Beralih ke Kerudung Modern?

Satu petang selepas magrib, kami duduk berdua sambil menonton Naruto. Dia baru saja menghabiskan seporsi nasi goreng makan malamnya. Tiba-tiba dia tercetus bilang, “Pernah pake jilbab yang model kaya sekarang?” katanya. Eh? Aku tidak siap dengan jawaban soal ini. Kaget juga mendadak ditodong dengan pertanyaan demikian.

Sebenarnya belakangan memang agak khawatir juga, melihat model-model kerudung masa kini yang macam-macam itu. Khawatir gaya diri sendiri semakin kuno, makin ketinggalan zaman. Karena masih bertahan dengan kerudung segi empat lebar yang dilipat segitiga, dan disatukan di bawah dagu dengan peniti, ditambah bros sekadarnya di pundak kiri.

Dan sekarang si pacar yang bertanya demikian. Jadi berpikir apakah dia merasa agak kurang nyaman dengan gaya jadul kerudungku. Gaya yang populer sewaktu aku masih sekolah di SMA Muhammadiyah.

“Hummm… Punya sih satu kerudung yang model sekarang. Dikasih mbak Nita. Tapi belum pernah dipake. Sudah pernah diajarin mbak Nita cara pakenya, tapi lupa lagi,” kataku. Teringat pada kerudung ungu dengan motif bunga kecil-kecil yang dibelikan mbak Nita, teman satu kostku.

Mikirnya apa ya… Ribet aja gitu. Harus dililit, diputer ke kanan ke kiri, ke belakang kepala. Bros yang harus disemat di sisi telinga (pakai helmnya gimana coba?). Jarum pentul untuk menyatukan kerudung dalam dan kerudung luar supaya nggak bergeser (ngeri ketusuk ini mah). Rasanya kurang cocok untuk orang praktis sepertiku. Bukan penyabar dan tidak suka yang ribet-ribet.

Tapi pertanyaan si pacar jadi mulai membuatku berpikir ulang untuk mengikuti trend kerudung. “Saya pingin liat aja, gimana kalau kamu pakai jilbab model sekarang,” katanya sambil tersenyum. Aduh masnya… *_*

Dulu sih, waktu kuliah pernah juga coba macem-macem kerudung. Pakai bandana motif di atas kerudung. Pakai syal. Atau dikepang di sisi kanan atau kiri (aku masih ingat caranya). Tapi itu dulu waktu masih gaya preman, pakai kerudung cuma sampai menutup leher. Semenjak kerja, aku lebih nyaman dan aman pakai kerudung yang menutup dada. Dan kerudung-kerudung modern itu, lebih banyak hanya menutup sampai leher saja.

Beberapa pekan sesudah itu, aku liputan ke Indonesia Fashion Week di JCC. Niatnya cuma memenuhi janji ketemu dengan Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, ibu Euis Saedah. Tapi ternyata beliau sibuk dan aku harus menunggu.

Sambil menunggu, aku menemani Prita, teman sekantor yang kebetulan ditugaskan meliput di lokasi yang sama. Prita ada janji wawancara dengan salah seorang desainer baju muslim. Heuheuheu… Jadilah kami berjalan menyusuri stand-stand pakaian muslim x_x.

Sebenarnya aku tertarik mencari kerudung segi empat lebar yang ada motifnya. Supaya tidak terlalu polos. Errr… mengurangi kadar kejadulan. Tapi tidak ada satu pun stand yang menyediakan kerudung segi empat. (Astaga, nanti bagaimana kalau sudah tidak ada kerudung segi empat lagi yang dijual. Masa harus memakai kerudung segi empat yang ada sampai bulukan).

Mereka memajang kerudung dengan motif cantik. Mulai dari yang kalem sampai yang ramai. Mulai dari warna lembut sampai terang benderang. Yang bahannya dari kain paling ringan sampai rajutan. Para desainer langsung atau penjaga stand, menawarkan setiap yang lewat untuk mampir melihat-lihat kerudung yang dijajakan.

Ku jawab nyengir dan geleng kepala, “Enggak ah, nggak bisa pakainya.” Walaupun sebenarnya kepingin juga beli. Tapi kan percuma kalau cuma menambah jejeran kerudung di lemari. Lalu mereka akan menatap aneh pada kerudung yang kupakai. Kuno, mungkin.

Lalu ada satu stand yang menjadi magnet buatku. Dijaga oleh dua perempuan muda berwajah arab. Satu perempuan duduk diam di kursi, sementara yang satu lagi sibuk memakaikan kerudung pada temannya yang duduk. Mereka menawari kami mampir untuk melihat mereka memeragakan cara memakai kerudung-kerudung model sekarang itu.

“Ini gampang kok kakak. Nggak ribet. Simpel,” kata mereka berdua sambil tersenyum manis sekali.

