Bumi–Selamat Jalan Nyai…

Alhamdulillah.., akhirnya kau bisa tidur nyenyak juga setelah semalam hanya tidur dua jam. Lekas sembuh ya, Nak. Biar bersih napasmu.. Lega…

Untuk kesehatanmu.., nanti ibu ceritakan dalam episode lain. Kali ini, sambil menemanimu yang tidur nemplok di pelukkan Ibu, akan Ibu ceritakan tentang Nyai. Mama ayahmu.

Nyai berpulang pada hari baik. 2 Agustus 2014. Enam hari setelah lebaran. Setelah tuntas bermaafan dengan keluarga, sanak saudara, tetangga, sahabat-sahabat, dan kerabat lainnya. Hari itu, jam 01.16 WIB, Ayah menelepon mengabari kita.

“Mama sudah nggak ada…” Kata ayahmu datar. Kami berdua kemudian terdiam. Hening yang kosong. Waktu seperti ikut berhenti berdetak bersama perginya Nyai..

Untunglah ayahmu masih sempat bertemu, dan menemani Nyai di saat-saat penghabisan waktunya. Ayah berangkat ke Bandung 1 Agustus 2014, naik travel Cipaganti jam 20.30 WIB. Dari Bogor ke Bandung.

Segera setelah mendapat kabar dari Kyai kalau kondisi Nyai kritis. Ayah langsung ke rumah sakit Bromeus tempat Nyai dirawat. Sampai di sana pukul 00.30 WIB, setengah jam lebih sebelum Nyai wafat..

Kita berdua tidak bisa ikut ayah. Waktu kabar dari Kyai datang, Ibu masih di kereta, perjalanan pulang kerja dari Kedoya, Jakarta. Kereta dari Manggarai lama sekali datang. Bikin Ibu tertahan lama di perjalanan. Lagi pula, kondisimu sedang tidak terlalu baik. Tak sampai hati rasanya membawamu dalam perjalanan jauh.

Saat ayahmu sampai di kamar Maria 2209, Nyai sudah tidak sadar. Kata Ayah, Nyai tertidur setelah mengobrol dengan Wa Umi dan Wa Upi yang tiba lebih dulu, pukul 22.00 WIB. Mereka tinggal di Jakarta. Dalam tidurnya itu, kondisi Nyai terus melemah. Beberapa menit sekali para dokter ahli datang ke kamar Nyai untuk memeriksa kondisinya. Berbagai obat dimasukkan ke dalam infus untuk memacu hidupnya. Tapi, Nak, Bumi, badan Nyai tidak merespon segala upaya dokter itu…

Para dokter kemudian meminta persetujuan Ayah, Wa Bunda dan Wa Ayah yang sedang menunggui Nyai untuk memompa jantung Nyai secara manual. Di depan mata ayahmu, Nak, dada Nyai ditekan secara bergantian oleh tiga dokter. Namun tak ada tunas harapan. Sampai dokter mengecek denyut di leher Nyai. Sudah berhenti. Nyai kesayangan kita semua sudah berpulang ke rumah Allah.

Ada lega hati juga.., karena kita bertiga sempat menuntaskan keinginan terakhir Nyai untuk berlebaran di Bandung. Nyai ngotot sekali ingin kita ke Bandung. Terutama bertemu ayahmu, anak bungsu kesayangannya. Anak laki-laki satu-satunya.

Ibu bingung bagaimana memenuhi keinginan Nyai. Niat untuk berlebaran di Bandung sudah ada sejak awal puasa. Rencana itu sudah Ayah Ibu tuliskan dalam agenda di ingatan. Kami sudah membeli dua toples kue lebaran untuk oleh-oleh. Ada juga kemplang anggur mentah khas Palembang kesukaan Nyai. Segala oleh-oleh itu sudah kami susun di dalam sebuah kotak kardus.

