saripati buku: Less Miserables – Victor Hugo

(22) Manusia memiliki raga yang menjadi beban sekaligus godaan baginya. Dia menyeretnya ke mana pun dan membungkuk kepadanya. Dia harus menjaganya, mengekangnya, dan mematuhinya. Kesalahan pun masih dapat terjadi, bahkan dalam kepatuhan seperti ini. Walaupun hanya kesalahan ringan, semua ini adalah kejatuhan, tetapi jatuh dengan kedua lutut untuk berdoa.

Menjadi seorang suci adalah luar biasa. Menjadi seseorang yang tulus adalah aturannya. Yah, jatuhlah dalam dosa jika kalian mau, tapi tetaplah menjadi orang yang tulus.

Dosa yang paling kecil adalah hukum yang dibuat oleh manusia. Tidak mempunyai dosa sama sekali adalah mimpi. Karena semua pasti memiliki dosa, hal yang manusiawi. Dosa itu bagaikan sebuah gravitasi.

(25) Terkadang hal-hal yang paling mulia adalah yang paling sulit untuk dimengerti.

(27) Dia tidak menyuruh untuk menghilangkan kesedihan dengan melupakannya, tapi dia mengajarkan untuk memperbesar dan menghargainya dengan harapan.

(27-28) Perhatikan bagaimana sikap yang anda tunjukkan kepada mereka yang sudah mati. Jangan memikirkan hal yang dapat membinasakan. Tataplah ke depan. Anda akan melihat cahaya dari orang tercinta di kedalaman surga.

(38) Ini adalah warna perbedaan. Pintu seorang dokter tidak boleh tertutup, pintu pendeta harus selalu terbuka. Jangan menanyakan nama orang yang membutuhkan perlindungan anda. Orang yang paling malu menyebutkan namanya adalah orang yang paling membutuhkan perlindungan.

(43-44) Jangan pernah kita takut terhadap perampok atau pembunuh. Itu semua adalah bahaya dari luar, bahaya kecil. Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok yang sesungguhnya. Sifat buruk adalah pembunuh yang sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri kita sendiri. Tidak masalah apa yang mengancam kepala atau dompet kita! Mari kita hanya berpikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita.

(54) Mereka dengan naluri yang halus, mengerti bahwa beberapa bentuk kepedulian harus dipaksakan. Jadi, walaupun mereka tahu dia berada dalam bahaya, mereka mengerti bahwa pada tingkat tertentu mereka tidak lagi mengkhawatirkannya. Mereka memercayakannya kepada Tuhan.

(58) Kematian adalah hal yang sederhana. Orang tidak membutuhkan cahaya untuk itu.

(60) “……. Sementara ilmu adalah suatu kewenangannya yang dapat dipahami. Seseorang seharusnya hanya diperintah oleh ilmu.” “Dan juga hati nurani,” tambah Uskup.

(126) Dengan sedikit pemikiran, rasanya saya mengerti apa yang ada di hati kakak saya. Tak diragukan lagi, dia pasti berpikir bahwa laki-laki yang bernama Jean Valjean ini masih memikirkan kemalangannya, dan yang terbaik adalah mengalihkannya dan membuatnya percaya, walaupun hanya sebentar, bahwa dia sama seperti orang lain, dengan memperlakukannya sebagaimana layaknya.

(132) Jean Valjean dinyatakan bersalah. Ketentuan dalam undang-undang sudah jelas. Terjadilah masa-masa berat dalam peradaban kita, ada kalanya ketika hukum pidana membuat keputusan yang menghancurkan orang. Sungguh suatu catatan yang buruk ketika masyarakat mengundurkan diri dan melakukan pengabdian terhadap sesame mahluk hidup. Jean Valjean dihukum untuk menjalani lima tahun masa hukuman di atas kapal tahanan.

(133) “Sementara baut di kalung besinya dipancangkan di belakang kepalanya, dengan pukulan yang keras menggunakan martil, dia menangis, air matanya membuatnya tak berdaya, mereka mencegahnya untuk berbicara, dia hanya dapat mengatakan dari waktu ke waktu, “Saya adalah seorang tukang kebun di Faverolles.” Lalu, dengan masih terisak, dia mengangkat tangannya dan menurunkannya secara bertahap hingga tujuh kali, seakan-akan dia sedang mengurutkan tujuh kepala dengan tinggi yang tidak sama, dan dari gerakannya dapat disimpulkan apa yang sedang dilakukannya, apa pun itu, dia telah melakuannya demi memberi pakaian dan makanan kepada tujuh anak kecil.

Dia bukan lagi Jean Valjean, dia adalah nomor 24.601. Bagaimana nasib kakaknya? Bagaimana nasib ketujuh anak itu? SIapa yang bersedia memikirkan hal ini? Apa yang terjadi dengan segenggam daun dari pohon muda yang digergaji bagian akarnya? Selalu cerita yang sama. Mahluk-mahluk malang ini, ciptaan Tuhan ini, untuk selanjutnya tanpa sandaran, tanpa bimbingan, tanpa tempat berlindung, berkelana tanpa arah, siapa yang tahu? Masing-masing mungkin dengan jalannya sendiri, dan sedikit demi sedikit mengubur diri mereka dalam kabut dingin yang meliputi takdir yang sunyi, bayangan dan suram, yang menghilang dalam rangkaian ketidakberuntungan, dalam gerakan redup dari umat manusia.

(138) Bagaimana pun pintu untuk melarikan diri dari penderitaan adalah jalan masuk bagi keburukan, pendeknya, dia bersalah.

