salam dari langit palu

Salam dari langit palu _D

tak ada surat dalam perjalanan singkat kali ini. sejepret foto ini saja. langitnya indah ya, damai. semoga kelak kita bisa meninggalkan jakatra yang amburadul ini, dan pergi ke kota dengan langit indah dan damai, entah di palu atau di kota lain. asal jangan jakatra, katamu. ini cita-cita kita ya, guru di 🙂

Pelaku Industri Musik Nelangsa

Para pemusik yang jengah melihat pembiaran pembajakan karya musik akhirnya melakukan langkah proaktif mendatangi Kementerian Perdagangan. Para musisi mendesak Kemendag melakukan langkah kongkrit untuk memberantas pembajakan karya musik.

“Para pemusik ini umumnya seperti dianaktirikan oleh pemerintah. Tentang keganasan pembajak, berita yang kita lihat kecil-kecil. Sekarang mudah-mudahan diberitakan bagaimana rusaknya musik di Indonesia ini,” kata Samhudin Hadrjakusumah atau yang lebih populer dengan nama Sam Bimbo, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (17/5).

Ia mencontohkan, lagu-lagu religi karya group Bimbo yang populer sekitar tahun 1975 laku terjual 500 ribu kopi per tahun. Pada masa itu, penjualan album tertinggi dipegang oleh raja dangdut Rhoma Irama dengan penjualan sebanyak satu juta kopi per tahun.

“Nah tahun 2010 album Agnes Monica yang best seller terjual 2juta kopi. Dengan melihat pertumbuhan penduduk, ini aneh. Dulu masyarakat Indonesia jumlahnya masih 100 juta, sekarang sudah 250 juta. Jadi kurvanya sangat turun.”

Ia mengeluhkan pembajakan yang semakin cepat dan massif sudah tidak terbendung. Para musisi hanya bisa nelangsa melihat para pembajak menggerus karya asli mereka. “Hari ini kita bikin album, besok launching, besoknya lagi sudah ada poster-poster kita di pedagang kaki lima yang jual CD bajakan. Kami tidak dapat apa-apa, ini kan semacam pembunuhan karakter,” keluhnya.

Selain Sam Bimbo, pemusik yang hadir dalam pertemuan itu antara lain adalah Tompi, Ikang Fauzi, Hadad Alwi, dan Adi Ardian personil Kla Project.

Menanggapi keluhan para pemusik itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berjanji akan mengambil langkah kongkrit untuk menindak para pembajak. “Tadi ditanya (para pemusik) serius nggak sih, jangan-jangan cuma wacana-wacana saja. Saya bilang, tidak. Kami akan mengambil langkah-langkah, sampai masyarakat bertanggungjawab terhadap yang dikonsumsi,” ujarnya.

Kepada Gita, para musisi itu menuturkan potensi pasar musik di Indonesia sekitar Rp5 triliun per tahun. Hal itu berdasarkan asumsi nilai konsumsi per orang per tahun sebesar Rp20.000. Tetapi karena pembajakan yang massif, para musisi ini hanya dapat sepersepuluhnya.

“Ini menunjukkan bahwa pembajakan sangat merugikan dan angkanya tidak kecil. Ini harus disikapi ke depan,” kata Gita.

Pemerintah, lanjut dia, akan mengupayakan agar harga CD dan VCD orisinil bisa lebih murah. Ia mengakui saat ini rentang harga antara produk asli dan bajakan sangat jauh. Kondisi ini membuat para konsumen lebih memilih produk bajakan yang harganya murah.
“Ke depannya harus ada kebijakan yang bisa menurunkan biaya produksi. Hak cipta harus diapresiasi. Kami akan bicarakan ini dengan Kementerian Perindustrian,” imbuhnya.

Ia menambahkan, bersamaan dengan itu pihaknya juga akan menggiatkan kampanye memakai produk musik orisinil kepada masyarakat luas. “Saya berharap kita punya semangat edukasi konsumen agar melakukan konsumsi yang lebih bertanggungjawab,” tukasnya.

Bentuk Lembaga Baru

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Ahmad Ramli mengatakan, pemerintah berencana membentuk lembaga pemungut royalti nasional. Lembaga ini nantinya akan menjadi pagar yang melindungi karya para pemusik dari para pembajak.

