BLUR-Apa yang kita butuhkan dari “jurnalisme era baru” (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(178) Berita hari ini yang dikabarkan koran tak lain adalah campuran fakta, propaganda, rumor, kecurigaan, gelagat, harapan dan ketakutan. Dan tugas memilah serta mengurutkan berita adalah salah satu tugas suci dan mulia dalam demokrasi. Mengingat koran adalah kitab suci demokrasi secara harfiah, yang menjadi acuan orag memutuskan tingkah lakunya.

(180) Kami menggarisbawahi norma yang dicita-citakan jurnalisme professional. Nilai itu meliputi independensi, verifikasi, kesetiaan utama pada warga ketimbang pada kepentingan politik atau korporasi, berdedikasi untuk menimbang kejadian ketimbang komitmen untuk memaksakan hasil spesifik atau solusi kebijakan.

(181) Dua perubahan ini, ketergantungan pada sumber beragam dan konsumsi berita berkelanjutan, merepresentasikan pergeseran drastis yang berimplikasi besar terhadap pembelajaran publik. Alih-alih mendapat satu berita menyeluruh dalam sekali waktu dan berurutan, memindai koran atau menonton siaran berita, kita kini memperoleh satu berita satu waktu, subyek demi subyek, pada waktu berbeda dan dalam bentuk pecahan.

(182) Bergesernya ketergantungan pada satu perusahaan media sebagai penyedia berita utama adalah makna penting berubahnya peran pers sebagai penjaga pintu.

(183) Jurnalisme mesti berubah dari sekadar sebuah produk –berita atau agenda perusahaan media- menjadi pelayanan yang lebih bisa menjawab pertanyaan konsumen, menawarkan sumber daya, menyediakan alat. Pada tingkat ini, jurnalisme harus berubah dari sekadar menggurui –mengatakan publik apa yang ia perlu tahu- menjadi dialog publik, dengan wartawan menginformasikan dan memfasilitasi diskusi.

Namun, bukan berarti profesionalisme dalam berita kini usang, atau bahwa berita bertutur tak lagi relevan. Mereka, dengan sendirinya, bagaimanapun juga, tak lagi cukup.

Ide pentingnya adalah: pers ke depan akan memperoleh integritas berdasarkan jenis konten yang disampaikan dan kualitas pekerjaan, bukan dari fungsi eksklusifnya sebagai penyedia informasi tunggal atau perantara antara sumber berita dan publik.

Pekerja pers harus mengganti ide tunggal dari pers sebagai penjaga pintu satu-satunya, menjadi ide variatif yang lebih baik berdasarkan keperluan konsumen akan berita –khususnya berita mendalam, ketimbang sekadar komentar atau diskusi.

(184) Kita akan membutuhkan pers untuk membantu mensahihkan fakta yang benar dan dapat dipercaya.

Kita perlu beberapa cara untuk memilah antara yang bisa dipercaya dan akurat (di tengah belantara argumen yang kian lebat), antara pokok pembicaraan dan plintiran, realitas alternatif sumber partisan yang kini bicara terlalu bebas melalui jurnalisme pernyataan dan pengukuhan, dan dari media korporasi dan partisan yang terus bertambah.

Untuk menjalankan peran penyahih ini, tetap diperlukan tingkat keahlian lebih tinggi di ruang redaksi, khususnya di cabang wilayah subyek mereka. Ia juga akan memerlukan wartawan yang menyediakan informasi dengan dokumentasi dan transparansi ekstra mengenai sumber dan metode.

(185) Jurnalisme juga sangat cocok memainkan peran penuntun akal –untuk meletakkan informasi pada konteks dan mencari kaitannya hingga konsumen bisa memutuskan apa makna berita itu bagi kita.

Wartawan verifikasi mesti membantu kita melakukan ini. Mereka harus mencari informasi bernilai, tak hanya baru, dan menyajikan dengan cara yang bisa dipahami sendiri oleh membaca.

Membangun makna tidaklah sama dengan menginterpretasi berita.

