Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Kembali ke Wanayasa

-Pramoedya Ananta Toer-

(57) Di sini ia memprotes, rakyatnya merasa dirugikan karena para tahanan sering mengambil kelapa atau atau mangga milik soak. Juga aku masih ingat pada kata-katanya, dalam Indonesia: “Pohon-pohon itu bukan tanaman burung, Bapak!” Dia tidak tahu para tahanan itu dalam keadaan lapar.

(58) Dan memasuki Wanayasa dengan rawa-rawanya yang banyak, dengan bekas-bekas kedudukan rumah yang kini dicangkuli, aku rasai sesuatu kesunyian mencekam di dalam dada. Betapa banyak yang telah kami bangun dalam tahun-tahun belakangan ini. Tanah perawan tanpa pohon buah-buahan, padang rumput dan hutan, telah kami jadikan sebuah desa yang berdikari, dilingkari oleh rumpun-rumpun pisang lebat.

(62) Orang bukan hanya terlalu lelah karena jalan setapak yang berat, juga karena pendatang-pendatang baru ini sebagian – sekali pun tidak seluruhnya – adalah penderita busung lapar dari tempat-tempat asal mereka diangkut. Ada yang membawa dirinya sendiri sudah limbung, apalagi dengan membawa perlengkapan.

(64) Beberapa kali aku pernah ditawan, juga pernah melihat tempat-tempat bekas tahanan nazi di Ravensbruck, Buchenwald, melihat sendiri tahanan-tahanan Jepang, membaca tentang Auschwitz, tulisan-tulisan Anna Seghers tentang itu, Rumah Mati di Siberia Dostoyevsky, melihat sendiri daerah Siberia sampai ujung utara, dan sekarang aku sendiri memasuki pembuangan dalam lingkarang pagar kawat berduri yang itu juga.

Belum lagi kelelahan perjalanan yang berat itu tertembus dengan tidur malam, kentong telah membangunkan kami. Puh, dalam empat tahun belakangan ini kentongan atau lonceng begitu berkuasa atas diri kami, seakan kami sudah menjadi anjing percobaan Pavlov.

(65) Seorang tertangkap karena kelelahan sisa kemarin membikin ia belum mampu bergiat pagi itu. Dialah orang pertama yang mendapat hukuman merangkak sambil berseru: “Gerak badan main-main, gerak badan main-main.” Celakanya tidak lain dari diriku sendiri yang harus mengawasi pelaksanaan hukuman – suatu pekerjaan yang sungguh-sungguh menjijikan dan menghina harga diriku.

Empat tahun sudah sebagian terbesar dari kami ditahan, dan bagiku sendiri merupakan juga empat tahun ketegangan dan menjalani hukuman yang tak jelas bersumber pada tindak kesalahan apa – hukuman-hukuman yang tidak pernah melalui suatu pengadilan, di mana moral dididik untuk perasa terhadap yang salah dan tidak salah.

Hanya satu kejadian kecil, mungkin untuk kebanggaan diri, mungkin untuk kesenangan, mungkin untuk menjilat, bagi yang menjatuhi hukuman, namun tetap melukai bangunan kemanusiaan berabad.

(66) Aku merasa ketegangan masih akan berlanjut dalam “menuju ke hidup baru” ini. Sedang ketegangan, bukankah dia hanya beban bagi saraf manusia? Dan bukankah beban tanpa tujuan ekonomis, cultural ataupun edukatif, tak lain daripada hukuman sebagai kemewahan? Aku terpaksa belum dapat menyampaikan selamat jalan pada kerisauanku sendiri. Cerita jenis prasejarah ini nampaknya masih akan sangat panjang.

Dalam hal makan nampaknya ada ketentuan yang bisa dipegang. Nampaknya! Dan kami akan dijamin selama delapan bulan, termasuk gula, garam, ikan asin, tembakau. Masa kelaparan dalam empat tahun yang lewat rupanya sudah mendekati titik akhir.

Walaupun demikian jangan berilusi! Mengharapkan kebaikan hati Orde Baru sama dengan mimpi melihat kambing berkumis! Sistem kekuasaan yang dibangun dengan pembunuhan massal selamanya menjadi sistem yang lebih sibuk membenahi nurani sendiri. Jangan harap urusan makanmu beres!

