Beralih ke Kerudung Modern?

Satu petang selepas magrib, kami duduk berdua sambil menonton Naruto. Dia baru saja menghabiskan seporsi nasi goreng makan malamnya. Tiba-tiba dia tercetus bilang, “Pernah pake jilbab yang model kaya sekarang?” katanya. Eh? Aku tidak siap dengan jawaban soal ini. Kaget juga mendadak ditodong dengan pertanyaan demikian.

Sebenarnya belakangan memang agak khawatir juga, melihat model-model kerudung masa kini yang macam-macam itu. Khawatir gaya diri sendiri semakin kuno, makin ketinggalan zaman. Karena masih bertahan dengan kerudung segi empat lebar yang dilipat segitiga, dan disatukan di bawah dagu dengan peniti, ditambah bros sekadarnya di pundak kiri.

Dan sekarang si pacar yang bertanya demikian. Jadi berpikir apakah dia merasa agak kurang nyaman dengan gaya jadul kerudungku. Gaya yang populer sewaktu aku masih sekolah di SMA Muhammadiyah.

“Hummm… Punya sih satu kerudung yang model sekarang. Dikasih mbak Nita. Tapi belum pernah dipake. Sudah pernah diajarin mbak Nita cara pakenya, tapi lupa lagi,” kataku. Teringat pada kerudung ungu dengan motif bunga kecil-kecil yang dibelikan mbak Nita, teman satu kostku.

Mikirnya apa ya… Ribet aja gitu. Harus dililit, diputer ke kanan ke kiri, ke belakang kepala. Bros yang harus disemat di sisi telinga (pakai helmnya gimana coba?). Jarum pentul untuk menyatukan kerudung dalam dan kerudung luar supaya nggak bergeser (ngeri ketusuk ini mah). Rasanya kurang cocok untuk orang praktis sepertiku. Bukan penyabar dan tidak suka yang ribet-ribet.

Tapi pertanyaan si pacar jadi mulai membuatku berpikir ulang untuk mengikuti trend kerudung. “Saya pingin liat aja, gimana kalau kamu pakai jilbab model sekarang,” katanya sambil tersenyum. Aduh masnya… *_*

Dulu sih, waktu kuliah pernah juga coba macem-macem kerudung. Pakai bandana motif di atas kerudung. Pakai syal. Atau dikepang di sisi kanan atau kiri (aku masih ingat caranya). Tapi itu dulu waktu masih gaya preman, pakai kerudung cuma sampai menutup leher. Semenjak kerja, aku lebih nyaman dan aman pakai kerudung yang menutup dada. Dan kerudung-kerudung modern itu, lebih banyak hanya menutup sampai leher saja.

Beberapa pekan sesudah itu, aku liputan ke Indonesia Fashion Week di JCC. Niatnya cuma memenuhi janji ketemu dengan Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, ibu Euis Saedah. Tapi ternyata beliau sibuk dan aku harus menunggu.

Sambil menunggu, aku menemani Prita, teman sekantor yang kebetulan ditugaskan meliput di lokasi yang sama. Prita ada janji wawancara dengan salah seorang desainer baju muslim. Heuheuheu… Jadilah kami berjalan menyusuri stand-stand pakaian muslim x_x.

Sebenarnya aku tertarik mencari kerudung segi empat lebar yang ada motifnya. Supaya tidak terlalu polos. Errr… mengurangi kadar kejadulan. Tapi tidak ada satu pun stand yang menyediakan kerudung segi empat. (Astaga, nanti bagaimana kalau sudah tidak ada kerudung segi empat lagi yang dijual. Masa harus memakai kerudung segi empat yang ada sampai bulukan).

Mereka memajang kerudung dengan motif cantik. Mulai dari yang kalem sampai yang ramai. Mulai dari warna lembut sampai terang benderang. Yang bahannya dari kain paling ringan sampai rajutan. Para desainer langsung atau penjaga stand, menawarkan setiap yang lewat untuk mampir melihat-lihat kerudung yang dijajakan.

