catatan kakak guru: Cerita tentang Diana

2008

Bunyi keyboard berketak-ketuk masih penuh di ruangan. Kipas angin berputar sekadarnya di ruang praktikum komputer, tidak bisa meredakan pengapnya kelas dan udara panas. Keringat pelan-pelan menetes dari punggung anak-anak ini, membasahi baju seragam mereka.

Bergantian mereka mengetik tugas yang kuedarkan. Tak pernah ada aturan baku mereka harus mengetik seperti apa, harus mengetik huruf yang satu dengan jari yang mana. Huruf yang lain dengan jari lainnya, seperti yang dijelaskan dalam buku pelajaran. Bebas saja. Sesuka-suka mereka. Mau memilih huruf apa, warna yang mana, dan dihias seperti apa. Yang penting mereka menikmati pelajaran yang cuma punya porsi waktu dua jam dalam sepekan ini. Bisa menyerap pelajaran dengan hati gembira.

Bukan hanya waktu yang terbatas, tetapi juga jumlah komputer yang tersedia. Jumlah komputer hanya separuh dari jumlah siswa. Di awal-awal dulu, anak-anak mendadak brutal kalau sudah waktunya masuk kelas. Mereka berebut mencari komputer yang bisa dipakai untuk diri sendiri. Saking inginnya menguasai komputer untuk diri sendiri, ada juga yang menyelinap masuk tanpa membuka sepatu. Melanggar aturan masuk ke dalam ruang praktikum.

Murid-murid di sekolah ini memerlukan perhatian khusus. Lebih dari separuh murid datang dari daerah-daerah pelosok di Sumatra Selatan. Kebanyakan mereka belum pernah sama sekali mengenal komputer. Aku harus mengajari mereka dari nol. Sebagian lainnya adalah anak-anak kota yang sudah pernah belajar komputer sewaktu SMP. Bahkan memiliki komputer sendiri di rumahnya. Laptop masih menjadi barang mewah waktu itu.

Anak-anak ini harus belajar untuk tidak serakah dan mau berbagi dengan temannya. Kuatur mereka duduk berdua-dua untuk satu komputer. Anak yang sudah paham, duduk dengan anak yang tidak paham sama sekali. Kepada mereka yang sudah paham kuberi pengertian, bahwa mereka harus membagi ilmu yang sudah didapat sebelumnya dengan teman-temannya yang belum tahu komputer sama sekali.

Aku bilang pada mereka, akan menyenangkan rasanya kalau kita bisa membagi apa yang kita tahu kepada teman yang belum tahu. Tak perlu khawatir nilai si teman jadi lebih besar kalau ilmu sudah dibagi. Karena ketika membagi ilmu, artinya kita mengasah ilmu yang kita miliki supaya lebih tajam. Dan mungkin saja nantinya akan ada hal-hal lain yang bisa kita pelajari dari si teman. Nanti mereka bisa saling berdiskusi dan bertukar ilmu, jadi sama-sama bisa lebih pintar. Bahkan mungkin lebih banyak paham ketimbang gurunya sendiri.

Meskipun dengan partisipasi anak-anak pintar ini aku jadi sangat terbantu, aku tak pernah menjanjikan akan memberi bonus nilai pada mereka. Aku tak ingin mereka jadi orang yang terbiasa menagih imbalan atas hal-hal baik yang mereka lakukan untuk menolong orang lain.

Sambil memberi waktu mereka mengerjakan tugas, aku mencicil koreksian pekerjaan rumah yang kuberikan pada mereka. Buku-buku tulis sudah menumpuk tinggi di meja guru. Ada satu buku tulis yang tertahan lebih lama di tanganku. Buku milik siswa bernama Diana. Ia mengerjakan tugas di lembar-lembar belakang bukunya, padahal halaman-halaman di depannya masih banyak yang kosong. Ia seperti sengaja memberi petunjuk, menuntun agar aku membolak-balik halaman bukunya.

Tanganku gemetar ketika membuka dua halaman terakhir buku tugasnya. Ada puisi yang ditulis tangan oleh si pemilik buku. Membaca puisinya membuatku mendadak disergap sedih, air mata menetes tanpa bisa dicegah. Anak ini menuturkan tentang kesedihan dan kehilangan mendalam. Mula-mula ia kehilangan ayahnya yang meninggal karena sakit. Seminggu kemudian ibunya menyusul karena tak kuat menahan pilu ditinggal pasangan hidupnya. Anak ini kehilangan pegangan hidup. Dia sendirian.