Pada appel pagi itu seorang teman menjatuhkan diri dalam barisan. Bukan karena sakit. Telah dilihatnya seekor kadal lewat, ditangkapnya untuk disantapnya nanti. Banyaknya kadal memberi harapan, protein hewani akan segera dapat memulihkan kondisi badan. Berbagai warna ekornya merah, biru dan hijau tahi kerbau.

(66-67) Tapi juga pada pagi pertama itu kembali aku terkejut, kami diperintahkan membuka jalan. Tanpa alat! Karena memang belum ada. Jalan yang harus dibuka itu menerjang padang rumput, dua meter tinggi, rumput persegi tiga dengan sirip setajam silet sampai setinggi satu setengah meter. Semua dicabuti dengan tangan. Dan tidak setiap orang punya tipi. Dalam panas sengangar yang lembab di tengah-tengah padang rumput, dengan hanya pohon kusu-kusu kurus di sana-sini. Rumput tak mungkin tercabut bersih, apalagi sampai ke akarnya. Yang pasti telapak tangan dan jari-jari berdarah.

(67) Enam hari pencabutan rumput dilakukan. Tangan bukan hanya berdarah-darah juga pada bengkak. Peraturan baru datang: bukan lagi 600 gram beras, tapi 500. Yang seratus untuk tabungan! Sejak itu yang 100 bukan hanya tidak kunjung muncul, tanpa sesuatu pengumuman yang 500 pun beringsut-ingsut mengempes. Tembakau hilang. Gula hilang. Yang agak bertahan adalah ikan asin, itu pun sudah pahit seperti jamu.

Jelas permulaan yang baik ini pun bakal disusul oleh yang kurang baik dan kemudian busuk.

(68) Pada hari pertama mengayunkan cangkul, prestasi terhitung mulai enam meter persegi untuk setiap orang. dengan membaiknya kondisi tubuh karena mujahir dan ular dan kadal dan biawak, dan segala sesuatu yang bisa dinamakan daging, prestasi pun semakin naik, juga karena mulai ditemukan rahasia menggunakan cangkul. Uh, anak bangsa pencangkul ini!

(73) Aku sendiri lebih suka bekerja dalam kelompok kecil dalam kesunyian hutan atau padang rumput begini. Dapat memperoleh kemewahan merenung tanpa banyak gangguan.

(75) Tugas ini sangat berat, pertama karena bukan meningkatkan jalanan, tetapi membikin jalan baru sama sekali, tanpa ada jalan setapak bekas kaki orang. Theodolite hanya satu khayalan, apalagi venol dan tenolnya. Bahkan kompas pun tak ada. Alat tulis menulis sulit. Lebih buruk lagi: Kkami tak diperbolehkan menjenguk, apalagi punya peta. Kami belum mengenal lembah ini.

(77) Bagaimana pun kerja menembusi padang alang-alang, daerah rotan, tersasar dalam hutan kayu putih dengan lapisan ranting-ranting kayu di atas air, tanpa sepatu, telah selesai dengan berhasil. Waktu Air Mandidih nampak dari puncak pohon kelapanya dan rimbunan rumpun pisang serta  humanya dengan kayu hutan yang masih malang-melintang, hati bersorak: kami juga berhasil melakukan apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang ribuan tahun yang lalu.

(79) Pengalaman dalam hutan semasa ini membikin aku gamang terhadap rumpun rotan. Bukan hanya karena durinya. Dari setiap tiga rumpun yang aku rebahkan, 1 rumpun menjadi sarang ular hitam yang bersenang-senang tidur dalam ketiak pelepah. Biarpun orang memberitahukan, hanya ular berkepala segitiga. Yang berbisa, tak urung aku tetap gamang. Ular jenis lain bermacam-macam pada umumnya kurus dan panjang. Seekor ular kuning yang sangat kurus dengan kepala terlalu besar dan bergerak lambat berkali-kali ditemui, dikuliti untuk disantap setelah sejengkal dari kepala dibuang. Isinya hanya kerangka dan selapis tipis daging.

Waktu itu kami belum tahu rahasia memasak daging binatang-binatang aneh, maka bau busuknya tak dapat hilang. Tapi kelaparan mengharuskan orang makan apa saja (Di kemudian hari baru kami ketahui, sebelum memasaknya kandung-kencingnya harus disingkirkan terlebih dahulu. Dan binatang berkantong ini sudah mendekati kepunahannya).

