Cekal Mencekal ala Menteri dan Mantan Menteri

Puluhan pewarta langsung menyemut di depan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, sesaat setelah Wakil Ketua Komisi III Tjatur Sapto Edy mengetuk palu, tanda usainya Rapat Dengar Pendapat dengan Menkum HAM, Senin (27/6). Sang menteri mendadak tak ramah, ketika semua pertanyaan mengerucut pada dikeluarkannya surat cegah ke luar negeri terhadap Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra.

Baru saja, Yusril mengadu ke DPR, mempersoalkan surat cegahnya. Dalam surat cegah yang dikeluarkan Ditjen Imigrasi, Yusril dicegah ke luar negeri selama satu tahun. Padahal, menurut Yusril, dalam Undang-Undang Keimigrasian nomor 6 tahun 2011 disebutkan, cegah dilakukan maksimal 6 bulan. Kejaksaan Agung dan Kementerian Hukum dan HAM rupanya masih mengacu pada aturan lama yang termuat dalam UU nomor 9/1992. Yusril menilai, menteri tidak mengerti hukum.

“Kami menindaklanjuti permintaan dari Kejaksaan Agung, itu saja. Kalau keberatan ya sama Jaksa Agung,” tuturnya ketika ditanyakan undang-undang mana yang seharusnya dipakai. Ketika dikejar apakah Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini sudah mengkroscek terlebih dulu surat pencegahan, sebelum menandatanganinya, ia mencetus, “Saya bilang saya melaksanakan permintaan Jaksa Agung. Kalau tidak ada surat kami tidak lakukan.”

“Kalaupun undang-undangnya salah masa dilaksanakan juga?” cetus seorang wartawan. “Ya Wajib dilaksanakan, karena itu perintah penegak hukum. Patrialis naik pitam ketika dinilai melempar tanggung jawab ke Kejaksaan Agung. “Melempar bagaimana? Anda tidak paham dikasih tahu. Kita laksanakan permintaan Jaksa Agung, selesai!”

Patrialis kemudian pamit untuk Salat Ashar sebentar. Merasa belum mendapatkan penjelasan yang lengkap, pewarta kemudian mengejar lagi setelah sang Menteri Salat. Menteri kemudian meralat pernyataannya. “Kalau belum Salat itu tensinya agak tinggi. Jadi begini, permintaan dari
Kejaksaan Agung itu satu tahun, tetapi kita laksanakan enam bulan, lalu kita perpanjang enam bulan lagi,” tuturnya.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa pada surat cegah yang sampai ke tangan Yusril disebutkan pencegahan berlaku 1tahun, tanpa ada penjelasan. Sang Menteri kemudian meminta bantuan Dirjen Imigrasi Bambang Irawan yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Sang Dirjen tidak banyak membantu, dengan terbata-bata Irawan hanya mengulang penjelasan Menteri.

Dikejar sampai turun eskalator dari ruang rapat Komisi III, baik Patrialis maupun Irawan tidak dapat memberi penjelasan cukup. Bahkan Irawan sempat terdiam ketika Patrialis meminta penjelasan bagaimana peraturan pelaksana undang-undang terkait seharusnya digunakan.

Melihat Dirjennya yang tak banyak membantu, Patrialis kemudian memanggil Sekretaris Dirjen Kemenkum HAM M Indra. Indra menjelaskan, meskipun sudah ada undang undang keimigrasian yang baru, pihaknya berpegang pada undang undang Kejaksaan Agung. “Dasar pencegahannya memakai undang-undang Kejaksaan Agung, yakni masa berlaku (cegah ke luar negeri) selama satu tahun. Yang bisa (mencegah) enam bulan itu hanya dari Imigrasi,” ujarnya. Padahal sebelumnya Patrialis menyebut cegah diberlakukan enam bulan untuk kemudian diperpanjang.

Indra menambahkan, selama peraturan pelaksana undang-undang nomor 6 tahun 2011 sebagai turunan dari UU belum rampung, maka yang dipakai adalah peraturan pelaksana undang undang yang lama. Hal itu, kata Indra, termuat dalam pasal 143 UU nomor 6/2011.

Tidak hanya para wartawan, Menteri dan Dirjen pun mengangguk-angguk, mencerna penjelasan Indra. Namun ketika seusai wawancara, para pewarta mengecek pasal yang dimaksud. Pasal itu menyebutkan bahwa peraturan pelaksana dari UU nomor 9/1992 tentang Keimigrasian dinyatakan masih berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru. Lalu bagaimana kalau bertentangan?

