Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Laporan Kepada Komandan

-Pramoedya Ananta Toer-

(109) Pada awal April 1976 Letda Hanafi menyampaikan padaku, Dan Inrehab, Kolonel Sutikno, menghendaki agar aku menulis pengalamanku selama di Mako. Pada mulanya aku ragu karena pengalaman ini lebih banyak bertitik-berat pada kepengarangan yang terlalu sedikit diketahui umum, sedang kepengarangan itu sendiri mempunyai persangkutan yang integral dengan pemikiran dan kreasi bebas. Tidak semua orang suka melihat kenyataan ini.

(111) Setiap pengarang yang kreatif hampir selalu seorang individualis. Aku sendiri pun seorang individualis, berwawasan mandiri, sulit untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain, keadaan lain, apalagi bila sama sekali baru. Seorang individualis hanya mendengarkan apa yang menurut pikirannya sendiri lebih tepat atau lebih baik, tanpa atau kurang mengindahkan selebihnya.

Lagipula sudah umum ketahui watak militer menutupi kompleks rendah-dirinya dengan tabir gertakan, kemarahan dan ancaman.

Pada akhir tahun limapuluhan, pernah aku ajukan protes karena terlampau tingginya pajak pengarang, tanpa mempertimbangkan klasifikasi, karena penyusun buku sekolah dasar, yang dalam kerja beberapa hari bisa jadi jutawan disamakan dengan pengarang sastra yang bekerja lebih lama dengan penghasilan mungkin kurang dari seperseratus dari penyusun buku sekolah dasar. Jawabannya: pajak pengarang dinaikan jadi 20% untuk setiap sen yang diterima dari karyanya – sama tingginya dengan pajak menang lotre tanpa kerja.

(111-112) Pada 1956, Parlemen telah membatalkan kesertaan Indonesia dari Konvensi Bern, dan ini berarti hapusnya perlindungan hak cipta para pengarang Indonesia di luar negeri. Dan bagiku sendiri, dengan penghidupan hanya dari tulisan-tulisannya sendiri, honorarium dari luar negeri merupakan penunjang penting. Dengan keputusan Parlemen Indonesia itu luar negeri tak dimestikan membayar bila menterjemahkan karya Indonesia.

(112) Seorang pengarang adalah seorang pekerja individual, seorang yang bekerja saat seorang diri, mengutamakan pikiran, perasaannya sendiri. Kebiasaan kerja ini menimbulkan watak individualis, banyak kali melupakan atau tidak menggubris lingkungannya dengan tata-tertibnya sekali. Watak individualisnya menyebabkan ia tidak disukai oleh lingkungannya, apalagi oleh orang-orang yang mengutamakan tata tertib. Sebaliknya kemashuran menyebabkan ia dikagumi. Ia hidup dalam dua ekstrimistas di dalam masyarakatnya sendiri. Setidak-tidaknya di Indonesia.

(113) Sejak masuk dalam tahanan pada 1965 aku terlatih untuk tidak mempercayai kata-kata yang diucapkan oleh mulut, dan membatasi kepercayaan hanya pada kata-kata tertulis, dan itu pun kadang masih meragukan. Ucapan tertulis harus menjadi batas untuk tidak mengalami kemerosatan ke arah sinisme – artinya kehilangan kepercayaan, kebaikan pada manusia. Dan aku menolak sinisme, dan untuk selamanya pun harus menolaknya. Sinisme tetaplah suatu degradasi.

(113-114) Dari buku-buku kiriman istriku aku mendapat gambaran, kemajuan di bidang bahasa Indonesia menurut penilaianku cukup menyedikan. Dari Kamus Ejaan Bahasa Indonesia Standar susunan Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dapat dilihat, bahasa indonesia berkembang semakin tidak nasional, makin dimajikani oleh bahasa-bahasa internasional.

(114) Dari EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan peraturannya aku lihat ada pergantian beberapa huruf, sedang kelemahan dari ejaan padri-padri Kristen pada pertengahan abad yang lalu, melalui ejaan Van Ophuysen, melalui lagi ejaan Soewandi, masih tetap diteruskan sebagai warisan dalam EYD. Sebagai pengarang, artinya sebagai seorang pemakai bahasa secara aktif, dan mungkin juga kreatif, barang tentu buku-buku itu hanya mendatangkan kekecewaan, sekalipun memberi gambaran yang tak terbantahkan.