(80) Rusaknya jalan Kapten Daeng Masiga-demikian nama jalan terpanjang di Buru Utara ini – membikin aku jadi sentimental. Setidak-tidaknya aku punya saham dalam pembuatannya sejak awal, dan keringat dan jerih-payah bersama yang lain-lain bertetesan sepanjang 8 km ini. Lagi pula jalanan semakin rusak ini karena terus menerus dipergunakan. Tetapi sentimentalitas dalam keadaan seperti ini hanyalah satu kemewahan sia-sia.

(81) Seorang di antara mereka, Jacob Vredenburg, seorang Belanda, memberikan padaku surat dari istriku melalui pagar kawat berduri, mengatakan surat itu telah diperiksa di Kejagung. Belum lagi sempat kubaca surat itu telah diambil oleh Kapten Enersidar, juga bekas perwira Cakrabirawa. Tapi kemudian Dan TEfaat Mayor Kusno menyerahkannya kembali padaku. Di dalamnya disebutkan mengirimkan obat-obatan, vitamin dan uang.

Apa yang menjadi rencana pemerintah tentu bukan urusan tahanan. Semua dapat dilakukan tanpa mendengarkan suara kami. Namun untuk memberi sedikit warna sosial pada kehidupan kami, aku mengajukan agar rumput savannah dimanfaatkan jadi pulp.

(82) Bagiku sendiri penahanan yang lama dan tidak menentu ini tidak membikin pribadiku menjadi hina, malah aku dapat menyertai perjalanan ke titik terdalam dari bangsaku sendiri. Titik terdalam, titik terendah. Mana mungkin merasa hina, aku tak melakukan perampokan dan perampasan sebagaimana dilakukan oleh Orde Baru atas milik dan kebebasanku.

(83) Walau Dan Unit kami menghendaki agar kepercayaan kami pada diri sendiri, kebanggaan jadi orang Indonesia, pulih kembali, namun pemberian dan harapan tertulis Bur Rusuanto masih terasa sebagai olok-olok. Sebab, kreasi apakah yang bisa dipersembahkan seorang tahanan yang tak memiliki dirinya sendiri lagi dan telah empat tahun harus menyesuaikan dengan kenyataan ini? Sedang kreasi bukankah hanya produk saja dari jiwa dan manusia bebas?

Olok-olok itu menjadi kurang beratnya setelah kutemukan tulisan Bur Rasuanto sendiri dalam salah sebuah edisi, yang menghendaki agar aku diajukan ke hadapan pengadilan. Tulisan itu terasa sebagai musik, karena hanya suatu pengadilan yang bebas yang akan menunjukkan kesalahan dan dosa-dosa yang benar-benar kuperbuat. Dalam empat tahun sebagai tahanan aku tidak menyadari kesalahanku.

(84) Kedatangan Jaksa Agung bagiku adalah berarti datangnya kertas, pena, tinta dan ijin menulis. Barangkali. Karena: yang kehilangan kebebasan adalah juga kehilangan mahkota hidup sebagai manusia. Dia tak perlu dan tak boleh berharap. Harapan hanya milik manusia bebas.

(85) Dalam empat tahun pula kegiatan pikiran sebagai landasan kegiatan menulis mengalami kelumpuhan. Kegiatan hanya otak, hanya menerima, bereaksi pun tidak diharapkan. Kerinduan untuk menulis telah jadi gangguan batin. Tapi lihatlah, justru pada waktu kertas, pena, tinta dan ijin diberikan aku tak dapat menulis. Pemusatan pikiran ternyata tidak semudah itu dapat dilakukan.

Maka aku jadi sadar: aku telah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Penahanan empat tahun tidak menentu ini ternyata telah menimbulkan kerusakan mental pada diriku. Pertanyaan yang kemudian timbul: adakah aku masih punya sisa kekuatan untuk memulihkan kemampuan lama, ataukah akan selesai di sini saja riwayat hidupku sebagai pengarang, yang selama ini dianggap sebagai berforum nasional? Sudah selesaikah fungsi sosial dan fungsi nasionalku sebagai pengarang?

Kwalitas dan kwantitas makanan makin memburuk. Makin sulit usaha pemulihan. Pikiran semakin tak mampu memusat. Untuk mengingat nama salah seorang di antara anak-anakku kadang dibutuhkan waktu sampai seminggu.