Patrialis sempat ditanya, bagaimana kesiapannya menghadapi gugatan Yusril di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN), Patrialis menjawab, “Kita welcome.”

Yusril juga sempat melontarkan sindiran kepada Patrialis dan jajarannya yang menggunakan undang undang lama. Yusril menyebut tidak cerdas (sebenarnya sih Yusril ngomongnya goblok…..). Patrialis menjawab dengan senyum, “Alhamdulillah…. Kita doakan supaya orang yang lebih pinter jadi lebih banyak di negara ini.”

“Amiiiiiinnnnn…..” jawab para wartawan. (Wta)

Advertisements

Zona NOL Toleransi

IMG10186-20130718-1727(1)

Zona nol toleransi. Seratus persen kepentingan masing-masing.

Jelang waktu berbuka puasa di jalan sesudah pekuburan di Kemanggisan-Slipi. Satu orang berikut motornya terjebur ke kali bau penuh sampah karena semua pengemudi kendaraan saling sikut tak mau mengalah.

Ketika Anak Miskin Kota Ikut Jambore

Ficer pertama yang dimuat di MI. Waktu itu masih jadi koresponden MI untuk daerah Sumatra Selatan 🙂

Jumat, Media Indonesia 18 Juli 2008

MATAHARI belum terbit sepenuhnya. Wajah-wajah polos anak-anak jalanan miskin kota tampak bersemangat menyambut pagi. Hari itu mereka akan mengisi liburan dengan berkemah di daerah persawahan pinggir Kota Palembang, Sumatra Selatan. Kegiatan tersebut bertajuk Jambore Anak Miskin Kota.
Kebanyakan dari mereka putus sekolah. Kalaupun ada yang sekolah, mereka membiayai sendiri. Sepulang sekolah anak-anak itu bekerja mengumpulkan barang bekas atau mengamen.

Tempat yang mereka tuju adalah daerah persawahan di Jakabaring, Palembang. Kawasan itu masih hijau dan jarang penduduk, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota.

Kegiatan yang diprakarsai Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Food Not Bomb (FNB) ini memberi warna tersendiri bagi 45 anak tersebut. Sekaligus, juga mengawali rangkaian kegiatan JRMK dalam menyambut Hari Anak Nasional yang akan jatuh pada 23 Juli mendatang.

Selepas makan siang, mereka ber-long march menuju Graha Teknologi yang memerlukan waktu tempuh sekitar 15 menit dari tenda mereka. Anak-anak itu terkagum-kagum melihat berbagai benda hasil kemajuan teknologi.

Sugiyono, siswa kelas enam SD, anak pengemudi perahu getek, begitu takjub melihat kemampuan benda-benda yang ada di sana. Misalnya, alat yang dialiri listrik dan bikin rambut jadi berdiri. ”Saya mau rajin belajar supaya bisa bikin alat-alat yang lebih hebat dari itu,” ujarnya polos.
Sugiyono, tadinya tidak berniat melanjutkan sekolah, setelah tamat SD ini berubah pikiran dan ingin tetap sekolah karena tidak ingin tertinggal kemajuan zaman.

”Saya kira teknologi itu cuma komputer, ternyata banyak. Saya mau melanjutkan ke SMP, biarpun sepulang sekolah harus mencari barang-barang bekas buat bantu bayar uang sekolah,” ujarnya bersemangat.
Setelah alam pikiran anak-anak terbuka dengan kemajuan teknologi, hari kedua berkemah mereka berkenalan dengan lingkungan dan persawahan. ”Mereka memang harus mengenal pengetahuan modern, tapi mereka juga tidak boleh menjadi generasi yang lupa bahwa negaranya adalah negara agraris,” tukas Sri Utami dari JRMK.

Di udara pagi yang masih sejuk, anak-anak sudah berjalan menyusuri daerah persawahan yang hijau. Keceriaan dan rasa ingin tahu tampak di wajah mereka. Apalagi saat mereka mendengarkan cerita proses penanaman padi sampai menjadi nasi yang tersaji di piring mereka.

Setelah menyusuri sawah, anak-anak pun diajak untuk mengikuti outbond kid. Dengan melihat langsung dua sisi kehidupan yang berbeda, modern dan agraris, anak-anak diharapkan mendapatkan penyadaran betapa pentingnya kedua hal tersebut.

