Bumi–Sedang Tak Berselera Menulis

Ibu ada di Stasiun Gondangdia, menumpang mobil Metro TV dari kantor. Ayahmu sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Bogor. Semoga kami berdua bisa segera sampai di rumah ya, Nak. Cepet sehat ya, Bumi. Besok kita ke dokter Satyawati ya. Ibu tidak tenang bekerja di kantor, meninggalkanmu di rumah. Rasanya Ibu ingin berhenti bekerja sekarang juga. Seharian saja di rumah menjaga dan merawatmu. Betapa berat pergulatan hati ini. Menguras tenaga, pikiran dan segalanya. Biarlah besok Ibu masuk bekerja malam. Biar bisa menjagamu dulu dan mengantarmu ke dokter. Cepat sehat ya, Nak. Biar ceria lagi. Ibu kangen tawamu dan obrol-obrol kita berdua, atau bertiga ayah. Kami mencintaimu. *

Stasiun Gondangdia, 5 Agustus 2014
Ayo kereta, cepatlah datang!

Sastrawan Paling Produktif

Bumi Manusia telah menjadi tunas jauh sebelum Pramoedya Ananta Toer menjalani pembuangan sebagai tahanan politik di Pulau Buru (Agustus 1969-November 1979). Seperti dituturkan Pram dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (catatan harian dan pemikiran Pram selama menjadi tahanan), materi buku Bumi Manusia dan rangkaiannya telah ia kumpulan dari studi sebelum ditahan. Ia menulis berdasarkan bahan-bahan yang masih melekat di ingatan. “Karena berdasarkan ingatan semata tentu banyak kekurangannya,” ujar Pram dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Pram ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangannya yang dinilai prokomunis. Larangan menulis yang diikat kepadanya selama menjalani masa pembuangan di Buru, tidak menghalangi Pram untuk terus menulis. Dalam ketiadaan kertas dan pena, buku pertama dari serangkaian roman empat jilid (tetralogi) ini lahir melalui catatan rapi yang ditulis di kepala pria yang lahir di Blora, 6 Februari 1925 ini.

Kisah Nyai Ontosoroh dan Minke yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan, telah diceritakan Pram secara lisan kepada teman-teman sesama tahanan di Unit III Wanayasa di pulau pembuangan Buru pada 1973. Kisah ini baru berwujud buku dua tahun kemudian, pada 1975 diterbitkan oleh Hasta Mitra.

Tetralogi ini adalah satu kesatuan yang setiap jilidnya dapat berdiri sendiri. Setelah Bumi Manusia, buku lanjutannya adalah Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan ditutup dengan Rumah Kaca. Kisahnya melingkupi masa kejadian 1898 sampai 1918, masa periode Kebangkitan Nasional. Masa yang hampir tak pernah dijamah sastra Indonesia, masa awal masuknya pengaruh pemikiran rasional, awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern. Juga berarti awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis. Di luar negeri, karya ini dikenal sebagai The Buru Quartet.

Kritik tajam pada ketidakadilan dan gelora keberanian yang ia letupkan dalam setiap tulisannya, menyeret Pram yang bekerja sebagai pengarang menjalani masa tahanan selama 14 tahun. Karya-karyanya dimusnahkan, dilarang beredar, koleksi-koleksi buku dan catatan pribadinya dibakar habis jadi abu. Tuduhan yang ditujukkan kepadanya tidak pernah jelas. Ia tidak pernah diadili sampai akhirnya dibebaskan pada 21 Desember 1979. Setelah itu ia masih dikenai tahanan rumah dan wajib lapor selama bertahun-tahun.

Pramoedya Ananta Toer termasuk salah satu penulis sastra terbaik Indonesia. Ia juga paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Lebih dari 50 karya telah lahir dari tangannya, dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Melalui goresan karya-karyanya itulah Pram dikenal dan disegani dunia.

