kepada tulisan yang tak sempat lahir #2

Ini catatan yang akan selalu kupegang, terutama kalau suatu saat nanti menjadi editor:

PADA SETIAP TULISAN YANG DIKERJAKAN SUNGGUH-SUNGGUH, ADA UPAYA DAN JERIH PAYAH YANG HARUS DIHARGAI.

Jadi tak bisa kau buang begitu saja tulisan yang sampai ke mejamu. Membuang tulisan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sama artinya tidak menghargai upaya dan kesungguhan si penulis. Kalau kau hanya mencantumkan kode penulisnya, tanpa mencuplik sekalimat pun dari tulisannya, itu namanya menghina. Itu juga menunjukkan kalau kau malas mengeditnya baik-baik. Lebih baik tak usah sekalian.

Kecuali kalau tulisan itu memang ditulis tanpa kesungguhan, menjiplak dari situs online misalnya. Atau menyalin pers rilis, atau sudah kadaluarsa karena dikirim lewat tenggat. Tapi kalau ada dua tulisan yang masuk dan kau memilih satu dan membuang yang lain, itu jahat namanya. Tak ada penulis yang terima diperlakukan demikian.

Dan untuk orang yang kupikir teman. Kita boleh asosial tapi janganlah anti sosial. Hargailah temanmu yang datang meliput dan menulis sungguh-sungguh. Meski mungkin kau lebih pandai.

Aku tidak pernah bisa terima. Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal demikian pada orang lain. Pada siapa pun juga.
+
Lagi, Sevel Tebet. Masih dengan kemarahan yang mendidih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s