Ketika Anak Miskin Kota Ikut Jambore

Ficer pertama yang dimuat di MI. Waktu itu masih jadi koresponden MI untuk daerah Sumatra Selatan🙂

Jumat, Media Indonesia 18 Juli 2008

MATAHARI belum terbit sepenuhnya. Wajah-wajah polos anak-anak jalanan miskin kota tampak bersemangat menyambut pagi. Hari itu mereka akan mengisi liburan dengan berkemah di daerah persawahan pinggir Kota Palembang, Sumatra Selatan. Kegiatan tersebut bertajuk Jambore Anak Miskin Kota.
Kebanyakan dari mereka putus sekolah. Kalaupun ada yang sekolah, mereka membiayai sendiri. Sepulang sekolah anak-anak itu bekerja mengumpulkan barang bekas atau mengamen.

Tempat yang mereka tuju adalah daerah persawahan di Jakabaring, Palembang. Kawasan itu masih hijau dan jarang penduduk, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota.

Kegiatan yang diprakarsai Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Food Not Bomb (FNB) ini memberi warna tersendiri bagi 45 anak tersebut. Sekaligus, juga mengawali rangkaian kegiatan JRMK dalam menyambut Hari Anak Nasional yang akan jatuh pada 23 Juli mendatang.

Selepas makan siang, mereka ber-long march menuju Graha Teknologi yang memerlukan waktu tempuh sekitar 15 menit dari tenda mereka. Anak-anak itu terkagum-kagum melihat berbagai benda hasil kemajuan teknologi.

Sugiyono, siswa kelas enam SD, anak pengemudi perahu getek, begitu takjub melihat kemampuan benda-benda yang ada di sana. Misalnya, alat yang dialiri listrik dan bikin rambut jadi berdiri. ”Saya mau rajin belajar supaya bisa bikin alat-alat yang lebih hebat dari itu,” ujarnya polos.
Sugiyono, tadinya tidak berniat melanjutkan sekolah, setelah tamat SD ini berubah pikiran dan ingin tetap sekolah karena tidak ingin tertinggal kemajuan zaman.

”Saya kira teknologi itu cuma komputer, ternyata banyak. Saya mau melanjutkan ke SMP, biarpun sepulang sekolah harus mencari barang-barang bekas buat bantu bayar uang sekolah,” ujarnya bersemangat.
Setelah alam pikiran anak-anak terbuka dengan kemajuan teknologi, hari kedua berkemah mereka berkenalan dengan lingkungan dan persawahan. ”Mereka memang harus mengenal pengetahuan modern, tapi mereka juga tidak boleh menjadi generasi yang lupa bahwa negaranya adalah negara agraris,” tukas Sri Utami dari JRMK.

Di udara pagi yang masih sejuk, anak-anak sudah berjalan menyusuri daerah persawahan yang hijau. Keceriaan dan rasa ingin tahu tampak di wajah mereka. Apalagi saat mereka mendengarkan cerita proses penanaman padi sampai menjadi nasi yang tersaji di piring mereka.

Setelah menyusuri sawah, anak-anak pun diajak untuk mengikuti outbond kid. Dengan melihat langsung dua sisi kehidupan yang berbeda, modern dan agraris, anak-anak diharapkan mendapatkan penyadaran betapa pentingnya kedua hal tersebut.

Anak-anak juga diharapkan akan termotivasi untuk belajar. Jangan sampai mereka mengulang sejarah orang tuanya yang miskin. Walaupun mungkin ke depan akan ada hambatan mengenai pendidikan, tapi daya kreatif dan kritisnya sudah terasah. ”Dengan niat dan semangat, mereka akan termotivasi untuk bisa hidup lebih baik,” tutur Utami.

Di akhir kegiatan, mereka duduk bersama dan saling mengungkapkan perasaan dan pikiran selama dua hari mengikuti kegiatan itu. Itu dilakukan sebelum akhirnya mereka berpisah dan harus kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa cerita dan semangat baru untuk tetap bertahan dalam kesulitan apa pun. Termasuk kemiskinan. (Nurulia Juwita Sari/N-3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s