“Taksi? Yang langsung berangkat?”

Gelombang ketidaknyamanan pelan-pelan merayap, ketika pilot mengumumkan bahwa pesawat sebentar lagi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebentar lagi pukul 18.00 WIB, hari kerja pula. Bukan pilihan bijaksana untuk berada di jalanan Jakarta.

Gambaran kekacauan sempurna sudah tercetak tegas di kepala. Kendaraan berjejeran rapat hingga ke jalur transjakarta. Pengendara sepeda motor berebut menjajal trotoar demi bisa cepat tiba di tempat tujuan. Sopir kendaraan umum menurunkan penumpang sesukanya. Asap-asap knalpot yang beraduk-aduk di udara. Klakson yang ditekan kuat-kuat para pengemudi. Polisi dengan wajah putus asa meniup peluit sekuatnya berusaha menertibkan para pengemudi yang nyelonong saat lampu masih menyala merah. Atau mendadak ada pejabat lewat minta didahulukan kepentingannya. Hujan deras turun pula. Sempurna sekali, kan? Tak ada yang kurang lagi dalam kesemerawutan Jakarta setiap petang.

Keengganan itu pula yang membuatku tidak tergesa dan berebut turun dengan penumpang lainnya, ketika pesawat sudah benar-benar mendarat. Isi pesawat nyaris kosong, pramugari dan pilot Garuda pun sudah pegal mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ketika giliranku turun.

Punya uang sebanyak apapun, tidak akan bisa membayar fasilitas kendaraan paling mahal sekalipun yang bisa membuatmu tiba lebih cepat ke tempat tujuan. Karena memang tidak ada opsi untuk itu. Kecuali kalau kau naik helikopter dari bandara ini.

Naik bus Damri adalah pilihan paling masuk akal untukku. Membayar Rp25.000 untuk bus yang menuju Gambir. Aku bisa turun di seberang Plaza Slipi Jaya, sudah dekat dengan kost di Kemanggisan. Tinggal menyambung ojek atau sekali angkot biru.

Tapi niat itu urung setelah panitia yang mengundang kami meliput ke Pekanbaru menyodorkan satu kardus besar hasil olahan ikan patin sebagai oleh-oleh untuk setiap orang. Agak merepotkan membawanya kalau naik bus. Baiklah, taksi kalau begitu.

Bersama teman yang punya tujuan searah, akhirnya aku memutuskan untuk duduk-duduk dulu di salah satu restoran. Ia masih harus mengirim beberapa hasil jepretannya. Sekalian pula kami meredakan penat sebentar. Perjalanan dari Desa Koto Mesjid ke Pekanbaru sekitar dua jam lumayan bikin badan pegal-pegal. Apalagi kami berdua dengan seorang teman lainnya, duduk berhimpitan di jok paling belakang Avanza.

Baru sekitar pukul 19.30 WIB kami sudah siap untuk ikut mengantre taksi seperti penumpang lainnya. Hujan sudah turun deras di luar sana. Kami sepakat untuk memilih Bluebird atau Express. Dua yang paling memanusiakan penumpangnya, dan nyaris tidak pernah menipu jalur.

Antrean taksi biru bikin kami nelangsa. Tidak seperti Express yang mencatat nama dan tujuan calon penumpang, lalu mempersilahkan duduk, taksi biru membuat sekat antrean seperti kalau kita mengantri di bank. Manusia yang datang dari berbagai macam daerah, dengan berupa barang bawaan, koper, kardus oleh-oleh yang menggunung berbaris mengular hingga ke luar sekat yang sudah disiapkan. Muka-muka mereka percampuran antara letih, pasrah dan putus asa.

Temanku menarik napas panjang, lalu mendorong troli kami. Ikut mengantre di barisan paling belakang. Sementara aku berinisiatif mendaftar di antrean taksi putih. Aku dapat nomor antrean 72. Sedangkan taksi terakhir yang berangkat, mengantar pengantre di nomor 50. Taksi-taksi datang sekitar 15 menit sekali. Hanya ada dua atau tiga taksi. Mantap kan.

Sementara taksi-taksi lain, dengan berbagai macam merek dan corak mewah di badan taksi sepi antrean. Bahkan petugas mereka mengambil langkah ‘jemput bola’ demi bisa mendapatkan penumpang. Para petugas berseragam rapi menunggu di pintu keluar, lalu mengacungkan jari telunjuknya ditambah muka berusaha meyakinkan, menawarkan taksi mereka.