+++

Waktu jeda istirahat antarpelajaran hampir selesai ketika aku tak sengaja melihatnya duduk di hadapan meja kepala sekolah. Seorang guru menjelaskan kepadaku, anak itu –Diana- memohon perpanjangan waktu untuk melunasi biaya daftar ulang sekolah.

Teman guru ini menggumamkan gerutu kepadaku, “Dia masih mau sekolah, tapi malas belajar. Semua nilainya jelek, pelajaran komputernya juga jelek, kan?” Aku tak menjawab. Ia tak tahu anak ini punya duka yang masih gelap. Diana memang tidak menceritakannya kepada siapapun.  Dia bahkan tak punya teman dekat yang dia bagi ceritanya.

Anak ini nyaris tidak pernah bicara. Aku pun sudah menyerah, upaya apapun tak bisa memetik dialog dengannya. Mungkin duka yang dalam sudah mengunci mati lisannya, atau memang dia irit bicara sejak dulu. Entahlah, karena aku baru benar-benar mengenalnya ketika ia menuntunku untuk membaca puisi sedih itu beberapa bulan lalu.

Diana terkesiap melihatku, matanya langsung meleleh. Tapi bibirnya hanya bergetar-getar saja, tak ada satupun kata yang terlisankan. Hanya matanya yang duka dan penuh permohonan. Ia tak pernah bicara. Tidak pernah.

Satu kali aku pernah menghubunginya, dia pernah memberiku nomor telepon yang ia tulis di halaman belakang buku tugas. Halaman-halaman yang sedikit itu lama-kelamaan menjadi media komunikasi antara aku dan Diana. Walaupun tak banyak juga yang ia tulis sesudah puisi itu.

Tapi telepon itu tidak dijawab-jawab. Berkali-kali kucoba tetap diabaikan. Hanya nada sambung yang terus bernyanyi saja. Berjam-jam kemudian baru satu pesan masuk ke ponselku. Isinya begini:

Maaf kakak. Ini bukan Diana, tetapi sepupunya. Dia sekarang lagi kerja di rumah orang. Maklum, jadi pembantu.

Aku tidak tega, anak ini baru kelas 1 SMA. Ia dipaksa dewasa sebelum waktunya. Berjuang sendiri untuk bisa membayar sekolahnya. Tapi aku sendiri belum sanggup membantu banyak dengan segala keterbatasanku.

+++

2010

Sepasang mata sayu itu menatap lekat dua nisan di hadapan. Titik-titik bening perlahan bergulir, basah di kerudung. Dua gundukan tanah yang lama tak didatangi mulai ditumbuhi rerumputan liar. Ia melafalkan doa tanpa suara, terbenam dalam khusyuk, ingin doa cepat sampai ke langit. Sayup takbir Idul Fitri menggema, menambah ngilu kehilangan kedua orangtua yang menjadi pijakan hidupnya.

Begitu rindunya…, hingga ia bingung harus mulai bercerita dari mana ketika sudah sampai di hadapan nisan. Hampir tiga tahun ini, setiap langkah yang ia jejak dan lewati disimpan sendiri rapat-rapat dalam kotak memorinya. Rasa tercabik itu makin menguasainya, teringat bertahun-tahun lalu ketika ia selalu mencium takzim tangan kedua orangtuanya, dan membagi cerita-cerita yang ia dapat di sekolah.

Sejak keduanya tidur abadi, Diana hanya dapat menyentuh permukaan kubur, membelai nisan yang menorehkan nama umak dan ubaknya. Episode tawa sudah lama lewat.

“Sekarang anak kalian susah di sini. Kenapa kalian tak mengajakku ikut terbang ke langit…?” Hanya sebaris pertanyaan itu yang mampu ia lisankan dalam sunyi. Dadanya gemuruh. Dikecupnya kedua nisan itu sebelum berbalik pergi. Entah kapan bisa kembali lagi.

+++

Anak ini hanya mampu mendatangi makam kedua orangtuanya sekali setahun, setiap lebaran. Itupun tanpa dorongan atau letupan. Nyaris tak ada kerabat yang ingin ia temui. Dengan perasaan enggan dan datar, sekadar memenuhi kewajiban sebagai anak, ia pulang mengunjungi makam kedua orangtuanya.

Desa Campang Tiga, Kabupaten Ogan Komering Ulu berjarak sekitar 130 kilometer dari Palembang, ibukota provinsi Sumatra Selatan. Di kampung tempat lahirnya ini, Diana pun tak punya rumah untuk disinggahi setiap pulang.

Semasa hidup, ayahnya hanya buruh tani harian yang mengerjakan sawah orang lain. Mereka hidup berpindah-pindah, menumpang dari rumah kerabat yang satu ke kerabat yang lain. Setelah kedua orangtuanya meninggal, tak lantas membuat ada kerabat yang peduli pada Diana dan kakak-kakaknya, hidup mereka sendiri sama susahnya.

