Berebut Minyak Londo di Sumur Panjang

Peristiwa 2 Agustus 2008 selalu lekat di ingatan Kamari, 53. Halaman belakang rumahnya di desa Simpang Bayat, kecamatan Bayung Lencir, kabupaten Musi Banyuasin itu mendadak basah oleh cairan lengket hitam. Kepala Desa ini memanggil warga, meminta bantuan membersihkan leleran minyak hitam yang merusak tanamannya. Tapi tak ada satu pun yang berminat meski ia menawarkan bayaran. Sampai rumput dan tanamannya keburu terlanjur mati.

Baru beberapa bulan sesudahnya ia dan warga Simpang Bayat paham penyebabnya. Pipa minyak milik PT Elnusa, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang pecah membuat minyak mentah menyembur-nyembur dari dalam tanah.

Informasi ini ditangkap sebagai kabar baik oleh warga datangan dari daerah Prabumulih dan Sekayu. Hampir setahun mereka menggali-gali sumur tua peninggalan Belanda untuk mencari si emas hitam di daerah Bayung Lencir.
“Mereka berpengalaman menyuling minyak yang berproduksi dari sumur-sumur peninggalan Belanda. Pipa dibersihkan, lumpurnya dibuang sehingga terkumpul sisa-sisa minyak mentah, lalu disuling. Tapi tidak banyak, satu hari bisa tiga sampai lima drum,” tutur Kamari ditemui di rumahnya, Jumat (2/8).

Tindakan penggalian sumur tua ini legal. Bupati Musi Banyuasin saat itu, Alex Noerdin, menerbitkan Peraturan Daerah (perda) Nomor 26 Tahun 2007 yang mengizinkan pengelolaan sumur-sumur tua. Warga setempat akrab menyebutnya dengan menggali ‘minyak londo’.

Namun peristiwa pecahnya pipa minyak Elnusa di belakang rumah Kamari membuat para penyuling minyak tradisional ini beralih. Mereka merasa mendapat berkah, semburan minyak mentah itu mereka sebut bersumber dari ‘Sumur Panjang’.

“Mereka menengok sumur panjang yang tak pernah kering. Tidak perlu kerja susah, lebih gampang daripada gali-gali sumur tua. Awalnya tidak bertentangan dengan perda, kemudian berkembang jadi akal-akalan mencari duit.”

Para penyuling minyak datangan ini kemudian bekerja lebih serius memanfaatkan si sumur panjang. Mereka menyewa tanah-tanah perkebunan sawit warga setempat. Membangun ‘Kilang Tradisional’. Tanah-tanah digali, ditanam pipa yang mengaliri minyak mentah dari Sumur Panjang. Dengan pipa-pipa dan batu bata, mereka membuat tungku penyuling minyak. Saat ini jumlahnya berkembang hingga lebih dari 200 kilang tradisional. Satu kilang bisa mengolah minyak hingga 10 drum setiap harinya.

“Sejak 2009, boro-boro ada minyak tumpah. Kalau perlu dijilatin. Beda dengan 2008, mau minta tolong dan diupah pun tidak ada yang mau.”

Hasil olahan minyak mentah illegal ini, dijual ke daerah Lampung, Pekanbaru, Bangka, bahkan hingga menyebrang ke pulau Jawa. Minyak diangkut dengan mobil-mobil minibus agar tidak menarik perhatian.
“Pada dasarnya mereka takut ditangkap polisi di jalan. Tapi mereka berspekulasi, ah petugas bisa dilobi-lobi mungkin bisa lolos. Makanya tidak pernah kapok.”

Jalur pipa minyak Tempino-Plaju ini lama kemudian rusak dan tidak aman dioperasikan karena terlalu banyak mengalami kerusakan akibat aksi illegal tapping. Tugas mengaliri minyak kemudian diganti dengan jalur pipa yang baru, dikelola oleh PT Petragas, juga anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Pipa itu dioperasikan secara komersial 17 Juli 2013, setelah melalui masa pra dan commissioning sejak 9 Juli 2013.

Jalur pipa baru Tempino-Plaju dengan panjang aktual 260 km ditanam pada kedalaman 1,5-2 meter di bawah permukaan tanah. Kapasitas angkutnya 24.000 barel per hari, jalur pipa baru tersebut tadinya diharapkan dapat menghentikan aksi penjarahan minyak yang menghubungkan sekitar sembilan sumber minyak menuju Kilang Pertamina Refinery Unit III Plaju.

Tapi ternyata para penyuling minyak tetap mengendus dan mengejar si emas hitam. Jambi Field Manager Pertamina EP Wiko Migantoro mengungkapkan, pada periode Januari-Juli 2013, pencurian minyak mentah di pipa Tempino-Plaju telah mengakibatkan kerugian 279.000 barel. Bahkan pada 22 Juli 2013 pencurian minyak dalam satu hari mencapai 52.000 barel.

“Kerugian akibat pencurian minyak ini mencapai 1.400 barel per hari. Kami kehilangan 30 persen dari total minyak yang dialirkan,” keluhnya.

Para penyuling minyak tradisional selama ini berdalih, minyak yang mereka olah adalah minyak londo yang mereka olah dari sumur tua. Para penyuling kerap bertindak reaktif ketika ada orang yang mendekati ‘kilang’ mereka untuk mengecek kebenarannya. Mereka tak segan melawan dengan senjata, melukai siapa pun yang mendekati ‘kilang’.

Pertamina yang geram kemudian mengambil langkah tegas menyetop aliran minyak Tempino-Plaju sejak 25 Juli 2013. Sejalan dengan itu, seluruh aktivitas di ‘Kilang Tradisional’ itu pun berhenti. Penyusuran daerah Simpang Bayat pada Jumat (2/8), hanya memperlihatkan sisa-sisa kilang-kilangan yang ditinggalkan para penyuling. Tak ada tungku yang berasap karena memasak minyak. Drum-drum kosong bergeletakkan, Pipa-pipa kering tidak dialiri tetesan minyak. Entah minyak londo, atau minyak dari sumur panjang. (Wta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s