tak berusaha memposisikan diri sebagai platform netral atau reporter jujur yang memotret kejadian dari tempat pertama, melakukan wawancara, menyediakan berita harian dari sumber pertama. Dalam jurnalisme pengukuhan, peran tersebut dicampuradukkan, menyuplai berita setiap hari sembari membentuk basis audien dengan opini.

-Jurnalisme Kaum Kepentingan-

Sejak ruang redaksi tradisional menyusut, kaum politis menemukan jalan baru memengaruhi dialog politik. Kelompok ini tahu bahwa mereka bisa membuat jurnalisme sendiri, mengontrol operasinya dan menyiarkan untuk diteruskan ke arus utama pers yang lebih luas.

Kunci utamanya adalah mengubah pemikiran ruang redaksi tradisional. Karena penurunan pendapatan berujung pada pemangkasan anggaran, ruang redaksi tak lagi bisa meliput semua kisah dengan stafnya sendiri.

(54) Organisasi berita harus melaporkan tidak hanya fakta tapi juga kebenaran di balik fakta itu dalam konteks yang lebih besar.

Media kaum kepentingan, sumber pembiayaannya yang tidak benar-benar transparan. Tanda lainnhya adalah berita yang disajikan bermuara pada satu titik atau kesimpulan sama yang diulang-ulang. Jika semua beritanya mengatakan hal yang sama, maka hati-hatilah. Lihat latar belakang orang-orang di dalamnya, di mana mereka pernah bekerja dan sejauh mana mereka terlibat dalam aktivisme politik.

Jika pendanaan tidak benar-benar transparan, jika orang dan bahkan wartawan di dalamnya punya sejarah politik, jika semua beritanya mengarah pada satu kesimpulan, dan koneksi organisasi yang terlibat (sejauh bisa dideteksi) lebih terkait dengan politik ketimbang berita, semua ini menjadi sinyal jelas bahwa anda sedang berada di wilayah jurnalisme kepentingan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s