Susahnya Jadi Caleg Jujur

Tersingkir dari pemilu legislatif pada tahun 2009, tidak membuat Adian Yunus Yusak Napitupulu gentar untuk kembali mengadu peruntungan sebagai calon anggota legislatif pada pemilu 2014 mendatang. Caleg DPR RI dari PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat V ini sudah mulai bersiap-siap mempromosikan diri di dapilnya.

Mulai dari mencetak kartu nama, spanduk, baliho dan alat peraga lainnya, serta langsung berkeringat sendiri menemui konstituen sampai ke pelosok-pelosok. “Sebelum Jokowi blusukan, saya sudah duluan. Bahkan sampai mentok,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (14/10).

Mantan aktivis mahasiswa 1998 ini memegang tekad kuat-kuat untuk bisa berkompetisi secara jujur. Walaupun ia mengaku pada pemilu 2009 keyakinannya dengan mudah goyah dan terpatahkan, ketika melihat kecurangan yang terang-terangan dilakukan para pesaingnya.

“Saya bilang pada Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu), sampai hari ini saya berjanji tidak akan berbuat satu kecurangan pun. Tapi kalau ada orang berbuat curang dan kalian diam saja, saya akan berbuat kecurangan berkali-kali lipat lebih besar,” cetusnya.

Ia mengenang kompetisi pemilu 2009 lalu. Betapa susahnya mempertahankan prinsip kejujuran yang dipegang. Tanggal 8 April 2009, malam sebelum hari pemilihan, salah satu anggota tim sukses mengirimkan pesan singkat.“Bang, ini gue tidur di bawah 2.000 kertas suara, kita contreng nggak?” ujarnya menirukan pesan yang disampaikan timnya.
“Karena mantan aktivis, kita punya sumpah rakyat, saya jawab, kita sudah berjuang tujuh bulan dengan kejujuran. Ayo kita sempurnakan dalam delapan jam terakhir,” ujarnya berapi-api.

Namun tiang kejujuran itu nyatanya roboh juga. “Jam ke sembilan saya kalah,” katanya sambil mengusap wajah.
Kerja kerasnya belum selesai, cobaan lebih besar terjadi saat penghitungan suara. Pada hari pertama dan kedua penghitungan suara ia bisa membusungkan dada, angka perolehan suaranya terus merangkak naik. Kepanikan mulai meletup ketika di hari keempat penghitungan, perolehan suaranya mendadak anjlok.

Ia meminta tim memeriksa seluruh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), mencari titik kesalahan perubahan jumlah suara. Namun Ketua PPK menolak berdialog, mereka menyerahkan kepada Ketua Paguyuban PPK. Menurut Adian, mereka menyatukan diri dalam paguyuban untuk memudahkan negosiasi.

“Saya datang ke Ketua Paguyuban PPK, mereka bilang gampang, sederhana. Tapi Abang terlambat datang. Harusnya tiga minggu lalu, datang sekarang mengubahnya susah. Saya terhenyak, loh berarti hasil pemilu bisa diubah?”
Tim Adian kemudian berhasil melobi salah satu Ketua PPK, si ketua meminta biaya Rp6.000 untuk setiap suara yang diminta Adian untuk mendongkrak perolehannya.

“Murah bener biayanya. Dihitung-hitung bisa menaikkan suara saya sampai 2.000. Deal angka sudah, rupiah sudah, langsung naik banyak angkanya. Tapi sore hari saya lihat cuma satu kecamatan yang bisa diubah. Apa artinya menambah 2.000 suara, sementara yang dikejar 15.000 suara, jadi saya batalkan. Langsung turun saat itu juga perolehan suara saya!”
Pengamat Politik UI Sidharta Mochtar dalam kesempatan yang sama mengatakan, demokrasi di Indonesia berlangsung tidak efisien dan tidak efektif. Biaya terhadap setiap tahapan prosesnya begitu besar.

“Kalau di kita ini ketika seorang caleg turun ke dapilnya, ratusan proposal sudah menunggu di sana,” imbuhnya.
Berbeda dengan di Amerika Serikat, contoh dia, yang justru masyarakat yang menggalang dana untuk para anggota kongres. Karena masyarakat percaya para anggota kongres yang dipilih kelak bisa mewujudkan kebijakan publik seperti yang diharapkan.

“Dan penyelenggaraan pemilu menjadi sangat murah karena orang saweran di mana-mana, ada partisipasi uang untuk pemilu,” tukasnya. (Wta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s