Geliat Patin dari Kampung Koto Mesjid

Gelisah membayangi warga Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Kampar, Kabupaten Kampar pada tahun 1999. Saat itu, warga yang bermukim di sana merupakan warga yang direlokasi dari Desa Pulau Gadang. Mereka semula mendiami daerah aliran sungai, harus pindah ke daerah perbukitan karena kampung mereka berada di genangan waduk PLTA Koto Panjang.

“Tadinya semua mendapat jatah kebun karet. Satu kepala keluarga (KK) dikasih 2 hektare. Tapi namanya tanah jatah ya tidak bagus,” ungkap Suhaimi (44), membuka perbincangan.   

Hasil karet ternyata tidak maksimal, sementara uang jatah ganti rugi terus menipis. Di sisi lain, warga yang berasal dari daerah aliran sungai ini mulai resah. Mereka sudah terbiasa dengan makan ikan. Tetapi ikan segar tidak mudah didapat di daerah perbukitan.

“Dari desa yang terbiasa ada ikan, lalu dipindah ke daerah perbukitan. Tentu kami cemas tidak bisa makan ikan.”

Suhaimi yang lulusan sarjana perikanan ini, menjadi perintis budidaya ikan patin di desanya. Belum banyak yang berani memulai, karena modal untuk budidaya ikan tidak sedikit. Suhaimi memulai dengan berbagai jenis ikan, sampai akhirnya berlabuh pada budidaya ikan patin. Ikan patin dinilai lebih cocok dibudidayakan di sana.

“Ada beberapa yang mencoba bikin kolam ikan, tapi seadanya saja karena biayanya mahal. Modal hampir tidak ada,” tuturnya.

Hingga akhirnya pada 2003, PT Telkom menyambangi desa ini dan memberi suntikan pinjaman lunak sebagai modal. Budidaya ikan patin pun mulai bergeliat di Desa Koto Mesjid. Budidaya ikan patin yang tadinya menjadi usaha sampingan warga setelah menyadap karet, justru lebih menghasilkan.

“Menyadap karet butuh waktu empat jam per hari. Pelihara ikan hanya dua jam per hari. Ternyata hasil dari ikan jauh lebih bagus.”

Suhaimi menjadi salah satu yang mendapatkan suntikan dana pinjaman dari Program kemitraan CDC PT.Telkom sebesar Rp30 juta. Modal itu digunakan untuk membuka kolam baru, pengeboran air, penataan pengairan dan pembelian bahan baku pembuat pellet (makanan ikan).

Saat mengandalkan penghasilan sebagai penyadap karet, penghasilan setiap kepala keluarga di Desa Koto Mesjid rata-rata Rp1,5 juta per bulan. Dengan mengandalkan setengah hektare lahan kosong di pekarangan untuk dijadikan kolam ikan patin, penghasilan warga naik hingga rata-rata Rp6 juta per bulan. Suhaimi sendiri saat ini mendapat omzet hingga Rp350 juta setiap bulannya.

Desa Koto Mesjid kini mendapat julukan ‘Kampung Patin’ dengan motto Tiada Rumah Tanpa Kolam Ikan, karena hampir 85% masyarakatnya memiliki usaha kolam ikan patin. Output panen ikan patin segar sekitar 6 ton perhari. Hingga saat ini telah ada sekitar 776 kolam ikan patin, dengan total lua sekitar 52 ha.

Suhaimi saat ini dipercaya menjadi Ketua forum Komunikasi Mitra Binaan Telkom “Patin Bina Sejahtera”. Usaha budidaya ikan patinnya sudah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembenihan, pabrik pakan ikan milik sendiri hingga penjualan ikan patin segar. Bahkan, Suhaimi mulai menjajal produksi makanan olahan berbahan dasar ikan patin. Setidaknya saat ini ada tujuh macam produk olahan ikan yang sudah diproduksi. Di antaranya, ikan asap, bakso, nugget, ikan asin, abon, dan kerupuk ikan patin.

“Saya berharap sampai akhir tahun ini bisa punya 15 produk olahan ikan,” ujarnya optimis.

Sayangnya, pasar ikan patin dari desa ini masih terbatas di Riau dan kota-kota sekitarnya Desa Koto Mesjid saat ini memenuhi pasar untuk seluruh Riau, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. “Para pedagang di sana yang datang kemari. Setiap datang bawa satu ton ikan segar. Saya berharap kami bisa memperluas pasar bahkan mengekspor,” kata Suhaimi bersemangat.

Menjajal Pasar Ikan Asap

Salah satu yang mengekor jejak Suhaimi adalah Firman Edi (35). Edi berganti profesi dari pedagang karet dan pinang, menjadi pembudidaya ikan patin. Tetapi karena banyaknya warga yang berduyun-duyun melakukan budidaya ikan, hasil produksi ikan patin pun melimpah ruah.

“Pada 2007 terjadi over produksi. Ratusan ton ikan hampir terbuang, pembeli tidak ada. Akhirnya kami berembuk bagaimana mengatasi kondisi ini. Diputuskan untuk membuat ikan asap,” kata Edi.

Edi tetap konsisten pada spesialisasi ikan asap hingga saat ini. Ikan asap memiliki konsumen tersendiri. Peminatnya terutama di daerah-daerah aliran sungai. Ikan asap bisa bertahan hingga 20 hari. Kalau waktu memulai ia hanya memproduksi 50 kilogram ikan setiap harinya. Saat ini produksi ikan asapnya melejit antara 700 kg hingga 1 ton per hari.

“Sekarang omzet per bulan bisa Rp20 juta sampai Rp30 juta per bulan. Saya dibantu oleh 16 orang karyawan,” tuturnya.

Ia saat ini tengah berupaya membenahi kemasan ikan asapnya, agar bisa memperluas pasar. “Sekarang kemasannya masih standar saja, dijual curah. Maunya nanti bisa sampai dijual ke mana-mana. Dulu saya sampai keliling ke pasar-pasar untuk memasarkan ikan asap. Sekarang pembeli datang sendiri,” tukasnya. (Wta)

 

Setiap hari Desa Koto Mesjid memanen 6 ton ikan patin. 1 ton di antaranya disumbang dari pak Suhaimi
2013-02-20 08.47.39

proses pembuatan ikan asap
2013-02-20 09.23.24

yang bergaya di panen raya
2013-02-20 08.52.47

One thought on “Geliat Patin dari Kampung Koto Mesjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s