Tidak Cukup Menambah Jadwal (KRL Commuter Line)

POHON yang tumbang di Stasiun Universitas Indonesia, Sabtu (31/1), bukan menjadi satu-satunya peristiwa yang menyebabkan kedatangan kereta rel listrik (KRL) terlambat. Masalah ketepatan waktu masih menjadi persoalan utama bagi transportasi tersebut. Penambahan jadwal perjalanan KRL yang dilakukan awal Desember lalu nyatanya tidak berbanding lurus dengan perbaikan akurasi jadwal keberangkatan KRL.

Kamis (29/1), misalnya, hujan deras yang mengguyur Bogor hingga sebagian wilayah Jakarta yang dilalui KRL menyebabkan gangguan sinyal. Akibatnya, perjalanan kereta Bogor-Jakarta tertahan hampir 1 jam. Penumpukan penumpang pun terjadi.Tidak hanya itu, setiap hari para pelaju kereta kerap dipaksa memaklumi jadwal keberangkatan kereta yang banyak meleset.

“Yang paling banyak dikeluhkan penumpang ialah keterlambatan kereta. Itu bisa saja macam-macam alasannya. Bisa karena kereta mogok, gangguan sinyal, atau entah apa lagi,” ujar koordinator Komunitas Pecinta Kereta Api Jabodetabek KRL Mania, Nurcahyo, di Jakarta, Jumat (30/1).

Cahyo, yang saban hari memakai jasa kereta api rute Depok-Cawang, mengeluhkan jadwal KRL yang kerap meleset membuat waktu para pengguna kereta banyak terbuang untuk menunggu kereta. Dari data yang mereka pelajari, di Stasiun Jatinegara, misalnya, kemacetan terjadi karena ada pertemuan antara kereta yang keluar atau masuk dari dan ke Jawa. “Nah biasanya kalau sudah begini KRL mengalah dan harus menunggu bisa sampai 20 menit. Kan repot kalau pas berangkat kerja harus macet seperti ini.”

Masalah gangguan sinyal atau kereta mogok, lanjut dia, sering terjadi di Stasiun Manggarai, UI, Jatinegara, Kampung Bandan, Depok, dan Citayam. Ia menegaskan pihak KAI harus mencari solusi agar masalah-masalah seperti itu bisa segera diatasi. Perjalanan dengan menggunakan KRL, kata dia, seharusnya bisa lebih efektif.

Infrastruktur rel

Mulai kemarin, KRL commuter line kembali menambah jadwal keberangkatan untuk memperbaiki layanan penumpang. Rute yang baru ditambahkan ialah Depok-Jakarta Kota, Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Jatinegara, Jatinegara-Depok, dan sisanya rute Jakarta Kota-Bogor. Namun, penambahan jadwal kereta tersebut seharusnya diiringi dengan pembenahan infrastruktur rel.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunnisa mengakui persoalan keterlambatan kereta itu terjadi karena tidak seimbangnya infrastruktur rel dengan jumlah perjalanan kereta selama ini. “Masyarakat lupa bagaimana rel-rel kita itu tidak hanya dilalui KRL saja, tetapi juga kereta barang sampai kereta penumpang ke luar Jabodetabek,” ujarnya.

Menurut dia, dengan lalu lintas kereta yang banyak, ditambah dengan pelintasan yang sama untuk kereta barang dan kereta luar dan itu sering terjadi saat ‘peak hour’, antrean perjalanan kereta tidak bisa dihindarkan lagi. Ia menjelaskan, untuk KRL Jabodetabek saja, jumlah perjalanan awal 2014 sebanyak 560. Hal itu bertambah sepanjang 2014 di saat KRL Jabodetabek menambah jumlah perjalanannya sebanyak 751. “Padahal, jumlah rel tidak bertambah,” jelas Eva.

Ia menambahkan pihaknya bukan tidak memikirkan jalan keluar dari keterbatasan infrastruktur tersebut. Saat ini pemerintah sudah mulai memikirkan pembangunan rel ganda.

Sementara itu, Senior Manager Corporate Communication of PT KAI Daop 1 Jakarta Bambang Prayitno menambahkan, selain masalah infrastruktur, adanya gangguan sinyal menjadi masalah yang juga dihadapi. “Kalau soal sinyal itu temporer saja, sangat tergantung cuaca. Intinya, kalau ada masalah, segera kita atasi dan sekarang relatif lebih baik,” jelas Bambang. (Ths/J-4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s