Upaya membangun makna mensyaratkan pencarian keterkaitan antar fakta untuk membantu menjawab pertanyaan kita. Termasuk, mencari informasi yang menjelaskan kenapa dan bagaimana sesuatu terjadi. Perlu penjelasan tentang implikasi berita dan mengenali pertanyaan yang tak terjawab.

Peran penuntun akal, dengan kata lain, bukanlah sekadar peran komentator. Ia bersifat mendalam, dengan pencarian fakta dan informasi yang, sebagaimana tujuan penuntun akal, menjadikan semua saling terkait.

(186) Pers berposisi sebagai jaksa independen yang menyortir, dan dengan kekuatan lampu senternya, ia membentuk, tak sekadar mengikuti, agenda baik dalam konteks membongkar pelanggaran hak publik atau mengubah paradigma.

Di sini, pers memainkan peran penting hanya dengan muncul, mengada di sana. Keberadaannya menjadi cahaya yang memastikan demokrasi tetap hidup. Di era baru sekarang, pers yang lemah tak boleh merajalela. Langkah penting di sini, minimal, adalah mengenali tempat yang mesti diawasi dalam komunitas demi keutuhan dasar masyarakat sipil, dan hadir yang dengan kehadirannya itu mengisyaratkan pesan kepada penguasa bahwa mereka diawasi.

(187) Di titik ini potensi dibentuknya kemitraan baru dengan warga, ikatan baru yang bisa memperkuat komunitas.

Jurnalisme lebih mudah menggarap berita yang sudah dibicarakan banyak orang, ketimbang fokus pada persoalan yang terlupakan. Lebih mudah menambahi percakapan yang ada ketimbang menciptakan yang baru. Namun untuk menghadirkan saksi, kita perlu jurnalisme untuk melakukan upaya khusus mengumpulkan berita yang tak dihiraukan orang lain, dan tak cuma meramaikan koor yang sudah ada demi menggenjot lalu lintas web berita. Di titik ini, media baru sangatlah kuat.

(187-188) Dan ini semua diawali dengan kesadaran bahwa konsumen atau warga adalah mitra penting, yang didengar dan dibantu, bukan diceramahi. Proses kemitraan ini juga membantu jurnalisme jadi lebih baik dengan memaksa mereka berpikir lebih keras meletakkan informasi dalam konteks berguna, lengkap dengan cara menyikapinya, dan memberitahu bagaimana mereka bisa melakukan itu, dan ke mana mereka bisa dapat informasi lebih, bahkan ketika peristiwa masih berlangsung, tak hanya setelah selesai. Hasil akhir dari semua itu adalah dialog berkesinambungan.

(189) Para wartawan, khususnya yang lokal, juga musti membantu terbentuknya diskusi dan wacana yang melibatkan warga secara aktif.

(190) Dan pada satu titik yang tak mungkin dipahami konsultan pemasaran dan merek, publik telah menangkap sinisme dan keburukan di balik slogam “memihak anda,” untuk “mengabdi pada anda,” dan sebagainya.

Jika tak menyajikan pelayanan apapun, ia hanya menyia-nyiakan waktu dan sumber daya konsumen berita yang kian proaktif dan penuntut. Berita dengan nilai terbatas atau sepotong-potong adalah tanda bahwa sebuah media tak memberi cukup pelayanan.

Jurnalisme, dengan kata lain, tak menjadi usang. Ia hanya menjadi lebih rumit.

(191) Teknologi secara drastis memberi tanggung jawab dan kapasitas lebih bagi pencari berita. Internet tak hanya menciptakan jurnalisme baru; tapi membuat jurnalisme lebih baik, yang menggali dan bersinggungan dengan publik lebih dalam.