Mereka bahkan nekat mendesak, memaksa, sudah kebal dibentak dan dicemberuti calon penumpang yang baru keluar bandara. “Taksi ya? Yang langsung, tidak usah pakai mengantre. Langsung berangkat,” kata mereka membujuk.

Susah untuk memercayai taksi-taksi lain selain taksi biru dan putih. Mereka kerap memutar rute di jalanan, supaya argo terus menggelinding maju. Sehingga penumpang dipaksa membayar lebih mahal. Rugi waktu pula karena sampai ke tempat tujuan lebih lama. Belum lagi potensi kejahatan, penipuan dan sebagainya. Hanya orang-orang yang belum tahu Jakarta, yang memilih taksi mereka.

Aku jadi teringat Pak Saur Hutabarat, salah satu guru menulisku. Dia pernah bilang begini, “Saya punya saham di bluebird. Anda juga punya. Saham itu berupa kepercayaan kita pada pelayanan mereka,” katanya.

Karena itulah saat ini aku dan temanku lebih memilih mengantre berlama-lama dan bersusah payah, meski badan sudah penat. Sementara temanku mengantre, aku bolak-balik mengecek antrean taksi putih, siapa tahu giliran kami tiba. Tapi antreannya bergerak lamban. Hampir satu jam masih saja di nomor 50an.

Seorang turis Jepang melintas di dekat kami. Mukanya kebingungan melihat padat dan semerawutnya bandara internasional ini. Ia mendorong trolinya lambat-lambat. Matanya menyusur muka setiap orang yang dilewatinya, mencari mana yang bisa dipercaya untuk bertanya. Sayangnya, ia berhenti pada orang yang salah, calo taksi sialan.

“Express di mana?” katanya dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.

“Mau ke mana bapak?” tanya si calo dengan ramah dibuat-buat.

“Taman Anggrek. Saya mau ke Taman Anggrek. Express di mana?”

“Oh bisa bisa Express. Tapi bayarnya di atas Rp100.000 ya. Ayo, langsung berangkat sekarang bisa,” kata si calo bersemangat membujuk rayu. Sialan betul kan, dia menipu turis Jepang itu. Padahal sudah jelas dia tahu kalau Express yang ditanyakan si turis maksudnya taksi putih tempat aku ikut mengantre.

Si turis bingung, “Oh mahal sekali. Saya mau Express saja,” tegasnya. Sepertinya dia sudah mendapat amanat dan wanti-wanti dari temannya di Jakarta untuk hanya memilih taksi Express.

“Iya ini Express, langsung berangkat,” kata si calo bersungguh-sungguh.

Aku tak tahan lagi mendengar si calo sialan itu. Akhirnya aku ikut campur. Aku menunjukkan pada si turis tempat antrean taksi express, dan mengantarkannya, sambil sekaligus mengecek antreanku. Sambil mengumpat dalam hati pada calo brengsek yang menipu itu. Si turis membelalak melihat kursi tunggu antrean yang penuh, tapi ia tak punya pilihan, ikut mendaftar juga dalam antrean.

Sesudah itu aku masih mondar-mandir beberapa kali dari antrean taksi biru ke taksi putih untuk mengecek antrean. Para calo taksi lain tidak putus asa terus memepetku, menawari dengan agresif untuk naik taksi mereka. Padahal sudah ku tolak tegas, sambil membentak pula. Mungkin, pikir mereka, siapa tahu aku sampai pada titik menyerah dalam antrean menggila itu. Tidak akan ya!

Setelah hampir satu jam, akhirnya temanku tiba di antrean paling depan si taksi biru. Saatnya giliran kami mendapat taksi. Ia tersenyum lemah kepadaku. Sudah kelewat lelah rupanya. Dengan tarikan napas panjang kami berucap syukur saat duduk di kursi belakang. Jakarta mulai lengang. Hujan sudah reda. Semoga perjalanan bisa lancar. **

Subuh hari di Sarang, 22 Februari 2012

 

petugas taksi biru mengatur antrean calon penumpang
2013-02-20 19.56.29 (1)

padatnya antrean calon penumpang taksi biru
2013-02-20 19.45.48 (1)

taksi putih menyediakan kursi untuk menunggu giliran antrean
2013-02-20 19.47.05

antrean taksi lain yang sepi penumpang
2013-02-20 19.46.18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s