(86) Boleh jadi berat badanku telah hilang lebih dari sepuluh kilogram. Kekurusanku melebihi di masa pendudukan Jepang, yang waktu itu sudah aku anggap sebagai titik terdalam. Kenyataan ini mendorong aku untuk mengikuti jejak teman-temanku: makan segala macam daging yang disediakan di bumi ini.

(86-87) Tulisan pengobatan ini tak memuaskan, tapi dia pengobatan. Dengan sangat lambat pikiran mulai mau disuruh bekerja. Dan dalam menulis kutemukan kembali diriku sebagai manusia Indonesia, tetap terhormat, hidup dan bergerak dalam nilai-nilai, menemukan kembali manusia dalam segala ketelanjangannya, terbatas dari pretense dan ambisi, sebagai mahluk yang bukan tidak berdaya, bahkan menemukan dalam sejarahnya sendiri. Akhirnya manusia lebih penting dan menentukan daripada pretense dan ambisinya sendiri.

(87) Orang-orang utama dalam perkaranya, perampokan dan pembunuhan, telah bebas lima tahun yang lalu. Ia masih ditahan sebagai saksi yang tak pernah terpanggil, karena namanya tidak ada pada kejaksaan, hanya ada pada administrasi penjara Cipinang. “Kalau aku bebas lebih dulu,” janjiku padanya, “akan kuusahakan pembebasanmu.” Aku dikeluarkan dan dikenakan tahanan rumah. Memang ia bebas pada tahun itu juga setelah Jaksa Agung Suprapto melakukan inspeksi ke Cipinang. Ia ditendang ke luar penjara. Tapi ihwal 11 tahun ditahan tanpa perkara…? Apakah yang demikian akan menimpa diriku juga? Diri kami?

(87-88) Buku yang telah lebih separohnya kutulis itu telah siap aku hancurkan. Tanpa arti, tanpa makna. Hanya pengobat kerisauan pribadi. Tapi setiap tanganku bergerak hendak membakarnya, tercegah oleh kata hati: tulisan in iadalah dirimu sendiri.

Melakukannya tak ubahnya kau dengan percobaan orang Cipinang itu. Tulisan yang tak memuaskan itu tetap tak kuhancurkan.

(88) Kemudian Letnan Eddy Tuswara ditempatkan juga di Unit III sebagai Wadan. Ia memimpin sendiri Unit. Semua pekerjaan di luar urusan produksi padi dihentikan, bahkan dilarang. Hanya padi! Sayur-mayur pun tidak boleh! Memang menggelikan tapi itulah perintah. Kalau semua padi dan gogo jadi, kami hanya akan makan nasi.

(89) Aku mulai makan tikus yang terlalu banyak terdapat di sini, kecilkecil, hidup di bawah alang-alang, juga telur kadal untuk tidak punah karena turunnya gizi, kualitas dan kuantitas makanan. Walaupun ada bantuan susu bubuk untuk seluruh unit – entah dari siapa, – bantuan yang sangat berharga itu tidak boleh diharapkan akan berlangsung terus. Dan memang berhenti sampai setengah ketel yang ketiga. Maka protein hewani penghuni padang rumput harus dimanfaatkan.

(89) Pada tahun 1949 aku pernah menulis tentang seorang pengungsi yang berusaha mempertahankan hidup anak-anaknya dengan memberinya daging kucing. Ternyata aku sendiri harus melakukannya. Ular bukan daging luar biasa lagi. Daging itu menjadi lebih enak bila digoreng dengan lemaknya sendiri. Orang sudah mulai makan oret, membuang bagian atas dan tinggal badan yang berlemak, kadang mentah-mentah. Aku belum berani. Kemudian anjing mendapat giliran, entah hewan siapa. Orang tak perlu tahu.

Selama setengah tahun praktis kami tak memperoleh vitamin C, tak ada sayuran, tak ada buah-buahan. Aku tahu penglihatanku merosot, tak mampu dipergunakan untuk menyiangi huma atau menanam padi. Pergantian fokus yang serba cepat membikin kepala berputar. Apalagi menanam padi di sawah, dengan air yang terus-menerus bergerak. Vitamin A, jangan diharap. Kiriman vitamin dan obat-obatan dari istriku ternyata tak pernah datang sampai padaku.

