percakapan cuaca

Aku duduk di pinggir dekat jendela. Setelah sofa yang ku incar diserobot pasangan yang baru tuntas berbelanja. Kopi yang ku pesan mengebul tak tersentuh. Hanya sekadar syarat agar bisa duduk di sini.

Di luar sana, hujan terus turun bersusulan mengadu bumi. Semakin deras, hingga pandangan di jalanan putih memburam. Klakson-klakson berisik ditekan pengemudi yang muak dengan jalanan ibukota, bersahutan melawan hujan, petir dan angin.

Buku bacaan yang kubawa hanya ku bolak-balik tak berselera. Jejeran huruf-hurufnya tak terserap di kepala. Buku tulis dan sebatang pensil yang baru tadi ku beli, tergeletak setelah berhasil menulis di selembar halaman.

Biasanya, kau tak pernah absen menyapaku saat hujan begini. Percakapan sederhana saja.

“Di sini hujan mulai turun, deras,” katamu.

Lalu aku membayangkanmu tengah duduk menghadap meja kerja, dengan laptop terbuka di depan mata. Kursi kerjamu berhadapan dengan jendela. Sehingga kau selalu bisa menyaksikan hujan, atau cuaca cerah dan langit biru dari sana.

“Itu meja asosial namanya,” kataku tertawa ketika beberapa bulan lalu kau bercerita tentang meja barumu.

Biasanya aku membalas pesanmu, juga mengabarkan cuaca di tempat aku berada. Terkadang sama-sama hujan, atau sudah hujan lebih dulu, atau justru cerah benderang. Langit saat ini, katamu, makin tidak bisa dipercaya. Kemudian kau menenangkanku yang selalu ketakutan saat petir menyambar-nyambar menyala di langit. Kita lalu sama-sama berharap, Jakarta tidak ditenggelamkan banjir. Percakapan yang memang sesederhana itu.

Sekarang si apolo tak kubawa. Batere samsung juga sudah tamat. Tak ada percakapan cuaca yang biasa. Tulisan di selembar halaman tadi tidak secuil pun bisa menentramkan gelisah yang bergumpalan.

Hampir saja tadi aku memutuskan pulang. Menerabas hujan deras itu. Agar bisa segera menggenggam apolo, dan berbincang denganmu seperti biasanya. Tapi suara di belakang kepala mencegat langkahku. Percuma. Aku tak kan menemukan percakapan yang ku inginkan itu.

Aku rindu, pada percakapan tentang cuaca yang biasa. Percakapan yang sederhana. Sayangnya, kita sekarang tidak sedang dalam cuaca hati yang sederhana. **

Jakarta, 19 Februari 2013
Ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, dalam perjalanan ke Desa Koto Mesjid, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau untuk nelihat panen raya ikan patin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s