Apakah kelebihan berat hukuman itu sebanding dengan penghapusan kejahatan dan tidak menghasilkan pembalikan keadaan, dengan mengganti kesalahan pelaku dengan kesalahan penindasan, mengubah laki-laki yang bersalah menjadi korban, dari debitur menjadi kreditur, dan menyejajarkan hukum di samping laki-laki yang sudah melanggarnya?

Apakah hukuman ini, yang diperumit dengan usaha untuk melarikan diri yang dilakukan terus-menerus, tidak berakhir menjadi semacam kekejaman yang dilakukan oleh lebih kuat kepada yang lebih lemah, sebuah kejahatan golongan melawan kejahatan perorangan, sebuah kejahatan yang dilakukan setiap hari, sebuah kejahatan yang terjadi sembilan belas tahun lalu? Dia bertanya kepada dirinya apakah masyarakat dapat memiliki kewenangan untuk memaksakan anggotanya agar merasakan penderitaan yang sama dalam suatu kasus karena kesalahannya atas kurangnya pandangan ke masa depan yang tidak masuk akal, dan dalam kasus lain atas pandangannya ke masa depan yang tak kenal ampun, dan untuk memanfaatkan seorang laki-laki malang selamanya di antara hinaan dan perbuatan yang keterlaluan, standar pekerjaan yang berat dan hukuman yang berlebihan?

(139) Kemarahan mungkin adalah sesuatu yang bodoh dan tidak masuk akal, seseorang dapat merasa kesal dengan salah, seseorang merasa jengkel hanya jika terlihat sesuatu yang pada dasarnya adalah sebuah kebenaran di sisinya. Jean Valjean merasakan dirinya sangat jengkel. Lagi pula, masyarakat tidak pernah melakukan apa-apa untuknya selain menyakitinya, dia tidak pernah melihat apa pun kecuali wajah marah olehnya. Manusia hanya menyentuhnya untuk menyakitinya. Setiap hubungan dengan mereka selalu menjadi sebuah pukulan. Sejak dia kecil, sejak hidup bersama dengan ibunya, sejak hidup bersama kakaknya, dia tidak pernah menerima kata-kata dan tatapan yang ramah. Dari satu penderitaan ke penderitaan lain, dia akhirnya sampai pada keyakinan bahwa hidup adalah sebuah peperangan, dan bahwa dalam peperangan dialah yang ditaklukan. Dia tidak memiliki senjata lain kecuali kebenciannya. Dia memutuskan untuk mengasahnya di dalam kapal tahanan dan membawanya serta pada saat dia meninggalkan kapal itu.

(140) Dalam hal-hal tertentu, pendidikan dan pencerahan dapat berfungsi menambah kejahatan.

(146) Dari tahun ke tahun jiwanya mengering secara perlahan, tetapi dengan kepastian yang berakibat fatal. Ketika hati itu kering, mata pun mengering. Pada saat kepergiannya dari kapal, saat itu sudah sembilan belas tahun sejak terakhir kali dia menangis.

(149) Oh, barisan masyarakat yang keras kepala! Oh, hilangnya manusia dan jiwa dalam perjalanan! Lautan yang di dalamnya terdapat seluruh hal yang digelincirkan oleh hukum! Ketiadaan pertolongan yang membawa bencana! Oh, kematian moral! Lautan adalah kegelapan masyarakat yang tidak kenal ampun tempat hukum masyarakat melemparkan kutukannya. Lautan adalah tempat berkumpulnya kemalangan. Laki-laki ini, terjatuh dalam aliran di teluk ini, mungkin akan mati. Siapa yang akan menyadarkannya?

(162) “Nyonya Magloire, saya telah menahan peralatan perak itu selama ini. Mereka adalah milik kaum miskin. Siapakah laki-laki itu? Dia adalah seorang miskin.”

(258) Ingat ini, kawan-kawan, tidak ada yang namanya tanaman yang buruk atau manusia yang buruk. Hanya ada pembudidayaan yang buruk.”

(262) Kebahagiaan yang tertinggi dalam kehidupan meliputi keyakinan bahwa seseorang dicintai, dicintai sebagai dirinya sendiri-lebih baik kami katakana, dicintai walaupun sebagai dirinya sendiri, keyakinan ini dimiliki oleh laki-laki buta itu. Dilayani dalam kesusahan adalah bagaikan dibelai. Apakah dia kekurangan sesuatu? Tidak. Seseorang tidak kehilangan penglihatan ketika dia memiliki cinta. Dan cinta dalam arti sesungguhnya! Cinta yang didasari kebaikan! Tidak ada kebutaan selama ada kepastian.

(311) “Inspektur Javert,” jawab Tuan Madeleine, “Hukum tertinggi adalah nurani. Saya telah mendengar perempuan ini, saya tahu apa yang saya lakukan.”

(356) Seseorang tidak dapat mencegah pikiran mengulang suatu pemikiran seperti seseorang juga tidak dapat mencegah air laut kembali ke pantai. Para pelaut menyebutnya air pasang, orang yang bersalah menyebutnya penyesalan, Tuhan mengaduk jiwa manusia sebagaimana Dia mengaduk laut.

(459) Kejujuran, ketulusan, keterusterangan, keyakinan, rasa tanggung jawab, adalah hal-hal yang dapat menjadi sesuatu yang mengerikan jika diarahkan dengan keliru. Namun, bahkan walaupun mengerikan, tetap hebat. Keagungannya, keagungan yang istimewa dalam hati nurani manusia, melekat pada mereka di tengah kengerian. Mereka adalah kebajikan yang memiliki satu sisi buruk, kesalahan. Kegembiraan yang tulus dan tak kenal ampun dari seorang fanatic dalam luapan yang penuh atas kekejamannya menyimpan suatu sinar mulia yang menyedihkan.

**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s