BLUR-Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(130-131) Yang paling parah, jurnalisme pernyataan terjadi dalam format panggung, seperti segmen talk show di mana para tamu dipesan untuk sekadar berpendapat tentang sesuatu. Apa yang mungkin menjadi segmen analitis diberi porsi sedikit lebih oleh moderator atau pembawa acara, kalah banyak dari segmen tamu yang mengoceh ngalor-ngidul, dengan upaya minim untuk memeriksa apa yang mereka katakan atau meminta bukti atau banyak hal lain, selain hanya membiarkan sesuatu berjalan.

(131) Masalahnya, perbincangan demikian kian banyak terjadi tanpa pemeriksaan fakta (fact-checking). Percakapan itu membangun fondasi pemahaman publik yang mungkin dibangun dari beberapa pengetahuan tentang yang benar dan yang tidak. Fakta, oleh struktur budaya ini, kehilangan nilai. Mereka tak berposisi sebagai fondasi, tapi kejadian sesaat. Ketika semuanya tak diperiksa, semua pendapat jadi sama –baik yang akurat maupun yang tidak. Berita, dan jurnalisme, menjadi sekadar argumen dan bukan gambaran kejadian akurat yang menjadi dasar argumen, debat dan kompromi.

Dengan melepaskan kemampuan mengedit, organisasi berita tak mampu memeriksa akurasi dan konteks fakta yang disampaikan –setidaknya selama dalam wawancara.

(132) Wawancara langsung, seperti konferensi pers langsung, adalah cara termudah seorang politisi mengontrol.

Kebanyakan wawancara langsung di era televisi 24/7 diatur buru-buru, dengan sedikitnya keterlibatan wartawan dalam persiapan.

Memperparah faktor persiapan minim itu, pembawa acara program ini sering melakukan siaran berjam-jam dan loncat dari satu wawancara ke wawancara lain, topik ke topik, sepanjang program. Mereka berperan laiknya reporter aneka rupa, meliput semua topik plus membawakan berita. Tamu yang mereka wawancarai, sebaliknya, kebanyakan adalah ahli di bidangnya, memiliki kesiapan lebih baik untuk pertemuan singkat itu ketimbang pewawancara, dan seringkali lulus pelatihan kehumasan.

(134) Ada banyak media sekarang yang wartawannya sering barter dan bernegosiasi dengan para pembuat berita. Banyak subjek wawancara mempunyai pengacara yang mewakili mereka, menegosiasikan parameter apa yang bisa ditanyakan dan apa yang tidak.

(135) Operasi berita modern kadang tak berdaya di hadapan pembuat berita dan secara eksplisit menawarkan wawancara langsung sebagai umpan.

Mungkin yang terpenting, ada batasan ketat di wawancara langsung yang tak bisa seenaknya dilanggar wartawan dan mempersulit penggalian lebih dalam.

(136) Aturan paling mendasar adalah menjaga pemirsa tetap mengenali anda. Identitas pengenal itu bisa hilang dengan mudah ketika anda melepas kendali wawancara, atau menjadi terlalu agresif atau kasar atau tak mengajukan tipe pertanyaan yang benar.

Meski ini dipraktikan dalam wawancara langsung, pewawancara harus punya pengetahuan seputar subjek dan kemampuan mengedit wawancara di pikiran mereka di tengah wawancara, tak sekadar membiarkan wawancara menggelinding begitu saja menjadi poin pengarahan sang narasumber. “Inti jurnalisme adalah editing,” kata Koppel. “Dan mengedit saat siaran langsung sangatlah sulit. Ia berarti menyaring ucapan tambahan dari yang relevan, yang baru dari yang lama –di kepala anda, sewaktu mendengarkan orang bicara, dan secara bersamaan memikirkan pertanyaan selanjutnya.

(137) Dengan batasan besar ini –kesulitan dalam penyuntingan, keterbatasan mengontrol narasumber, kurangnya persiapan, minimnya jam siaran, kebanyakan wawancara langsung cenderung jadi sejenis upacara ritual ketimbang temuan informasi baru, menyulitkan wartawan mengumpulkan berita dan mempermudah pembuat berita menampilkan diri dan menyampaikan pesan.