(90) Keadaan makin menggelisahkan, penghinaan, pemukulan dan pemerasan. Pencacahan tanah paculan dengan telapak kaki untuk dilumpurkan pernah mendatangkan pukulan karena dianggap main-main oleh Tonwal (peleton pengawal) yang tak pernah melihat petani menggarap sawah.  Waktu membersihkan huma, dan mengumpulkan cabang-cabang kayu aku terkena tempeleng dan cekik, hanya karena kedapatan tidak melakukan tugas mencnagkul. Orang muda yang memukul ini jelas tak pernah tahu bagaimana kami dulu ikut mendirikan negara. Tugas kenangan dalam kwartal pertama tahun 1970 berisikan peristiwa satu-satunya di dunia.

Selain mencangkul sebagai kewajiban paksa tapol, aku pun punya kewajiban membawa pulang kayu bakar untuk dapur kelompok sendiri. Kalau seorang serdadu hendak mendapatkan tapol mengerjakan sambilan lain, dia cukup berlindung dan mengintip. Dia akan dapat menangkap seberapa dia suka. Apalagi dalam keadaan lapar tapol bisa menyelinap mencari tambahan lain.

(90-91) Pada tempelengan pertama suaranya yang keras, lebih tertujukan pada Eddy Tuswara daripada kepadaku. “Bapak sudah tua, sudah saya anggap orangtua sendiri. Kewajiban orang muda memperingatkan yang tua, kalau masih mau diperingatkan. Demi pancasila…,” sekarang Serma Karokaro mulai mencekik. Ia meneriakkan sila pertama sambil mendorong tubuhku sampai hampir terjengkang dari kursi. Bukan mulutnya lagi yang kemudian bicara tapi dua belah tinjunya.

Pulang ke barak teman-teman sekelompok sudah pada menunggu. Mereka menunduk melihat biru-biru pada mukaku. Tak ada yang jadi bertanya.

(91) Kemudian satu razia telah menyebabkan semua bukuku, cetakan dan tulisan, diambil, termasuk buku dari Bur Rasuanto. Beberapa hari setelah itu semua dikembalikan lagi. Juga yang tertulis tangan.

Panen huma yang berlimpahan membawa kami kembali pada nasi. Tak hanya nasi. Ditambah dengan singkong yang sudah mulai dapat dimakan. Kwantitas makanan menjadi agak baik, sejauh mengenai karbohidrat. Kami tak terpaksa lagi makan cabin yang dibuat dari panggang lempengan batang aren, yang bila memakannya harus sambil menyemburkan sepah. Jadwal kerja sangat ketat, namun orang masih dapat menyempatkan diri mengail ikan.

Tetapi makan, apalagi hanya nasi, bukan satu-satunya syarat kehidupan. Dengan terpenuhinya syarat terendah keperluan biologis maka predikat seseorang sebagai manusia belum berlaku. Karena kenyataannya orang tinggalah jadi mahluk biologis, hewan. Ada banyak syarat lain yang harus dipenuhi untuk membuat orang menjadi manusia dengan segala harkat dan kehormaannya. Sejarah umat manusia sejak dapat dikenal adalah rangkaian pergulatan untuk itu.

Dan dihentikannya jaminan makan dari pemerintah, menjadi jelaslah bagiku, bahwa kami harus hidup dengan petunjuk intuisi untuk hidup. Dan kenyataan ini harus kami terima.

(92) Kami di tengah-tengah savannah yang kedekut ini terserah pada intuisi untuk hidup. Kenyataan ini kenyataan nasional yang mungkin hanya pengejawantahan dari kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab. Kekuasaan yang menahan atau menghukumlah yang semestinya menjamin kelangsungan hidup yang ditahan dan dihukum. Juga pengumuman, bahwa kami harus berdikari sebagai kelanjutannya, adalah juga pengukuhan terhadap kenyataan ini. Suatu kenyataan yang harus diterima. Keterang-terangan, bahwa keadaan kami diidentikkan dengan transmigran, untukku pribadi semakin mengherankan, apalagi dengan anjuran-anjuran untuk mendatangkan keluarga.

(93) Dan justru pada masa ini pada suatu hari pendengaranku hilang sama sekali. Ini adalah degenerasi. Aku menjadi tuli. Keadaan ini mengejutkan dan membikin panic. Adakah aku takkan pernah dengar suara anak-anakku untuk selama-lamanya? Seminggu kemudian ketulian ini agak berkurang, tapi tidak juga mau hilang sama sekali. Aku tak mampu lagi mendengar dan menangkap suara pelahan. Akibatnya aku harus selalu bicara agak keras, suatu undangan tak langsung agar orang bicara agak keras padaku. Aku tahu aku telah jadi setengah cacat, dan ini harus aku terima dengan diam-diam. Di hadapanku terbayang masa suram, untuk waktu lama atau sebentar aku tak tahu.