Semasa hidupnya, Pram telah memenangkan berbagai penghargaan tingkat dunia. Ia telah dipertimbangkan untuk mendapat Nobel Sastra. Ia memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000. Pada 2004, Norwegian Authors’ Union Award memberi penghargaan kepada Pram atas sumbangannya pada sastra dunia. Pada 1999, ia mendapat gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan. (Wta)

Dimuat di Media Indonesia, Minggu 11 Agustus 2014. (44 buku yang membawa perubahan dan mengubah Indonesia).

Kesetaraan Harus Diraih dengan Keberanian

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri (39).” Sepenggal kalimat itu terdengar akrab di telinga karena kerap dikutip dalam kehidupan sehari-hari. Letupan api keberanian itu hanyalah satu dari sekian pemikiran Pramoedya Ananta Toer yang terekam dalam roman fenomenal Bumi Manusia.

Kalimat itu telah sering dicuplik dan menginspirasi banyak orang. Tidak hanya bagi para pembaca bukunya, bahkan orang-orang yang belum membaca karyanya pun akrab dengan sepenggal kalimat itu. Lewat Bumi Manusia, Pram dengan kuat menyampaikan semangat untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hal itu sejalan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat. Karena pada akhirnya, setiap orang harus berusaha dengan pikiran, tangan dan kakinya sendiri. Bukan bergantung pada ras, kebangsawanan, suku atau harta benda.

Buku pertama dari Tetralogi Buru ini merupakan novel semi-fiksi berlatar belakang sejarah pada masa Kebangkitan Nasional. Tetralogi tersebut terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sesaat setelah penerbitannya, keempat novel tersebut langsung dilarang beredar oleh pemerintah. Pemerintah menganggap novel-novel karangan Pram itu mempropagandakan ajaran-ajaan Marxisme-Leninisme dan komunisme. Padahal, tak sedikit pun hal-hal itu disebutkan dalam buku-bukunya.

Semifiksi
Novel Bumi Manusia ini disebut semifiksi karena Minke sebagai tokoh utamanya, merupakan pantulan karakter dan pengalaman RM Tirto Adisuryo, tokoh pers and tokoh kebangkitan nasional yang juga dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia.

Tokoh Minke, merupakan realisasi dari keinginan Pram untuk mendudukkan semua manusia dalam kesetaraan. Minke yang berdarah biru berpendapat bahwa kebangsawanan hanya bisa merendahkan orang lain.

Adapun pada masa itu, status kebangsawanan sangat dijunjung tinggi dan dibangga-banggakan. Sehingga banyak bangsawan yang memanfaatkan darah biru yang melekat padanya untuk kepentingan pribadi. Misalnya, mewariskan jabatan sebagai pejabat daerah kepada anaknya. Sebaliknya Minke, menolak tegas bergantung pada darah kebangsawanan yang ditetesi dari orang tuanya.

Tokoh lain berkarakter kuat yang dikisahkan Pram adalah sosok Nyai Ontosoroh. Istri siri seorang Belanda yang tidak sekolahan. Tetapi pikirannya cerdas cemerlang, mandiri, dan berani. Seorang Nyai yang dianggap rendah derajat dan kesusilaannya, ternyata mempunyai kualitas diri yang lebih baik dari wanita pribumi terpelajar dan terhormat di masa itu. Melalui Nyai Ontosoroh Pram ingin menunjukkan, kesetaraan harus diraih dengan keberanian.

Lihat saja pada kalimat penutup getir, ketika Nyai Ontosoroh dan Minke yang tidak berdaya, harus kehilangan Annelis yang diasingkan ke Belanda. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.(535).

Bumi Manusia merupakan perwujudan cita-cita Pram yang telah ditanamnya sejak lama. Pram menapaki proses panjang untuk merealisasikannya. Bahan-bahan tulisan untuk Bumi Manusia, telah ia kumpulkan sejak sebelum 1965. Seperti yang dikemukakan Pram dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, ia menghimpun bahan otentik, wawancara, membaca, menyiarkan bahan-bahan yang didapat melalui pers untuk mendapatkan perbaikan dan tambahan dengan biaya yang tidak sedikit dari kantongnya sendiri.

