Bumi–Waktu Ibu Pulang Naik Kereta

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh.., lewati rintang untuk aku anakmu…,” sepenggal lagu Iwan Fals itu dinyanyikan parau oleh dua pengamen yang baru naik ke bus paling sinting di Jakarta, Kopaja P16. Sialnya, Nak, Ibumu menjadi salah satu penumpang ketakutan di dalam bus ugal-ugalan yang sudah banyak mengunyah nyawa orang.

Dua kardus indomie, paket lebaran susulan dari kantor yang Ibu terima penuh syukur, sudah diikat tali rapia. Ibu letakkan di depan ibu, di depan kursi paling belakang agar lebih mudah diawasi. Tangan kiri Ibu memeluk ransel berat yang dijejali berliter-liter minyak goreng dan setoples kue, juga bingkisan lebaran dari kantor. Tangan kanan Ibu memegang erat-erat besi di jendela, agar tidak terjerembab ketika supir kopaja ini menginjak rem dan gas sesukanya. Rasa mual dan pusing karena laju bus tak karuan, Ibu tahan-tahankan.

Lalu sampailah bus mengerikan ini pada tempat penghentian terakhirnya di Tahan Abang. Tepat di depan Museum Tekstil. Ah Ibu harus hemat tenaga. Hari ini tak ada Ayahmu yang biasanya membantu membawakan barang bawaan Ibu. Daripada berjalan kaki, lebih baik naik ojek ke stasiun kereta. Ongkos Rp10.000 berhasil Ibu tawar jadi Rp7.000.

Nah, stasiun! Dengan semangat, Ibu menaikki tangga-tangga boncel stasiun kereta Tanah Abang. Menggedong tas ransel penuh minyak goreng dan menenteng dua kardus Indomie. Berjalan secepat-cepatnya, menuju kereta yang telah menunggu. Ibu tidak boleh ketinggalan kereta. Ibu ingin secepatnya bisa sampai ke rumah, memeluk dan menciummu penuh sayang.

Kereta penuh sekali. Tentu saja, karena sekarang jam 17.00 WIB. Waktunya orang-orang pulang bekerja, sama seperti Ibumu. Ibu terpaksa berdiri, karena semua kursi sudah penuh. Kardus Indomie dan tas yang berat itu, susah payah Ibu naikkan pada rak di atas kursi penumpang.

Dan melajulah kereta yang padat ini menuju Bogor. Pendingin ruangan di gerbong tempat Ibu berdiri ternyata mati. Hanya ada sebulat kipas angin berkarat yang berputar-putar putus asa.. Satu-dua stasiun kami masih bertahan. Keringat sudah berbutir-butir menetes. Saling menarik napas berebut oksigen yang cuma sedikit. Seorang bayi perempuan menangis kegerahan di dada Ibunya. Sampai stasiun ke-3, seorang lelaki membuka jendela di depan Ibu. Alhamdulillah, udara!. Penumpang-penumpang pun tersenyum, berterima kasih kepada laki-laki yang baik itu. Penumpang lain pun ikut membuka jendela-jendela gerbong yang lain agar udara segar bisa masuk.

Tangan Ibu menggenggam kuat-kuat besi di atas kursi penumpang untuk menjaga keseimbangan. Pura-pura tidak merasakan segala kesumpekan dan letihnya berdiri berdesakkan. Mengalihkan pikiran kepadamu. Sesekali Ibu menengadah ke rak barang. Memastikan tas dan kardus Indomie masih ada. Di kereta ini banyak sekali pencuri. Tempo hari saja di kereta jurusan yang sama, seorang bapak yang duduk di sebelah Ibu kehilangan tas ransel yang ia letakkan di rak barang. Padahal dia tidak tidur, dia sedang mengaji.

Ada rasa kosong karena hari ini Ibu harus pulang sendirian, tanpa ayahmu. Kalau pulang berkereta berdua ayahmu, walau kereta penuh sesak dan harus berdiri berjam-jam, tentu tak terlalu terasa letih. Karena ada teman mengobrol sepanjang perjalanan.

Tapi sebenarnya ada rasa tenang juga, karena seharian ini ayah menemanimu di rumah. Ayah izin tidak bekerja karena sedang kurang sehat. Semoga dengan istirahat seharian dan bersamamu, Ayah bisa lekas sembuh ya, Bumi.

Di Stasiun Pondok Cina, setelah hampir satu jam berdiri, barulah ibu mendapat tempat duduk. Hanya keberuntungan, karena yang duduk di depan ibu turun. Kereta masih penuh. Bau keringat dan aroma letih masih menguar. Wajah-wajah penumpang terlihat lelah, kusut, tanpa semangat. Menanti Magrib datang, menuntaskan kewajiban puasa hari itu.

Kereta hari itu rupanya padat sampai ke pemberhentian terakhirnya di Bogor. Penumpang-penumpang turun meninggalkan stasiun penuh syukur. Perjalanan pulang Ibu belum selesai, Nak. Masih harus naik motor lagi untuk bisa sampai ke rumah.

Dua kardus indomie yang sudah diikat tadi, Ibu letakkan di bagian depan motor yang Ibu parkir di stasiun. Diapit dengan kedua kaki agar seimbang dan tidak oleng terjatuh. Tas ransel berat tadi disandang di bahu. Dan melajulah Ibu, menyetir motor menuju rumah. Dengan letupan perasaan tak sabar ingin lekas sampai, memelukmu dan ayahmu. Membacakan cerita Toto Chan kesukaanmu. Mengantarmu lelap dalam mimpi kanak-kanak yang gembira.

Semoga perjalanan pulang Ibu lancar ya, Bumi. Maafkan Ibu tidak bisa menemani tumbuh kembangmu selama dua puluh empat jam. Dengan berat hati merelakan separuh waktumu bersama Enin atau mungkin nanti Awi. Tapi Ibu sedang memaku cita-cita itu: bisa berhenti bekerja dan mengurus, merawatmu, menemanimu menikmati masa kanak-kanak. Semoga bisa lekas terwujud ya. Sementara ini, kita harus saling menguat-nguatkan hati dulu…*

Kereta Commuter Line Tanah Abang-Bogor, akhir Ramadan 24 Juli 2014.

——–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s