saripati buku: Tanah Tabu – Anindita S Thayf

(9) Hidup akhirnya mengajarkan kepadaku hal terindah itu ibarat gundukan daging mentah yang memikat hidung setiap pemangsa lapar. Selalu saja mampu membangkitkan gairah dan nafsu untuk memiliki dan menguasai. Mengambil sedikit demi sedikit demi kepuasan pribadi. Tidak mau berbagi dengan yang lain. Disimpan untuk diri sendiri.

Aku berpikir seandainya suatu saat hidup berubah menjadi lebih baik hati, tidak kejam, akankah kita yang hidup ini tidak harus dituntut menjadi kejam pula? Maksudku, aku sudah terlalu tua untuk bersikap kejam seperti dahulu. Terlalu tua pula untuk bertahan dari impitan kekejaman yang lain. Aku hanya ingin menjalani sisa hidupku dengan damai.

(10) Kenyataan itu akhirnya menyadarkanku untuk tidak lagi terlalu berharap. Apa yang sudah hilang tidak mungkin kembali lagi, meskipun ada yang mengaku telah mencurinya dan berjanji akan mengembalikannya. Seperti daging yang telah dicuri dari tulangnya. Apakah tulang tanpa daging yang telanjang itu bisa berdaging kembali? Hei, kau jangan bercanda! Tentu saja tidak mungkin. Kau pasti sangat tahu itu.

(11) Dan kulihat kaos kuning bergambar pohon itu kini telah menjadi seonggok kain lap dekil di kaki kecil Yosi, yang digunakannya untuk mengeringkan lantai beranda dari genangan air kencing adiknya. Hoaaam… Aku menguap malas. Ternyata memang tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk warna kuning.

(17) Dan orang pintar bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik. Lebih makmur dan kaya. Asal kau tahu, itulah mimpi tertinggi setiap orang di dunia ini.

(30) “Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu,” jawab Mabel tatkala kutanya mengapa sikapnya berubah hangat kepada orang-orang itu.

(33) Kau tidak bisa membuat pagar rusak di ladang menjadi bagus hanya dengan berharap ada seseorang yang akan datang dan memperbaikinya untukmu. Tapi kau harus berusaha memperbaikinya sendiri sebelum sekawanan babi liar menyerbu masuk dan merusak semua isi ladang.

(37-38) suatu saat nanti kau akan memahami maksudku yang sebenarnya, Leksi. Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang, mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.

(42-43) ya, manusia memang selalu berkehendak begitu. Menjadikan segala sesuatu sesempurna mungkin, termasuk dunia tempat tinggalnya dengan mengatasnamakan berbagai alasan. Sayangnya, mereka lupa bahwa tidak ada yang sempurna kecuali Dia yang Mahasempurna. Kesempurnaan yang kau lihat ini hanyalah semu. Palsu. Kesempurnaan yang mengorbankan alam. Tidak ada lagi keseimbangan, hubungan timbal-balik, atau kepedulian satu sama lain di tempat ini.

(57-58) dari dulu aku jarang menangis, Sayang. Menangis hanya membuatku semakin lemah, dan aku tidak mau itu terjadi. Selain itu, aku juga kasihan dengan Tanah Ibu kalau kita terus-menerus menyiramnya dengan air mata kita. Air jadi asin. Tanaman tidak bisa tumbuh subur. Binatang di hutan berkurang. Langit pun ikut mendung. Nasib baik tidak akan datang kalau kita menangis terus.”

(62) Ada saatnya seorang pejuang harus mundur, Pum. Tapi bukan mundur untuk menyerah, melainkan mempersiapkan penggantinya.

(90) Begitulah orang yang lemah, Leksi. Semua yang ada di dirinya bisa dibeli dengan uang. Tidak hanya badan, tapi juga jiwanya. Si Penjilat Bokong itu rambut dan kulitnya saja yang masih hitam seperti kita, tapi dalamnya dia sudah bukan kita.

(90-91) Kubilang kepadamu, Leksi, itulah mengapa nenek moyang kita sejak dulu hidup sederhana. Apa adanya. Mengambil seperlunya dari alam, dan mengembalikan sisanya lagi pada alam untuk disimpan sebagai warisan buat anak-cucu. Kau dan turunanmu kelak. Namun sayang sekali, Nak, ada di antara keturunan nenek moyang kita yang justru memberikan warisan kepada asing. Tidak hanya itu, dia juga malah ikut menjadi seperti mereka.

(113) “Mungkin sukunya tidak punya babi untuk dimakan, Pum. Makanya mereka makan daging orang. Kasihan sekali. Harusnya Tuan Piet tidak menghukumnya, tetapi memberi beberapa ekor babi untuk dipelihara supaya nanti bisa dimakan.”