Niat itu dikuatkannya pada tahun 1965, saat ia berumur 40 tahun. Namun pada umur tersebut ia justru dijebloskan ke penjara. “Jadi aku tunda menulis novel sambil melatih diri untuk mengingat dan menggapai-gapai dalam kegelapan.” (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, 119).

Namun Pram bisa lega, karena mesti tersendat lama akhirnya Tetralogi Buru bisa terwujud. Seperti cita-cita yang sudah terpaku dan diniatkan dalam batinnya, “Aku ingin menulis sebuah roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman,” ujar Pram dalam catatan hariannya.

Buku Bumi Manusia sendiri dalam riwayatnya pernah diterbitkan dalam 34 bahasa. (Wta/M-2)

Diterbitkan di harian Media Indonesia, Minggu 10 Agustus 2014 (hari si kecil Bumi pulang dari rumah sakit setelah dirawat empat hari).

Krisis Dua Profesi

Dicuplik dari opini Ashadi Siregar di Kompas, Senin 11 Agustus 2014

Dua profesi, jurnalis dan peneliti, pada dasarnya memiliki kesamaan episteme, yaitu obyektivitas. Jika pengabaian obyektivitas dianggap enteng, publik dihadapkan situasi krisis sebab dua profesi yang berbasis kepercayaan (credibility) dibiarkan bobrok.

Yang abadi bagi media jurnalisme dan lembaga penelitian adalah kepercayaan publik. Kepentingan pragmatis mungkin menguntungkan jangka pendek, tetapi kehilangan kepercayaan memerlukan upaya panjang membangun ulang hubungan organis dengan publik luas.

Partisanship oleh media biasa terjadi. Namun keberpihakan ini bersifat gradual, tidak absolut. Biasanya karena mendukung gagasan tertentu yang berkesusaian dengan visi media. Dukungan pada gagasan diikuti simpati, tecermin dari pemberitaan tentang kandidat bersangkutan. Namun bukan berarti menutup sama sekali peluang pemberitaan atas kandidat lain.

Krisis dalam kerja jurnalisme yang tampak dalam Pilpres 2014 lebih dari partisanship yang biasa dikenal. Belum pernah dunia jurnalisme semabuk sekarang. Media pers dijalankan tanpa rikuh sebagai partisan dengan berpihak secara mutlak kepada kontestan politik. Keberpihakan ini di satu sisi dengan memberi tempat total kepada yang dipihaki, di sisi lain tak memberi tempat ke kompetitor. Atau kalau memberitakan kompetitor secara tendensius bersifat negatif, tanpa narasumber dari pihak yang diberitakan. Karena itu, disebut kampanye gelap. Asas keseimbangan dan ketidakberpihakan yang jadi ciri netralitas dalam kerja jurnalisme tak lagi dihormati.

Bumi–Selamat Jalan Nyai…

Alhamdulillah.., akhirnya kau bisa tidur nyenyak juga setelah semalam hanya tidur dua jam. Lekas sembuh ya, Nak. Biar bersih napasmu.. Lega…

Untuk kesehatanmu.., nanti ibu ceritakan dalam episode lain. Kali ini, sambil menemanimu yang tidur nemplok di pelukkan Ibu, akan Ibu ceritakan tentang Nyai. Mama ayahmu.

Nyai berpulang pada hari baik. 2 Agustus 2014. Enam hari setelah lebaran. Setelah tuntas bermaafan dengan keluarga, sanak saudara, tetangga, sahabat-sahabat, dan kerabat lainnya. Hari itu, jam 01.16 WIB, Ayah menelepon mengabari kita.

“Mama sudah nggak ada…” Kata ayahmu datar. Kami berdua kemudian terdiam. Hening yang kosong. Waktu seperti ikut berhenti berdetak bersama perginya Nyai..

