Sedikit Catatan tentang almarhum Kaka Ari, Kontributor Metro TV di Atambua

Tadi pagi, aku membaca alamat emailmu yang tertulis pada catatan remah-remah peliputan kita di desa Looluna, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) kemarin itu. Aku coba mengingat-ingat kenapa alamat emailmu bisa tercatat di situ. Wartawan biasanya bertukar alamat email kalau mau bertukar salinan catatan peliputan. Tapi seingatku kita tidak ada janji bertukar catatan. Kita menjelajah bukit Looluna yang dingin itu sendiri-sendiri, memilih objek yang kita suka, karena memang area peliputan yang luas.

Aku sama sekali lupa kenapa emailmu bisa tercatat di sana. Yang aku ingat, waktu di hotel itu aku meminta pin blackberry padamu. Aku catat dulu, karena apoloku sedang seret sinyal sepulang dari gunung. Nah alamat email itu ikut kau catatkan saat menulis pin. Tapi aku tidak sempat memutar ulang ingatan lebih rinci soal alamat emailmu. Sedang terburu-buru merampungkan tugas liputan kemarin.

Hari sudah kelewat larut ketika aku membaca pesan dari mbak Dewi, humas Pertamina yang mengajak kita liputan bersama ke Atambua. Dengan terkantuk-kantuk aku membaca pesannya. Mengulangnya sekali lagi, siapa tahu aku salah baca atau salah memaknai pesan singkat itu.

Tak sabar, aku menelepon mbak Dewi untuk memastikan kebenarannya. Kepalaku pusing, lunglai, saat ia menuturkan dengan detil hitung mundur penghabisan umurmu.

Kata mbak Dewi, selepas peliputan kita yang melelahkan dan perjalanan mengantar kami sampai ke Bandara Haliwen di Atambua, kau tidak langsung pulang ke Soe, tempat tinggalmu. Soe berjarak sekitar 3,5 jam perjalanan dari Atambua. Kau mendapat tugas peliputan banjir di salah satu gunung di sana. Kau berangkat, dan menginap sehari lagi di Atambua.

Sore tadi kau baru berencana pulang ke Soe. Istrimu yang tengah hamil sembilan bulan anak pertama kalian, menunggu di rumah. Tapi kau tidak pernah sampai ke Soe, umurmu tuntas dalam perjalanan. Kecelakaan tunggal itu terjadi di Halikelen, Kecamatan Tasifeto Barat, kabupaten Belu sekitar pukul 19.00 Wita. Honda Mega Pro yang kau setir menabrak mobil yang sedang parkir. Kontrak hidupmu rampung saat itu juga.

Ingatan yang masih sangat segar ini langsung berputar mundur. Mengingat perjalanan darat yang kami-rombongan wartawan dari Jakarta tempuh. Dari Kupang menuju Atambua, melewati Soe. Jalannya memang sudah beraspal, mulus. Tetapi jalan menuju Atambua yang berada di perbukitan itu meliak-liuk, banyak kelokan tikungan, pemandangan kanan-kiri jalan lebih banyak hutan-hutan hijau lebat. Tak ada lampu penerang jalan. Gulita.

Pastilah kau kelelahan ya, kak. Letih di badanku saja saat ini masih belum reda. Tambah lagi kau yang harus kembali ke gunung, liputan banjir pula.
+
Aku ingat Kamis (4/7) saat kita tiba di Looluna. Kita sama-sama kaget dan mengaduh dingin. Looluna dingin luar biasa, pukul 7.30 Wita di sana, nampak seperti subuh hari. Awan dan kabut berlalu-lalang menabrak badan. Merekatkan hawa dingin yang bikin ngilu sampai ke syaraf dan tulang.

Karena buta medan liputan, kita berdua, juga teman-teman yang lain tidak bersiap diri baik-baik. Sama sekali tak pakai jaket tambahan, baju seadanya saja lekat di badan, Kau yang biasa liputan di daerah sana pun kaget, apalagi aku yang terbiasa dengan suhu menyengat Jakarta.

Kita meringis-ringis, menyiapkan peralatan masing-masing dalam gigil, sesekali mengepalkan tangan yang sudah memucat dan kaku saking dinginnya. Tapi rasa antusias kita berhasil melawan udara sedingin es yang terus mencakar-cakar. Senyum rekah di wajahmu.

“Kalau tidak sama Pertamina, mungkin saya juga tidak pernah ke sini. Jauh sekali tempatnya, dingin pula. Sudah perjalanan jauh, berita belum tentu pula naik tayang,” katamu dengan logat khas timur.

Aku mengiyakan pendapatmu. Desa Looluna memang jauh sekali. Jalanan tanah merah berbatu tajam, meliuk sampai ke atas bukit. Butuh perjalanan darat selama empat jam dari Atambua untuk sampai ke desa tak berlistrik dan jauh dari akses air bersih itu.