Tapi ternyata, jatah libur lebaran di kantor Ibu tak sebanyak ayahmu. Ayahmu dapat libur seminggu. Ibu hanya tiga hari. Sehari sebelum lebaran sampai hari kedua lebaran. Bagaimana mengatur waktunya. Lebaran pertama saja kita harus di Bogor bersama Enin dan Atok yang datang dari Palembang untuk kita. Tentu tak sampai hati kita meninggalkan mereka berdua…

Lalu sisa satu hari di lebaran kedua saja. Ibu bingung, apakah harus membawamu yang baru dua bulan pulang pergi Bandung-Bogor dalam sehari. Kau masih terlalu rapuh, Bumi. Ibu sendiri sedang dalam kondisi tidak seratus persen, masih lemas karena pendarahan yang tak habis-habis. Bagaimana ini.. Ayah berusaha sebisanya mencari tiket travel, tapi tak dapat juga.

Tapi Allah memberi jalan dengan caranya. Atok Fuad dan Tante Renny (yang tidak mau dipanggil nenek), adik Atok, meminjamkan mobil Avanza-nya kepada kita. Lebaran hari pertama itu juga, Atok dan Enin mengajak kita berangkat ke Bandung.

Perjalanan tersendat oleh macet, Atok yang menyetir sempat menabrak mobil dan ribut-ribut sedikit di pinggir jalan. Akhirnya kemudi diambil alih ayahmu. Dengan segala rintang itu, kita baru sampai di Bandung jam 20.00 WIB. Masih nyata, Nak, tergambar wajah gembira Nyai dan Kyai menyambut kedatangan kita. Nyai yang membukakan pintu. Sementara Kyai duduk menunggu di ruang tamu. Kyai tak kuat berdiri terlalu lama.

Hari itu adalah perjumpaan pertamamu dengan Kyai. Ibu langsung menyerahkanmu pada Kyai. Dengan penuh sayang Kyai menggendongmu. Kyai mengamati wajahmu lekat-lekat. Putih bersih, mirip ayahmu. Saking miripnya dengan ayahmu, Nyai suka memanggilmu Anda, nama panggilan ayahmu.

“Anda, mau susu? Anda junior ini. Mirip nian,” kata Nyai waktu menggendongmu. Kata Nyai, berat badanmu sudah terasa bertambah banyak. Nyai bilang tak kuat lagi menggendongmu terlalu lama. Tangannya sakit. Nyai senang melihatmu tumbuh sehat, dan jangkung. Betul-betul mirip ayahmu.

Pada pertemuan terakhir kita dengan Nyai itu, Nak, Bumi, Nyai masih kelihatan sehat, gagah. Masih kular-kilir ke dapur, masih cerewet mengobrol. Dengan manja Ibu mengadu pada Nyai, kita semua lapar. Belum makan dari siang karena semua tempat pemberhentian makan di jalan tol penuh.

Sigap Nyai mengajak Awi menyiapkan makan untuk kita. “Cuma ado lontong dak apo-apo? Apo nak nasi? Kalu nasi harus masak dulu,” kata Nyai sambil membereskan ini-itu di dapur. Ibu bilang tak apa-apa lontong ketupat. Apa saja boleh.

Dengan cekatan Nyai menyiapkan lontong ketupat, opor ayam, sayur buncis dan sambal. Nyai meminta Awi menggoreng pempek. Segala toples kue di ruang tamu dibuka tutupnya. Ibu, Enin dan Atok dibuatkan teh manis hangat. Obrolan Ibu dengan Nyai hanya sepotong-sepotong. Ah andai tahu itu kesempatan terakhir bertemu Nyai… Ibu akan mengobrol banyak-banyak. Nyai sangat senang kalau ditemani mengobrol. Nyai suka bercerita apa saja…

“Wita, maaf.. Mama idak buat tekwan. Dak sempet. Taun ini jugo uwong nak mesen pempek Mama tolak. Dak sanggup lagi gaweke nyo…,” kata Nyai penuh rasa bersalah. Pempek buatan Nyai nomor satu enaknya. Waktu Ayah-Ibu menikah saja, Nyai membuat pempek banyak sekali untuk disuguhkan pada tamu. Sebentar saja pempek sudah ludes. Banyak yang tak kebagian.

Nyai tau betul, Ibu senang sekali makan tekwan buatan Nyai. Biasanya, setiap Ibu dan Ayah ke Bandung, Nyai sudah menyiapkan tekwan. Bahkan waktu Nyai ke Jakarta, menginap di rumah kontrakan Ayah dan Ibu, khusus membawa tekwan dari Bandung. Kuahnya dibuatkan Awi di sana.