Untunglah ayahmu masih sempat bertemu, dan menemani Nyai di saat-saat penghabisan waktunya. Ayah berangkat ke Bandung 1 Agustus 2014, naik travel Cipaganti jam 20.30 WIB. Dari Bogor ke Bandung.

Segera setelah mendapat kabar dari Kyai kalau kondisi Nyai kritis. Ayah langsung ke rumah sakit Bromeus tempat Nyai dirawat. Sampai di sana pukul 00.30 WIB, setengah jam lebih sebelum Nyai wafat..

Kita berdua tidak bisa ikut ayah. Waktu kabar dari Kyai datang, Ibu masih di kereta, perjalanan pulang kerja dari Kedoya, Jakarta. Kereta dari Manggarai lama sekali datang. Bikin Ibu tertahan lama di perjalanan. Lagi pula, kondisimu sedang tidak terlalu baik. Tak sampai hati rasanya membawamu dalam perjalanan jauh.

Saat ayahmu sampai di kamar Maria 2209, Nyai sudah tidak sadar. Kata Ayah, Nyai tertidur setelah mengobrol dengan Wa Umi dan Wa Upi yang tiba lebih dulu, pukul 22.00 WIB. Mereka tinggal di Jakarta. Dalam tidurnya itu, kondisi Nyai terus melemah. Beberapa menit sekali para dokter ahli datang ke kamar Nyai untuk memeriksa kondisinya. Berbagai obat dimasukkan ke dalam infus untuk memacu hidupnya. Tapi, Nak, Bumi, badan Nyai tidak merespon segala upaya dokter itu…

Para dokter kemudian meminta persetujuan Ayah, Wa Bunda dan Wa Ayah yang sedang menunggui Nyai untuk memompa jantung Nyai secara manual. Di depan mata ayahmu, Nak, dada Nyai ditekan secara bergantian oleh tiga dokter. Namun tak ada tunas harapan. Sampai dokter mengecek denyut di leher Nyai. Sudah berhenti. Nyai kesayangan kita semua sudah berpulang ke rumah Allah.

Ada lega hati juga.., karena kita bertiga sempat menuntaskan keinginan terakhir Nyai untuk berlebaran di Bandung. Nyai ngotot sekali ingin kita ke Bandung. Terutama bertemu ayahmu, anak bungsu kesayangannya. Anak laki-laki satu-satunya.

Ibu bingung bagaimana memenuhi keinginan Nyai. Niat untuk berlebaran di Bandung sudah ada sejak awal puasa. Rencana itu sudah Ayah Ibu tuliskan dalam agenda di ingatan. Kami sudah membeli dua toples kue lebaran untuk oleh-oleh. Ada juga kemplang anggur mentah khas Palembang kesukaan Nyai. Segala oleh-oleh itu sudah kami susun di dalam sebuah kotak kardus.

Tapi ternyata, jatah libur lebaran di kantor Ibu tak sebanyak ayahmu. Ayahmu dapat libur seminggu. Ibu hanya tiga hari. Sehari sebelum lebaran sampai hari kedua lebaran. Bagaimana mengatur waktunya. Lebaran pertama saja kita harus di Bogor bersama Enin dan Atok yang datang dari Palembang untuk kita. Tentu tak sampai hati kita meninggalkan mereka berdua…

Lalu sisa satu hari di lebaran kedua saja. Ibu bingung, apakah harus membawamu yang baru dua bulan pulang pergi Bandung-Bogor dalam sehari. Kau masih terlalu rapuh, Bumi. Ibu sendiri sedang dalam kondisi tidak seratus persen, masih lemas karena pendarahan yang tak habis-habis. Bagaimana ini.. Ayah berusaha sebisanya mencari tiket travel, tapi tak dapat juga.