(191-192) Daftar elemen web :

  1. Grafik yang bisa diatur atau diubah pengguna.
  2. Galeri foto (yang dibuat oleh staf ataupun warga).
  3. Tautan yang menempel di kata kunci berita yang mengarahkan pembaca ke definisi atau elaborasi.
  4. Tautan menuju pembuat berita dan organisasi yang disebut dalam berita dengan biografi dan detil lain.
  5. Tautan yang mendukung fakta kunci dalam berita, termasuk dokumen atau materi utama.
  6. Transkrip lengkap wawancara.
  7. Wawancara video atau audio.
  8. Biografi penulis berita.
  9. Jadwal interaktif berisi peristiwa kunci yang menjadi latar belakang kejadian berita sekarang.
  10. Basis data yang relevan dengan berita dan bisa dilayari, beberapa ada di situs media tersebut.
  11. Daftar pertanyaan yang sering diajukan soal isu terkait dengan berita.
  12. Tautan menuju blog yang juga mengupas atau bereaksi terhadap berita tersebut.
  13. Undangan masuk ke materi “sumber khalayak” di berita atau pertanyaan yang muncul dari berita itu –saat media meminta informasi pada pengunjung tentang elemen berita yang belum lengkap.
  14. Kesempatan bagi warga untuk memberi tahu media tentang informasi yang ingin mereka ketahui.
  15. Latar belakang tentang apa yang bisa dikerjakan pembaca terkait dengan isu yang diberitakan.
  16. Tombol untuk “membagi berita ini” ke situs sosial media seperti Digg dan reddit.
  17. Koreksi dan update berita, dengan crossout dan ad-denda yang dimasukkan langsung ke teks asli.

Dibandingkan dengan kondisi yang melingkupi media cetak, data yang melingkupi jejaring informasi di web kian padat, luas dan dalam. Web menyajikan potensi liputan lebih kaya dan karenanya pehamaman yang lebih baik.

(193) Di situasi ini, wartawan yang dulu ibaratnya membangun rumah dengan hanya bermodal palu, gergaji, obeng, dan tangga, kini bisa memanfaatkan semua alat yang dijual di toko bangunan.

(194) Pers harus lebih transparan tentang bagaimana dia memverifikasi berita, sehingga publik bisa tahu mengapa pers mesti dipercaya dan mereka bisa membangun proses verifikasinya sendiri.

Transparansi adalah alat ukur kepercayaan terbaik di dalam informasi yang disediakan perusahaan pers. Transparansi adalah cara mereka menciptakan kredibilitas.

Ide dasar transparansi cukup sederhana: jangan pernah menipu audien. Katakan pada mereka apa yang anda tahu dan apa yang anda tidak tahu. Katakan pada mereka siapa sumber anda, dan jika anda tak bisa menyebut sumber, katakan pada mereka di posisi seperti apa sumber tersebut sehingga dia bisa tahu dan bias apa yang mungkin dia miliki. Dengan kata lain, sediakan informasi itu sehingga orang bisa melihat bagaimana ia dibangun dan bisa membentuk sikap tentang apa yang dipikirkan.

(195) Para wartawan perlu tetap berpikiran terbuka –tak hanya terhadap apa yang mereka dengar tapi juga tentang kemampuan mereka memahami. Wartawan tak boleh berasumsi. Mereka mesti menghindari sikap arogansi terkait dengan pengetahuan dan harus memastikan telah memasukkan asumsi mereka ke dalam proses verifikasi.

Jaringan itu berisikan orang yang setuju menyediakan beberapa latar belakang detil dan informasi personal. Mereka dikelompokkan berdasarkan profesi, lokasi, umur, agama, etnis dan minat. Perusahaan pers mengirim pertanyaan seputar berita, memindai dan memilih respon yang mengandung perspektif atau wawasan khusus atas subjek berita.

(196) Jaringan Public Insight Journalism memilih menyuruh reporternya mengejar fakta bahwa kenaikan harga bensin membuat penyedia layanan kesehatan pedesaan sulit mendatangi pasien mereka, sehingga melahirkan berita tentang kesehatan publik yang jauh lebih penting dikupas.

Jurnalisme seharusnya bisa berbuat lebih dari sekadar bertutur. Informasi mesti hadir dalam lebih banyak bentuk –statistik, grafik, suara, video, gambar. Teknologi yang memungkinkan interaksi antara konsumen dan wartawan, untuk bersama-sama menganalisis usulan bujet, misalnya, harus menjadi bagian lebih besar dari jurnalisme.