Anak-anak juga diharapkan akan termotivasi untuk belajar. Jangan sampai mereka mengulang sejarah orang tuanya yang miskin. Walaupun mungkin ke depan akan ada hambatan mengenai pendidikan, tapi daya kreatif dan kritisnya sudah terasah. ”Dengan niat dan semangat, mereka akan termotivasi untuk bisa hidup lebih baik,” tutur Utami.

Di akhir kegiatan, mereka duduk bersama dan saling mengungkapkan perasaan dan pikiran selama dua hari mengikuti kegiatan itu. Itu dilakukan sebelum akhirnya mereka berpisah dan harus kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa cerita dan semangat baru untuk tetap bertahan dalam kesulitan apa pun. Termasuk kemiskinan. (Nurulia Juwita Sari/N-3)

Agar Putusan Korupsi Makin Bergigi

Dimuat di Media Indonesia, 21 Maret 2011

Objektivitas dan subjektivitas hakim berkelindan untuk memutuskan vonis terberat bagi koruptor.

Nurulia Juwita Sari

PULUHAN pria berbadan tegap sudah memenuhi lantai satu Gedung Pengadilan Tindak-Pidana Korupsi (Tipikor) sejak pagi, Selasa 2 November 2010. Warna wajah mereka sama, terlihat ketegangan tanpa senyum segaris pun.

Mereka bergantian menyalami Yusak Yaluwo, Bupati Boven Digoel, Papua. Beberapa menepuk-nepuk pundak Yusak, mengalirkan semangat untuk sang kepala daerah, yang akan menjalani sidang vonis.

Karena banyaknya pendukung dan simpatisan yang ingin menghadiri langsung persidangan Yusak, petugas pun memberlakukan pengawasan lebih ketat dari hari-hari biasa. Sejumlah petugas keamanan ditempatkan di beberapa titik di dalam dan di luar ruangan sidang. Setiap tamu, tanpa terkecuali, harus melewati pemeriksaan metal detector.

Pada waktu yang sama, tensi ketegangan meninggi di ruang rapat hakim. Lima hakim beradu argumen, berapa vonis yang akan dijatuhkan kepada Yusak yang didakwa dalam kasus korupsi anggaran APBD dan dana otonomi daerah Kabupaten Boven Digoel sebesar Rp49 miliar pada 2005-2007. Sebelumnya tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Yusak dihukum lima tahun penjara dan denda Rp200 juta.

Menurut hakim Andi Bachtiar, hukuman untuk terdakwa memang selalu dibahas di hari pertaruhan vonis. “Berapa hukumannya, denda dan uang pengganti serta sub-sidernya, kami para hakim sepakat tidak memusyawarah-kannya sebelum sidang. Karena kalau informasi itu terjual keluar bahaya dong,” katanya ketika berbincang dengan Media Indonesia akhir pekan lalu.

Untuk putusan Yusak, lanjut dia, tidak lebih dari 10 menit para hakim memutuskan menjatuhkan sanksi 4 tahun 6 bulan penjara. Walaupun saat itu Andi menyatakan pendapat berbeda atau discenting opinion. Menurutnya, Yusak cukup diganjar 2,5 tahun penjara.

Andi menerangkan, Yusak terpaksa menunjuk langsung rekanan karena tidak ada tenaga yang menguasai pengadaan barang dan jasa. Perbedaan sudut pandanglah yang kerap membuat hakim harus adu urat leher beradu argumen, proses yang menentukan ketukan palu hakim.

“Jadi kalau semua sedang menunggu kapan mulai sidangnya, kita itu lagi ribut-ribut musyawarah berapa hukumannya. Rapat itu steril, hanya para hakim, panitera pun tidak boleh masuk,” tuturnya.

Andi menjelaskan, perdebatan paling alot di antara majelis hakim terjadi ketika seorang terdakwa sudah mengembalikan uang yang dikorupsinya. Jika uang sudah dikembalikan, beberapa hakim kerap menilai pengembalian uang dapat meringankan hukuman si terdakwa.

Hal ini terlihat salah satunya dalam putusan para terpidana kasus cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI. Empat terpidana mendapat vonis berbeda. “Ini yang membuat di antara majelis berbeda paham,” imbuhnya.