“Upaya yang kita lakukan adalah bagaimana mengguide line kontrak-kontrak yang ada, pemasukan, lisensi, dan produser. Sehingga tercipta keadilan dan kreativitas akan terjaga. Kami akan membangun satu lembaga pemungut royalti nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, lembaga-lembaga yang sudah ada sebelumnya seperti Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) dan Wahana Musik Indonesia (WAMI) nantinya akan berada di bawah lembaga pemungut royalty nasional yang akan dibentuk kelak.

“Lembaga-lembaga yang sudah eksis nanti menjadi anak usaha atau holding. Mereka akan menjadi pendukung industri musik. Kami tidak ingin membela pencipta lagu dengan menekan pengusaha. Mereka juga harus memiliki kepastian hukum dan terlindungi usahanya,” kata Ramli.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk berhenti membeli barang-barang bajakan. “Kami himbau masyarakat jangan beli barang bajakan. Karena kalau tidak beli yang asli, tidak akan ada produsen,” tukasnya. (Wta)

catatan: lebih suka tulisan versi orisinil saya yang ini 🙂

kepada tulisan yang tak sempat lahir #2

Ini catatan yang akan selalu kupegang, terutama kalau suatu saat nanti menjadi editor:

PADA SETIAP TULISAN YANG DIKERJAKAN SUNGGUH-SUNGGUH, ADA UPAYA DAN JERIH PAYAH YANG HARUS DIHARGAI.

Jadi tak bisa kau buang begitu saja tulisan yang sampai ke mejamu. Membuang tulisan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sama artinya tidak menghargai upaya dan kesungguhan si penulis. Kalau kau hanya mencantumkan kode penulisnya, tanpa mencuplik sekalimat pun dari tulisannya, itu namanya menghina. Itu juga menunjukkan kalau kau malas mengeditnya baik-baik. Lebih baik tak usah sekalian.

Kecuali kalau tulisan itu memang ditulis tanpa kesungguhan, menjiplak dari situs online misalnya. Atau menyalin pers rilis, atau sudah kadaluarsa karena dikirim lewat tenggat. Tapi kalau ada dua tulisan yang masuk dan kau memilih satu dan membuang yang lain, itu jahat namanya. Tak ada penulis yang terima diperlakukan demikian.

Dan untuk orang yang kupikir teman. Kita boleh asosial tapi janganlah anti sosial. Hargailah temanmu yang datang meliput dan menulis sungguh-sungguh. Meski mungkin kau lebih pandai.

Aku tidak pernah bisa terima. Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal demikian pada orang lain. Pada siapa pun juga.
+
Lagi, Sevel Tebet. Masih dengan kemarahan yang mendidih.

Siapa yang Bodoh di Jalanan Hujan Jakatra?

Pagi itu sudah kacau dari awal. Informasi agenda yang datang terlambat membuat tim sedikit keteteran. Tadinya aku harus bergerak ke Jalan Sudirman. Tapi agenda yang muncul mendadak, membuat terpaksa berbelok di tengah jalan. Ganti arah menuju Tugu Tani, Gedung Kementerian Perdagangan.

Belum lagi separuh jalan digilas, hujan turun berderap cepat. Deras ampun-ampunan. Aku tak punya cukup waktu untuk menunggu hujan reda. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi akan menggelar konferensi pers setengah jam lagi. Dengan enggan aku menepi, mengeluarkan jas hujan ponco oranye dari bawah jok motor.

Sialnya jaket tak kubawa, sedang dicuci. Aku maju melawan angin, dengan hujan yang jatuh menampar-nampar wajah. Sebentar saja sudah kuyup, perlindungan jas hujan ponco tidak mencakup lengan dan kaki. Air merembes, meresap cepat membasahi baju dan celana.

Jalanan bersahabat, hujan boleh deras, tapi kemacetan di sekitar Pasar Tanah Abang mereda. Para kuli pembawa barang tentu memilih menepi dan menghentikan aktivitasnya. Semua orang waras juga kepinginnya menepi dan tidak hujan-hujanan.

Waktu yang terus menipis memaksaku melanggar aturan. Di perempatan lampu merah dari Tanah Abang menuju jalan Jati Baru (arah Hotel Milenium) aku ikut bergerak maju sampai di bawah jembatan layang. Melanggar garis batas henti di lampu lalu lintas. Tapi setidaknya aku tetap patuh, tak melanggar lampu yang masih menyala merah.