Karena penasaran, aku dan Prita pun mampir melihat demo kerudung mereka. Ternyata kerudung yang mereka tawarkan memang lebih simple. Kerudung dijahit sedemikian rupa sehingga antara kerudung dalam dan kerudung luar menyatu. Tinggal memasukkan ke kepala, dan bisa gegayaan dengan berbagai model. Lucu juga sih.

Aku akhirnya memutuskan membeli satu. Harga agak mahal ku anggap sebagai ongkos mereka mengajariku demo kerudung modern ini *pembenaran.

Ternyata ada satu stand lagi yang menawarkan demo kerudung. Di stand berikutnya ini model kerudungnya berbeda. Salah satunya diberi nama kerudung sashira. Harganya lebih murah. Tapi yang menawarkan adalah laki-laki. Aku jadi ragu, memangnya ngerti? Aku aja yang pake kerudung bertahun-tahun mikirnya ribet.

Laki-laki itu tertawa. “Saya desainernya. Jadi harus tahu perempuan sukanya pake kerudung yang gimana,” katanya.

Aku masih ragu juga. Ku bilang, aku suka pakai kerudung yang menutup dada. Ia menjawab dengan tersenyum, seperti dokter yang memahami pasiennya. Dia bilang menyediakan beberapa pilihan kerudung praktis model masa kini yang panjangnya hingga ke dada.

Ia lalu mendemokan pemakaian kerudung dengan menggunakan manekin. Dengan sabar dia mengajariku langkah demi langkah. Model demi model. Semuanya asing buatku, hal baru. Jadi baru saja selesai satu rangkai tahapan untuk satu model, aku sudah lupa lagi bagaimana awalnya hahahaha…..

Tapi si desainer ini mengajariku dengan sabar, sampai bisa. “Nanti juga ketemu sendiri yang pasnya gimana,” kata dia berusaha meyakinkan.

Akhirnya aku membeli sashira oranye, dan satu kerudung lagi yang lupa ia beri tahu namanya.

Ternyata bukan cuma aku saja yang enggan dan masih konservatif menganggap kerudung modern itu ribet. Beberapa ibu-ibu yang lewat juga menolak dengan alasan sama sepertiku: nggak bisa pakenya, ribet.

Si desainer dengan sabar mengulangi demonya. Tak bosan-bosan. Ya penting juga ini untuk penjual. Aku salut juga, yang bikin mahal itu idenya. Bagaimana dia bisa membuat kerudung jadi keren dan simple. Bikin perempuan yang pake jadi cantik. Juga kesabarannya mengajari cara memakai kerudung.

Aku baru tahu, ternyata mode paling mutakhir adalah kerudung dalam bernama: antem (anti tembem). “Ini bisa membuat muka kelihatan lebih tirus, karena kerudungnya lebih maju sampai menutupi pipi,” ujarnya menawarkan pada serombongan ibu-ibu yang baru mampir.

Wakakakak… sumpah langsung ngakak pas denger namanya. Antem..!! astaga..!!! Memang betul-betul mengetahui kebutuhan perempuan. Ini yang bikin beda dengan stand lainnya yang hanya sekadar minta untuk mampir.  Rombongan ibu-ibu itu pun langsung membeli antem satu orang satu. Marketingnya berhasil, ibu-ibu itu pun pulang dengan senang membawa si antem dengan harapan muka bisa tirus😀.

Aku pulang membawa sashira dan temannya (nggak menemukan si antem dengan warna yang cocok). Walaupun pulang larut dan mata mengantuk. Dengan semangat aku mematut diri di depan kaca, mengulangi pelajaran kerudung satu per satu. Setiap jadi lalu dipotret, dikirim pada si pacar. Meminta dia memilih, mana yang lebih cocok buatku. Dan dia dengan puasnya tertawa-tawa melihat kelakuanku malam itu -____-

Besoknya, aku langsung memakai salah satu kerudung. Tadinya sashira, tapi karena panas, ribet, jadinya pakai temannya sashira aja. Kerudung yang dibeli di dua perempuan Arab. Kebetulan pula sore itu aku ketemu si pacar. Dia malah tertawa lagi. “Kerudungnya aneh, kayak mau ke pengajian. Mamah wita..” katanya puas meledekku.

Hadeeeeh, ya sudah, ku putuskan untuk kembali ke selera asal. Kerudung segi empat lebar yang dilipat segitiga. Disatukan di bawah dagu, dengan peniti. Dan bros sekadarnya di pundak kiri. Nggak apa-apa deh dibilang konservatif. Si pacar pun setuju.. hehehe.. Tapi tak apa lah sekali-kali kerudung mamah-mamah ini dipake juga. Sudah terlanjur belajar demonya, sekali-kali diaplikasikan biar nggak lupa😉 **

Delibel Cafe, Tebet. (libur asosial karena si pacar kerja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s