(114-115) Pada suatu malam Dan Tefaat memanggil dan memerintahkan agar aku membuat komik. Alasan itu pendek dan bisa segera selesai. Kesulitan mulai berdatangan. Aku terpojokkan. Dari luar pun aku termasuk golongan anti komik. Aku berpendapat, gambar dibuat hanya sebagai pembantu karena orang tak dapat membayangkan. Kebanyakan cerita-cerita komik kuanggap merugikan generasi muda, bukan hanya perseorangan atau pribadi. Dia adalah cerita yang ready-made, sehingga kanak-kanak tidak ditantang untuk mengembangkan daya fantasinya. Padahal justru pada masa kanak-kanak daya fantasi harus dikembangkan. Kematian daya fantasi pada masa kanak-kanak mengakibatkan ancaman kematian terhadap daya cipta di masa dewasa dan tuanya. Mereka akan tumbuh jadi pekerja teknis semata, kehilangan kemampuan untuk mempersembahkan pada nasionnya sendiri tambahan kekayaan rohani.

(115) Sebagai orang yang kehilangan hak-hak sipil aku hanya bisa mendengarkan. Lagipula sudah menjadi dugaan umum: seorang pengarang bisa menulis cerita apa saja, dengan bahan yang diambilnya dari langit, yang dinamai inspirasi. Padahal inspirasi hanyalah produk semata dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman, sedang bacaan tidak ada.

Menyusun cerita komik hampir-hampir mendekati menulis sebuah skenario, yang sama sekali tak pernah kulakukan sebelumnya. Maka pengalaman ini menyesakkan. Waktu hasil itu dikirim ke Jakarta, dalam hati aku menangis.

(115-116) Berdua kami ditempelengi dan aku sendiri mendapat tambahan semburan ludah. Dan waktu tinjunya tiba-tiba mengenai uluhatiku aku meliuk nyaris roboh. Setelah itu kami berdua diperintahkan pergi.

Aku pergi membawa kata-katanya yang masih juga terngiang di kuping: “kepala besar, ya, sudah diajak ngomong sama jenderal?” “Di Unit III jagoan, ya? Tak ada yang berani?” “Mestinya bangga saya ajak bicara.” “Ngomongnya sok!” “Sudah tua!”

Betapa rendah harga manusia Indonesia yang kebetulan sekarang ini adalah diriku. Perlakuan yang tak pernah dilakukan oleh seorang wanita yang pernah melahirkan diriku. Juga tak pernah kulakukan terhadap anak-anakku sendiri, apalagi terhadap orang lain. Dan ini adalah penghinaan dan penganiayaan kedua pada pribadiku seorang semasa Indonesia mengenal Orba, dan semasa Orba berhasil menciptakan kamp kerjakpaksa di atas bumi Buru ini. Sebuah kreasi yang tak pernah terimpikan oleh seluruh panjang gerakan kemerdekaan. Bahkan dalam pemeriksaan pada 1965 tak pernah terucap kata-kata penghinaan untuk alamat diriku pribadi.

(166) Tentu saja kusediakan waktu untuk merenungkan penghinaan dan penganiayaan, yang lukanya tak kan tersembuh ini. Mungkinkah karena jawaban-jawabanku pada para wartawan Jakarta? Atau karena itu satu-satunya cara yang dikenal sistem Orba ini untuk membikin yang seorang maka semua orang jadi takut? Karena orang yang takut gampang ditekuk-tekuk menurut kehendaknya? Akhirnya yang belakangan ini yang kuambil sebagai jawaban yang tepat.

Penghinaan dan penganiayaan memang santapan sehari-hari bagi tapol RI. Terutama yang keluar dari mulut para ulama yang didatangkan untuk memberi santiaji sebagai pelengkap dari alat-alat kekuasaan.

(117) Penghinaan pertama kuterima pada awal berdirinya Orba. Di tengah penahanan di Kodam. Seorang sersan mayor memberikan padaku koran Duta Masjarakat, memberitakan: aku telah “mencuri buku-buku” perpustakaan musium pusat. Memang tidak pedih, namun tetap melukai. Celakanya penghinaan pers itu justru jadi salah satu dasar pemeriksaan atas diriku. Tidak pedih, karena bisa menjawab: boleh dicocokkan dengan keterangan dari perpustakaan musium, buku apa saja yang hilang atas namaku; sebaliknya berapa puluh kali lipat dari jumlah itu yang telah kusumbangkan padanya. Walhasil aku simpulkan, pemukulan dan penghinaan mungkin sedang jadi peradaban orba. Dan dengan itu aku mulai tentram kembali.

(118) Dan Tefaat membiarkan aku menulis semauku. Tetapi itu tak berarti tak ada hal-hal yang terjadi. Ada saja perwira minta dituliskan riwayat percintaannya, atau minta disusunkan surat cinta. Memang pengalaman cinta merupakan bagian terpenting dalam hidup seorang manusia. Tapi banyak yang lupa: yang terpenting itu tidak selamanya penting untuk orang ketiga. Dengan segala cara aku menolak sambil menunggu datangnya risiko. Tetapi alhamdulillah risiko itu tidak ada.