Motor merayap, memadat. Semua maju ke bawah jembatan layang. Kulihat seorang pengendara motor paling depan turun dari motornya. Pelan dan santai dia membuka jok, mengambil jas hujan, membuka lipatannya, mengenakan celananya, kemudian bajunya.

Aku gemas setengah mati, dia pikir ini sedang parkir atau apa?! Lampu sebentar lagi menyala hijau. Kalau dia tidak segera bergerak, yang lain-lain di belakangnya juga ikut tertahan.

Perhatianku teralih pada lampu yang menyala hijau. Baru aku sadar posisiku tepat di tengah-tengah kerumunan motor-motor yang padat. Hey!! TAK ADA SATU PUN YANG BERGERAK MAJU! APA-APAAN INI LAMPU SUDAH HIJAU!

Mereka duduk santai di atas jok motor masing-masing. Kutunggu sedetik, dua detik, tiga detik, tak ada yang bereaksi atas perintah lampu lalu lintas untuk bergerak maju. Aku harus sampai ke Kantor Kementerian Perdagangan segeraaaaaa….. Tolonglah..

Habis sabarku. Sudah kutekan klakson kuat-kuat supaya mereka sadar dari lamunan dan menyadari lampu sudah memerintahkan untuk maju. Sebagai reaksi, serentak puluhan kepala di depanku itu menoleh marah. Membuatku bingung, dan menghentikan klakson.

“Ayo jalaaaaaaan…..!!!!! Lampu sudah hijauuuu…..!!!!!” Aku hilang sabar.
Mereka melotot marah padaku. “Berteduh dulu, mbak!” kata salah seorang yang paling dekat denganku.

Astaga.. mentang-mentang ini di kolong jembatan layang, bukan berarti mereka bisa berteduh di tengah jalan kan? INI DI TENGAH JALAN DAN LAMPU SUDAH HIJAU. Tapi mereka semua marah padaku. Jadi sebenarnya siapa sih yang bodoh? Nelangsa aku memaksa diri mencari celah, menyelip dan melaju, menabrak hujan. Tak peduli pandangan marah yang terus mengekor.

+
ruang redaksi MI, waktu piket malam

Sigur Rós-Daya Sihir Tanpa Banyak Bicara

Tirai putih tipis yang terbentang di panggung indoor Istora Senayan mengundang tanya ribuan penonton. Kapankah tirai itu akan tersingkap dan mereka menyaksikan tiga sosok yang paling dinantikan. Keresahan penonton selama kurang lebih satu jam diputus, ketika sinar hijau berpendar-pendar mendadak ditembak pada kain putih, disusul suara gesekkan bowed gitar Jón Þór “Jónsi” Birgisson membuat pengunjung histeris pada Jumat (10/5) malam.

Gelombang tak sabar menyaksikan langsung tiga personil Sigur Rós dicegat sejenak. Lagu pertama yang disuguhkan band asal Islandia ini mereka mainkan dari balik selubung putih yang tak juga dibuka. Tiga personil band bergenre post rock ini, Jón Þór Birgisson (Jónsi), Georg Hólm (Goggi), dan Orri Páll Dýrason (Orri) hanya tampak dalam siluet bayangan.

Layar putih yang menyekat itu terus berpendar-pendar, memberikan efek visual cahaya yang memabukkan pandangan mata. Garis-garis putih, hijau, bergerak melekuk, membentuk pola, mengiring musik dan gumam vokal Jonsi.

Lantunan Yfirborð yang minim lirik pelan-pelan menyihir seisi ruangan. Adukkan dari gesekkan gitar Jonsi, tarikkan bass gitar Goggi dan dentuman drum Orri menyeret penonton tenggelam dalam imajinasi. Setiap orang perlahan dibius dan dibawa pada alam ketenangan yang memabukkan.

Dua lagu pertama mereka suguhkan masih dari balik selubung putih yang memberikan efek visual cahaya penuh warna. Baru pada lantunan Vaka yang menjadi suguhan ketiga, selubung putih yang misterius itu ditarik lepas. Membuat rasa tak sabar yang sempat dicegat tadi meletup dalam histeria.

Pada konser pertamanya di Indonesia ini, Sigur Rós tidak hanya ingin memanjakan para pemujanya melalui musik-musik mereka yang penuh daya sihir. Efek visual baik cahaya maupun yang ditampilkan pada layar di atas panggung, disajikan berbeda, menjadi bingkai pada setiap lagu. Panggung juga tampak cantik dengan bohlam-bohlam lampu ditata bagai instalasi seni, berseling dengan Jonsi.