Tapi Allah memberi jalan dengan caranya. Atok Fuad dan Tante Renny (yang tidak mau dipanggil nenek), adik Atok, meminjamkan mobil Avanza-nya kepada kita. Lebaran hari pertama itu juga, Atok dan Enin mengajak kita berangkat ke Bandung.

Perjalanan tersendat oleh macet, Atok yang menyetir sempat menabrak mobil dan ribut-ribut sedikit di pinggir jalan. Akhirnya kemudi diambil alih ayahmu. Dengan segala rintang itu, kita baru sampai di Bandung jam 20.00 WIB. Masih nyata, Nak, tergambar wajah gembira Nyai dan Kyai menyambut kedatangan kita. Nyai yang membukakan pintu. Sementara Kyai duduk menunggu di ruang tamu. Kyai tak kuat berdiri terlalu lama.

Hari itu adalah perjumpaan pertamamu dengan Kyai. Ibu langsung menyerahkanmu pada Kyai. Dengan penuh sayang Kyai menggendongmu. Kyai mengamati wajahmu lekat-lekat. Putih bersih, mirip ayahmu. Saking miripnya dengan ayahmu, Nyai suka memanggilmu Anda, nama panggilan ayahmu.

“Anda, mau susu? Anda junior ini. Mirip nian,” kata Nyai waktu menggendongmu. Kata Nyai, berat badanmu sudah terasa bertambah banyak. Nyai bilang tak kuat lagi menggendongmu terlalu lama. Tangannya sakit. Nyai senang melihatmu tumbuh sehat, dan jangkung. Betul-betul mirip ayahmu.

Pada pertemuan terakhir kita dengan Nyai itu, Nak, Bumi, Nyai masih kelihatan sehat, gagah. Masih kular-kilir ke dapur, masih cerewet mengobrol. Dengan manja Ibu mengadu pada Nyai, kita semua lapar. Belum makan dari siang karena semua tempat pemberhentian makan di jalan tol penuh.

Sigap Nyai mengajak Awi menyiapkan makan untuk kita. “Cuma ado lontong dak apo-apo? Apo nak nasi? Kalu nasi harus masak dulu,” kata Nyai sambil membereskan ini-itu di dapur. Ibu bilang tak apa-apa lontong ketupat. Apa saja boleh.

Dengan cekatan Nyai menyiapkan lontong ketupat, opor ayam, sayur buncis dan sambal. Nyai meminta Awi menggoreng pempek. Segala toples kue di ruang tamu dibuka tutupnya. Ibu, Enin dan Atok dibuatkan teh manis hangat. Obrolan Ibu dengan Nyai hanya sepotong-sepotong. Ah andai tahu itu kesempatan terakhir bertemu Nyai… Ibu akan mengobrol banyak-banyak. Nyai sangat senang kalau ditemani mengobrol. Nyai suka bercerita apa saja…

“Wita, maaf.. Mama idak buat tekwan. Dak sempet. Taun ini jugo uwong nak mesen pempek Mama tolak. Dak sanggup lagi gaweke nyo…,” kata Nyai penuh rasa bersalah. Pempek buatan Nyai nomor satu enaknya. Waktu Ayah-Ibu menikah saja, Nyai membuat pempek banyak sekali untuk disuguhkan pada tamu. Sebentar saja pempek sudah ludes. Banyak yang tak kebagian.

Nyai tau betul, Ibu senang sekali makan tekwan buatan Nyai. Biasanya, setiap Ibu dan Ayah ke Bandung, Nyai sudah menyiapkan tekwan. Bahkan waktu Nyai ke Jakarta, menginap di rumah kontrakan Ayah dan Ibu, khusus membawa tekwan dari Bandung. Kuahnya dibuatkan Awi di sana.