Karena itu, menurut Andi, hukuman untuk pelaku tindak pidana korupsi tidak bisa diseragamkan. “Akan ada subjektivitas dan objektivitas hakim dalam setiap putusan. Kita profesional, kalau perbedaan pendapat tidak ketemu, dilakukan voting. Yang kalah suara bisa menyatakan discenting opinion di dalam putusan,” imbuhnya.

Persoalannya adalah sedang terjadi tren hakim memvonis rendah para koruptor. Itu tergambar dalam penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) 2010. Sedikitnya 54,82% terdakwa kasus korupsi divonis bebas/lepas di pengadilan umum. Jika divonis bersalah pun, hukuman terbanyak berada di kisaran 1-2 tahun.

Sementara itu, berdasarkan hasil laporan tahunan Mahkamah Agung (MA) tahun 2010, dari 422 putusan kasasi perkara korupsi yang diputus oleh MA, sebanyak 269 kasus atau 60,68% hanya dijatuhi hukuman antara 1 dan 2 tahun. Yang dihukum lebih dari 10 tahun hanya dua kasus atau 0,45% (lihat grafik). Para terpidana koruptorjustru tidak mendapatkan efek jera. Sebab, mereka pun menikmati remisi masa hukuman. Menyikapi fenomena tersebut, hakim Nani Indrawati yang ditemui seusai melaporkan harta kekayaannya ke KPK membagikan pengalamannya.

Menurut Nani, dalam rapat pemusyawaratan hakim biasanya hakim yang paling junior akan dimintai pendapat terlebih dahulu. “Kemudian hakim anggota yang lain, terakhir baru ketua majelis. Biasanya rapat di ruangan Ketua Pengadilan Tipikor,” kata Nani, pekan lalu.

Saat ini, terdapat pemisahan baru dalam perkara korupsi. Untuk perkara korupsi di bawah Rp50 miliar, cukup ditangani oleh tiga hakim. Tetapi untuk kasus di atas batas tersebut, disidang oleh lima hakim.

Menurut Nani, hakim memiliki pertimbangan sendiri dalam menentukan putusan dan tidak terpaku pada tuntutan jaksa. “Pertimbangan didasarkan pada fakta hukum yang terungkap di persidangan,” tuturnya.

Kualitas dakwaan

Vonis rendah koruptor disebabkan kualitas jaksa dan hakim yang tidak baik. Karena itu, Komisi III DPR mendesak Jaksa Agung dan Mahkamah Agung untuk segera mengevaluasi jaksa dan hakim. Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi lil DPR, Aziz Syamsuddin di Jakarta, kemarin. Menurutnya, vonis rendah yang dijatuhkan hakim tipikor untuk para koruptor tidak terlepas dari kinerja hakim. Aziz menambahkan, perlu diperketat perekrutan hakim-hakim baru.
“Kepada Jaksa Agung juga sudah kita tegaskan untuk segera mengevaluasi kinerja jaksa. Selain itu, rekrutmen hakim diperketat, agar kualitas hakim yang didapat sungguh-sungguh mengedepankan harkat dan martabat hakim yang menegakkan keadilan. Apalagi untuk soal-soal korupsi,” ujarnya.

Komisi III menurutnya, tidak bisa mencampuri langsung keputusan hakim. Menurutnya, Komisi III mengevaluasi apakah tuntutan dari jaksa penuntut umum dan hakim tipikor dengan pasal-pasal dan dakwaannya itu secara hukum acara sudah benar atau tidak. “Hanya sebatas itu, bukan mencampuri keputusan hakim,” katanya. (ED/P-3)

Saripati Buku–Catatan dari Penjara Perempuan, Nawal El Saadawi

Kepada Nawal,
Darimu aku belajar lebih kuat soal kemerdekaan berpikir, kritis, berpendapat dan bersuara. Terimakasih.

-Jika pun mati, tak meluncur begitu saja dalam kegelapan malam tanpa menimbulkan huru-hara! Kita harus mengamuk berulang-ulang- Nawal El Sadaawi

(6) Semenjak musim dingin tahun 1972, aku merasa asing di negeriku sendiri. Mengapa begitu? Karena aku telah mengarang buku yang mengandung gagasan-gagasan baru dank arena dalam salah satu kuliah yang kuberikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Ain Shams di Kairo, aku telah berkata blak-blakan dan mengemukakan pandanganku mengenai kaum perempuan, masyarakat, ilmu kedokteran, sastra dan politik, aku pun tak memisah-misahkan pokok-pokok pembicaraan ini.