Sebelum beranjak memburu peristiwa, kau sempat berpesan padaku untuk lebih fokus mendengar dan mencerna kalimat yang diucapkan warga setempat.
“Orang sini bicara cepat-cepat. Kita harus dengar baik-baik supaya mengerti dia bicara apa. Satu lagi, mereka biasanya suka bicara terbalik-balik. Misalnya selamat pagi, kalau di sini jadinya pagi selamat,” ujarmu disusul tawa kami.
+
Di perjalanan pulang kita satu mobil lagi, bersama mas Novian anggota tim dari Pertamina pusat. Aku yang duduk di sebelah supir tak banyak bicara. Kepala pusing diguncang jalanan terjal, hawa dingin bikin oksigen yang dihirup juga tipis, belum lagi antimo yang kuminum sesaat sebelum berangkat membuat kehilangan selera untuk apa pun. Cuma ingin terlelap dan baru terbangun saat tiba di Hotel King Star di Atambua tempat kita menginap.

Setengah tidur, sayup aku menguping pembicaraanmu dan mas Novian. Kau bercerita betapa banyak tantangan saat menjalankan tugas peliputan di daerah perbatasan. Salah satunya ketika kau meliput di satu daerah pemekaran yang baru. Sependengaranku, kau lupa kalau daerah itu sudah dimekarkan. Keterangan di berita yang naik tayang itu adalah nama daerah sebelum dimekarkan.

Masyarakat setempat tidak terima, mereka naik pitam. Katamu mereka minta presenter yang membacakan beritanya untuk berhenti bekerja jadi presenter. Mereka juga meminta permintaan maaf ditayangkan tujuh hari berturut-turut di televisi. Kau berusaha menjelaskan kepada mereka, tapi direspon tutup telinga. Untunglah peristiwa itu berujung damai dengan campur tangan bupati setempat yang sudah kau kenal akrab karena sering meliputnya.

“Susah kita jelasinnya,” kau tertawa sembari mengacak2 rambut keritingmu.

Meliput di daerah, apalagi yang jauh terpencil, tidak selalu naik tayang. Kalau kontributor lain berharap beritanya bisa masuk headline supaya hasil liputannya banyak yang menonton, kau tidak demikian. Bagimu cukuplah berita itu tayang jam berapa pun, biar ada uang untuk hidup bulan ini.

“Mau tayang jam tiga pagi pun tak apa. Jangankan cuma sedikit orang yang menonton. Mau cuma kuntilanak pun yang nonton aku tidak masalah. Yang penting berita itu naik tayang,” katamu renyah, membungkus pahit kerja sebagai kontributor.
+
Dan tadi, ketika mbak Dewi menyampaikan kabar pedih kepergianmu. Aku baru saja ingat kenapa kau catat alamat email itu bersama pin blackberry. Kau minta dikirimi foto kita di puncak Desa Looluna kemarin itu. Aku menyesal setengah mati karena lupa ingatan dan tidak segera mengirimkan foto-foto itu ke emailmu. Maaf.

ini foto-foto yang tak pernah sempat kukirim padamu…😦
DSC_0202
DSC_0204
++++
Lakalantas, Kontributor “Metro TV” Meninggal Dunia

Penulis : Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere Senin, 8 Juli 2013 | 02:23 WIB

ATAMBUA, KOMPAS.com — Kontributor Metro TV untuk wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Handrianus Suni, mengalami kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) tunggal di Halikelen, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Minggu (7/7/2013), sekitar pukul 19.00 Wita usai meliput berita di wilayah Belu.

Informasi yang berhasil dihimpun Kompas.com menyebutkan, korban yang mengendarai sepeda motor jenis Honda Mega Pro melaju dari Atambua hendak ke Kefamenanu, TTU. Namun, saat berada di Halikelen atau tepatnya di kilometer 12 arah barat Atambua, korban yang tak mampu mengendalikan laju sepeda motornya akhirnya menabrak sebuah mobil yang sedang parkir.

Akibat tabrakan itu, Handrianus terjatuh, kepalanya membentur aspal hingga tewas di tempat. Warga sekitar lokasi yang melihat kejadian itu lantas membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Atambua.

Saat ini jenazah Handrianus sementara disemayamkan di rumah kakeknya di Nekafehan, kota Atambua, dan menurut rencana, jenazahnya akan diberangkatkan ke kediamannya di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, Senin (8/7/2013) sekitar pukul 7.00 Wita.

Handrianus meninggalkan seorang istri yang sedang sembilan bulan mengandung dan menunggu kelahiran anak pertamanya.
Editor : BNJ

3 thoughts on “Sedikit Catatan tentang almarhum Kaka Ari, Kontributor Metro TV di Atambua

  1. thanks banyak yang udah setia membaca dan mendoakan slalu, kekasih tercinta handrianus Suni< smoga yang terbaik di berrikan oleh Tuhan utj kita semua. amenm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s