Ku jawab nyengir dan geleng kepala, “Enggak ah, nggak bisa pakainya.” Walaupun sebenarnya kepingin juga beli. Tapi kan percuma kalau cuma menambah jejeran kerudung di lemari. Lalu mereka akan menatap aneh pada kerudung yang kupakai. Kuno, mungkin.

Lalu ada satu stand yang menjadi magnet buatku. Dijaga oleh dua perempuan muda berwajah arab. Satu perempuan duduk diam di kursi, sementara yang satu lagi sibuk memakaikan kerudung pada temannya yang duduk. Mereka menawari kami mampir untuk melihat mereka memeragakan cara memakai kerudung-kerudung model sekarang itu.

“Ini gampang kok kakak. Nggak ribet. Simpel,” kata mereka berdua sambil tersenyum manis sekali.

Karena penasaran, aku dan Prita pun mampir melihat demo kerudung mereka. Ternyata kerudung yang mereka tawarkan memang lebih simple. Kerudung dijahit sedemikian rupa sehingga antara kerudung dalam dan kerudung luar menyatu. Tinggal memasukkan ke kepala, dan bisa gegayaan dengan berbagai model. Lucu juga sih.

Aku akhirnya memutuskan membeli satu. Harga agak mahal ku anggap sebagai ongkos mereka mengajariku demo kerudung modern ini *pembenaran.

Ternyata ada satu stand lagi yang menawarkan demo kerudung. Di stand berikutnya ini model kerudungnya berbeda. Salah satunya diberi nama kerudung sashira. Harganya lebih murah. Tapi yang menawarkan adalah laki-laki. Aku jadi ragu, memangnya ngerti? Aku aja yang pake kerudung bertahun-tahun mikirnya ribet.

Laki-laki itu tertawa. “Saya desainernya. Jadi harus tahu perempuan sukanya pake kerudung yang gimana,” katanya.

Aku masih ragu juga. Ku bilang, aku suka pakai kerudung yang menutup dada. Ia menjawab dengan tersenyum, seperti dokter yang memahami pasiennya. Dia bilang menyediakan beberapa pilihan kerudung praktis model masa kini yang panjangnya hingga ke dada.

Ia lalu mendemokan pemakaian kerudung dengan menggunakan manekin. Dengan sabar dia mengajariku langkah demi langkah. Model demi model. Semuanya asing buatku, hal baru. Jadi baru saja selesai satu rangkai tahapan untuk satu model, aku sudah lupa lagi bagaimana awalnya hahahaha…..

Tapi si desainer ini mengajariku dengan sabar, sampai bisa. “Nanti juga ketemu sendiri yang pasnya gimana,” kata dia berusaha meyakinkan.

Akhirnya aku membeli sashira oranye, dan satu kerudung lagi yang lupa ia beri tahu namanya.

Ternyata bukan cuma aku saja yang enggan dan masih konservatif menganggap kerudung modern itu ribet. Beberapa ibu-ibu yang lewat juga menolak dengan alasan sama sepertiku: nggak bisa pakenya, ribet.

Si desainer dengan sabar mengulangi demonya. Tak bosan-bosan. Ya penting juga ini untuk penjual. Aku salut juga, yang bikin mahal itu idenya. Bagaimana dia bisa membuat kerudung jadi keren dan simple. Bikin perempuan yang pake jadi cantik. Juga kesabarannya mengajari cara memakai kerudung.

Aku baru tahu, ternyata mode paling mutakhir adalah kerudung dalam bernama: antem (anti tembem). “Ini bisa membuat muka kelihatan lebih tirus, karena kerudungnya lebih maju sampai menutupi pipi,” ujarnya menawarkan pada serombongan ibu-ibu yang baru mampir.

Wakakakak… sumpah langsung ngakak pas denger namanya. Antem..!! astaga..!!! Memang betul-betul mengetahui kebutuhan perempuan. Ini yang bikin beda dengan stand lainnya yang hanya sekadar minta untuk mampir.  Rombongan ibu-ibu itu pun langsung membeli antem satu orang satu. Marketingnya berhasil, ibu-ibu itu pun pulang dengan senang membawa si antem dengan harapan muka bisa tirus :D.