Dalam appel waktu terang tanah serdadu yang menerima appel menyatakan kegusarannya. Kami dituduh jorok, tak tahu kebersihan. Hukuman: push-up limapuluh kali. Bagiku tidak soal. Di R.T.C Salemba, sebelum meninggalkan tikar ketiduran di subuh hari, sudah terbiasa melakukan push-up, paling tidak enampuluh lima kali. Melihat teman-temanku yang hanya mengangkat pantat hampir-hampir tak terbendung rangsang tawaku. Apalagi waktu hitungan sampai ke lima belas sebagian besar sudah lengket dengan tanah becek. Rangsang tawa itu mendadak digantikan oleh kerisauan baru. pada hitungan ke duapuluh lima benar-benar aku pun lengket dengan becekan. Sampai pada hitungan itu sang serdadu menghentikan hukumannya.

Kesalahan kami? Tentu saja tidak ada. Hanya ada ceceran tahi di gubuk Tonwal sampai ke tempat mandi di pinggir sungai. Dan tahi itu berwarna kuning muda, lumpur ubi jalar yang disemburkan perut kekenyangan. Tak ada di antara kami yang makan ubi jalar. Keluar malam pun tak mungkin tanpa ijin. Jelas kebun kami telah kena serbu sebelum waktu panen yang tepat tiba.

(94) Pada suatu hari datang Wadan Lettu Eddy Tuswara ke gubuk kami, minta diri hendak pulang ke Jawa. Datang juga surat dari Dan Unit Kapten Daeng Masiga yang minta diri, tak dapat datang sendiri karena kakinya sakit, dan meninggali aku sebuah anduk bekas dan selembar celana dalam. Tentu Dan Unitku tak bermaksud menghina aku. Beberpaa orang yang waktu mengerjakan sawah terpaksa mencangkul dengan telanjang bulat untuk dapat menyelamatkan pakaian untuk tidur, juga telah memberinya celana dalam. Dan menerima pemberiannya itu tak lain dari terjamahnya keadaanku pribadi. Dari R.T.C. Salemba kami tak boleh membawa pakaian lebih dari dua stel. Dan baju dipakai tiga bulan untuk bekerja di ladang atau di sawah akan hancur terkena keringat, air dan hujan.

(95) Dalam rombongan yang dikepalai seorang Letnan II kelahiran Cirebon, terdapat seorang kameraman Jerman, memperkenalkan diri dengan nama Fritz saja, kelahiran Wiesbaden. Dengan sepengetahuan Dan Unit baru dua hadiahkan padaku dua buah kemeja dan sebuah celana corduroy. Dengan demikian aku boleh simpan kemejaku dari bekas kantong bulgur, itu pun pemberian dari adikku yang menyusul ke pembuangan ini juga. Aku tak kan melupakan kesudian orang, yang tak pernah kukenal sebelumnya itu, seorang yang negerinya pernah kujamah dan sekarang putranya kutemui di tengah-tengah savannah ini. Ia memberikannya dengan tulus ikhlas. Pakaian itu memang bekas, dan memang hanya dengan itu ia dapat membantu.

Apa pun pertimbangannya aku menjadi sadar akan ketergantunganku sendiri.d an semua ini mengingatkan aku pada masa kecilku, dari keluarga tak mampu pula, kadang-kadang ke rumah orangtuaku meminta lungsuran. Dan ibuku yang selalu menyediakan, memberi mereka makan apa yang diminta dan air muka bahagia. Aku telah mendekati keadaan orang-orang tua ini, dan merasa malu pada diri sendiri.

(95) Kerja ladang dan sawah dengan cepat juga menghancurkan topi. Vulpen mas pemberian mayor Kusno terpaksa aku tukarkan dengan caping bamboo untuk berlindung terhadap terik matari dan hujan. Aku tak menulis lagi.

(96) Sejak waktu itu kami dinamai “Kelompok Teladan”, orang-orang yang diisolasi. Kemudian ternyata bahwa masa isolasi itu berlangsung selama dua tahun penuh. Hebat juga.

