Sigur Rós-Daya Sihir Tanpa Banyak Bicara

Tirai putih tipis yang terbentang di panggung indoor Istora Senayan mengundang tanya ribuan penonton. Kapankah tirai itu akan tersingkap dan mereka menyaksikan tiga sosok yang paling dinantikan. Keresahan penonton selama kurang lebih satu jam diputus, ketika sinar hijau berpendar-pendar mendadak ditembak pada kain putih, disusul suara gesekkan bowed gitar Jón Þór “Jónsi” Birgisson membuat pengunjung histeris pada Jumat (10/5) malam.

Gelombang tak sabar menyaksikan langsung tiga personil Sigur Rós dicegat sejenak. Lagu pertama yang disuguhkan band asal Islandia ini mereka mainkan dari balik selubung putih yang tak juga dibuka. Tiga personil band bergenre post rock ini, Jón Þór Birgisson (Jónsi), Georg Hólm (Goggi), dan Orri Páll Dýrason (Orri) hanya tampak dalam siluet bayangan.

Layar putih yang menyekat itu terus berpendar-pendar, memberikan efek visual cahaya yang memabukkan pandangan mata. Garis-garis putih, hijau, bergerak melekuk, membentuk pola, mengiring musik dan gumam vokal Jonsi.

Lantunan Yfirborð yang minim lirik pelan-pelan menyihir seisi ruangan. Adukkan dari gesekkan gitar Jonsi, tarikkan bass gitar Goggi dan dentuman drum Orri menyeret penonton tenggelam dalam imajinasi. Setiap orang perlahan dibius dan dibawa pada alam ketenangan yang memabukkan.

Dua lagu pertama mereka suguhkan masih dari balik selubung putih yang memberikan efek visual cahaya penuh warna. Baru pada lantunan Vaka yang menjadi suguhan ketiga, selubung putih yang misterius itu ditarik lepas. Membuat rasa tak sabar yang sempat dicegat tadi meletup dalam histeria.

Pada konser pertamanya di Indonesia ini, Sigur Rós tidak hanya ingin memanjakan para pemujanya melalui musik-musik mereka yang penuh daya sihir. Efek visual baik cahaya maupun yang ditampilkan pada layar di atas panggung, disajikan berbeda, menjadi bingkai pada setiap lagu. Panggung juga tampak cantik dengan bohlam-bohlam lampu ditata bagai instalasi seni, berseling dengan Jonsi.

Ini bukan sekadar tambahan yang dibubuhkan sekenanya. Tetapi menjadi pemicu, pendorong penikmat sajian mereka makin tenggelam dalam imajinasi dan ketenangan. Misalnya pada Sæglópur yang menjadi menu kelima, efek gelombang ombak yang beriak, buih dan gelembung air yang meletup lembut pada layar membuat para penonton terbawa dalam suasana laut yang sejuk dan damai.

Daya sihir yang ditampilkan terus menguat pada setiap lagu berikutnya yang dibawakan. Apalagi ditopang dengan denting gamelan gantung, piano, perkusi, alat musik serupa kolintang dan harmonisasi alat-alat musik lainnya dari pemain pendukung.

Kegilaan imajinasi penonton meledak pada lagu Hoppipola, karya mereka yang paling hits. Setiap orang mulai ikut bersenandung bersama Jonsi. Walaupun tak hapal persis baris-baris lirik dalam bahasa Islandia, senandung manis terbentuk dalam gumam-gumam.

Ketika Olsen Olsen dimainkan, ganti personil Sigur Rós yang tersihir takjub melihat penonton. Lagu sudah tuntas dimainkan, tapi senandung gumam dari wajah-wajah damai penonton justru menguat. Mereka terus bersenandung meski musik sudah berhenti. Jonsi, Goggi dan Orri terbelalak. Rasa takjub mereka diwujudkan dengan membungkuk dalam kepada para penonton dan bertepuk tangan.

Sihir kedamaian pada lagu-lagu Sigur Rós menunjukkan kalau musik punya bahasanya sendiri. Meski minim lirik dan lebih banyak nyanyian dalam senandung dan gumam, musik mereka begitu meresap kepada setiap penikmat yang hadir malam itu. Pentas mereka memang minim gerak, juga minim dialog. Hanya sepatah dua kata yang terluncur dari Jonsi untuk menyapa pengagumnya di Indonesia. “Thank you so much.” Dialog para personil Sigur Rós dengan penonton terbentuk, terbangun kuat, hanya melalui dialog mata dan lemparan senyum.

Dua jam pertunjukkan tidak menandaskan energi penonton. Sajian Popplagið membawa setiap orang meledak klimaks di puncak rasa damai. Lantunan 14 lagu tak cukup memuaskan energi penonton. Seisi ruangan serentak meneriakkan “We want more!” ketika lagu usai. Sayangnya, suguhan benar-benar ditutup. Para penikmat musik Sigur Rós terpaksa menunggu pentas mereka berikutnya. (Wta/Nat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s