(138) Di dunia jurnalisme pengukuhan yang kian berkembang, bukti diperlukan lebih hati-hati: Ia cenderung dipilah untuk membuktikan sebuah titik. Bukannya memilah sesuatu melalui penyidikan pikiran terbuka, ia menjadi satu senjata, satu cara, dalam sebuah argument persuasi.

(141) Anekdot itu penting. Mereka adalah kisah yang jadi daging, tulang dan penghubung pemahaman kita terhadap realitas. Mereka membuat angka jadi hidup. Namun ketika mereka muncul sendirian sebagai fondasi argument, mereka harus dilihat sebagai sinyal peringatan, tanda bahwa sebuah rumah dibangun di atas satu tembok pendukung. Hati-hati dengan anekdot yang terkungkung dalam isolasi atau bahkan tampak sebagai analisis rumit dari satu angka statistik.

(142) Wartawan terbaik berhati-hati untuk tak memakai anekdot sebagai bukti tunggal.

Anekdot mengggambarkan; tapi tak membuktikan. Statistik tunggal menunjukkan, tapi tak membangun fakta. Contoh atau angka tunggal yang disuguhkan sebagai bukti adalah bendera merah. Ketika melihat mereka, berhati-hatilah. Itu adalah penjumputan fakta, tanda jurnalisme pengukuhan.

(143) Jurnalisme pengukuhan dipenuhi falasi (sesat pikir) orang jahat. Dalam menegaskan dan mengonfirmasi prasangka audien yang biasa emosional, pembawa acara talk show sering menyelaraskan sikap ini dalam kerjanya hingga kami menemukan praktik itu di hampir semua transkrip yang kami tinjau.

(143-144) Pendapat yang berasal dari motif buruk itu, dan kurangnya dialog terhormat yang hendak dituju, menyajikan tujuan yang lagi-lagi tak terkait dengan pemahaman atau bahkan analisis kancah politik. Ini tak terkait dengan fakta. Ia lebih terkait pada penegasan keyakinan prasangka audiens.

Waspadailah falasi orang jahat. Saat anda menemukannya, ia menjadi tanda bahwa ia bukan jurnalisme investigasi, melainkan media persuasi yang dibangun dari prasangka dan ketidakpercayaan.

(145) Melontarkan hinaan personal di tengah persaingan pembawa acara talk show juga merupakan bahan pokok jurnalisme pengukuhan.

Ingatlah bahwa hinaan itu adalah bentuk pengalihan, bukan sebuah argumen.

(147) Problem penentuan peraba realitas itu adalah bahwa ia dimulai dengan pandangan dunia sudah ditentukan sebelumnya, lantas mencomot bukti untuk mendukung pandangan itu. Ia pada dasarnya tak tertarik pada bukti, kecuali yang bisa dipakai sebagai tembok atau alat pembangun pandangan dunia, dan ia kebal dari bukti sebaliknya.

Jurnalisme pernyataan adalah bentuk persuasi, atau tampil pada audien berdasarkan loyalitas ideologis dan bukannya penyelidikan jurnalistik.

(150) Kebanyakan media yang terkategori jurnalisme kaum kepentingan ini beroperasi online, dan banyak di antaranya di ibukota. Mereka abru muncul, dan jujur saja, terdiri atas beberapa pendekatan. Beberapa di antaranya meliput subyek secara komprehensif dan dengan pendekatan straight news.

Para pelaku jurnalisme pengukuhan biasanya membangun audien untuk mengeruk uang. Situs jurnalisme kaum kepentingan yang jelas bersifat politis umumnya tak menjadikan untung sebagai motif utama.

(151) Situs berita yang jelas menunjukkan kepentingan politik kelompoknya cenderung memakai satu bukti seperti yang terjadi di jurnalisme pengukuhan. Mereka menjumput kisah dan sumber yang mendukung tujuan politik mereka. Kebanyakan isi cenderung menyampaikan pesan konsisten.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s