Ini bukan sekadar tambahan yang dibubuhkan sekenanya. Tetapi menjadi pemicu, pendorong penikmat sajian mereka makin tenggelam dalam imajinasi dan ketenangan. Misalnya pada Sæglópur yang menjadi menu kelima, efek gelombang ombak yang beriak, buih dan gelembung air yang meletup lembut pada layar membuat para penonton terbawa dalam suasana laut yang sejuk dan damai.

Daya sihir yang ditampilkan terus menguat pada setiap lagu berikutnya yang dibawakan. Apalagi ditopang dengan denting gamelan gantung, piano, perkusi, alat musik serupa kolintang dan harmonisasi alat-alat musik lainnya dari pemain pendukung.

Kegilaan imajinasi penonton meledak pada lagu Hoppipola, karya mereka yang paling hits. Setiap orang mulai ikut bersenandung bersama Jonsi. Walaupun tak hapal persis baris-baris lirik dalam bahasa Islandia, senandung manis terbentuk dalam gumam-gumam.

Ketika Olsen Olsen dimainkan, ganti personil Sigur Rós yang tersihir takjub melihat penonton. Lagu sudah tuntas dimainkan, tapi senandung gumam dari wajah-wajah damai penonton justru menguat. Mereka terus bersenandung meski musik sudah berhenti. Jonsi, Goggi dan Orri terbelalak. Rasa takjub mereka diwujudkan dengan membungkuk dalam kepada para penonton dan bertepuk tangan.

Sihir kedamaian pada lagu-lagu Sigur Rós menunjukkan kalau musik punya bahasanya sendiri. Meski minim lirik dan lebih banyak nyanyian dalam senandung dan gumam, musik mereka begitu meresap kepada setiap penikmat yang hadir malam itu. Pentas mereka memang minim gerak, juga minim dialog. Hanya sepatah dua kata yang terluncur dari Jonsi untuk menyapa pengagumnya di Indonesia. “Thank you so much.” Dialog para personil Sigur Rós dengan penonton terbentuk, terbangun kuat, hanya melalui dialog mata dan lemparan senyum.

Dua jam pertunjukkan tidak menandaskan energi penonton. Sajian Popplagið membawa setiap orang meledak klimaks di puncak rasa damai. Lantunan 14 lagu tak cukup memuaskan energi penonton. Seisi ruangan serentak meneriakkan “We want more!” ketika lagu usai. Sayangnya, suguhan benar-benar ditutup. Para penikmat musik Sigur Rós terpaksa menunggu pentas mereka berikutnya. (Wta/Nat)

saripati buku: Saya Terbakar Amarah Sendirian

Pramoedya Ananta Toer dalam perbincangan dengan Andre vitchek dan Rossie Indira

(3) Apa yang dulu kami cita-citakan dan perjuangkan dengan yang sekarang merupakan dua hal yang sangat bertolak-belakang. CIta-cita dahulu adalah keutuhan nasional dalam segala hal. Soeharto membuat semuanya rusak. Persekutuan antara Angkatan Darat dan Golkar melahirkan Orde Baru-yang bertanggungjawab atas pembunuhan kurang-lebih dua juta orang. walaupun jumlah yang tepat tidak diketahui sampai sekarang.
Bahkan generasi muda yang kita salut karena berhasil menurunkan Soeharto tidak mampu melahirkan seorang pemimpin, sampai sekarang.

(4) Saya dibesarkan dalam keluarga beraliran nasionalis kiri yang tentu saja tidak setuju dengan sistem kolonial. Pandangan-pandangan saya cenderung beraliran kiri, yang berarti saya tidak mengekor pada kekuasaan, tetapi pada rakyat.

(5) Individualitas tidak diajarkan dalam keluarga kita. Keberanian individual tidak pernah ada, kecuali di Aceh. Yang ada adalah semangat kelompok saja. Masyarakat kita berani hanya kalau mereka berada dalam satu kelompok. Hasilnya, ya, seperti yang banyak terjadi sekarang ini: tawuran desa lawan desa, kampung lawan kampung, pelajar lawan pelajar, bahkan tawuran mahasiswa lawan mahasiswa! Semua ini begini karena kurangnya individualitas dan kepribadian.