Ia punya dua kakak, tapi entah di mana sekarang. Setelah kedua orangtuanya meninggal, tiga anak ini berjuang sendiri untuk bisa bertahan hidup. Tali koneksi mereka terputus total. Hati Diana sudah mati. Tak lagi bisa merasa.

+++

-Palembang-

Diana menyodorkan selembar kertas raport sementara itu kepadaku, mantan gurunya. Aku tercekat ketika melihat keterangan yang tertulis di setiap mata pelajaran, kecuali pelajaran olahraga, semua tertulis ‘belum tuntas’ dengan tinta merah. Aku memandang cemas anak ini. Dia sudah kelas tiga, waktunya belajar kurang dari enam bulan sebelum menghadapi UN. Aku khawatir dia tak bisa lulus. Diana tertunduk, takut aku memarahinya. Meski tidak pintar, aku tahu dia bukan anak pemalas. Seharusnya nilai-nilainya tidak sejeblok itu.

Ku pandangi dia lekat-lekat, hampir tak ada yang berubah sejak hari terakhir aku menjadi gurunya. Pandang matanya masih kosong, tanpa segaris pun ceria di wajahnya. Langkah kakinya selalu takut dan ragu-ragu. Kalau lah ada yang berbeda, adalah kerudung yang kini menutupi kepalanya.

Kami dipersatukan hening dalam ruang kelas yang sudah kosong. Anak ini, tak kan pernah bicara kalau tidak diminta. Bahkan belum tentu mau bicara walau sudah diminta. Melontarkan pertanyaan padanya tak semudah bertanya pada politikus, hakim atau pakar hukum tata negara yang biasa kuwawancarai. Jauh lebih sulit ketimbang mencecar koruptor yang baru keluar dari pemeriksaan di KPK. Setidaknya koruptor punya pengacara untuk mewakilinya bicara. Sementara anak ini hanya punya dirinya sendiri.

+++

Sedikit-sedikit cerita itu mulai bergulir. Sepulang sekolah, ia menjadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan, dekat kampus Universitas Sriwijaya. Pekerjaan itu tidak lebih baik dari pekerjaan sebelumnya, menjadi pembantu rumah tangga. Pikirannya yang kerap terpecah, menyulitkannya fokus pada pelajaran di kelas.

“Diana gelisah kalau sudah mau jam pulang… Cepatlah.., cepatlah…, harus cepat ke rumah makan untuk kerja. Diana nggak boleh terlambat,” kalimat itu diucapkannya datar tanpa emosi. Dengan mata yang kosong. Ia seperti robot yang bergerak sesuai setelan waktu.

Diana pun nyaris tidak punya waktu mengulang pelajarannya. Rumah makan itu selalu ramai pelanggan. Meski bekerja setengah hari, ia selalu repot, tak ada waktu untuk duduk sebentar dan membaca buku. Selepas magrib ia pulang. Di rumah bibi tempatnya menumpang hidup, setumpuk pekerjaan rumah menunggu dikerjakan. Ia kerap kelelahan begitu rebah di kasur, hingga langsung lelap tanpa sempat membuka PR yang harus dikumpul besok. Bahkan mungkin ia pun tak sempat bermimpi karena lelahnya.

Ia juga tak sempat belajar pagi hari. Diana selalu bangun lebih pagi daripada semua orang di rumah itu, mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat sekolah. Sehingga hanya bisa pasrah kalau dijejerkan bersama anak pemalas karena tidak mengerjakan PR dan harus dihukum. Dia tak pernah melakukan pembelaan diri.

+++

Satu ketika ia sakit karena kelewat lelah. Dua hari ia membolos sekolah dan bekerja. Sebenarnya ia sudah menitip pesan pada seorang teman, agar meminta izin kepada bosnya-si pemilik rumah makan- untuk tidak bekerja karena sakit. Ternyata pesan itu tak pernah sampai, ketika ia kembali ke rumah makan itu, hanya makian yang ia dapat. Ia dipecat. 

“Sudahlah…, mungkin memang waktunya adek nggak kerja dulu. Biar bisa fokus belajarnya. Setidaknya sampai selesai ujian,” kataku menenangkannya.

Memang sudah seharusnya ia fokus belajar dulu. Aku merasa Diana sangat butuh pelajaran tambahan untuk mengejar semua ketertinggalannya. Toh anak ini mendapat beasiswa dari sekolah. Dia tidak harus membayar uang apapun, dia juga mendapat buku-buku yang ia butuhkan secara gratis.