“Nggak apa-apa Mama..,” kata Ibu. Ibu tau kondisi Nyai sudah tidak seprima dulu. Sebelum puasa datang, ada miom terdeteksi di rahim Nyai. Rahim Nyai harus diangkat. Tapi Nyai kelihatan agak takut, ragu-ragu. Nyai mengulur waktu, ingin puasa ramadan dulu katanya. Kita semua mengkhawatirkan kondisi Nyai.., tapi kita tidak bisa terlalu mendesak dan memaksa Nyai….

Malam itu, waktu bertiga dengan Awi dan Nyai di dapur, Ibu sempat curhat. Bingung bagaimana nasibmu kalau Atok dan Enin pulang ke Palembang. Ibu harus bekerja dan tidak bisa seharian bersamamu. Kata Nyai, sebaiknya Bubu tinggal di Bandung saja. Biar Nyai yang menjaga. Ah, Bumi, begitu sayangnya Nyai, Kyai dan Awi kepadamu. Sama besarnya dengan rasa sayang Atok dan Enin kepadamu.

Dan besoknya, hati seberat batu rasanya untuk pulang. Pertemuan hangat ini baru terasa sebentar. Tapi besok Ibu harus bekerja, tak bisa berlama-lama. Kita juga masih harus ke Cianjur, untuk bertemu Uu, Eyang Buyutmu. Dalam hati Ibu niatkan kuat-kuat, untuk mengatur waktu cuti bersama Ayah, supaya kita bisa di Bandung lebih lama.

Pagi-pagi Nyai dan Awi sudah bersibuk lagi. Menyiapkan ayam goreng dan sambal untuk bekal kita di perjalanan. Setoples kacang dan pempek yang enak itu. Serta menyiapkan sarapan untuk kita sebelum berangkat pulang ke Bogor.

Sebelum pulang, Nyai meminta kita mampir sebentar ke rumah sahabatnya yang masih tinggal berdekatan. Ayahmu memanggilnya Om dan Tante Yayat. Mereka ingin melihatmu, bertemu denganmu, Nak. Nyai berdandan rapi sekali. Nyai memang selalu apik, modis berdandan. Tapi hari itu Nyai kelihatan lebih cantik. Pakai baju terusan merah marun dengan bunga-bunga mawar yang melingkari bajunya, serta kerudung warna senada. Ibu lekat-lekat memandang Nyai. Nyai betul-betul kelihatan cantik. Sayang pujian itu tidak sempat terlontarkan. Hanya berdecap dalam hati Ibu.

Setelah dari rumah Om dan Tante Yayat. Kita melanjutkan perjalanan pulang. Nyai tidak ikut naik mobil. Pulang berjalan kaki saja katanya, dekat. Dari dalam mobil, dengan kaca jendela yang tak dibuka, kita melambaikan tangan tanda perpisahan. Ternyata, Nak, itu menjadi lambaian tangan perpisahan yang sesungguhnya. Besoknya Nyai dibawa ke rumah sakit Bromeus. Bukan karena miom, tapi sakit jantung dan berbagai komplikasi yang membawa Nyai pada masa kritis. Nyai betul-betul pergi selamanya…

Mari kita berdoa, Nak, Bumi, supaya Nyai damai dalam tidur panjangnya. Diberikan tempat yang baik, dipeluk Allah dalam cintaNya. Kita semua sayang Nyai, kita harus ikhlaskan kepergiannya..

Ah, mata Ibu basah lagi. Masih terlalu sedih pada perpisahan mendadak ini. Maaf… sampai air mata Ibu jatuh menetes di kepalamu. Untung kau tidak sampai terbangun. Kau butuh tidur, banyak istirahat. Baiklah Bumi, cerita tentang Nyai nanti kita sambung lagi. Lain waktu Ibu akan ceritakan tentang Nyai yang pemberani dan sangat sayang padamu. Cepat sehat ya, Nak. Tidurlah yang lelap. Mari kita juga doakan Ayah supaya tegar dan sehat-sehat di sana. Ayah harus membereskan banyak hal dan menemani Kyai dalam dukanya yang dalam. Kita berdua harus baik-baik dan bersabar di sini, menunggu Ayah kesayangan kita pulang. *