(6) Di dalam kehidupan keluarga di Indonesia sekarang ini, keluarga tidak mengajarkan anak-anaknya untuk berproduksi, mereka hanya diajarkan bagaimana mengonsumsi saja. Hasilnya adalah rakyat tidak tahu lagi bagaimana cara berproduksi, hanya jadi kuli. Jadi suruhan saja dalam hidupnya. Dan ketika mereka tidak bisa berproduksi, mereka berusaha dengan korupsi: membuat orang lain korupsi atau dirinya sendiri yang melakukan korupsi. Indonesia sekarang ini bersatu, tapi untuk hal-hal yang tidak benar. saya kira ini jawabannya mengapa Indonesia sekarang ini jadi begini. Benar atau tidak, saya tidak tahu.

(8) Kebanyakan sih tidak bisa menghilangkan rasa minder tersebut. Itu sebabnya mengapa sampai seakrang orang yang kagum atas segala sesuatu yang berasal dari luar negeri: mereka selalu memilih barang luar negeri ketimbang bikinan dalam negeri sendiri. Yang membuat saya sedih adalah bahwa hal ini termasuk dalam penggunaan bahasa. Di sini, semakin bisa menguasai bahasa-bahasa (asing) semakin bangga rasanya. Hal ini berarti tidak mempunyai kepribadian. Kita tidak bangga dengan diri kita sendiri.

(21) Orang Indonesia itu aneh, beraninya kalau punya jabatan, kalau sudah tidak punya jabatan jadi bukan siapa-siapa lagi.

(22) Karena di penjara kami sangat sedikit mendapat makanan. Saya ingat, pernah dalam satu hari enam orang yang dekat dengan saya mati karena kelaparan.

(31) Ketika mereka mau menahan saya, mereka berkata: “Mari Bung Pram, kami akan amankan.” Itulah pertama kalinya saya mengetahui bahwa diamankan berarti ditahan (tertawa).
Segeralah setelah itu saya ditahan dan semua milik saya dirampas, termasuk apa yang saya pakai pada saat itu, termasuk jam tangan. Penahanan ini terjadi pada tanggal 31 Oktober 1965. Saya dibawa dengan truk dan dipukul pakai popor senapan beberapa kali sampai hampir tidak sadar. Sampai sekarang mereka belum mengembalikan apa yang sudah dirampas dari saya, bahkan 37 tahun kemudian. Rumah saya yang di Rawamangun sampai sekarang belum dikembalikan.

Pada saat itu istri saya habis melahirkan di tempat lain. Dia diberitahu oleh seorang tetangga bahwa saya ditahan. Dia segera pulang ke rumah, tapi sudah tidak bisa masuk rumah lagi. Pada saat itu dia menyaksikan pembakaran kertas-kertas saya di belakang rumah, termasuk delapan naskah yang belum diterbitkan. Seluruh isi perpustakaan saya dibakar. Pembakaran naskah tersebut adalah hal yang tidak bisa saya maafkan! Pembakaran buku sama dengan perbuatan setan. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya budaya mereka. Bertolak-belakang dengan budaya menulis karena merupakan kerja kreatif.

(32) Teman saya itu menyarankan agar saya melarikan diri, tapi saya pikir saya harus pergi ke mana. Ini kan rumah saya dan saya harus mempertahankannya. Tapi pada akhirnya saya ditahan juga, karena saya tidak bisa melawan satu pleton tentara sendirian.
Pada saat itu saya juga bekerja di beberapa tempat. Salah satunya saya bekerja sebagai penasihat di pabrik pensil. Ketika mereka meyadari bahwa keadaan sudah sangat kacau, mereka datang membawa gaji saya untuk tiga bulan. saya juga bekerja sebagai dosen di Universitas Res Republica, dan mereka juga membayar gaji saya selama tiga bulan. semua ini terjadi sebelum saya ditangkap, dan tentu saja saya membawa semua uang tersebut pada saat saya ditangkap. Mereka merampas itu juga. Keluarga saya sudah mengungsi terlebih dahulu karena keadaan genting. Saya kehilangan semuanya, dan saya tidak bisa membiayai keluarga saya.