Aku pulang membawa sashira dan temannya (nggak menemukan si antem dengan warna yang cocok). Walaupun pulang larut dan mata mengantuk. Dengan semangat aku mematut diri di depan kaca, mengulangi pelajaran kerudung satu per satu. Setiap jadi lalu dipotret, dikirim pada si pacar. Meminta dia memilih, mana yang lebih cocok buatku. Dan dia dengan puasnya tertawa-tawa melihat kelakuanku malam itu -____-

Besoknya, aku langsung memakai salah satu kerudung. Tadinya sashira, tapi karena panas, ribet, jadinya pakai temannya sashira aja. Kerudung yang dibeli di dua perempuan Arab. Kebetulan pula sore itu aku ketemu si pacar. Dia malah tertawa lagi. “Kerudungnya aneh, kayak mau ke pengajian. Mamah wita..” katanya puas meledekku.

Hadeeeeh, ya sudah, ku putuskan untuk kembali ke selera asal. Kerudung segi empat lebar yang dilipat segitiga. Disatukan di bawah dagu, dengan peniti. Dan bros sekadarnya di pundak kiri. Nggak apa-apa deh dibilang konservatif. Si pacar pun setuju.. hehehe.. Tapi tak apa lah sekali-kali kerudung mamah-mamah ini dipake juga. Sudah terlanjur belajar demonya, sekali-kali diaplikasikan biar nggak lupa 😉 **

Delibel Cafe, Tebet. (libur asosial karena si pacar kerja)

Bang…

Bang…, aku tadi pagi ke Bogor. Liputan diskusi di Jalan Pangrango. Jalan yang biasa kita lewati setiap pulang dari Botani Square malam-malam. Aku baru tahu nama jalan itu barusan tadi. Begitulah, kalau duduk di boncengan lebih sering tidak fokus. Menyerahkan arah sepenuhnya pada pemegang kemudi. Kepada Abang.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menyambangi Bogor. Kalau tidak salah terakhir itu waktu Abang wisuda ya..? Dan mood Abang kurang bagus waktu itu, sehingga kita lebih banyak saling diam. Sampai-sampai, aku bisa menamatkan novel dalam waktu sehari karena kita nyaris tidak mengobrol.

Ada rasa rindu yang menyergap waktu aku sampai tadi pagi. Rindu pada liburan mahal yang kerap kita habiskan berdua-dua. Mahal karena libur yang kupunya cuma sehari sepekan. Liburmu juga kadang-kadang dipakai untuk mengerjakan tugas sebagai asisten dosen di kampus. Terakhir-terakhir itu bahkan Abang cuma punya waktu setengah hari Sabtu untukku. Karena paginya harus mengajar dulu.

Dan aku cuma bisa datang ke Bogor sekali sebulan. Menunggu waktu gajian. Karena aku tak tahan kalau tak memanjakan Abang setiap pulang.

Berkelebat ingatan ketika melewati Terminal Bus Baranangsiang tadi. Teringat bus yang mengantarku dari Pasar Rebo setiap aku datang ke Bogor. Air liurku selalu terbit melihat pondok-pondok makan di sepanjang terminal. Aneka makanan khas Sunda dan macam-macam lalapan segar itu bikin aku tergoda. Namun niat itu selalu urung, ingat laranganmu yang mencegahku. “Itu debu mbak Wita.., nanti sakit perut loh.”

Ujung-ujungnya kita makan di KFC, di seberang Botani Square itu. Yang kemudian kita sepakati menjadi muara pertemuan. Aku selalu memesan makanan untuk Abang lebih banyak dari yang seharusnya. Dua potong ayam, nasi dan kentang goreng. Ditambah lagi puding, dan cola. Kau makan dengan lahap, sampai meringis kekenyangan.

Aku akan tertawa-tawa dan memotretmu, “Tededeh, dak pacak ngapo-ngapo,” kataku meledekmu. Dan kau hanya meringis saja. Makanmu selalu tak habis karena memang porsi yang ku pesan berlebihan. Aku malah memesan tambahan lagi untuk dibungkus, supaya bisa kau makan pagi-pagi besok ketika aku sudah kembali ke Jakarta lagi.

