Mengelola Waktu Memasak

Pelajaran kali ini didapat sewaktu kami berlibur di Bogor pekan lalu. Selama sepekan saya dan Guru Di melepaskan diri dari segala rutinitas, pekerjaan dan kebisingan di Rumah Biru, rumah kontrakan kami di Menteng Dalam, Jakarta. Menghabiskan waktu di rumah Ciapus, Bogor, untuk mencicil beres-beres barang sebelum pindah seutuhnya pada Mei nanti.

Pagi yang nikmat selama sepekan. Terbangun dari lelap dengan diselimuti kesejukan udara gunung, suara kicau burung dan serangga yang bersuka-cita di halaman rumah. Menyibak gorden dan membuka jendela kamar yang menghadap Gunung Salak. Dan sarapan di teras rumah sambil melihat ikan-ikan di kolam dan bunga teratai merah jambu yang rekah setiap pagi.

Tante Ela selalu menjadi penghuni rumah yang pertama kali bangun setiap paginya. Ia sudah bersibuk di dapur kira-kira pukul 04.00 WIB. Segala pekerjaan rumah tangga dimulai sejak ia mengerjapkan mata sebelum adzan subuh dan celetuk kokok ayam. Mulai dari beres-beres ruang tamu, mencuci piring, memasak, menyiapkan bekal anak-anaknya, mencuci pakaian, menyapu dan mengepel.

Padahal Tante bukan ibu pekerja. Ia ibu rumah tangga yang punya banyak waktu untuk mengerjakan semua pekerjaan domestik itu. Tapi Tante memilih merampungkannya sebelum pagi datang. Segala pekerjaan itu biasanya sudah rampung jam 07.00 WIB. Ketika saya baru turun dari kamar masih dengan muka bantal. Lantai sudah bersih, tak ada piring dan peralatan masak yang kotor di bak cuci piring, sarapan dan lauk-pauk untuk makan siang sudah siap di meja, dan pakaian yang baru dicuci sudah bertengger manis di jemuran.

Melihat rutinitas Tante, membuat saya mengaudit rutinitas diri sendiri. Saya tidak pernah bangun sepagi itu. Kesibukan pagi di dapur biasanya hanya untuk menyiapkan sarapan saja. Untuk makan siang dan makan malam, saya baru mulai memasak sesudah sarapan rampung. Kadang-kadang juga lebih siang. Sehingga Guru Di tidak sempat membawa bekal makan siangnya. Guru Di terpaksa mencuri waktu untuk pulang saat jam makan siang supaya kami bisa makan siang bersama. Atau saya mampir ke kantornya untuk mengantarkan bekal makan siang. Kalau kebetulan ada tugas liputan pagi, maka saya memutuskan tidak akan memasak.

Betapa tidak efisiennya pengelolaan waktu saya. Kalau dipikir-pikir, manajemen waktu yang berantakan itu malah meletihkan diri sendiri, juga Guru Di yang jadi harus makan diburu waktu kalau harus pulang ke rumah. Atau saya yang mesti ke kantor Guru Di dulu sebelum berangkat liputan. Banyak waktu yang terbuang tanpa manfaat.

Selepas libur, saat kembali pada rutinitas di Rumah Biru, dengan tekad sungguh-sungguh perubahan pengelolaan waktu pun dimulai. Saya belum bisa bangun sepagi Tante, tapi rutinitas memasak sudah bisa dimulai sejak subuh. Menu dan rencana memasak sudah disusun sejak malam sebelum tidur.

Hari pertama hasilnya: gagal. Karena memasak benar-benar baru dimulai pagi itu. Saya masih agak kerepotan. Repot melawan kebiasaan yang terpelihara sebelumnya hehehe… Saya jadi tak sempat sarapan bersama Guru Di karena masih repot bolak-balik ke dapur. Guru Di harus berangkat pukul 09.00 WIB.

Hari kedua, karena masih belum terbiasa saya sampai lupa memasak nasi. Walaupun catatan waktu memasak lebih baik, tapi bekal makan siang Guru Di terpaksa dengan nasi seadanya karena nasi yang baru ditanak belum lagi matang. Heuheu….

Hari ketiga, manajemen memasak diubah. Malam hari sesudah aktivitas pekerjaan rampung, sambil beristirahat dan menonton televisi saya mulai memotong-motong sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak besok paginya. Sayuran yang sudah dipotong dicuci bersih dan disimpan di dalam kulkas. Selain itu, segala peralatan masak yang akan digunakan besok dipastikan sudah dicuci bersih.

Nah ini lumayan lebih baik. Bangun pagi tinggal hidupkan kompor dan langsung eksekusi. Hari ini menunya ikan tenggiri masak lempah kuning-masakan khas Bangka, sayur capcay dan tempe bacem. Untuk sarapan, lagi eksperimen bola-bola mie resep dari Dapur Umami. Rampung lebih cepat dong! Jam delapan pagi sudah duduk manis sarapan bareng Guru Di. Urusan cuci piring pun sudah selesai.

Tapi catatan waktu ini masih harus terus diperbaiki. Kalau masaknya sudah sukses, bisa ditambah sambil cuci-cuci baju dan lainnya. Harus berlatih membiasakan diri setiap pagi. Ini proses belajar sebelum nanti kami menetap di Bogor. Kami tentu harus berangkat kerja lebih pagi mengingat jarak yang ditempuh lebih jauh. Segala urusan rumah pun tentu harus dirampungkan lebih awal. Semangat, En.

Rumah Biru
Siang mendung (agak tenang) 12 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s