(33) Yang ditanyakan kepada saya hanyalah nama dan alamat saya, tapi berulang-ulang. Seperti yang sudah saya katakan, tidak ada pengaiayaan, tapi semua milik saya dirampas. Semua kertas-kertas dan naskah saya dibakar, dan setelah itu buku-buku saya dilarang. Saya yakin hal ini semua sudah direncanakan.

Sama sekali tidak ada interogasi dan tidak ada proses verbal. Saya bisa dibilang hilang begitu saja. Hanya bertahun-tahun kemudian, setelah saya dibebaskan dari kamp konsentrasi di Pulau Buru dan masih dalam tahanan rumah, pada tahun 1988 tiga orang jaksa dari Kejaksaan Agung datang untuk memeriksa saya. Dengan mereka inilah pertama kalinya ada proses verbal, ada dua proses verbal. Saya menuntut supaya dibuka ke pengadilan, dan mereka setuju. Tapi tentu saja tidak pernah ada pengadilan.

(34) Tentang masih selamatnya saya, saya punya satu hal yang perlu diceritakan: suatu kali kelihatannya ada perintah untuk membunuh saya, tapi komandan kampnya tidak berani untuk melaksanakannya. Setelah itu, sudah terlalu banyak tekanan dari dunia internasional, sehingga saya masih selamat sampai sekarang.

(37) salah seorang rekan tahanan di Buru melihat ikan di tebat. Dia sering kehilangan ikan-ikannya, dan ternyata militer yang mencuri. Sewaktu mereka tahu bahwa rekan saya ini yang mengintip mereka dalam menjalankan aksi pencurian ikannya, mereka menembaknya langsung di tempat. Dia mati seketika.

Kemudian, seorang teman tahanan juga menyimpan sesobek kertas koran bekas bungkus. Kami tidak diperbolehkan membaca samasekali, dan ketika tentara mendapatkan bahwa dia menyimpan sepotong koran bekas, mereka mengikat dan menggantungnya. Dua hari kemudian kami menemukan mayatnya mengapung di sungai.

(38) Suatu ketika saya hampir saja ditembak, tapi seorang teman memukul senapan penjaga yang akan menembak saya sehingga tidak kena saya. Mau tahu alasannya mengapa mereka mau menembak saya? Ketika kami dikirim ke Buru, setiap tahanan hanya diperbolehkan membawa dua stel pakaian. Dan karena kami harus bekerja di ladang atau di sawah setiap hari, tentu saja pakaian saya lama-kelamaan rusak, tidak bisa dipakai lagi. Dan karena pada malam hari di gubuk terasa dingin sekali, maka saya harus puny apaling tidak satu set pakaian untuk tidur. Jadi untuk ke ladang saya memakai cangcut karung plastic. Ketika militer melihat saya, mereka bilang saya menghina kebudayaan Timur dengan memakai pakaian itu. Benar-benar mereka akan menembak saya hanya karena pakaian yang saya pakai pada waktu itu!

Satu hal yang jelas sekali adalah bahwa kalau saya tidak dimonitor oleh masyarakat internasional, maka pasti saya sudah mati sekarang.

(39) Pengalaman saya sebagai tahanan politik, saya tahu persis bahwa pihak pemerintah akan merampas apa yang saya tulis. Itulah sebabnya saya mengetik naskah dalam beberapa copy. Satu copy saya sebarkan di antara teman-teman tahanan sehingga mereka bisa membaca dan mengingatnya. Satu copy lagi saya berikan ke gereja, yang kemudian menyeludupkannya ke luar Buru dan kemudian mengirimkannya ke Eropa, Amerika Serikat, atau Australia. Pada akhirnya saya memang benar, mereka merampas semua naskah saya pada waktu meninggalkan Buru, termasuk surat pribadi dari Presiden Harto pada saya. Tapi tidak ada batasan untuk menulis.

(41) Kami masih harus lapor seminggu sekali ke Kodam yang ada di daerah masing-masing. Dua tahun kemudian berkurang menjadi sebulan sekali, dan di tahun 1992 saya membuat pernyataan bahwa saya menolak wajib lapor. Sejak itu setiap minggu saya dikunjungi oleh seorang intel (tertawa).
Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati. Dan saya selalu berjuang.

(45-46) Sudah sejak awal kaum elit disuap oleh para penjajah, dan Jawa jatuh ke tangan penjajah itu tanpa perang. Para pemimpin kita semua tidak punya moral. Dan sejak itu tidak ada yang berubah. Sekarang para penjarah dari seluruh dunia menjarah lautan kita, tapi Angkatan Bersenjata kita yang seharusnya melawan invasi asing ini malah dihadapkan pada rakyatnya sendiri.

