Saripati Buku : Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer

(12) Ia tak tahu apa yang di hadapannya. Ia hanya tahu: ia kehilangan seluruh hidupnya. Kadang dalam ketakutan ia bertanya: mengapa tak boleh tinggal di mana ia suka, di antara orang-orang tersayang dan tercinta, di bumi dengan pantai dan ombaknya yang amis.

(83) Kalau kau kuat sekalipun, jangan kau tantang maut kalau tak perlu.

(87) Betapa mahalnya pengetahuan di sini. Aku harus belajar segala, dari membatik, menyulam, sampai membaca dan mengaji. Terkecuali belajar tentang suami sendiri, bahkan juga pendapat suami tentang istrinya.

(88) Ia tahu dengan tepat pula: ia hanyalah hak milik Bendoro. Yang ia tak habis mengerti mengapa ia harus berlaku sedemikian rupa sehingga sama nilainya dengan meja, dengan kursi dan lemari, dengan kasur tempat ia dan Bendoro pada malam-malam tertentu bercengkrama.

(98) Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Tambah tinggi, tambah mematikan jatuhnya. Orang rendahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.

(105) Sahaya pernah dengar orang bilang, Bendoro, orang bawahan selalu lapar, karena itu matanya melihat segala-galanya, kupingnya dengar segala-galanya dan hatinya seakan segala-galanya, sedang jantungnya deburkan darah buat segala-galanya.

(119) Mbok, kau mau lawan kejahatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu. Kau pun tak mampu. Kemudian kau cuma melawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan.

(120) Kau tidak mengabdi kepadaku, man, tidak, man! Kalau kau cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari Bendoro baru, kalau dia juga tewas? Tidak, man, tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air.

(133) Ia tersedan-sedan di sini. Semua pada banting-membanting. Buat apa? Buat apa? Ia merintih buat kehormatan dan nasi. Di sana di kampung nelayan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi!

(138) Besok kau mulai tinggal di kota, nduk, jadi bini seorang pembesar. Kau cuma buka mulut, dan semua kau maui akan berbaris datang kepadamu. Kau tinggal pilih. Ah bapak. Bapak. Itulah dunia yang kau tawarkan padaku, dunia serba gampang, cuma hati juga yang berat buat dibuka, mesti tinggal memilih dan tinggal meminta. Ah, bapak. Bapak. Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini. Aku cuma butuh orang-orang tercinta, hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut. Ah, bapak. Bapak. Sia-sia kau kirimkan anakmu ke kota, jadi bini percobaan seorang pembesar.

(156) Lebih dua tahun aku tinggal di kota, sampai akhirnya kau datang. Dan baru sekarang ini aku tahu, orang-orang kita, orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati orang-orang kampung.

(159) Apa yang oh? Kau ini aku tertawa tak boleh, begini salah, begitu salah, apa yang oh? Kami memang orang miskin, dan di mata orang kota kemiskinan pun kesalahan. Aku masih ingat pada hari-hari pertama. Bendoro bilang kami orang-orang jorok, tak tahu iman, itu miskin, kau mengerti agama?

(174) Ternyata cuma segumpil kecil saja kelegaan yang diperoleh Gadis Pantai. Pasang-pasang mata yang menyinarkan pandangan tak wajar padanya, kesopanan yang dibuat-buat, kekakuan yang menjengkelkan. Terutama orangtuanya yang begitu jauj terhadapnya, menyebabkan ia merasa seperti batu karang tunggal, tak punya suatu hubungan dengan dirinya, terkecuali laut yang mengandung kesepian.

(177-178) dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-galanya tak sampai.

(179) Ah, bapak. Aku cuma ingin diperlakukan seperti dulu. Pukullah aku kalau aku bersalah. Tapi jangan cabarkan hatiku semacam ini. Apa tak cukup penanggunganku di kota? Apa kurang banyak yang kuberikan buat penuhi keinginan orangtua jadi bini priyayi? Mengapa sesudah seumur ini bapak sendiri bersikap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku. Apa dosaku?

(180) Gadis Pantai berhenti, meneleng ke belakang. Mengawasi bapak yang berjalan menunduk dengan pandang menggaruk pasir. Pemberani itu yang menentang laut melawan badai, mengaduk laut, menangkap ikan setiap hari… Betapa jadi kecil hatinya kini hanya karena berada di dekat anaknya sendiri, dan anak yang jadi bini kecil priyayi.

(183) Kotor! Miskin! Kurang beriman! Neraka! Ia tak pernah dengar kata-kata itu sebelum ke kota. Dan kata-kata baru itu banyak mengacaukan otaknya. Bagaimana ikan asin bisa dibuat kalau orang tak berani tarik ludes isi perut setiap ikan yang menggeletak di atas nampan? Binatang-binatang itu akan busuk dan sia-sia saja kerja kepahlawanan bapak dan abang-abang. Dan bau amis jala. Dan seluruh laut! Minyak wangi? Memang menyenangkan, tapi dia tak kuasa panggil ikan datang ke rumah manusia dengan sukarela.

(184) Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: siapa nama? Dari mana? Di sini, orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.

(185) Orang-orang tertawa bergegar-gegaran. Gadis Pantai menghela nafas, itu tertawa manusia kampungnya: lepas, bebas, bukan tertawa budak di depan Bendoro.

(198) Tapi nenek-nenek pun tiada sudi jadi bini lelaki malas.

(208) Ah, sebodoh-bodoh orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan.

(238-239) sekarang setiap Bendoro pulang dari bepergian, hampir tak pernah bawa oleh-oleh lagi. Ia pun tak mengharapkannya. Gedung ini lambat-laun membikin ia belajar tak mengharapkan sesuatu apa. Dari mengontrol dapur ke pekerjaan batik, dari berbelanja di emper dapur sampai melayani Bendoro, dari malam-malam Jumat yang lowong sampai pada malam-malam lainnya, semua itu terhampar di hadapan dan di belakangnya, laksana jalan-jalan sunyi-senyap. Hanya seorang saja yang menempuh jalan itu, dia sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s