Aku hanya menuliskan hal-hal yang didiktekan oleh pikiranku.

(6-7) Namaku tertera pada daftar hitam pemerintah. Jika pihak penguasa marah pada seorang pengarang, pengarang bersangkutan dapat diberangus dan suaranya dibungkam, sehingga tak terdengar lagi oleh siapa pun. Seorang pengarang tak mungkin mencapai puncak kesusastraan dan bertahan di sana, jika tak direstui oleh pemerintah.

(7) Takut akan watak budak,, manusia jadi budak.

(12) Pada setiap tahap kehidupanku aku hanya menanti suara kecil yang timbul dari lubuk hati yang paling dalam ini.

(13) Ia biasa membaca koran pada pagi hari, sedangkan aku membiarkannya sampai malam hari. Jika kubaca pagi-pagi, dustra-dusta yang termuat di dalamnya merusak suasana hatikut dan ketentraman hati yang kuperlukan untuk menulis novel, jadi sirna.

(20) Tidak mengetahui hampir sama dengan keadaan mati, atau lebih baik dikatakan sama dengan keadaan mati. Andaikata kita tahu apa yang dinamakan mati, maut, atau ketakutan maka tak ada orang yang akan takut pada maut.
Tidak mengetahui adalah sesuatu hal yang menakutkan. Orang tak akan merasakan ketakutan, jika ia mengetahui. Perjalanan mengherankan ini dari pintu rumahku ke penjara meminta waktu beberapa jam, dan aku mengalami ketidaktahuan yang paling aneh selama hidupku.

(55) Cacat yang memalukan ialah penindasan, bohong serta penghapusan daya pikir manusia, baik daya pikir manusia perempuan ataupun laki-laki.

(66) Di mana pun ku pergi, ke mana pun aku melakukan perjalanan, betapapun jauhnya tempat, betapa pun tidak ramahnya, aku akan mengamati sekelilingku dalam kegembiraan dan konsentrasi, seolah-olah aku tidak pernah mengetahui wujud tempat itu. Wajah-wajah yang mengelilingiku, tak peduli bagaimanapun anehnya mereka dalam pandanganku, tampak seolah-olah telah terlihat sebelumnya.

(68) Kita tidak akan mati, atau jika kita mati, harus dengan marah-marah, harus memukul-mukul tanah dan menimbulkan goncangan. Kita tidak akan mati tanpa mengadakan revolusi.

(71) Setiap kali aku mengalami ‘pertama kali’ suatu hal, reaksiku gemetar, aku akan merasakan senang luar biasa dan ketakutan. Namun rasa senang selalu mengatasi ketakutan.

(85) Biar saja mereka merekam apa saja yang mereka inginkan, namun kita tetap bernafas dalam cara yang kita inginkan, dan mengatakan apa yang ingin kita katakana, karena kita berada di dalam penjara ini justru karena menuntut kebebasan dan menolak untuk diikat. Apakah kita akan membelenggu kita sendiri di dalam penjara ini? Apakah kita akan mencekik leher kita dengan tangan kita sendiri? Apa yang masih dapat terjadi dengan kita? Yang masih kurang bagi kita sekarang ini ialah maut.

(98-99) Yang baru saja anda katakana tentang perempuan tak bersalah yang akan meninggalkan penjara setelah terbukti tak bersalah, Tuan. Saleh, sangat membingungkan pikiran, maupun bagi nalar. Apakah anda tak melihat bahwa kata-kata ini berlawanan dengan hukum? Andaikata perempuan tak bersalah ini dibebaskan dari penjara sesudah sebulan – atau satu tahun – lalu, siapakah akan mengganti kerugiannya setelah sekian hari dan malam dihabiskannya di penjara itu? Bagaimana mungkin anda mengatakan itu kepada kami begitu saja, lalu pergi saja, sambil tersenyum, dengan hati nurani yang tenang? Bagaimana anda bisa berkata, “Bagus, bagus, jadi tak masalah kan?”

Masalah pertama, Tuan. Saleh, ialah bahwa pertama-tama perempuan tak bersalah seyogyanya tidak dijebloskan ke penjara ini. Kedua, kami telah disekap di sini selama berhari-hari, berminggu-minggu dan tak sekali pun ada yang memulai prosedur penyidikan pada kami. Tak seorang pun di antara kami yang tahu apa yang dituduhkan kepada dirinya. Rumah kami dimasuki dengan kekerasan oleh angkatan bersenjata, tanpa surat perintah dari Kejaksaan Agung, dan hingga hari ini keluarga kami tak ada yang tahu tentang keadaan kami dan kami tak sedikit pun tahu tentang keadaan mereka.