(48) Saya berikan kebebasan kepada anak-anak saya, tapi juga saya katakana kepada mereka bahwa mereka harus bertanggungjawab atas hidup mereka sendiri. Itu sebabnya saya sangat tersinggung kalau cucu-cucu saya minta uang. Saya tidak pernah lakukan hal itu sepanjang hidup saya. Dan ini menurut saya adalah kerugian terbesar saya dipenjarakan selama 14 tahun, karena saya tidak bisa mendidik anak cucu sendiri. Kalau saya melihat cucu saya minta uang, saya merasa hal ini adalah akibat karena saya tidak ada di sisi mereka selama saya dipenjarakan.

(50-51) Dan kalau kita tidak bisa berproduksi, maka kita hanya bisa menjadi kuli saja. Tanpa produksi tanpa karakter! Sekarang Indonesia hanyalah sebuah negara kuli, jadi yang bisa diekspor, ya, kuli, dan menjadi negara pengekspor kuli terbesar di dunia. Merekahanya bisa mengerjakan apa yang diperintahkan dan mau melakukan apa saja asal dibayar. Jangankan bicara tentang kreativitas, hal itu tingkatan selanjutnya.

(54) Pada saat orangtua memasukkan anaknya ke sekolah dasar, mereka sudah diminta bayaran yang sagat tinggi. Hal yang sama terjadi sampai di perguruan tinggi. Ketika mereka lulus dari perguruan tinggi, mereka jadi pengangguran. Kenapa bisa begini jadinya? Siswa-siswa kita ini tidak pernah diajarkan bagaimana berproduksi dan berkreasi. Orang hanya dididik di atas kertas saja. Yang ada hanyalah gudang pengetahuan saja.

(56) Pendidikan dijadikan alat pemerasan di Indonesia. Hal ini terjadi mulai sekolah dasar sampai universitas. Dan ketika lulus, banyak yang jadi penganggur.

(58) Kemerdekaan sudah pasti harus diperoleh. Tapia pa yang dilakukan setelah merdeka yang lebih penting. Orang menjadi tidak menghormati hukum karena tidak ada yang ditakuti lagi. Sebelumnya mereka takut kepada Belanda. Yang saya tahu, setidaknya di Indonesia sekarang ini, tidak ada kaum elit yang tahu wawasan ke-Indonesia-an untuk membangun negeri ini. Semua inginnya menjadi petinggi, pembesar, tapi tidak ada prestasi pribadinya. Kosong! Bisanya Cuma ngomong saja!

(59) Kaum elit Indonesia sekarang ini bertindak sama dengan apa yang dilakukan kaum penjajah dahulu. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana memperoleh uang untuk dirinya sendiri.

(65) Dua pilar yang dibangun pasca tahun 1965 adalah hiburan dan penindasan.

(68) Bahasa Indonesia jadi brengsek sekarang ini, apalagi kalau kita perhatikan apa yang ditulis oleh media massa. Kalau mereka tidak menemukan padanan suatu kata, maka mereka langsung menggunakan bahasa Inggris. Kan brengsek jadinya dan tidak berkarakter. Salah satu bahasa yang saya kagumi adalah bahasa Jepang.
Saya pernah menulis tentang sejarah bahasa Indonesia, tapi sayangnya naskahnya termasuk naskah yang dibakar pada masa rezim ini. Saya tidak pernah bisa menuliskannya lagi. Seperti yang anda tahu, menulis itu sulit untuk diulang.

(70) para penulis seharusnya punya tanggungjawab moral yang tinggi untuk bangsanya. Mereka tidak bisa menulis hanya semaunya saja.
Penghancuran naskah adalah hal yang paling menyakitkan dan sangat traumatis. Saya masih merasakan kepedihan itu sampai sekarang. Kalau saya ingat apa yang terjadi, saya masih merasa sangat kesakitan, terutama karena saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa menulis kembali buku-buku itu. Tapi pada saat itu saya sudah di dalam tahanan, jadi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan naskah-naskah itu. Naskah-naskah tersebut belum diterbitkan pada saat itu, karena pada saat itu saya dituduh komunis dan penerbit Indonesia takut untuk menerbitkannya.