Kemudian aku bermaksud menulis sebuah roman tentang Periode Kebangkitan Nasional. Walau pekerjaan itu sudah mulai kucoba di Unit III, sekarang ini menjadi ragu, karena satu waktu akan dibaca orang lain, bukan olehku sendiri saja. Sedang mengandalkan pada ingatan saja bisa-bisa jadi kedodoran. Kalau toh ditulis juga, dan ternyata tidak akurat, orang akan bisa menuduh aku memalsukan sejarah, dan itu memang bukan bidangku. Dan setiap pemalsuan sejarah akan mengakibatkan bencana sosial.

Aku ingin menulis sebuah roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman. Jadi aku bukan keluarbiasaan di antara pengarang, nasional ataupun internasional sungguhan.

(119) Aku telah berjanji untuk menulis roman lagi pada umurku yang empat puluh tahun. Tepat pada umur tersebut aku justru masuk dalam tahanan, 1965, dan semua yang telah aku kumpulkan dengan susah-payah dan mahal binasa di tangan orang-orang yang tidak mengerti. Seperti dikatakan Jendral Soemitro memang seorang bisa mempunyai pride karena dokumentasinya, tapi dokumentasi bukan pride. Dia tulang punggung, kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun. Boleh jadi catatan-catatan atau salinan-salinan bisa diulang, tetapi bagaimana halnya dengan bahan-bahan otentik tanpa salinan, Nederland sebagai pusat dunia untuk indologi pun takkan bisa membantu.

Jadi aku tunda menulis novel sambil melatih diri untuk mengingat dan menggapai-gapai dalam kegelapan. Sementara itu timbul satu problem, kalau ada Periode Kebangkitan Nasional, tentu ada periode kejatuhannya, kejatuhan yang mendahului. Dengan demikian mulai aku siapkan menulis tentang kejatuhannya dahulu, yakni masa tengah pertama abad keenam belas. Untuk itu pun bahan tidak ada. Tahanan-tahanan yang aku kunjungi untuk mendapatkan bahan pada umumnya segan menerangkan, walalu tahu, karena menduga seorang pengarang tahu segala-galanya. Malahan mereka yang mempunyai bahan ala ketoprak pun segan untuk menerangkan.

(126) Aku sendiri tak punya sesuatu prasangka apalagi fobia terhadap komunisme, karena pada setiap yang nyata tidak boleh kututup mataku dengan dua tangan hanya karena tidak suka. Kenyataan perlu dilihat dengan mata terbuka dan diterima sebagai kenyataan.

(127) Pada tahun 1973 dalam suatu interpieu, wartawan Rosihan Anwar yang berkunjung ke Buru mengatakan: “Pengalamanmu tragis, Pram.” Maka segera aku jawab: “Jangan dikatakan suatu tragedi!” Boleh jadi untuk orang lain tragis, bahkan juga suatu tragedi, tapi justru inilah yang terjadi, karena setiap pengalaman adalah fondasi bagi orang yang dapat menilainya secara tepat untuk hidup selanjutnya, sekalipun hidup selanjutnya itu hanya tinggal beberapa tahun, bulan atau hari.

(129) Aku mengerti sepenuhnya mengapa sering menjadi sasaran laporan. Paling tidak karena faktor yang satu itu: kemashuran. Dengan menangkap seseorang yang punya nama, orang menganggap telah dapat menangkap kakap. Dengan melaporkan seseorang yang punya nama, orang menanggap telah melakukan suatu pekerjaan penting dan hebat.

(130) Sekalipun selama ini kehilangan kebebasaan dan hak-hak sipil, tak peduli kehilangan itu mempunyai dasar hukum atau tidak, sebagai pribadi – walaupun mungkin hanya sedikit dan tidak berarti – akupun masih punya kehormatan dan harga diri. Mungkin itulah milik terakhir padaku sekarang ini.

(131-132) Dalam mengetik roman tentang awal kejatuhan Nusantara itu pun aku diganggu oleh perasaan tidak puas, karena cerita itu tidak dilandasi oleh kepustakaan yang mencukupi. Memang di Unit III pernah aku ceritakan secara lisan, tetapi tulisan mempunyai syarat lebih banyak dan lebih ketat daripada lisan. Bahaya mendapat tuduhan memalsu sejarah tetap terbuka dan bisa dilakukan oleh seorang anak sekolah dasar pun. Walau sudah kucoba kerahkan kemampuan pengetahuanku, tetapi bila bahan dasarnya meleset, segala yang tertopang di atasnya tentu akan ikut meleset. Walhasil aku harus nilai karya ini hanya sebagai “naskah belum sempurna.” Dan predikat naskah belum sempurna mutlak tidak bisa dilepaskan.

(132-133) Kolonel Samsi MS minta agar aku menuliskan jawaban itu dan aku tuliskan. Kemudian ia mengatakan: “Karena yang menulis ini seorang tahanan, maka barang tentu akan dicari hal-hal yang negatif.

