Pelayanan masih Terkendala Faktor Alam (KRL Commuter Line)

WAKIL Kepala Stasiun Bogor Herry Susanto mengatakan faktor alam masih menjadi penyebab gangguan di beberapa lintasan KRL commuter line, termasuk di Stasiun Bogor. “Di Bogor, sebagian besar karena alam seperti banjir, air menggenang, dan longsor layaknya kejadian di Cilebut,” paparnya saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Genangan air atau banjir, kata dia, menyebabkan persinyalan tidak berfungsi normal, tapi tidak sampai menyebabkan tertahannya kereta hingga sekian waktu dan membatalkan perjalanan.

Soal gangguan sinyal yang kerap menjadi alasan keterlambatan kereta, menurut dia, hampir tidak pernah terjadi di Bogor. Namun, ia tidak menampik keterlambatan jadwal tetap sering terjadi di Stasiun Bogor. “Kalaupun ada gangguan, kita bisa merespons dan menanganinya. Tidak ada yang sampai menahan kereta. Di Bogor itu hanya terlambat dan itu pun tidak lama,” ungkapnya.

Untuk menjaga kondisi kereta agar tetap prima, perawatan terus dilakukan secara berkala. Di Stasiun Bogor ada tiga unit yang selalu merawat dan memelihara semua peralatan. “Jadwal pemeliharaan ada di setiap unit. Kapan harus ada pergantian dan pemeliharaan.”

Unit-unit tersebut yakni UPT Persinyalan, UPT Listrik Aliran Atas (LAA), dan UPT Jalan dan Jembatan. “Semua itu ada kaitannya dengan sinyal di unit persinyalan. LAA semua mengenai jaringan listrik di atas KA, pembangkit listrik sesuai dengan jalan. UPT Jalan dan Jembatan di antaranya menangani soal pergeseran rel,” paparnya.

Meski satu sama lain saling terkait dan terintegrasi, masing-masing memiliki jadwal perawatan sendiri. Kepala UPT Persinyalan Warisman mengungkapkan ada mekanisme sendiri-sendiri. Ada perawatan yang dilakukan harian, ada pula yang dilakukan per minggu atau bulanan. “Tidak bisa secara detail karena terlalu teknis dan penyakit dari gangguan itu berbeda-beda.”

Herry menambahkan terdapat beberapa kegiatan atau program yang sudah, tengah, dan akan dilakukan di Stasiun Bogor. Dia menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan ialah pengalihan lahan parkir, pembangunan area publik, pengadaan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 100 x 20 meter, serta pembangunan double decker dan fasilitas penumpang. Adapun kegiatan yang akan dilakukan ialah pemindahan loket. “Loket akan direlokasi untuk memperlancar penumpang. Kalau tidak direkayasa, arus penumpang semerawut,” pungkasnya. (DD/J-4)

2 thoughts on “Pelayanan masih Terkendala Faktor Alam (KRL Commuter Line)

  1. hehe siap pak herry. salam kenal. saya wita editor megapolitan media indonesia. tulisan ini dimuat di harian media indonesia beberapa hari lalu. terima kasih berkenan mampir ke blog saya. salam .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s