“Nggak apa-apa Mama..,” kata Ibu. Ibu tau kondisi Nyai sudah tidak seprima dulu. Sebelum puasa datang, ada miom terdeteksi di rahim Nyai. Rahim Nyai harus diangkat. Tapi Nyai kelihatan agak takut, ragu-ragu. Nyai mengulur waktu, ingin puasa ramadan dulu katanya. Kita semua mengkhawatirkan kondisi Nyai.., tapi kita tidak bisa terlalu mendesak dan memaksa Nyai….

Malam itu, waktu bertiga dengan Awi dan Nyai di dapur, Ibu sempat curhat. Bingung bagaimana nasibmu kalau Atok dan Enin pulang ke Palembang. Ibu harus bekerja dan tidak bisa seharian bersamamu. Kata Nyai, sebaiknya Bubu tinggal di Bandung saja. Biar Nyai yang menjaga. Ah, Bumi, begitu sayangnya Nyai, Kyai dan Awi kepadamu. Sama besarnya dengan rasa sayang Atok dan Enin kepadamu.

Dan besoknya, hati seberat batu rasanya untuk pulang. Pertemuan hangat ini baru terasa sebentar. Tapi besok Ibu harus bekerja, tak bisa berlama-lama. Kita juga masih harus ke Cianjur, untuk bertemu Uu, Eyang Buyutmu. Dalam hati Ibu niatkan kuat-kuat, untuk mengatur waktu cuti bersama Ayah, supaya kita bisa di Bandung lebih lama.

Pagi-pagi Nyai dan Awi sudah bersibuk lagi. Menyiapkan ayam goreng dan sambal untuk bekal kita di perjalanan. Setoples kacang dan pempek yang enak itu. Serta menyiapkan sarapan untuk kita sebelum berangkat pulang ke Bogor.

Sebelum pulang, Nyai meminta kita mampir sebentar ke rumah sahabatnya yang masih tinggal berdekatan. Ayahmu memanggilnya Om dan Tante Yayat. Mereka ingin melihatmu, bertemu denganmu, Nak. Nyai berdandan rapi sekali. Nyai memang selalu apik, modis berdandan. Tapi hari itu Nyai kelihatan lebih cantik. Pakai baju terusan merah marun dengan bunga-bunga mawar yang melingkari bajunya, serta kerudung warna senada. Ibu lekat-lekat memandang Nyai. Nyai betul-betul kelihatan cantik. Sayang pujian itu tidak sempat terlontarkan. Hanya berdecap dalam hati Ibu.

Setelah dari rumah Om dan Tante Yayat. Kita melanjutkan perjalanan pulang. Nyai tidak ikut naik mobil. Pulang berjalan kaki saja katanya, dekat. Dari dalam mobil, dengan kaca jendela yang tak dibuka, kita melambaikan tangan tanda perpisahan. Ternyata, Nak, itu menjadi lambaian tangan perpisahan yang sesungguhnya. Besoknya Nyai dibawa ke rumah sakit Bromeus. Bukan karena miom, tapi sakit jantung dan berbagai komplikasi yang membawa Nyai pada masa kritis. Nyai betul-betul pergi selamanya…

Mari kita berdoa, Nak, Bumi, supaya Nyai damai dalam tidur panjangnya. Diberikan tempat yang baik, dipeluk Allah dalam cintaNya. Kita semua sayang Nyai, kita harus ikhlaskan kepergiannya..

Ah, mata Ibu basah lagi. Masih terlalu sedih pada perpisahan mendadak ini. Maaf… sampai air mata Ibu jatuh menetes di kepalamu. Untung kau tidak sampai terbangun. Kau butuh tidur, banyak istirahat. Baiklah Bumi, cerita tentang Nyai nanti kita sambung lagi. Lain waktu Ibu akan ceritakan tentang Nyai yang pemberani dan sangat sayang padamu. Cepat sehat ya, Nak. Tidurlah yang lelap. Mari kita juga doakan Ayah supaya tegar dan sehat-sehat di sana. Ayah harus membereskan banyak hal dan menemani Kyai dalam dukanya yang dalam. Kita berdua harus baik-baik dan bersabar di sini, menunggu Ayah kesayangan kita pulang. *

Ciapus, 3 Agustus 2014. Kamar Enin, sambil mendekap Bumi.
——–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s