Siapa yang Bodoh di Jalanan Hujan Jakatra?

Pagi itu sudah kacau dari awal. Informasi agenda yang datang terlambat membuat tim sedikit keteteran. Tadinya aku harus bergerak ke Jalan Sudirman. Tapi agenda yang muncul mendadak, membuat terpaksa berbelok di tengah jalan. Ganti arah menuju Tugu Tani, Gedung Kementerian Perdagangan.

Belum lagi separuh jalan digilas, hujan turun berderap cepat. Deras ampun-ampunan. Aku tak punya cukup waktu untuk menunggu hujan reda. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi akan menggelar konferensi pers setengah jam lagi. Dengan enggan aku menepi, mengeluarkan jas hujan ponco oranye dari bawah jok motor.

Sialnya jaket tak kubawa, sedang dicuci. Aku maju melawan angin, dengan hujan yang jatuh menampar-nampar wajah. Sebentar saja sudah kuyup, perlindungan jas hujan ponco tidak mencakup lengan dan kaki. Air merembes, meresap cepat membasahi baju dan celana.

Jalanan bersahabat, hujan boleh deras, tapi kemacetan di sekitar Pasar Tanah Abang mereda. Para kuli pembawa barang tentu memilih menepi dan menghentikan aktivitasnya. Semua orang waras juga kepinginnya menepi dan tidak hujan-hujanan.

Waktu yang terus menipis memaksaku melanggar aturan. Di perempatan lampu merah dari Tanah Abang menuju jalan Jati Baru (arah Hotel Milenium) aku ikut bergerak maju sampai di bawah jembatan layang. Melanggar garis batas henti di lampu lalu lintas. Tapi setidaknya aku tetap patuh, tak melanggar lampu yang masih menyala merah.

Motor merayap, memadat. Semua maju ke bawah jembatan layang. Kulihat seorang pengendara motor paling depan turun dari motornya. Pelan dan santai dia membuka jok, mengambil jas hujan, membuka lipatannya, mengenakan celananya, kemudian bajunya.

Aku gemas setengah mati, dia pikir ini sedang parkir atau apa?! Lampu sebentar lagi menyala hijau. Kalau dia tidak segera bergerak, yang lain-lain di belakangnya juga ikut tertahan.

Perhatianku teralih pada lampu yang menyala hijau. Baru aku sadar posisiku tepat di tengah-tengah kerumunan motor-motor yang padat. Hey!! TAK ADA SATU PUN YANG BERGERAK MAJU! APA-APAAN INI LAMPU SUDAH HIJAU!

Mereka duduk santai di atas jok motor masing-masing. Kutunggu sedetik, dua detik, tiga detik, tak ada yang bereaksi atas perintah lampu lalu lintas untuk bergerak maju. Aku harus sampai ke Kantor Kementerian Perdagangan segeraaaaaa….. Tolonglah..

Habis sabarku. Sudah kutekan klakson kuat-kuat supaya mereka sadar dari lamunan dan menyadari lampu sudah memerintahkan untuk maju. Sebagai reaksi, serentak puluhan kepala di depanku itu menoleh marah. Membuatku bingung, dan menghentikan klakson.

“Ayo jalaaaaaaan…..!!!!! Lampu sudah hijauuuu…..!!!!!” Aku hilang sabar.
Mereka melotot marah padaku. “Berteduh dulu, mbak!” kata salah seorang yang paling dekat denganku.

Astaga.. mentang-mentang ini di kolong jembatan layang, bukan berarti mereka bisa berteduh di tengah jalan kan? INI DI TENGAH JALAN DAN LAMPU SUDAH HIJAU. Tapi mereka semua marah padaku. Jadi sebenarnya siapa sih yang bodoh? Nelangsa aku memaksa diri mencari celah, menyelip dan melaju, menabrak hujan. Tak peduli pandangan marah yang terus mengekor.

+
ruang redaksi MI, waktu piket malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s