Memang bukan pertama kali aku masuk isolasi. Di R.T.C Salemba dua kali, masing-masing selama lebih dari sebulan. Atas dasar apa tindakan itu aku tak pernah tahu, karena memang tak pernah diberitahukan. Juga yang ketiga ini. Satu penahanan 1960-1961 telah aku jalani di R.T.M. (Rumah Tahanan Militer) dan penjara Cipinang, pun tak pernah ditunjukan padaku kesalahan sesungguhnya.

(96-97) Pada pertengahan tahun lima puluhan telah aku bubuhkan tandatangan protes pada pemerintah atas penahanan terhadap Mochtar Lubis, karena dilakukan tanpa ada kejelasan perkaranya. Ternyata perlakuan yang aku protes menimpa diriku sendiri secara berulang-ulang. Justru dalam isolasi tanpa keterangan ini aku semakin menghargai nilai-nilai yang telah distabilisasi oleh umat manusia.

(97) Prinsip-prinsip kebebasan dan kemerdekaan yang pernah diajarkan oleh guru-guruku sebelum revolusi 45, mendayu-dayu membikin aku jadi tafakur. Biar kenyataan di sekelilingku lain lagi bunyi dan nadanya, penghargaanku terhadap semua itu semakin jadi mendalam dan meyakinkan. Dan suara multatlui itu semakin santer terdengar. De plicht van een mens is mens te zijn – tugas manusia adalah menjadi manusia. Juga surat-surat yang baru kuterima semakin mengharukan.

(98) Dan dengan memasuki “Teladan” berarti aku harus meninggalkan bengkel pandai besi dan turun ke ladang jagung. Aku tak menulis lagi karena sudah tak mempunyai alat. Sebagai imbangannya setiap hari selama lima menit kucoba menebusnya dengan belajar bahasa Jerman. Siapa tahu kelak aku bisa membaca Jerman? Aku mencoba melupakan kenyataan, bahwa sesungguhnya terlalu sulit menjadi warganegara Indonesia. Dan semakin meresap kata-kata bijaksana J.A. Cronin dalam The Keys To God, bahwa jangan orang terlalu banyak makan, jangan menjadi terlalu gemuk, karena “pintu sorga itu sempit adanya”: bahwa ada banyak agama, ada banyak kepercayaan, tapi “akal adalah satu adanya.”

(99) Pada tanggal 2 Januari 1972 aku dan prof.Dr. Suprapto SH dibawa olehnya bersama Kelig dan Sali ke Namlea untuk di-jiko-kecil-kan (dimasukkan dalam kamp pengasingan jiko kecil, tempat para tapol diperlakukan secara sadis sampai pada pembunuhan oleh para pengawal tanpa pernah mengakibatkan tuntutan hukum). Letkol A.S. Rangkuti nampaknya tak membenarkan maksud Dan Unit malah menjamu kami berdua, jamuan tahun baru. Itulah untuk pertama kali dalam hampir tujuh tahun dijamu orang dengan kue-kue tahun baru yang diambilkan dari toko.

(100) Hanya satu ironi yang tak kan terlupakan: “Saudara-saudara di sini tidak seperti di Digul. Di sini saudara-saudara dibina.” Ya, satu ironi, yang mengingatkan aku pada Idrus dalam novelnya Open, bahwa Open tak suka pada guru Cuma-Cuma, ia hanya mau belajar pada guru yang dibayarnya… Dan bukankah sudah pada penghujung tahun 1949 dalam dunia sastra Indonesia kata menggurui senyawa dengan pengertian: tak dikehendaki, membosankan, intruding dan boring?

Aku nilai masa ini yang paling menggelisahkan. Hukuman berjatuhan tanpa dapat dipahami. Aku masih ingat waktu diharuskan mendorong gerobak dua kali pulang balik ke Air Mandidih dalam sehari, berarti 2x2x8 km atau 32 km, di atas jalanan yang dahulu kami bangun sejak awal. Pernah juga kelompok kami dikirim ke Bantalawarna, barang empat kilometer, sedang semua teman yang lain tidak boleh meninggalkan unit. Di sini kami meneruskan penggalian saluran yang membelah sebuah bukit rendah sampai tepat jam enam sore.