Di antara kami ada ibu-ibu yang meninggalkan bayi yang masih menyusu, dan mahasiswa yang dikeluarkan dari Universitas mereka, dan karyawati-karyawati yang diberhentikan dari pekerjaan atau dari jabatan mereka. Satu orang di antara kami hamil berat dan tak dapat bantuan medis, sementara ada pula yang jadi terinfeksi penyakit scabies. Kami semua terancam oleh penyakit-penyakit yang menyebar luas di sini dan ditularkan oleh lalat dan serangga maupun melalui udara yang berisi asap, debu serta kuman-kuman kotoran dan TBC.

Jadi apakah mungkin tempat ini dinamakan tempat aman? Dan menyatakan bahwa kita mengikuti aturan hukum? Mana hukumnya? Dan mengapa belum juga dimulai penyelidikan? Bagaimana kami dimasukan ke penjara tanpa dasar pemeriksaan?

(101) Satu jam dipenjara tanpa melakukan kejahatan adalah sama dengan kesalahan sepuluh tahun.

(143) Seorang perempuan hendaknya diagungkan karena prestasi pribadi, dan
bukan karena ia istri orang yang berkuasa dan berpengaruh.

(180) Tak ada yang lebih bersifat membunuh manusia, daripada dipaksa menunggu. Dalam penjara, orang tidak meninggal karena kelaparan, atau karena kepanasan atau kedinginan, atau karena dipukul atau penyakit atau karena serangga. Tapi orang bisa mati karena dipaksa mati. Menunggu menyebabkan waktu diubah jadi keabadian, objek nyata menjadi ketiadaan, dan berarti menjadi tanpa arti.

(193) Di penjara, di antara kehilangan-kehilangan yang diderita oleh seorang tahanan adalah kehilangan profesinya. Karena orang kehilangan sifat kemanusiaannya, kepribadiannya, kebebasan dan namanya, mengapa tidak kehilangan keahliannya sekalian.

(196) Siapakah aku ini? Tahanannomor 1536. Mereka telah melucuti segala sesuatu dariku, bahkan namaku. Namun aku tetaplah diriku sendiri, dan aku lebih suka jadi tahanan di sini daripada ‘dokter penjara’.

(197) Semenjak menjadi dokter, aku merasa asing di lingkungan dokter-dokter macam begini. Mereka seperti pemilik toko, menjual kesehatan dan perawatan medis kepada kaum miskin yang bahkan tak mampu membayar harga makanan.

(210) Aku dengan penaku seolah memukul kepala hitam yang korup yang hendak melarikan kebebasan dan kehidupanku, merusak diriku yang asli dan memaksa menjual pikiranku serta mengatakan ya, padahal aku ingin mengatakan tidak.

(210-211) Pena adalah benda paling berharga dalam hidupku. Kata-kataku yang dicurahkan pada kertas, bagiku lebih berharga dari anak-anakku, suamiku, juga dari kebebasanku.

(211) Aku lebih suka ditempatkan di penjara daripada menulis sesuatu yang tidak berasal dari pikiranku. Kata-kata yang jujur memerlukan keberanian yang mirip dengan keberanian untuk melakukan pembunuhan – ya, mungkin lebih dari itu.

Apakah kebebasan berpendapat merupakan kejahatan? Kalau begitu, biarlah penjara menjadi satu-satunya tempat perlindunganku.

(214) Sekarang aku merasa sangsi tentang segala sesuatu. Apa gunanya aku menulis? Kata-kata mati, mati pada sehelai kertas. Lagi pula, untuk siapa aku menulis? Apakah ada yang menulis sepatah kata untuk membelaku. Dan waktu aku dipenjarakan.

(222) Aku teringat suara rekan penulis terhormatku dulu. “Aku hanya pegawai negeri..!” Pengarang itu pegawai negeri… sang pemikir itu pegawai negeri.. sang filsuf itu pegawai negeri… jadi, tidak ada pengarang, pemikir ataupun filsuf. Apa perbedaan antara petugas Dinas Rahasia yang pegawai negeri dan sang pengarang yang pegawai negeri? Dua-duanya melaksanakan perintah. Tak ada yang ingin kehilangan gaji pegawai negerinya, atau kedudukan mereka.