Sesi makan bersama ini selalu menjadi bagian kesukaanku. Karena sambil makan, cerita-cerita yang menggumpal selama jeda pertemuan saling mengalir. Cerita Abang tentang pelajaran-pelajaran baru di kampus, tentang dinamika perkawanan, dan tentang Ciapus tentu saja.

Lalu gantian aku yang menceritakan petualangan-petualanganku. Kau selalu berbinar-binar dan tak sabar menyimak ceritaku. Kadang sampai berdecak tak percaya. Kita tentu saja bertukar cerita soal hati. Tentang teman-teman dekat yang kita kagumi. Cerita-cerita yang tidak bisa kita bagi dengan orang lain. Hanya bisa kita bagi berdua.

Kau, Bang, tidak pernah menghakimiku. Tentang apa pun yang ku ceritakan padamu. Karena itu aku tak pernah segan membagi cerita apapun padamu, segala beban yang menggumpal selalu lepas mengalir ku bagi padamu, Bang.

Aku tak perlu berusaha menjadi kakak yang idealis di depanmu, Bang. Kau memahami setiap sisi lemah dan salah ku. Aku selalu bisa lepas menjadi diri sendiri saat bersamamu. Petualangan kita jauh dari rumah, telah memupuk pendewasaan untuk kita berdua.

Rasanya baru kemarin ketika kau tiba di Jakarta, dan menolak segala makanan yang ku belikan. Tak ada yang sesuai dengan selera lidahmu. Sampai-sampai aku menangis putus asa, karena merasa gagal menemani proses pendewasaanmu.

Kembali ke libur sehari kita yang mahal itu: tidak hanya makan bersama dan saling curhat. Kita lalu menyebrang ke Botani Square. Menjelajah rak-rak buku di Gramedia. Kemewahan yang bisa ku bagi padamu baru sekadar buku. Aku selalu membiarkanmu tenggelam dalam deretan buku-buku komputer atau buku agama kesukaanmu. Mengiyakan untuk buku apa pun yang kau inginkan.

Terkadang kita juga menonton film baru. Kau selalu senang, Bang, melihatku menyeludupkan makanan dari satpam-satpam bioskop yang cerewet itu. Kau akan tertawa-tawa kalau aku berhasil menyeludupkan apapun. Walau pun kadang makanan-makanan itu tidak kita makan juga karena terlalu asyik menyimak film. Atau sudah terlalu kekenyangan.

Kita baru pulang ketika hari sudah terlalu larut. Dengan motor penuh plastik belanjaan persediaan makananmu sebulan ke depan, ditambah dengan buku-buku. Kau akan menyetir kepayahan karena belanjaan kita kelewat banyak. Lalu kita berdua berdoa, berharap Bogor tidak disiram hujan.

Walaupun doa itu kadang tak manjur juga. Di perjalanan beberapa kali kita kebasahan diguyur hujan deras. Masih ingat waktu kita berteduh di dekat tukang martabak dan sama-sama menggigil kedinginan? Berjam-jam di sana tapi hujan tak juga reda, sementara waktu merayap ke tengah malam. Ujung-ujungnya kita pun pulang menerabas hujan. Membeku kedinginan ditampar angin gunung Salak.

Aku selalu enggan bangun setiap minggu pagi. Menunda keberangkatan ke Jakarta satu jam lebih lama. Atau bahkan lebih. Kadang Abang sampai cemberut karena tak jelas aku berangkat jam berapa. Agenda-agendamu jadi tertunda karena aku masih bergelung di kasur.

Di perjalanan kembali ke Jakarta, selalu saja ada sesal. Merasa ada yang belum ku lakukan untukmu. Entah belum mencuci pakaian kotormu yang menumpuk, atau membuatkanmu kentang goreng seperti yang biasa dibikinkan Ibu kita di rumah.

