Saat Waktu Banyak Terbuang di Perjalanan (KRL Commuter Line)

SAMBIL mengoperasikan gadget di genggaman tangannya, wanita berkemeja biru muda itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Sesekali ia menerima telepon dan berkomunikasi dengan rekan kerjanya untuk meminimalkan rasa bersalahnya karena akan datang terlambat di kantor. “Aduh… ini kereta mau datang jam berapa, sih?! Sudah terlambat naik (kereta) yang depan, ini malah lama banget,” kata Lidya, wanita itu, dengan gusar.

Tidak hanya warga Jombang, Ciputat, itu saja, kala itu ratusan calon penumpang lain sudah mulai menumpuk di peron. Mereka menunggu KRL commuter line menuju Stasiun Tanah Abang. Kereta seharusnya datang 27 menit yang lalu.

Lidya mengeluhkan KRL sering terlambat. Keberangkatan kereta bisa sangat jauh dari prediksi dan jadwal di atas kertas. Untuk menuju lokasi tempat kerjanya di Cideng, Jakpus, ibu dua anak itu menghabiskan waktu 20 menit. Belum lagi, perjalanan mesti disambung dengan kendaraan angkutan umum dari stasiun tujuan. “Ini padahal saya sudah janji dengan klien untuk bertemu di kantor.”

Masalah serupa juga dialami Iwan, 43. Ia terpaksa berangkat beberapa jam lebih awal karena sudah terlalu sering ditegur atasan. Ia mengeluhkan waktunya yang habis di perjalanan karena jadwal kereta penuh ketidakpastian. “Kan malu kalau alasan keretanya telat terus. Takut kena pecat karena perusahaan juga punya aturan,” kata dia.

Iwan mengatakan ketakutan yang menghantui di setiap perjalanan KRL ialah kena sial akibat ada gangguan teknis. Gangguan itu menghambat perjalanan kereta bukan dalam hitungan menit lagi, melainkan sampai beberapa jam. Pernah sekali waktu kereta baru beroperasi setelah hampir 7 jam akibat kerusakan jaringan listrik aliran atas (LAA). “Pernah pemberangkatan ditunda dari pukul 10.30 sampai 17.00. Katanya gara-gara ada gardu yang meledak.”

Lain halnya bagi Yana, 29. Gara-gara kereta sering datang terlambat, ia justru jadi mendapat teman seperjalanan. Rasa jenuh menunggu kereta kerap melahirkan perbincangan antarpenumpang. “Naik kereta itu enak. Jadi banyak teman, soalnya (kedatangan kereta) sering terlambat. Karena sama-sama senasib, jadi gampang akrab,” selorohnya. (DA/J-4)

Tidak hanya bagi penumpang, kereta yang datang terlambat membuat para petugas di stasiun ikut pegal hati karena mereka kerap jadi sasaran pertama kekesalan para penumpang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s