Aku berpikir menurut kehendakku… dan aku menulis dengan jari di tanah – apa yang ingin kutuliskan… tak ada yang mengancam diriku dengan PHK, karena aku memang berada dalam pemenajraan. Tak ada yang dapat mengancam akan membunuhku, karena hidup di sini tak berbeda dari keadaan mati.

(223) Aku merasa lebih senang di sini, di tanah, di tengah-tengah debu, daripada di posisi petugas Dinas Rahasia pada ambang pintu yang lebih tinggi namun terikat oleh kekangan-kekangan kedudukannya, atau daripada tempat rekanku sang pengarang agung, yang berada pada puncak kebolehan mengarangnya, dengan hati yang kecut di dada, serta gaji di kantongnya yang – betapa pun mungkin dinaikkan, tetap terlalu kecil bila dibandingkan dengan kerugiannya karena kehilangan kebebasan berpendapatnya.

(233) Kemampuan untuk menulis bagiku senantiasa berkaitan dengan kesempatan untuk memisahkan diri sama sekali, hanya bertemankan diri sendiri, karena aku tak mampu menulis kalau tak dapat berserah diri kepada keheningan.

(256) Andaikata suara-suara menggelombang yang membela kebebasan berpendapat dan pembicaraan dikeraskan di seluruh dunia untuk menuntut pembebasan diriku serta pembebasan semua orang yang dipenjarakan tanpa pengadilan, tuduhan atau kejahatan, mengapa tak satu pun suara terdengar di Mesir sendiri? Sampai sedemikian jauhkah mulut orang dibungkam? Apakah ketakutan telah bersarang sedemikian abadi dalam pikiran dan jiwa orang?

(263) Sikapku yang bertahan menang atas dia, dan aku duduk dekat jendela. Kemenangan kecil dan sederhana, namun juga penting. Aku bertindak sesuai dengan kehendakku, tak peduli pada apa pun.

(300) Ini negara tanpa hukum dan keadilan dan penyidikan ini sama sekai tak ada gunanya dan sungguh tidak adil.

(337) Apa yang dapat kami lakukan? Maut sedang mendekati kami – apakah kami lalu harus berdiam diri saja? Apakah kami akan meninggal? Setan perlawanan dalam diriku mulai bangun dan mengulang-ulang kata-katanya: Kau tak akan mati, Nawal. Jika pun mati, tak meluncur begitu saja dalam kegelapan malam tanpa menimbulkan huru-hara! Kita harus mengamuk berulang-ulang!

(342) Nama baik saya sebagai nasionalis sama berharganya dengan nyawa bagi saya, kataku amat marah. Saya tak akan berdiam diri berkenaan dengan kebohongan, pemfitnaghan dan penyeretan nama baik saya dalam lumpur seperti ini!

(350) Aku berhak mengetahui dibawa ke mana oleh mereka, apakah ke surge atau ke neraka. Aku tidak terlalu peduli ke mana aku dibawa dari tempat yang satu ke tempat lain. Yang penting dijelaskan. Aku ini manusia, bukan sebuah keranjang yang bisa dibawa seenaknya. Mengetahui adalah hakku. Sesudah itu, masa bodoh aku dibawa ke mana.

(352) Kukatakan bahwa penguasa, betapa pun istimewa orangnya dan berpikiran jujur, tak akan mungkin memerintah seorang diri sebagai perorangan. Aku katakana bahwa senantiasa terdapat golongan yang menjauhkan penguasa dari rakyat dan mengubah penduduk menjadi suatu massa besar penonton. Aku katakana bahwa demokrasi tak akan tercapai tanpa eksistensi jaminan-jaminan hukum untuk melindungi orang-orang yang berpendapat lain dari tirani pihak penguasa. Jika tidak, kecemasan, rasa khawatir akan menguasai pikiran laki-laki dan perempuan Mesir.

(365) Aku mulai mencatat kenang-kenangan ini sewaktu ditahan di penjara tanpa mempunyai kertas ataupun pena. Aku tak diizinkan membawa barang-barang berbahaya demikian ke dalam sel. Aku biasanya duduk di lantai sambil bersandar ke dinding, menghadap dinding yang satu lagi, lalu menulis dalam angan-angan, tanpa memerlukan pena atau pun kertas. Dalam angan-angan kutulis halaman demi halaman, dan sesungguhnya sanggup melihat kata-katanya terukir di hadapanku, tertulis – atau lebih baik terukir – pada dinding itu sendiri. Pada malam hari kubaca ulang di luar kepala, merevisi tulisanku, menambahkan bagian-bagian tertentu dan menghapus bagian-bagian lain, seolah-olah aku menulis dengan pena pada kertas.

