Laki-Laki Tua dan Pengeras Suara Musola

Aku jadi alergi mendengar adzan. Bukan, bukan adzannya. Tapi suara laki-laki tua yang mengumandangkan adzan di Musola Nurul Huda, 10 meter dari rumah kontrakan kami, di pemukiman padat penduduk di belakang Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta.

Setiap kumandang adzan, seharusnya jadi pemicu semangat untuk bersegera salat. Iya seharusnya begitu. Aku tentram damai saja kalau giliran orang lain yang mengumandangkan adzan. Tapi kalau laki-laki tua itu, rasa kesalku langsung tersulut, gondok, mangkel, sebel. Semuanya bercampur-campur, sulut-menyulut.

Aku tidak pernah bertemu laki-laki tua itu. Kami pasangan suami istri pekerja yang hampir tak punya waktu untuk bersosial, berbasa-basi dengan lingkungan. Rumah betul-betul kami jadikan tempat untuk beristirahat. Sudah cukup pekerjaan, dan kegilaan jalanan kota sinting ini menyita energi.

Aku hanya menduga laki-laki itu tua dari suara beratnya. Entah memang gaya bicaranya demikian atau dibuat-buat, suaranya yang berat kerap putus-putus macam orang tengah sekarat. Masalah sebenarnya bukan pada adzan, bukan pula pada caranya membawakan adzan. Tapi pada kebiasaan laki-laki tua itu setiap pagi buta. Setiap kira-kira jam tiga pagi, laki-laki tua itu sudah berangkat ke musola. Berteriak-teriak melalui pengeras suara, membangunkan warga, menyuruh salat subuh berjamaah di musola.

Dia berteriak dengan suaranya yang membentak-bentak.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, tetangga musola Nurul Huda, BANGUN..!!! BAAA……NGUN…!!! BAAA…NGUN…!!!! Sudah waktunya bersiap melaksanakan kewajiban ibadah salat subuh. Akan lebih berpahala kalau salat berjamaah di musola daripada salat di rumah.”

Gila! Suaranya sampai merasuk pada alam bawah sadar. Mendobrak lelap tidur setiap orang. Dan dia menambahkan pula kalimatnya.

“Waktu subuh menurut jadwal di musola Nurul Huda hari ini jam 4 lewat 10 menit. Jam 4 lewat 10 menit.”

Dia pun seharusnya tahu jam 4.10 itu masih lama! Buat kami, waktu yang ada sangat berharga untuk beristirahat. Aku pingin menggaruk mukanya. Seenaknya saja dia teriak-teriak membangunkan orang. Mungkin memang dia tidak punya pekerjaan apa-apa selain berangkat ke musola. Jadi buat dia, tak masalah bangun lebih awal di pagi buta. Berpahala.

Buat kami, keluarga pekerja, tindakan dia itu masalah besar. Apalagi kami bukan pekerja kantoran yang bekerja dari jam 09.00 WIB, pulang jam 17.00 WIB. Suamiku bekerja dalam tiga giliran waktu. Seminggu masuk pagi, kemudian siang, lalu malam. Berganti-ganti. Aku juga kadang kena kewajiban piket malam. Kalau sudah begitu, biasanya baru siap tidur jam setengah tiga pagi. Baru lelap sebentar, belum lagi penat di badan reda, si laki-laki tua itu sudah seenaknya menjerit-jerit pada pengeras suara membangunkan kami. Kurang cukup apa penderitaan atas kebisingan di jalanan Jakarta yang mengerikan. Laki-laki tua ini masih menambah-nambah lagi.

Lagipula, bukankah adzan sudah cukup sebagai pemanggil orang untuk sembahyang. Orang muslim di belahan dunia mana pun tahu itu. Buat yang berniat untuk salat berjamaah, akan bergegas siap-siap berangkat ke musola sejak beduk dipukul. Cukup waktu untuk cuci muka, berjalan ke musola yang jaraknya dekat. Tak mesti diteriaki sebelumnya.

Satu hari suamiku sedang lelah sekali. Kemarahannya menggumpal. Hampir saja dia betul-betul ke musola untuk memotong kabel pengeras suara. Aku bilang padanya, lebih baik keluhan disampaikan pada Pak RT. Kami lalu mengirim SMS keluhan ke Pak RT. Sehari dua tidak ada respon sama sekali. Laki-laki tua itu tetap menjerit setiap pagi buta. Suaranya terus mengganggu alam bawah sadar. Menimbulkan semacam alergi, antipati sejak deham pertamanya pada pengeras suara.

Hari ketiga tak berespon aku kesal bukan kepalang. Giliran menagih iuran, pro aktifnya setengah mati si Pak RT ini. SMS, telepon, gedor-gedor rumah macam kami punya hutang berjuta-juta. Giliran ada keluhan macam ini, tak ada reaksinya. Aku kirim pesan lagi padanya, menyatakan kekecewaan. Kubilang, kami akan bertindak menurut cara kami sendiri. Baru dia membalas, alasannya pesan baru dibaca. Dimintanya kami datang ke rumahnya. Aaaaah telat. Aku keburu gondok. Awas saja kalau dia pro aktif menagih-nagih iuran lagi. Sementara sekadar respon atau keluhan susahnya setengah mati. Aku tidak mau bayar iuran!

Kukirimkan keluhan pada Ahok, Wagub DKI Jakarta. Menanyakan apakah ada aturan penggunaan pengeras suara di musola dan masjid. Ia berjanji merespon. Meski entah kapan. Pekerjaannya tentu menumpuk.

Aku menatap suamiku dengan putus asa. “Kita benar-benar harus bersiap pindah dari sini,” kataku tanpa energi. Ia sepakat. Sementara ini, kami masih cuma bisa mengumpat dan menahankan pusing kepala setiap laki-laki tua itu kembali mengakrabi pengeras suara di musola Nurul Huda. Beruntung kalau penat sudah keterlaluan, sehingga tidur super lelap dan melewatkan jeritan paraunya.

Mungkin kami kalah, tapi setidaknya ada perlawanan. Setidaknya mereka tahu, bahwa ada yang tidak suka dengan tindakan mereka. Begitu kata suamiku.

**
Rumah Biru, 24 November 2013
Pagi panas, berisik, gerah, suasana hati berantakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s