Yang jelas, Bang, aku sedang kangen sekali padamu. Kalau saja tadi kau ada di Bogor, seberes liputan kita pasti sudah bersenang-senang bersama. Sudah menumpuk cerita yang ingin ku bagi padamu, Bang. Tapi rindu yang membuncah itu patah, ketika siang tadi kau tidak merespon bbm dan teleponku. Apa kabar, Bang? Sedang apa di sana? **

Kedoya, Warung Bebek Surabaya selepas liputan dari Bogor

edisi romantis suap-suapan eskrim uhuk..
24103_1383543316051_1456039248_30983315_3467450_n
beli sepatu murah kembaran 😀
IMG02041-20100501-1117

when you’re gone-bryan adams & mel c

I’ve been wandering around the house all night
Wondering what the hell to do
I’m trying to concentrate but all I can think of is you
Well the phone don’t ring coz my friends ain’t home
I’m tired of being all alone
Got the TV on coz the radio’s playing songs that remind me of you

Chorus:
Baby when you’re gone I realize I’m in love
The days go on and on and the nights just seem so long
Even food don’t taste that good, drink ain’t doing what it should
Things just feel so wrong, baby when you’re gone

I’ve been driving up and down these streets
Trying to find somewhere to go
Yeah I’m looking’ for a familiar face but there’s no one I know
This is torture, this is pain, it feels like I’m gonna go insane
I hope you’re coming back real soon, coz I don’t know what to do

Chorus

Break

Oh, Baby when you’re gone (when you’re gone)
I realize I’m in love (so in love)
The days go on and on and the nights just seem so long
Even food don’t taste that good, (oh)
Drink ain’t doing what it should (ah)
Things just feel so wrong, (so wrong)
Baby when you’re gone (you’re gone)

Yeah, baby when you’re gone
Yeah, baby when you’re gone

 

2013-02-16 12.23.39

Geliat Patin dari Kampung Koto Mesjid

Gelisah membayangi warga Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Kampar, Kabupaten Kampar pada tahun 1999. Saat itu, warga yang bermukim di sana merupakan warga yang direlokasi dari Desa Pulau Gadang. Mereka semula mendiami daerah aliran sungai, harus pindah ke daerah perbukitan karena kampung mereka berada di genangan waduk PLTA Koto Panjang.

“Tadinya semua mendapat jatah kebun karet. Satu kepala keluarga (KK) dikasih 2 hektare. Tapi namanya tanah jatah ya tidak bagus,” ungkap Suhaimi (44), membuka perbincangan.   

Hasil karet ternyata tidak maksimal, sementara uang jatah ganti rugi terus menipis. Di sisi lain, warga yang berasal dari daerah aliran sungai ini mulai resah. Mereka sudah terbiasa dengan makan ikan. Tetapi ikan segar tidak mudah didapat di daerah perbukitan.

“Dari desa yang terbiasa ada ikan, lalu dipindah ke daerah perbukitan. Tentu kami cemas tidak bisa makan ikan.”

Suhaimi yang lulusan sarjana perikanan ini, menjadi perintis budidaya ikan patin di desanya. Belum banyak yang berani memulai, karena modal untuk budidaya ikan tidak sedikit. Suhaimi memulai dengan berbagai jenis ikan, sampai akhirnya berlabuh pada budidaya ikan patin. Ikan patin dinilai lebih cocok dibudidayakan di sana.

“Ada beberapa yang mencoba bikin kolam ikan, tapi seadanya saja karena biayanya mahal. Modal hampir tidak ada,” tuturnya.

Hingga akhirnya pada 2003, PT Telkom menyambangi desa ini dan memberi suntikan pinjaman lunak sebagai modal. Budidaya ikan patin pun mulai bergeliat di Desa Koto Mesjid. Budidaya ikan patin yang tadinya menjadi usaha sampingan warga setelah menyadap karet, justru lebih menghasilkan.

“Menyadap karet butuh waktu empat jam per hari. Pelihara ikan hanya dua jam per hari. Ternyata hasil dari ikan jauh lebih bagus.”

Suhaimi menjadi salah satu yang mendapatkan suntikan dana pinjaman dari Program kemitraan CDC PT.Telkom sebesar Rp30 juta. Modal itu digunakan untuk membuka kolam baru, pengeboran air, penataan pengairan dan pembelian bahan baku pembuat pellet (makanan ikan).

Saat mengandalkan penghasilan sebagai penyadap karet, penghasilan setiap kepala keluarga di Desa Koto Mesjid rata-rata Rp1,5 juta per bulan. Dengan mengandalkan setengah hektare lahan kosong di pekarangan untuk dijadikan kolam ikan patin, penghasilan warga naik hingga rata-rata Rp6 juta per bulan. Suhaimi sendiri saat ini mendapat omzet hingga Rp350 juta setiap bulannya.