“Tidak apa,” jawabku, “Sebagai pengarang saya adalah manusia Indonesia penuh, dengan kekuatan dan kelemahannya, dengan kebenaran dan kekeliruannya. Soal penilaian adalah soal orang lain.”

(137-138) Ia bertanya tentang keluargaku, kemudian bertanya apakah tak ada niat untuk mendatangkan. Ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya ditujukan padaku. Dan selalu membikin aku terkenang pada istriku. Ia telah terlalu menderita mengurus suaminya sewaktu di RTC, terusir dari rumah sendiri tanpa membawa perbekalan, tidak aku tinggali belanja barang satu sen. Dan untuk waktu berapa tahun! Tiga kali dalam seminggu ia mengurus makanku, sehingga bukan saja aku tidak begitu perlu makan dari jatah RTC, bahkan dapat membantu teman-teman setahanan lain. Aku tak tahu darimana ia mendapatkan rejekinya. Padahal hanya aku tinggalkan nama suaminya, Pramoedya Ananta Toer. Kalau nama itu pernah berbuat baik dan punya nilai baik untuk kehidupan, tentu kehidupan akan menghidupi keluarganya yang ditinggalkan.

Pada suatu hari ia berusaha mendapat ijin bertemu untuk minta diri, sudah terlalu kurus, dan dengan air mata ia minta maaf tidak akan bisa mengurus makanku selama kepergiannya. Ia akan berangkat untuk diopname. Beberapa waktu setelah itu baru kuketahui dari orang yang mengurus kiriman makanan dari luar, istriku jatuh pingsan di antara para pengirim. Ia sendiri tak pernah bercerita. Ia terserang TBC. Pada 1960 waktu aku ditahan di RTM, dalam keadaan mengandung berat hampir melahirkan ia sering menunggu suaminya di sore hari di depan tempat penahanan. Setiap melahirkan ia menangis. Hanya pada waktu melahirkan terakhir 1965 ia tersenyum, karena itulah bayi lelaki yang dapat diberikannya padaku.

(138) Ia sudah cukup banyak mengurus suami dan anak-anaknya. Sampai dengan keberangkatanku ke Buru aku masih tak tahu pasti, di mana dia dan anak-anaknya tinggal setelah rumah itu didudukki. Dan aku tahu betul ia menyayangi rumah itu, karena ia sendiri ikut aktif membangunnya pada awal tahun 1958.

(139) Dalam pimpinanya produksi justru tidak turun, sebagai bukti, bahwa ketegangan sama sekali bukan faktor yang menentukan produksi. Pembukaan pasar, yang menghubungkan kebutuhan para tahanan dengan barang-barang konsumsi, memberikan udara baru. Tetapi bagaimanapun tahanan tetap manusia tanpa kebebasan, tanpa mahkota.

(140) Dulu di rumah ada padaku tujuh macam encyclopaedie, hampir sejua jawaban dapat diperoleh dari situ. Sekarang harus bertanya ke mana-mana, dan jawabannya belum tentu ada. Yang ada belum tentu pasti dan benar. Mau tak mau aku merindukan dan menyesali perpustakaan dan dokumentasi yang binasa. Padahal sudah aku usahakan sekuat daya agar semua itu tinggal selamat. Pada team yang menangkap aku, aku minta agar diselamatkan. Pada seorang Letkol di Kostrad, waktu aku dibawa ke sana pun aku berpesan, malah aku tambahkan: “Kalau negara hendak ambil itu, ambilah, jangan sampai dirusak, karena dia punya harga nasional.” Kenyataannya justru lain. Bukan hanya itu, istriku pernah memberitakan, kertas-kertas itu dijual orang di pinggir jalan. Mudah untuk dapat mengenalinya karena semua telah dicap dengan kata-kata “Perpustakaan Dokumentasi Pramoedya Ananta Toer.”

Aku bekerja hanya dengan modal sisa-sisa yang tertinggal dalam ingatan. Maka juga tak ada jalan lain bisa ditempuh daripada minta pendapat dan koreksi atas naskah yang telah tersusun pada teman-teman untuk bisa agak disempurnakan dalam penyusunan kembali kemudian. Dan tak ada orang yang paling tidak puas daripada aku sendiri sebagai pengarangnya.

(144) Nasehat untuk tidak membaca itu terdengar sinting, tidak realistis, tidak sesuai dengan realitas, bahwa manusia punya naluri untuk mengetahui lebih banyak daripada yang sudah ada padanya, bahwa ia pernah belajar membaca untuk membaca. Dan bahwa kegiatan terhebat otak manusia justru dalam mencari dan mendapatkan informasi. Maka setiap kali bila ada naseehat atau peraturan yang terdengar tidak realistis aku merasa, bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa, semakin bodoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s