BLUR-Sumber: Dari mana asalnya? (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(78) Bahkan, Journal memakai apa yang disebut wartawan sebagai pendekatan “suara Tuhan” sebagai sumber berita. Perusahaan pers, akibatnya, mengambil alih peran sebagai sumber. Journal memberi tahu kita secara langsung, seolah-olah informasi itu berasal dari diri sendiri.

(79) Siapa dan apa sumbernya, dan kenapa musti dipercayai?

Jika kita ingin tahu apa yang dikatakan presiden secara pribadi, kenapa ia menyampaikan pidatonya itu, atau apa yang ketinggalan, kita musti bersandar pada otoritas dan keandalan orang lain untuk menjadi mata dan telinga kita. Dalam kasus ini kita musti mengidentifikasi sumber tempat kita bergantung itu tergolong jenis sumber apa.

(80) Laporan Filkins merepresentasikan tingginya berita terpercaya. Reporter menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan bisa memberi jaminan. fakta adanya reporter yang mendapat akses demikian biasanya menjadi tanda tingginya kredibilitas seseorang, penghormatan narasumber hingga bisa masuk lebih dalam. Reporter semacam ini tidak berada di belakang garis tanda “dilarang melintas” atau duduk di ruang konferensi pers. Menyaksikan laporan semacam itu, dan jika anda melihat nama sama sering berada di atas karya artikel demikian, berarti reporter yang mendapat akses seperti itu kembali mendapat akses serupa. Bisa dibilang, standarnya sudah emas.

(82) Dalam kasus demikian, sumber yang mau menjadi saksi mata (penduduk yang rumahnya kebanjiran) sangat penting bagi wartawan, sama pentingnya untuk pengacara dan polisi penyidik, untuk ditelisik apakah saksi itu berada di lingkaran pertama. Apakah sumber berada di sana secara personal? Jika iya, apa dia melihat sendiri apa yang dijelaskan ataukah berasal dari perkataan orang lain kepadanya? Apakah dia benar-benar saksi mata?

(84) Penelitian psikolog secara konsisten menyimpulkan bahwa memori sangat bisa disugesti. Orang dengan mudah mengingat kejadian yang tak pernah terjadi, dan setelah diingatkan, tetap saja ngotot mempertahankan ingatan yang salah sebagai benar.

(86) Washington Post tak akan memunculkan informasi sumber anonim kecuali ada bukti pendukung dari sumber kedua.

Untuk satu hal, sumber bukti pendukung harus independen satu sama lain. Ini berarti mereka tak bisa membebek keterangan sama dari lingkaran kedua yang bersumber dari orang yang sama pula.

(87) Terkadang sumber kedua memang berada di lingkaran kedua, sementara sumber pertama adalah saksi mata. Namun persoalan yang berpotensi muncul adalah sumber pemberi bukti pendukung bisa mengulang apa yang dikatakan sumber pertama padanya. Ini jelas bukan bukti pendukung. Kita musti memperhatikan kesalahan ini, dan bila mereka tak terdeteksi lagi maka kita perlu waspada.

(88) Kebanyakan yang ditawarkan pakar adalah analisis –bukan fakta yang menjelaskan kejadian sebenarnya. Analisis, pada dasarnya, lebih spekulatif. Karenanya, kita musti hati-hati. Dalam membuat berita penuntun akal yang mencoba membangun konteks, atau memilah fakta yang berjejal untuk membuktikan kesimpulan, kita musti punya lebih banyak sumber dan bukti, sebab pekerjaan ini tidak mudah. Ironisnya, hal yang sebaliknya sering terjadi. Karena banyak yang menawarkan opini wartawan dan bahkan konsumen tak bisa berharap banyak.

(89) Seringkali, mereka yang mengaku pakar sebenarnya hanyalah aktivis partai, faksi, atau kelompok kepentingan yang berpose sebagai pakar independen sehingga bisa memengaruhi dan memanipulasi audien. Ini adalah pengukuhan yang musti diwaspadai.

