bertahan dan harus pulang :)

Kita duduk bersebelahan di hadapan meja segiempat, baru saja menuntaskan makan malam setelah beres-beres yang membuat kita berdua letih berpeluh. Kwetiau masih menyisa separuh di mangkuk punyaku. Perutku sudah penuh.

Jalanan Tebet masih macet di bawah sana. Mobil-mobil berbaris rapat, kesabaran para pengemudi yang bergumpalan, membuat klakson-klakson ditekan maksimal. Di tengah bising ini, kita berdua hening dalam keletihan. Tak mesti juga ada dialog, untuk menjalin ikatan-ikatan nyaman menyenangkan pada satu sama lain.

“En..,” suaramu pelan memanggil. Matamu menatapku sayu.

“Ya?”

“Bukan saya tidak percaya padamu. Tapi kalau suatu saat nanti, En berada dalam situasi terdesak, sulit. Sedangkan kita berdua saling berjauhan. Tidak bisa berkontak, tidak bisa berkomunikasi dengan cara apa pun. Kondisi yang sangat sulit. Berjanjilah untuk bertahan.”

Aku menyimak setiap kata yang kau sampaikan terpatah-patah itu. Berusaha mencerna maksudnya baik-baik. Tapi tak ada kalimat lanjutan lagi yang memperjelas maksud dan permintaanmu itu. Aku tidak bisa menangkapnya dengan utuh.

Apa mungkin maksudnya kau khawatir aku terpercik godaan dekat dengan laki-laki lain? Ketika kita berjauhan dan tidak bisa saling menjaga dan merawat? Matamu diam, menunggu responku atas permintaan itu. Ada secuil sedih yang berdenyut. Ini tentang kepercayaan. Akhirnya aku menjawab dengan enggan.

“Iya, aku pasti akan bertahan. Tentu saja tidak akan ada orang lain, laki-laki lain.”

Kau menarik napas panjang, memotong kalimatku yang belum tuntas. “Bukan ke situ maksudnya.”

“Eh? Maksudnya gimana?” Aku mendadak kikuk, mukaku memerah lagi, malu. Salah menyerap maksud lelakiku.

Kau menjelaskan maksudmu dengan sabar. Profesi ini, katamu, membuat kita sangat rentan, rawan bahaya atau terpaksa berada dalam kondisi tidak nyaman. Entah besok kita ditugaskan di mana. Bisa saja dalam kondisi bencana atau bahkan perang. Kau mengulangi permintaan itu sekali lagi. Dengan penekanan pada setiap kalimat.

“Berjanjilah akan bertahan, En. Dan harus pulang,” katamu tegas.

Aku tersentak diam. Kaku. Malu. Terenyuh.

“Kakak takut aku mati..?” suaraku gemetar.

“Iya.”

–Hening —

“Tenanglah, aku pasti pulang. Berjanjilah akan melakukan hal yang sama untukku.”

Sebenarnya aku tak perlu meminta kau berjanji. Aku tahu dan yakin kau tentu saja akan melakukan hal yang sama. Rasanya tak bisa ditakar, ikatan sayang siapa yang lebih kuat. Kau atau aku. Dan memang tak perlu ditakar.

(pada hari ketika menghitung tabungan berdua)

Sevel Tebet, 14 April 2013

18.55 WIB, asosial karena hujan deras yang tak bisa diterabas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s