(197) Ruang redaksi modern bahkan bisa jadi perlu staf metodologis, seseorang yang mencari data dan membantu reporter tahu statistik seperti apa yang masuk akal dan yang tidak, analisis data macam apa yang logis dan yang cacat. Ruang redaksi modern mungkin perlu akses khusus ke beberapa sejarawan lokal yang bisa dilibatkan dalam rapat atau perencanaan berita yang diliput.

(198) Jika perusahaan pers terus mendefinisikan diri mereka sendiri secara tradisional, dengan cara terbatas –sebagai deskripsi produk yang dihasilkan ketimbang fungsi melayani kehidupan publik- peluang jurnalisme dan nilai yang dikandungnya untuk bertahan pun kian terbatas.

Editor tak bisa lagi cuma mengedit naskah. Mereka harus memahami mana di antara daftar piranti baru jurnalisme yang mesti digunakan untuk berkomunikasi. Dan yang terpenting, mungkin, mereka harus mengakurasi dialog yang berkembang dengan audiens, demikian juga dengan materi di web.

Rosen menyarankan, miliki beberapa elemen mulai dari kebijakan pribadi pengguna, mempermudah verifikasi sebuah bagian web, dan menjadikan verifikasi sebagai bagian kritis dari kerja editor.

(199) Verifikasi menjadi tugas lebih besar bagi editor, dan bukannya lebih kecil. “Kita berada di era volume,” tulis wartawan Gary kamiya dari Slate.com.

Pers harus jauh lebih sadar mengenai fungsi yang dijalankan masing-masing artikel atau konten berita kilas yang diproduksi. Pers harus bertanya, bagaimana orang memakai konten ini? Bagaimana ini membantu mereka? Apa nilainya? Apalagi yang bisa dikerjakan selain itu? Perusahaan pers yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang tak bisa, bersiap-siaplah binasa.

(200) Organisasi pemberitaan adalah tempat yang mengakumulasi dan menyintesis pengetahuan seputar komunitas, baik komunitas secara geopolitik maupun komunitas yang dialasdasari kesamaan topik atau minat, dan lantas menyodorkan pengetahuan secara interaktif melalui berbagai cara.

(200-201) Mereka hanya dituntut membuat produk yang sama seperti sebelumnya, memolesnya di beberapa tempat, menemukan cara baru membuat berita atau topik untuk diliput. Hasilnya, kebanyakan pengetahuan yang selama ini ada di ruang redaksi tak sampai ke publik. Mereka tertinggal di file, atau di kepala reporter dan editor. Perusahaan media umumnya tak berpikir tentang produk baru atau cara baru menyebarkan pengetahuan. Dan cara pandang sempit nan saklek dalam menyampaikan pengetahuan ke publik menjadi salah satu alasan industri ini kehilangan kesempatan bisnis baru, baik itu kegagalan untuk beralih menjalankan fungsi pencarian dan agregasi, atau berpangku tangan ketika pihak lain membangun media online superior yang memenuhi klasifikasi di atas.

Satu-satunya cara organisasi pemberitaan bisa menyongsong masa depan adalah dengan memahami fungsi yang dimainkan dalam kehidupan.

(202) Di era internet, ide mengenai berita yang tahan lama, atau berita harus segar tiap hari adalah using. Berita kini bisa menjadi hidup, tumbuh, tiap hari.

(206) Dalam kompetisi baru ini, teknologi komunikasi yang tengah berkembang perlu dimanfaatkan untuk menciptakan jurnalisme yang menyatukan wartawan dan warga, secara saling menguntungkan.

Jurnalisme era baru, yang kami usulkan di sini, membutuhkan itu untuk memastikan prinsip jurnalisme tradisional tak lenyap, wartawan harus menyesuaikan prinsip yang tak lagi bisa diubah oleh teknologi dalam pendisitribusian dan organisasi pemberitaan. Distribusi baru tersebut ditentukan oleh portabilitas teknologi dan pengguna akhir: pengaturan materinya disesuaikan untuk melayani audien yang beragam; dan interaktivitasnya dipakai untuk menciptakan hubungan baru dengan publik untuk membawa mereka pada proses yang bisa membantu menciptakan komunitas kepentingan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s