(102) Dalam pimpinan Kapten Sudjoso Hadisiswojo lima orang di antara kami meninggal dunia. Jumlah kematian terbesar. Seorang adalah Samtiar, dulu wartawan Harian Rakyat, seorang pasien rumah sakit, meninggal setelah dipukuli di pelataran rumah sakit. Yang lain adalah Kyun, seorang pemuda dari Malang, periang, rajin dan mengabdikan diri pada kepentingan semua temannya, melakukan segala pekerjaan dengan senang hati, kuat, tekun dan ramah. Pada suatu kali ia jatuh sakit dan harus diopname. Dalam sakitnya ai merasa sangat berhutan dan berdosa hanya tergantung pada mereka dari makan sampai minum, bahkan juga memasaknya. Ia mengalami mental breakdown. Dalam keadaan seperti itu ia dipukuli oleh Komandan kami. Kurang lebih dua hari kemudian, ia menyelinap pergi seorang diri di sebuah gubuk ladang jagung. Di sana ia minum endrine, mati dengan menderita kesakitan. 11 Maret 1972. Semua tawanan berduka cita atas kematiannya.

(103) Tak jarang di hutan orang harus menggergaji papan dalam kegelapan malam juga. Dua buah gereja diharuskan sudah jadi dalam satu malam seperti dalam cerita Bandung Bondowoso. Dan hadian dari pekerjaan itu adalah pukulan.

(104) Aku sangat berterimakasih telah diajak bicara oleh orang bebas dan dari dunia bebas. Namun beritanya tidak begitu menarik, karena sudah pernah kubaca tulisan Prof.John dari Universitas Melbourne tentang sastra Indonesia. Terbitan Australia ini kemudian diperkuat dalam terbitan Amerika Serikat. Juga pernah datag permintaan ijin padaku dari Australia untuk menerjemahkan Korupsi dalam Inggris. Dengan pertimbangan tulisan itu kurang baik untuk konsumsi internasional aku menolak. Permintaan ijin itu diulangi, bukan padaku, tapi pada Departemen P.D.K. Sehubungan dengan ini Kejaksaan Agung memanggil aku untuk membicarakan ijin terjemah itu. Dan ku telah terangkan pendirianku. Pejabat Kejaksaan Agung itu nampak senang dengan jawabanku. Tapi buntut pertemuan itu tak menyenangkan: ia minta kesudianku jadi informan untuk Kejaksaan Agung. Kuperlihatkan gigiku sebagai jawaban. Wow. Sekalipun berita itu tak begitu menarik, dapat kugambarkan, kedudukan sosialku sebagai pengarang Indonesia ternyata masih utuh, sama sekali tidak cedera. Angin segar. Dan tidak ada buntutnya.

(105) Sehabis appel semua tulisanku kubakar. Dan aku tidak menyesal. Ini bukan yang pertama kali naskahku binasa. Menulis lebih lanjut tentang masa ini hanya akan mengenangkan sesuatu yang mengganggu tidur.

Yang buruk terlampau banyak dan terlampau mudah dikumpulkan dalam kehidupan kami bertahun-tahun belakangan ini. Dan yang baik juga yang akan tetap hidup abadi, meruap jadi nilai yang kembali turun ke bumi, jadi pedoman hidup.

(106-107) Kembali dari “Teladan” aku mulai bekerja di bagian processing, menurunkan gabah dari gerobak dan menyaring sampahnya. Ada banyak waktu padaku. Sambil menunggu gerobak datang, saat gabah yang disaring sudah habis, aku pergunakan untuk menulis. Impian lama untuk membuat roman Kebangkitan Nasional mulai aku wujudkan. Dengan sangat cepat tulisan itu berjalan seperti meluncur. Aku tahu, tulisan itu hanya mencapai nilai sebagai konsep pertama. Sembilan buku tulis sudah berisi. Dan pada suatu pagi disita oleh Tonwal, diserahkan pada Dan Unit Kusnadi. Naskah diteruskan pada Wadan Tefaat Letkol Soetarto. Aku sendiri diproses verbal oleh jaksa Unit dan dipersalahkan. Aku tunjukkan surat dari bekas Dan Tefaat Kusno, tapi tanpa arti malah disalahkan karena yang harus aku tulis sendiri sebagaimana aku nyatakan naskah itu kubuat pada waktu senggang kerja, aku memohon – memohon! – agar diberi kesempatan di luar jam kerja untuk sekali lagi memberikan sesuatu pada Indonesia. Naskah itu tidak pernah kembali ke tanganku, seakan hak cipta, bukan hak milik lagi di Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s