Ciapus, 3 Agustus 2014. Kamar Enin, sambil mendekap Bumi.
——–

Bumi–Satu Sore di Perempatan Lampu Merah

Sudah jam 17.00 WIB sekarang. Ibu ada di angkot M11, rute Srengseng-Tanah Abang. Perjalanan pulang dengan angkot biru muda ini memang lebih lambat. Sebelumnya Ibu harus naik angkot lain dulu dari kantor untuk sampai ke Srengseng. Bisa C03 butut yang berwarna kuning-putih. Atau angkot 09 yang merah.

Meski rutenya lebih jauh, tapi rasanya lebih nyaman, santai, ketimbang naik kopaja P16 yang menggila itu. Buktinya sekarang Ibu bisa sambil menulis untukmu. Mumpung duduk di bangku depan, sebelah supir. Jadi lebih leluasa menulis.

Nah, Bumi. Sembari angkot ini ngetem di pertigaan jalan Syahdan, Ibu akan bercerita lagi kepadamu. Kali ini tentang perjalanan pulang Ibu kemarin. Masih dengan bus kopaja.

Sopir kopaja yang Ibu tumpangi kemarin sudah menyetir seperti kesetanan sejak Ibu naik. Sampai di satu perempatan lampu merah, si supir sedang malas untuk mematuhi peraturan. Ia ingin menerabas lampu merah yang dianggap mengganggu perjalanannya.

Seorang pengendara sepeda motor sudah berhenti lebih dulu, tepat di depan garis batas lampu lalu lintas. Dia enggan menepi. Memang benar bapak tua itu. Semua orang juga tahu, kalau lampu lalu lintas menyala merah, maka kita diperintahkan berhenti. Kopaja itu menggeram, mengaung. Gas ditarik, ditekan. Klakson dibunyikan. Supir dan kernet kopaja berteriak-teriak meminta si pengendara sepeda motor minggir.

Karena ancaman supir kopaja kelihatan makin serius, akhirnya si pengendara sepeda motor menepi. Tapi dia tak ingin dianggap kalah. Dia menjeritkan umpatan marah kepada supir dan kernet kopaja. Ibu dan penumpang di dalam kopaja tidak bisa mendengar jelas makiannya. Hanya melihat mukanya memerah saking marahnya, terus berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah kopaja.

Si kernet pun menyahut makian itu. “MINGGIR AJA. DARIPADA DISEREMPET LU!”

Supir kopaja menginjak pedal gas lagi. Jalannya sudah tak terhalangi. Peduli setan pada lampu lalu lintas.

“Dasar orang kampung, diserempet baru tahu. Bikin repot aja. Ngapain datang ke Jakarta, menuh-menuhin Jakarta aja. Udah tau Jakarta sempit,” ia menggerutu sambil menyetir tak karuan. Kopaja oleng ke kiri dan ke kanan.

Lalu ada suara menyahut, “Ayah juga sama. Datang-datang ke Jakarta.”

Suara itu adalah milik suara bocah laki-laki polos yang duduk di kursi di sebelah supir kopaja. Kepalanya tak kelihatan dari bangku belakang yang berkarat. Hanya kakinya yang mungil menggantung, mengayun tak sampai ke lantai. Anak itu anak si supir kopaja.

Sebaiknya memang kita tidak tinggal di Jakarta, Bumi. Kata ayahmu, tinggal bisa di mana pun di bagian Indonesia Raya ini. Asalkan tidak di Jakarta. Kota ini mengerikan saking padatnya. Membuat orang-orang hilang akal, merasa paling benar sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Kota ini akan bikin siapa pun yang tinggal akan menua sebelum waktunya. *

Kopaja M11, hampir sampai Tanah Abang. Jumat, 1 Agustus 2014. Besok Ibu libur, Nak. Kita main sepuasnya bertiga ayah ya. Ibu love you, Bumi.
——–