Kesetaraan Harus Diraih dengan Keberanian

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri (39).” Sepenggal kalimat itu terdengar akrab di telinga karena kerap dikutip dalam kehidupan sehari-hari. Letupan api keberanian itu hanyalah satu dari sekian pemikiran Pramoedya Ananta Toer yang terekam dalam roman fenomenal Bumi Manusia.

Kalimat itu telah sering dicuplik dan menginspirasi banyak orang. Tidak hanya bagi para pembaca bukunya, bahkan orang-orang yang belum membaca karyanya pun akrab dengan sepenggal kalimat itu. Lewat Bumi Manusia, Pram dengan kuat menyampaikan semangat untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hal itu sejalan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat. Karena pada akhirnya, setiap orang harus berusaha dengan pikiran, tangan dan kakinya sendiri. Bukan bergantung pada ras, kebangsawanan, suku atau harta benda.

Buku pertama dari Tetralogi Buru ini merupakan novel semi-fiksi berlatar belakang sejarah pada masa Kebangkitan Nasional. Tetralogi tersebut terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sesaat setelah penerbitannya, keempat novel tersebut langsung dilarang beredar oleh pemerintah. Pemerintah menganggap novel-novel karangan Pram itu mempropagandakan ajaran-ajaan Marxisme-Leninisme dan komunisme. Padahal, tak sedikit pun hal-hal itu disebutkan dalam buku-bukunya.

Semifiksi
Novel Bumi Manusia ini disebut semifiksi karena Minke sebagai tokoh utamanya, merupakan pantulan karakter dan pengalaman RM Tirto Adisuryo, tokoh pers and tokoh kebangkitan nasional yang juga dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia.

Tokoh Minke, merupakan realisasi dari keinginan Pram untuk mendudukkan semua manusia dalam kesetaraan. Minke yang berdarah biru berpendapat bahwa kebangsawanan hanya bisa merendahkan orang lain.

Adapun pada masa itu, status kebangsawanan sangat dijunjung tinggi dan dibangga-banggakan. Sehingga banyak bangsawan yang memanfaatkan darah biru yang melekat padanya untuk kepentingan pribadi. Misalnya, mewariskan jabatan sebagai pejabat daerah kepada anaknya. Sebaliknya Minke, menolak tegas bergantung pada darah kebangsawanan yang ditetesi dari orang tuanya.

Tokoh lain berkarakter kuat yang dikisahkan Pram adalah sosok Nyai Ontosoroh. Istri siri seorang Belanda yang tidak sekolahan. Tetapi pikirannya cerdas cemerlang, mandiri, dan berani. Seorang Nyai yang dianggap rendah derajat dan kesusilaannya, ternyata mempunyai kualitas diri yang lebih baik dari wanita pribumi terpelajar dan terhormat di masa itu. Melalui Nyai Ontosoroh Pram ingin menunjukkan, kesetaraan harus diraih dengan keberanian.

Lihat saja pada kalimat penutup getir, ketika Nyai Ontosoroh dan Minke yang tidak berdaya, harus kehilangan Annelis yang diasingkan ke Belanda. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.(535).

Bumi Manusia merupakan perwujudan cita-cita Pram yang telah ditanamnya sejak lama. Pram menapaki proses panjang untuk merealisasikannya. Bahan-bahan tulisan untuk Bumi Manusia, telah ia kumpulkan sejak sebelum 1965. Seperti yang dikemukakan Pram dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, ia menghimpun bahan otentik, wawancara, membaca, menyiarkan bahan-bahan yang didapat melalui pers untuk mendapatkan perbaikan dan tambahan dengan biaya yang tidak sedikit dari kantongnya sendiri.

Niat itu dikuatkannya pada tahun 1965, saat ia berumur 40 tahun. Namun pada umur tersebut ia justru dijebloskan ke penjara. “Jadi aku tunda menulis novel sambil melatih diri untuk mengingat dan menggapai-gapai dalam kegelapan.” (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, 119).

Namun Pram bisa lega, karena mesti tersendat lama akhirnya Tetralogi Buru bisa terwujud. Seperti cita-cita yang sudah terpaku dan diniatkan dalam batinnya, “Aku ingin menulis sebuah roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman,” ujar Pram dalam catatan hariannya.

Buku Bumi Manusia sendiri dalam riwayatnya pernah diterbitkan dalam 34 bahasa. (Wta/M-2)

Diterbitkan di harian Media Indonesia, Minggu 10 Agustus 2014 (hari si kecil Bumi pulang dari rumah sakit setelah dirawat empat hari).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s