Jejak sang Penjaga Konstitusi

BERPULANGNYA pakar hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada Fajrul Falaakh meninggalkan kehilangan mendalam terutama di kalangan penggiat konstitusi.

Banyak jejak keilmuan yang ditinggalkan almarhum, gagasan dan pemikirannya untuk pembaruan konstitusi di Indonesia.

Ia dikenal sebagai salah seorang tokoh pendukung amendemen UUD 1945 di masa reformasi. Bersama Bambang Widjojanto, Todung Mulya Lubis, Solly Lubis, Mochtar Pabottingi, dan lainnya.

Fajrul memberikan pernyataan sikap untuk reformasi konstitusi UUD 1945 di Gedung DPR pada 2 Agustus 2002.

“Antiamendemen UUD 1945 sama dengan mendukung otoritarianisme,” ujarnya saat itu.

Anggota Komisi Hukum Nasional RI itu menjadi salah seorang praktisi hukum yang keukeuh menginginkan pembenahan di Mahkamah Konstitusi. Kritik kerasnya mengemuka terkait MK yang menolak pengawasan eksternal oleh lembaga konstitusi sekalipun. Proses rekrutmen hakim konstitusi juga menjadi catatan Fajrul yang harus dibenahi di benteng terakhir konstitusi tersebut.

Ia memandang proses rekrutmen hakim konstitusi di Mahkamah Agung dan pemerintah tidak transparan. Di lain hal, keterbukaan perekrutan oleh DPR hanya untuk melegitimasi penjatahan hakim konstitusi bagi sejumlah anggota Komisi III DPR.

Pria kelahiran Gresik, 2 April 1959 ini mendorong agar seleksi hakim konstitusi dilakukan Komisi Yudisial (KY). Karena menurutnya, presiden, DPR, dan MA sebetulnya sudah terbiasa dengan seleksi hakim agung oleh KY.

“Ketiganya dapat memilih calon-calon yang lolos seleksi KY. Cara ini menguatkan peran KY, menghindari penunjukan anggota partai di DPR oleh presiden ataupun oleh atasan (MA). Ini menyumbang independensi MK,” ungkapnya.

Peringatannya untuk pengawasan hakim konstitusi semakin keras ia cetuskan pascapenangkapan Ketua MK Akil Mochtar.

Pakar hukum yang dikenal rendah hati ini dipercaya beberapa kali sebagai anggota tim seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lembaga antirasywah itu tak luput dari kritiknya. Ia mengeluhkan penindakan tindak pidana korupsi kerap tidak semulus harapan ketika menghadapi kekuasaan.

Indonesia, negeri yang masih menjalani transisi demokrasi, kehilangan sosok Fajrul, sang penjaga konstitusi. “Boleh dikata, masih terlalu muda, tapi tatkala maut datang, laa yasta’khiruuna saa’atan wa laa yastaqdimuun,tak ada yang bisa memundur atau memajukannya,” kata Muhammad Romahurmuziy, Sekjen PPP yang juga adik kandung Fajrul, mengutip sebuah ayat dalam Alquran. (Nurulia Juwita Sari/X-5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s