(369) Agama tidak terlepas dari pemerintahan di negara mana pun di dunia. Agama bisa saja muncul di balik bahasa politik yang baru, namun segera cukup menampilkan diri dalam masa krisis, seperti ketika perang dinyatakan oleh suatu negara.

Seorang presiden atau kepala negara mungkin seorang atheis, namun di atas mimbar, di hadapan massa, pemimpin berpegang pada kitab suci – apakah Injil, Taurat atau Alquran – dan membaca ayat-ayatnya yang mendukung praktek perang dan pembunuhan, atau sebaliknya, penyelesaian perselisihan, negosiasi ataupun perdamaian. Dalam kampanye pemilihan, alangkah seringnya serta kerasnya suara para calon pejabat tertinggi yang menyatakan bahwa Tuhan berada di pihak mereka.

(370) Di Eropa dan Amerika Utara, seorang kepala negar amungkin saja sangat dikecam oleh partai oposisi atau anggota-anggota cendikiawan yang independen, namun para pengecam ini tidak dimasukkan ke dalam penjara, sebagaimana terjadi di negara-negara Arab atau di negara lain dengan pemimpin dictator. Namun, demokrasi bukanlah sekadar kebebasan mengkritik pemerintah atau kepala negara, atau mengadakan pemilihan secara parlementer. Demokrasi sejati tercapai hanya jika rakyat – perempuan, pria, orang-oran muda, anak-anak – memiliki kemampuan untuk mengubah sistem kapitalis industri yang telah menindas mereka sejak masa dini perbudakan: sebuah sistem yang didasarkan atas pembagian kelas, golongan sistem patriarki, serta kekuasaan, militer, suatu sistem hierarkis yang menindas manusia hanya karena mereka dilahirkan miskin, atau sebagai perempuan, atau sebagai orang berkulit hitam belaka.

(371) Waktu keluar dari penjara, aku dapat menempuh dua macam jalan. Aku bisa ikut menjadi budak terhadap lembaga yang berkuasa, dan mendapatkan keamanan, kesejahteraan, anugerah-anugerah negara dan julukan ‘pengarang agung’; aku bisa melihat fotoku terpampang di surat-surat kabar serta di televisi. Atau aku dapat menempuh jalan yang susah, suatu jalan yang telah mengantarku ke penjara. Aku memilih jalan kedua, maka aku jadi terancam secara permanen tidak hanya dengan pemenjaraan, melainkan juga pembunuhan. Aku senantiasa hidup di bawah perlindungan penjaga bersenjata selama 24 jam sehari. Aku tak mengerti apa artinya. Pejabat Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa itu perlu untuk melindungi jiwaku. Aku bertanya siapa yang mengancam nyawaku. Kaum teroris, jawabnya. Siapa kaum teroris itu, kutanyakan lagi. Golongan yang berkedok agama, jawabnya.

(373) Bahaya sudah merupakan bagian dari kehidupanku semenjak aku mengangkat pena dan mulai menulis artikel. Dalam dunia penuh kebohongan, tak ada yang lebih berbahaya daripada kebenaran. Tak ada yang lebih berbahaya daripada pengetahuan dalam dunia yang memandang pengetahuan sebagai dosa semenjak masa Adam dan Hawa.

(374) Menulis adalah kehidupanku. Tak ada kekuasaan di dunia yang dapat memisahkan karya-karya tulisanku ini dariku. Sudah terlanjur ditulis dan diterbitkan. Semenjak masa kanak-kanak, suatu mimpi mendekap dalam khayalanku: kutulis kata-kataku dan orang membacanya – hari ini, besok, lusa. Kapankah tidak menjadi masalah, karena yang penting ialah dibaca orang.

Catatan Editor

Catatan guru:

Dan kebodohan yang paling sempurna dari seorang editor adalah saat dia menjatuhkan moral dan semangat reporternya. Salah satunya dengan menyalahkan. Harusnya dia tetap mengarahkan supaya reporter tetap terjaga moralnya. Sekalipun reporternya mungkin saja sudah berbuat salah.
-MSC-