Desa Koto Mesjid kini mendapat julukan ‘Kampung Patin’ dengan motto Tiada Rumah Tanpa Kolam Ikan, karena hampir 85% masyarakatnya memiliki usaha kolam ikan patin. Output panen ikan patin segar sekitar 6 ton perhari. Hingga saat ini telah ada sekitar 776 kolam ikan patin, dengan total lua sekitar 52 ha.

Suhaimi saat ini dipercaya menjadi Ketua forum Komunikasi Mitra Binaan Telkom “Patin Bina Sejahtera”. Usaha budidaya ikan patinnya sudah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembenihan, pabrik pakan ikan milik sendiri hingga penjualan ikan patin segar. Bahkan, Suhaimi mulai menjajal produksi makanan olahan berbahan dasar ikan patin. Setidaknya saat ini ada tujuh macam produk olahan ikan yang sudah diproduksi. Di antaranya, ikan asap, bakso, nugget, ikan asin, abon, dan kerupuk ikan patin.

“Saya berharap sampai akhir tahun ini bisa punya 15 produk olahan ikan,” ujarnya optimis.

Sayangnya, pasar ikan patin dari desa ini masih terbatas di Riau dan kota-kota sekitarnya Desa Koto Mesjid saat ini memenuhi pasar untuk seluruh Riau, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. “Para pedagang di sana yang datang kemari. Setiap datang bawa satu ton ikan segar. Saya berharap kami bisa memperluas pasar bahkan mengekspor,” kata Suhaimi bersemangat.

Menjajal Pasar Ikan Asap

Salah satu yang mengekor jejak Suhaimi adalah Firman Edi (35). Edi berganti profesi dari pedagang karet dan pinang, menjadi pembudidaya ikan patin. Tetapi karena banyaknya warga yang berduyun-duyun melakukan budidaya ikan, hasil produksi ikan patin pun melimpah ruah.

“Pada 2007 terjadi over produksi. Ratusan ton ikan hampir terbuang, pembeli tidak ada. Akhirnya kami berembuk bagaimana mengatasi kondisi ini. Diputuskan untuk membuat ikan asap,” kata Edi.

Edi tetap konsisten pada spesialisasi ikan asap hingga saat ini. Ikan asap memiliki konsumen tersendiri. Peminatnya terutama di daerah-daerah aliran sungai. Ikan asap bisa bertahan hingga 20 hari. Kalau waktu memulai ia hanya memproduksi 50 kilogram ikan setiap harinya. Saat ini produksi ikan asapnya melejit antara 700 kg hingga 1 ton per hari.

“Sekarang omzet per bulan bisa Rp20 juta sampai Rp30 juta per bulan. Saya dibantu oleh 16 orang karyawan,” tuturnya.

Ia saat ini tengah berupaya membenahi kemasan ikan asapnya, agar bisa memperluas pasar. “Sekarang kemasannya masih standar saja, dijual curah. Maunya nanti bisa sampai dijual ke mana-mana. Dulu saya sampai keliling ke pasar-pasar untuk memasarkan ikan asap. Sekarang pembeli datang sendiri,” tukasnya. (Wta)

 

Setiap hari Desa Koto Mesjid memanen 6 ton ikan patin. 1 ton di antaranya disumbang dari pak Suhaimi
2013-02-20 08.47.39

proses pembuatan ikan asap
2013-02-20 09.23.24

yang bergaya di panen raya
2013-02-20 08.52.47

“Taksi? Yang langsung berangkat?”

Gelombang ketidaknyamanan pelan-pelan merayap, ketika pilot mengumumkan bahwa pesawat sebentar lagi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebentar lagi pukul 18.00 WIB, hari kerja pula. Bukan pilihan bijaksana untuk berada di jalanan Jakarta.