Dari kejadian itu, tanpa sadar, sifat peduli Mabel yang besar menemukan batu asah pertamanya.

(118) “Nyonya, apakah orang-orang tadi marah karena ibu itu tetap melompat padahal sudah coba dibujuk dan dilarang? Padahal kalau mereka benar- benar mau menolong, bukankah ibu itu lebih membutuhkannya jika ia sudah mati? Mengantar mayatnya ke keluarganya atau sekadar menyampaikan berita duka, mungkin?”

(154) Anak kecil sekali pun tahu bagaimana caranya menjaga sikap saat berada di rumah orang lain, tapi mereka? Kukira seragam dan senjata telah membuat mereka jadi tidak bermoral.

(156) Ah, air mata. Sejak kejadian pada hari itu, aku baru menyadari batas antara sedih dan rasa bersalah sangat tipis. Setipis rinai air mata yang mencadari pandanganmu selagi kau menangis karena kedua hal tersebut. Bahkan saking tipisnya, siapa pun yang menangis lebih karena ia merasa bersalah, memilih mengatakan ia meneteskan air mata itu karena sedih.

(158) Ya, Tuhan. Waktu itu, aku berharap lebih baik mati saja, dan kalaupun rohku masuk neraka, setidaknya siksaan di sana pastilah dijatuhkan-Nya kepadaku dengan adil; sesuai kesalahan yang telah kulakukan. BUkankah begitu yang tertulis di Kitab Suci? Tapi betapa malangnya diri ini karena aku justru terperangkap di tempat para manusia berseragam – dan kukain juga berpendidikan tinggi-berkumpul.

(170) Takdir adalah peta buta kehidupan yang kau tentukan sendiri arahnya dan beloknya berdasarkan tujuan hidupmu. Takdir akan berakhir buruk jika kau tidak berhati-hati menjaga langkah.

(179-180) “Pilih saja kaos yang kau suka, Nak. Mabelmu ini tidak bisa dibeli dengan kaos, poster, dan stiker. Memangnya dengan semua yang gratis dan baru itu kehidupan kita bisa jadi lebih baik apa?! Tipu-tipu lagi!.”

(182)  “Orang-orang itu sadarkah tidak? Justru mereka yang bikin rakyat kecil makin tertindas. Janji-janji saja. Omong kosong. Cih! Kalau benar mereka mau bantu, kenapa harus ada imbalannya? Kenapa pula harus tunggu sampai pilkada selesai? Memangnya mereka pikir perut ini bisa kenyang kalau hanya diisi angin?”

(194) “Begitulah laki-laki, Helda. Kekuatan dan kegagahan selalu membuat mereka merasa sebagai penguasa. Lupa diri sebagai manusia. Tak ingat bahwa sebagian darah yang ditumpahkan demi kelahirannya, dan keringat yang mengucur saat mengurusnya, adalah milik perempuan.”

(212-213) Zaman sekarang hanya sedikit hanya sedikit orang baik yang tulus, Lisbeth, apalagi orang kaya dan pejabat. Jadi kalau mereka berbuat baik kepadamu, hati-hati dan tunggu saja. Tagihannya akan menggedor pintu rumahmu sebentar malam. Seketika itu juga, dia akan menjadi tuanmu. Kau suka atau tidak suka.”

(215) “Cih! Tipu-tipu lagi. Macam kita ini anak-anak yang gampang percayakah? Janji terus, tapi tidak pernah ditepati. Seperti ludah yang terus bermuncratan dari mulut, dan langsung dilupa kalau itu ludah milik sendiri begitu meninggalkan bibir.

“Seharusnya kalian, para calon pejabat, malu berbuat begitu. Kalian juga harusnya malu karena disambut begini meriah oleh penghuni pasar yang baud an mandi keringat sejak pagi tadi demi mencari sesuap pengganjal perut, sementara kalian hanya datang kemari jika butuh suara kami. Jika tidak, kalian memilih menghabiskan uang kalian di pasar yang lebih bersih dan tidak bau. Pasar milik orang kaya. Mana pernah kalian ke tempat macam begini?! Apalagi sampai bersalaman dengan tangan amis penjual ikan atau membalas senyum tukang sayur. Macam kita ini orang bodoh kah? Tidak tahu semua itu.”

(217) Aku tidak mau kau hanya jadi perempuan yang pintar, tapi lupa trandisi leluhur.

(222) Mimpi buruk adalah ketika kau menemukan dirimu berada di tengah kenyataan yang tidak menyediakan tempat untukmu bersembunyi dan melarikan diri dari keburukannya.

**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s