Jangan Mau Rugi Dua Kali

Dengan jenuh, kubalik halaman demi halaman buku Negeri Para Bedebah, Tere Liye. Buku yang dibeli atas saran seorang teman ini, baru mulai kubaca kemarin.

“Semakin dibaca buku ini semakin tidak menarik. Dramanya kuno, jauh dari realitas. Apa maksudnya si tokoh ini pakai nama samaran Esmeralda? Dia pikir nama itu keren apa?” ujarku menekuk muka.

Dia tersenyum, melirik sekilas pada judul buku yang sedang ku pegang. Tak tertarik. Tebal buku ini lebih dari 400 halaman. “Ya sudah, tak usah dibaca,” katanya.

Aku masih saja berusaha membaca sehalaman lagi, sehalaman lagi. Berharap halaman berikutnya lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi ternyata malah bikin jengah dan tak ternikmati. Secuil pun aku tidak bisa masuk ke dalam cerita itu.

“Tapi kan sayang, buku ini sudah kubeli. Masa tidak dibaca sampai selesai.”

Dia masih duduk di sebelahku. Bersandar malas pada dinding di sebelah kasur, menggulung pipa celana untuk bersiap wudhu. Waktu Magrib sudah masuk.

Jangan mau rugi dua kali, begitu katanya. Karena manusia punya waktu terbatas. Waktu yang dimiliki pun tak seluruhnya dipakai untuk membaca buku. Jadi harus selektif.

“Bacalah buku yang bagus saja. Yang kamu suka. Kalau nggak menarik ya nggak usah diteruskan. Jangan mau rugi dua kali. Sudah rugi uang karena membeli bukunya, lalu rugi waktu pula karena terus membacanya padahal buku itu tidak menarik. Lebih baik baca buku yang lain, kan?”

Oke, saya menyerah. Berhenti di halaman 188.

-eNJe, 3 Februari 2013-

22.08 waktu ruang redaksi di Kedoya. Piket malam. 

One thought on “Jangan Mau Rugi Dua Kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s