Gambaran kekacauan sempurna sudah tercetak tegas di kepala. Kendaraan berjejeran rapat hingga ke jalur transjakarta. Pengendara sepeda motor berebut menjajal trotoar demi bisa cepat tiba di tempat tujuan. Sopir kendaraan umum menurunkan penumpang sesukanya. Asap-asap knalpot yang beraduk-aduk di udara. Klakson yang ditekan kuat-kuat para pengemudi. Polisi dengan wajah putus asa meniup peluit sekuatnya berusaha menertibkan para pengemudi yang nyelonong saat lampu masih menyala merah. Atau mendadak ada pejabat lewat minta didahulukan kepentingannya. Hujan deras turun pula. Sempurna sekali, kan? Tak ada yang kurang lagi dalam kesemerawutan Jakarta setiap petang.

Keengganan itu pula yang membuatku tidak tergesa dan berebut turun dengan penumpang lainnya, ketika pesawat sudah benar-benar mendarat. Isi pesawat nyaris kosong, pramugari dan pilot Garuda pun sudah pegal mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ketika giliranku turun.

Punya uang sebanyak apapun, tidak akan bisa membayar fasilitas kendaraan paling mahal sekalipun yang bisa membuatmu tiba lebih cepat ke tempat tujuan. Karena memang tidak ada opsi untuk itu. Kecuali kalau kau naik helikopter dari bandara ini.

Naik bus Damri adalah pilihan paling masuk akal untukku. Membayar Rp25.000 untuk bus yang menuju Gambir. Aku bisa turun di seberang Plaza Slipi Jaya, sudah dekat dengan kost di Kemanggisan. Tinggal menyambung ojek atau sekali angkot biru.

Tapi niat itu urung setelah panitia yang mengundang kami meliput ke Pekanbaru menyodorkan satu kardus besar hasil olahan ikan patin sebagai oleh-oleh untuk setiap orang. Agak merepotkan membawanya kalau naik bus. Baiklah, taksi kalau begitu.

Bersama teman yang punya tujuan searah, akhirnya aku memutuskan untuk duduk-duduk dulu di salah satu restoran. Ia masih harus mengirim beberapa hasil jepretannya. Sekalian pula kami meredakan penat sebentar. Perjalanan dari Desa Koto Mesjid ke Pekanbaru sekitar dua jam lumayan bikin badan pegal-pegal. Apalagi kami berdua dengan seorang teman lainnya, duduk berhimpitan di jok paling belakang Avanza.

Baru sekitar pukul 19.30 WIB kami sudah siap untuk ikut mengantre taksi seperti penumpang lainnya. Hujan sudah turun deras di luar sana. Kami sepakat untuk memilih Bluebird atau Express. Dua yang paling memanusiakan penumpangnya, dan nyaris tidak pernah menipu jalur.

Antrean taksi biru bikin kami nelangsa. Tidak seperti Express yang mencatat nama dan tujuan calon penumpang, lalu mempersilahkan duduk, taksi biru membuat sekat antrean seperti kalau kita mengantri di bank. Manusia yang datang dari berbagai macam daerah, dengan berupa barang bawaan, koper, kardus oleh-oleh yang menggunung berbaris mengular hingga ke luar sekat yang sudah disiapkan. Muka-muka mereka percampuran antara letih, pasrah dan putus asa.

Temanku menarik napas panjang, lalu mendorong troli kami. Ikut mengantre di barisan paling belakang. Sementara aku berinisiatif mendaftar di antrean taksi putih. Aku dapat nomor antrean 72. Sedangkan taksi terakhir yang berangkat, mengantar pengantre di nomor 50. Taksi-taksi datang sekitar 15 menit sekali. Hanya ada dua atau tiga taksi. Mantap kan.

Sementara taksi-taksi lain, dengan berbagai macam merek dan corak mewah di badan taksi sepi antrean. Bahkan petugas mereka mengambil langkah ‘jemput bola’ demi bisa mendapatkan penumpang. Para petugas berseragam rapi menunggu di pintu keluar, lalu mengacungkan jari telunjuknya ditambah muka berusaha meyakinkan, menawarkan taksi mereka.

Mereka bahkan nekat mendesak, memaksa, sudah kebal dibentak dan dicemberuti calon penumpang yang baru keluar bandara. “Taksi ya? Yang langsung, tidak usah pakai mengantre. Langsung berangkat,” kata mereka membujuk.