(71) Apa yang mereka lakukan terhadap buku-buku saya merupakan pembunuhan karakter. Sekarang saya hanya merasa kasihan kepada orang-orang yang melakukan hal itu, karena itu hanya menunjukkan betapa rendah budayanya. Saat itu saya menganggapnya tantangan terhadap pribadi saya, dan saya menjawabnya dengan terus menulis di penjara. Tulisan saya merupakan jawaban dan menunjukkan kepada mereka bahwa budaya saya lebih tinggi daripada mereka. Begitulah saya melawan mereka. Saya tidak tahu bagaimana orang lain berjuang, tapi itulah yang saya lakukan. Saya selalu diajarka untuk selalu berjuang, dan inilah yang membuat saya masih hidup sampai sekarang! Banyak teman-teman saya yang sudah tidak ada lagi sekarang.

(74-75) Begitulah saya berkreasi: hanya dalam satu kali tulis saja, tidak pernah menulis kembali. Dan setelah buku itu diterbitkan, saya tidak pernah membacanya lagi. Kalau say abaca kembali maka selalu saja ada keinginan untuk mengubah sesuatu (tertawa).

(75) Saya mulai menulis di tahun 1947, karena pada saat itu saya harus membiayai adik-adik saya. Pada saat itu saya menulis seperti orang gila untuk mendapatkan uang. Saya tidak bisa bekerja yang lain selain menulis (tertawa). Bisa dikatakan bahwa saya menulis untuk makan. Dari sejak awal kelihatannya pembaca menyukai tulisan-tulisan saya, jadi, ya saya teruskan.

(76) Saya mendapatkan inspirasi menulis dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggung saya atau membuat saya marah, saya mendapatkan inspirasi untuk melawan. Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.

(77) Saya mencoba untuk tidak terlalu mengharapkan apa-apa dari dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orangtua saya sendiri.

Saya hanya bisa menulis sekali saja. Keadaan dan perasaan yang dibutuhkan untuk menulis, kan, tidak bisa diulang kembali.

(78) Ketika mengalami ketidakadilan, saya tidak merasa marah. Tapi saya menyadari budaya saya jauh lebih tinggi daripada mereka yang membuat keadilan itu.
Kalau bicara cinta, sejak muda saya sudah lakukan semuanya untuk Indonesia. Banyak orang yang menganjurkan saya tinggal di luar negeri, tapi akar saya di sini.

(78-79) Saya masih berpikir tentang Indonesia sepanjang waktu, itulah mengapa saya masih merasa kesakitan yang luar biasa. Saya tidak punya organisasi ataupun media. Jadi, ya, begini ini, dideritakan sendiri. Dan saya sudah tidak bisa menulis lagi.

(80) Saya tidak pernah menganut suatu ajaran apapun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Belajar dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial.

(82) Saya sudah tidak ingin menulis lagi. Saya hanya tinggal menunggu hari akhir saja. Banyak orang yang mengatakan bahwa saya tinggal bicara saja dan mereka yang akan menuliskannya, tapi saya tidak biasa kerjasama dengan orang lain. Saya pikir sudah cukup yang saya perlu katakan.

(86) Kita harus mengubah pola pendidikan kdi keluarga dan di sekolah. Harus belajar untuk berkreasi dan berproduksi. Kalau kita sudah bisa berproduksi maka kita akan benar-benar merdeka. Kita akan termotivasi untuk berniaga dan membuat kreasi dengan nilai yang tinggi. Tapi kita tidak punya sistem pendidikan seperti itu, jadi bagaimana mau maju? Saya tidak tahu jawabannya, benar-benar tidak tahu.

(88-89) Mereka yang melakukan korupsi tidak punya budaya berproduksi. Tidak punya karakter. Korupsi sudah menjadi penyakit sosial. Di mana-mana orang narik kutipan di sepanjang jalan. Itu namanya mengemis paksa. Sangat memalukan. Orang mengemis kalau tidak berhasil maka mereka mengancam.

(92) Saya tidak percaya pada proses pemilu lagi. Tidak ada seorang pun calon presiden yang membciarakan hal yang memang benar-benar penting, dan tidak satu pun yang punya wawasan ke-Indonesia-an.

(96) Rakyat Indonesia selalu tidak mau belajar dari sejarah negerinya sendiri. Kebiadaban yang satu selalu diikuti dengan kebiadaban yang lain.