Bumi–Satu Sore di Perempatan Lampu Merah

Sudah jam 17.00 WIB sekarang. Ibu ada di angkot M11, rute Srengseng-Tanah Abang. Perjalanan pulang dengan angkot biru muda ini memang lebih lambat. Sebelumnya Ibu harus naik angkot lain dulu dari kantor untuk sampai ke Srengseng. Bisa C03 butut yang berwarna kuning-putih. Atau angkot 09 yang merah.

Meski rutenya lebih jauh, tapi rasanya lebih nyaman, santai, ketimbang naik kopaja P16 yang menggila itu. Buktinya sekarang Ibu bisa sambil menulis untukmu. Mumpung duduk di bangku depan, sebelah supir. Jadi lebih leluasa menulis.

Nah, Bumi. Sembari angkot ini ngetem di pertigaan jalan Syahdan, Ibu akan bercerita lagi kepadamu. Kali ini tentang perjalanan pulang Ibu kemarin. Masih dengan bus kopaja.

Sopir kopaja yang Ibu tumpangi kemarin sudah menyetir seperti kesetanan sejak Ibu naik. Sampai di satu perempatan lampu merah, si supir sedang malas untuk mematuhi peraturan. Ia ingin menerabas lampu merah yang dianggap mengganggu perjalanannya.

Seorang pengendara sepeda motor sudah berhenti lebih dulu, tepat di depan garis batas lampu lalu lintas. Dia enggan menepi. Memang benar bapak tua itu. Semua orang juga tahu, kalau lampu lalu lintas menyala merah, maka kita diperintahkan berhenti. Kopaja itu menggeram, mengaung. Gas ditarik, ditekan. Klakson dibunyikan. Supir dan kernet kopaja berteriak-teriak meminta si pengendara sepeda motor minggir.

Karena ancaman supir kopaja kelihatan makin serius, akhirnya si pengendara sepeda motor menepi. Tapi dia tak ingin dianggap kalah. Dia menjeritkan umpatan marah kepada supir dan kernet kopaja. Ibu dan penumpang di dalam kopaja tidak bisa mendengar jelas makiannya. Hanya melihat mukanya memerah saking marahnya, terus berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah kopaja.

Si kernet pun menyahut makian itu. “MINGGIR AJA. DARIPADA DISEREMPET LU!”

Supir kopaja menginjak pedal gas lagi. Jalannya sudah tak terhalangi. Peduli setan pada lampu lalu lintas.

“Dasar orang kampung, diserempet baru tahu. Bikin repot aja. Ngapain datang ke Jakarta, menuh-menuhin Jakarta aja. Udah tau Jakarta sempit,” ia menggerutu sambil menyetir tak karuan. Kopaja oleng ke kiri dan ke kanan.

Lalu ada suara menyahut, “Ayah juga sama. Datang-datang ke Jakarta.”

Suara itu adalah milik suara bocah laki-laki polos yang duduk di kursi di sebelah supir kopaja. Kepalanya tak kelihatan dari bangku belakang yang berkarat. Hanya kakinya yang mungil menggantung, mengayun tak sampai ke lantai. Anak itu anak si supir kopaja.

Sebaiknya memang kita tidak tinggal di Jakarta, Bumi. Kata ayahmu, tinggal bisa di mana pun di bagian Indonesia Raya ini. Asalkan tidak di Jakarta. Kota ini mengerikan saking padatnya. Membuat orang-orang hilang akal, merasa paling benar sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Kota ini akan bikin siapa pun yang tinggal akan menua sebelum waktunya. *

Kopaja M11, hampir sampai Tanah Abang. Jumat, 1 Agustus 2014. Besok Ibu libur, Nak. Kita main sepuasnya bertiga ayah ya. Ibu love you, Bumi.
——–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s