Susah untuk memercayai taksi-taksi lain selain taksi biru dan putih. Mereka kerap memutar rute di jalanan, supaya argo terus menggelinding maju. Sehingga penumpang dipaksa membayar lebih mahal. Rugi waktu pula karena sampai ke tempat tujuan lebih lama. Belum lagi potensi kejahatan, penipuan dan sebagainya. Hanya orang-orang yang belum tahu Jakarta, yang memilih taksi mereka.

Aku jadi teringat Pak Saur Hutabarat, salah satu guru menulisku. Dia pernah bilang begini, “Saya punya saham di bluebird. Anda juga punya. Saham itu berupa kepercayaan kita pada pelayanan mereka,” katanya.

Karena itulah saat ini aku dan temanku lebih memilih mengantre berlama-lama dan bersusah payah, meski badan sudah penat. Sementara temanku mengantre, aku bolak-balik mengecek antrean taksi putih, siapa tahu giliran kami tiba. Tapi antreannya bergerak lamban. Hampir satu jam masih saja di nomor 50an.

Seorang turis Jepang melintas di dekat kami. Mukanya kebingungan melihat padat dan semerawutnya bandara internasional ini. Ia mendorong trolinya lambat-lambat. Matanya menyusur muka setiap orang yang dilewatinya, mencari mana yang bisa dipercaya untuk bertanya. Sayangnya, ia berhenti pada orang yang salah, calo taksi sialan.

“Express di mana?” katanya dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.

“Mau ke mana bapak?” tanya si calo dengan ramah dibuat-buat.

“Taman Anggrek. Saya mau ke Taman Anggrek. Express di mana?”

“Oh bisa bisa Express. Tapi bayarnya di atas Rp100.000 ya. Ayo, langsung berangkat sekarang bisa,” kata si calo bersemangat membujuk rayu. Sialan betul kan, dia menipu turis Jepang itu. Padahal sudah jelas dia tahu kalau Express yang ditanyakan si turis maksudnya taksi putih tempat aku ikut mengantre.

Si turis bingung, “Oh mahal sekali. Saya mau Express saja,” tegasnya. Sepertinya dia sudah mendapat amanat dan wanti-wanti dari temannya di Jakarta untuk hanya memilih taksi Express.

“Iya ini Express, langsung berangkat,” kata si calo bersungguh-sungguh.

Aku tak tahan lagi mendengar si calo sialan itu. Akhirnya aku ikut campur. Aku menunjukkan pada si turis tempat antrean taksi express, dan mengantarkannya, sambil sekaligus mengecek antreanku. Sambil mengumpat dalam hati pada calo brengsek yang menipu itu. Si turis membelalak melihat kursi tunggu antrean yang penuh, tapi ia tak punya pilihan, ikut mendaftar juga dalam antrean.

Sesudah itu aku masih mondar-mandir beberapa kali dari antrean taksi biru ke taksi putih untuk mengecek antrean. Para calo taksi lain tidak putus asa terus memepetku, menawari dengan agresif untuk naik taksi mereka. Padahal sudah ku tolak tegas, sambil membentak pula. Mungkin, pikir mereka, siapa tahu aku sampai pada titik menyerah dalam antrean menggila itu. Tidak akan ya!

Setelah hampir satu jam, akhirnya temanku tiba di antrean paling depan si taksi biru. Saatnya giliran kami mendapat taksi. Ia tersenyum lemah kepadaku. Sudah kelewat lelah rupanya. Dengan tarikan napas panjang kami berucap syukur saat duduk di kursi belakang. Jakarta mulai lengang. Hujan sudah reda. Semoga perjalanan bisa lancar. **

Subuh hari di Sarang, 22 Februari 2012

 

petugas taksi biru mengatur antrean calon penumpang
2013-02-20 19.56.29 (1)

padatnya antrean calon penumpang taksi biru
2013-02-20 19.45.48 (1)

taksi putih menyediakan kursi untuk menunggu giliran antrean
2013-02-20 19.47.05

antrean taksi lain yang sepi penumpang
2013-02-20 19.46.18