Pihak sekolah juga memberikan keluasan untuknya memilih les yang ia suka secara cuma-cuma. Ia bisa ikut les komputer dua kali seminggu kalau mau, atau les bahasa inggris, bahkan les seluruh mata pelajaran setiap harinya, tanpa harus membayar serupiah pun. Cukup duduk di kelas dan belajar sungguh-sungguh.

Ujian Nasional sudah di depan mata. Nasibnya ditentukan oleh mesin komputer yang tak berhati nurani. Tak seperti guru yang bisa memakluminya, dan paham kerja kerasnya untuk bertahan agar bisa sekadar hidup. Dia harus berjuang sendiri.

“Tapi Diana nggak bisa makan kalau nggak kerja..!!!” protesnya. Untuk pertama kalinya mata itu menatapku. Berapi, berkilat-kilat marah. Dadanya gemuruh. Aku tersentak, campur aduk antara takut dan merasa bersalah. Yah, okey, aku memang sudah berangkat jauh. Sudah lama tak tahu apa-apa tentang hidup anak ini.

Kemarahan itu memberi dorongan energi yang kuat bagi Diana untuk bercerita. Ia bertutur, tak pernah bisa makan layak di rumah bibinya yang pelit dan menganggapnya sekadar pembantu, bukan keluarga yang punya ikatan darah dan cinta.

Dia akan bersyukur kalau saat rumah makan akan tutup, ternyata masih ada nasi dan lauk yang tersisa. Si pemilik rumah makan cukup baik hati dengan membagi sisa-sisa makanan itu kepada pegawainya.

“Baru kerja di situ Diana bisa makan enak,” kejujuran itu dia ungkapkan dengan malu dan mata yang basah. Pedih.

Ia juga berkeras harus tetap bekerja, sekolah serba gratis tidak cukup membuat hidupnya layak. Ia harus punya uang sendiri untuk membeli baju seragam, sepatu, buku tulis, dan sekali waktu fotokopi bahan pelajaran. Belum lagi kebutuhan sehari-harinya, paling tidak untuk membeli pembalut dengan harga paling murah setiap bulannya.

Ketika kutanya uang yang dia dapat dari bekerja di rumah makan itu, ia menjawab lirih, “lima puluh ribu rupiah per minggu.”

Ketika teman-temannya memikirkan kuliah jurusan apa setelah lulus, ia berpikir bagaimana besok segera dapat pekerjaan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Ketika yang lain menikmati letupan cinta masa remaja, sahabat pun ia tak punya. Saat teman-temannya menulis status facebook dan berbalas pesan di tengah pelajaran, ia membayangkan bisa ikut les komputer dengan ibu Malinda, selagi mencuci bertumpuk-tumpuk piring kotor di warung makan.

Aku tak bisa apa-apa ketika ia menyatakan tekadnya yang penuh untuk tetap mencari pekerjaan. Sejak dipecat sebagai pencuci piring di rumah makan, setiap pulang sekolah ia akan berjalan kemana saja untuk mencari orang yang mau membayar tenaganya bekerja separuh hari. Ia ingin punya uang cukup untuk dapat mengontrak kamar kecil agar tidak menumpang hidup lagi dengan bibinya. “Diana mau kerja, Diana harus kerja, harus dapat uang,” tegasnya.

Dalam hati aku luar biasa khawatir, ada orang jahat yang mencoba menipunya, dan berbuat jahat apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapat uang dari seorang gadis muda yang labil. Pertahanan diri anak ini rapuh.

“Kau harus punya semangat ya dek.., jangan pernah menyerah. Ingat kan puisi yang dulu adek buat di buku PR komputer? Mau membuat ubak dan umak bangga dan tersenyum dari surga.”  Aku merangkul Diana penuh sayang. Menahan airmataku luruh, tak ingin membuat anak ini lemah. Ia mengangguk.

Aku amat ingin membantunya, mengajaknya tinggal bersamaku. Diana sendiri bilang kepadaku, dia mau saja ke Jakarta, atau kemanapun, asal bisa bekerja. Tapi aku sendiri penuh keterbatasan, belum bisa berbuat banyak untuk menyelamatkannya. Dalam hati aku terus berdoa, agar anak ini dikuatkan imannya, dicukupkan makannya, dijaga semangat hidupnya, dan diberi rizki halal yang cukup untuknya.

Dia masih harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Entah dia akhirnya berhasil lolos dari lubang jarum bernama UN atau tidak, aku tak pernah tahu. Hari itu adalah pertama kalinya aku benar-benar mendengarnya bicara. Sekaligus juga hari terakhir aku melihat Diana.

-eNJe-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s