(90) Selain mempertanyakan apakah identifikasi sumber sudah jelas dan lengkap, ada satu pertanyaan lain yang layak diajukan pada sumber yang disebut pakar itu: informasi jenis apa yang dicari moderator atau reporter dari pakar tersebut? Jika sang pakar dicecar seputar fakta, ini tanda bahwa proses jurnalisme verifikasi sedang berlangsung. Jika mereka diminta opininya saja, itu tanda bahwa kita berada di alam lain. Jika pertanyaan diarahkan untuk memancing respon tertentu, itu tanda bahwa narasumber tamu itu cuma kedok, kita tak sedang disuguhi penyidikan, melainkan persuasi –yang biasa muncul di jurnalisme pengukuhan.

(91) Banyak sekretaris pers di Capitol Hill, misalnya, meminta dikutip sebagai “informasi background,” istilah wartawan untuk menjelaskan keterangan seseorang yang tak mau dikutip. Alasan khas yang mereka sodorkan untuk dilindungi identitasnya, meski dibayar dengan uang rakyat, adalah agar tak terlihat menjatuhkan sang bos di media. Wartawan yang mengabulkan permintaan ini demi mendapat akses bisa dibilang secara pasif tengah merampok akuntabilitas publik di PNS.

(92) Jika alasan mengutip sumber anonym itu tak disertakan, anda sebaiknya menunda kesimpulan hingga ada bukti lanjutan yang mendukung keterangan sang sumber anonym. Jika tak ada, berhati-hatilah.

(93) Fenomena poin pengarahan dan konsep pesan terkoordinasi yang ditelan media modern. Poin pengarahan adalah pedoman ungkapan dan omong-kosong marketing politik yang disiapkan oleh tim komunikasi untuk memanipulasi persepsi publik yang didesain memberi penjelasan seragam seputar program, ide, keyakinan, atau produk. Ia adalah senjata yang menghujani jurnalisme pernyataan yang pasif, dan dimanfaatkan jurnalisme pengukuhan sebagai pentung.

Pengulangan intens akan mengubah pernyataan menjadi keyakinan.

(95) Kita musti berharap wartawan mengedepankan kejelasan dan meninggalkan omong kosong. Namun kita tak boleh membiarkan kegagalan pers menumpulkan tanggungjawab kita untuk peka terhadap bahasa Orwellian –terkait dengan sistem politik di mana pemerintah mengontrol semua aspek kehidupan manusia. Kita musti berharap wartawan siap menghadapi, demikian juga dengan kita.

Bahasa deksriptif yang diseragamkan adalah tanda adanya sesuatu yang lain di luar bukti pendukung.

(96) Anonim atau tidak, tiap sumber memiliki motif yang mungkin tersimpan baik, atau setidaknya tak berbentuk klaim. Kita perlu mempertanyakan kenapa sumber menyajikan informasi itu dan stempel apa yang mungkin coba mereka sematkan melalui itu.

“Pendekatan yang saya ambil hanya berbicara pada sumber, ngobrol, dan tak menekan mereka. Kebanyaka orang yang berurusan dengan saya, sumber saya, adalah orang yang bicara tentang orang penting yang berkuasa; dan mereka sendiri bukan orang penting.

Pendekatan ini cukup membantu munculnya sumber pembisik informasi yang seringkali mempertaruhkan posisi dan bukannya menguntungkan diri sendiri. Dari sumber macam itu, Risen mengumpulkan bukti pendukung dan penentang. Dengan bekerja menggali sumber dari bawah ke atas seperti itu, dia memulainya dari sumber yang tak berkepentingan atas kebijakan tertentu sehingga cenderung menyajikan pendapat berlainan dari atasan mereka. Menggabungkan informasi dari berbagai tingkat seperti itu menciptakan kesempatan lebih untuk mengenali bias personal atau politik.

(97) Salah satu tolak ukur keandalan wartawan adalah sejauh mana dia membantu kita mengakses sumber yang disajikan dan bukannya memakai mereka untuk tujuan sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s