Sakit apa? Mukosa.

Anak perempuan berkerudung merah itu menghampiri aku dan Bumi begitu saja. Kulitnya gelap, matanya berbinar polos, wajahnya ceria.

“Dede, hai Dede,” katanya menyapa Bumi.

Anak perempuan yang belakangan mengenalkan dirinya sebagai Ivi itu terlihat sendirian. Umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Mungkin ia bosan menunggu dokter bersama orangtuanya. Sehingga memutuskan berkeliling rumah sakit itu. Aku dan Bumi juga sedang menunggu Dokter Inayat merampungkan operasinya. Kunjungan kami untuk melihat perkembangan Bi, adik Bumi yang beberapa pekan lagi lahir. Ayah Bumi sedang salat Jumat di masjid seberang rumah sakit.

“Bosan ya nunggu dokternya. Lama,” kata Ivi pada kami.

Rupanya dia sedang menunggu juga. Mungkin dia menunggu dokter anak yang sedang salat Jumat.

“Nunggu dokter siapa?” Tanyaku.

“Nggak tau namanya. Tapi dokternya sedang operasi,” jawab gadis kecil itu.

Mungkin dia sedang menunggu dokter yang sama dengan kami. Bisa saja  dia menemani ibunya untuk kontrol kandungan.

“Siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

“Aku.”

Tapi Ivi tidak terlihat sakit. “Sakit apa Ivi?”

Gadis itu mendadak agak menekuk muka. Dan menjawab dengan gumam. Aku mendengar dia samar-samar mengucapkan, “Mukosa.”

“Mukosa itu apa?” Tanyaku lagi.

“Aku mau divisum sama dokter.” Katanya.

Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Khawatir pertanyaan soal sakit akan mengganggu dirinya. Walaupun aku tidak paham sakit apa yang dia jelaskan.

Bumi yang bosan menyimak percakapan kami, turun dari kursi. Ia mulai berjalan lagi ke sana sini. Ivi mengejar Bumi, menuntunnya seperti adik sendiri. Lalu mereka berdua menghampiriku lagi. Bumi dan Ivi sama-sama takjub melihat pintu depan rumah sakit yang otomatis bergeser terbuka saat ada orang yang berjalan di depan pintu.

“Ivi pikir ada orang yang ngedorong pintunya. Jadi kalau ada yang mau lewat, dia siap-siap dorong pintunya. Tapi Ivi cari-cari nggak ada.” Muka polosnya terlihat malu.

Seorang perempuan sebaya denganku menghampiri kami. Berbaju oranye lengan panjang. Wajahnya yang kusut berubah lega saat melihat Ivi. Perempuan itu mamanya Ivi.

“Hei sudah. Jangan terlalu dekat pintu nanti kejepit.”

Ivi menghampiri mamanya. Menceritakan teorinya tentang ada orang yang mendorong pintu otomatis. Wajah mamanya terlihat malu.

“Bukan, nak. Itu otomatis. Maklum orang kampung, nggak pernah lihat begituan,” kata mama Ivi dengan muka menahan malu.

“Biasalah anak-anak, suka polos,” kataku.

Lalu Mama Ivi bercerita, saat ke toilet tadi dia dan Ivi untuk pertama kalinya melihat mesin pengering tangan. Mereka berdua terkaget-kaget saat mesin itu tiba-tiba berbunyi. Rasa terkejut itu baru reda saat petugas pembersih toilet menjelaskan, kalau benda itu disebut pengering tangan otomatis.

“Kami orang kampung. Nggak pernah lihat begituan,” kata Mama Ivi nyengir.

“Di rumah sakit ini nggak terima pasien BPJS ya. Untung saya dibayarin pak polisi,” katanya.

Bumi sudah kudekap dalam aisan, saat bersiap mengejar Ivi yang kembali berkeliling rumah sakit. “Kakak.. Kakak..” Bumi menunjuk-nunjuk Ivi yang berlari.

“Iya, Bu. Di sini nggak bisa BPJS. Yang sakit siapa Bu? Mau berobat ke dokter mana?” tanyaku menyambut perbincangan yang ia mulai.

Mata perempuan itu mendadak berubah suram. “Anak saya korban pencabulan, pemerkosaan, si Ivi itu.”

Pandanganku beralih pada Ivi yang masih berkeliling, matanya takjub melihat ini itu.

Lewat cerita Mama Ivi yang acak, pelan-pelan kronologis ceritanya tersusun. Peristiwanya terjadi pada satu Selasa sore. Sang Mama meninggalkan Ivi di rumah bersama kakeknya yang sudah renta, karena ia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Ivi kecil bosan di rumah, ditinggalkannya sang kakek dan pergi bermain.

Sampai datang laki-laki lajang yang umurnya sudah lewat 40 tahun, mendekati Ivi. Anak periang itu tak takut atau berprasangka buruk . Karena laki-laki itu tetangganya. Ivi kecil yang polos menurut saja saat pelan-pelan digiring ke rumah si tetangga. Bocah itu tak paham saat disuruh buka celana. Dia hanya tahu, sesudah peristiwa itu kemaluannya sakit setiap buang air kecil. “Kalau mau pipis, sakit,” kata Ivi padaku.

Peristiwa mengerikan itu ketahuan oleh sepasang suami istri, tetangga mereka yang lain. Dua orang ini lalu mengadu pada Mamanya Ivi. Hati sang Ibu remuk, saat Ivi mengiyakan laporan itu. Dan menceritakan peristiwanya dengan detail.

Mama Ivi pun bergegas melapor ke polisi. Petugas yang memeriksa, meminta Mama Ivi mengurus visum ke dokter terlebih dahulu. Sebagai barang bukti untuk menjerat si pelaku. Dan untuk itulah mereka berdua ada di rumah sakit ini

Hatiku mencelos.  Ternyata yang anak itu tadi bilang waktu kutanya apa  sakitnya ialah perkosa, bukan mukosa. Aku salah dengar.

Hidup Mama Ivi suram. Dari suami pertamanya, ia punya dua anak. Ivi yang sekarang kelas 3 SD, dan kakak perempuannya yang berumur 16 tahun. Kakak Ivi tidak sekolah. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi mama, kakek dan dua adik perempuannya. Mama Ivi sudah bercerai dari suami pertamanya itu. Ia sendiri juga kerja serabutan, membantu tetangga-tetangga mencuci dan menyetrika. Tiga tahun lalu ia menikah lagi. Dapat satu anak perempuan lagi. Tapi belum genap setahun umur putrinya itu, si bapak berselingkuh dengan tetangga sendiri dan kabur meninggalkan keluarga.

“Kemarin ada wartawan nanya ke polisi. Untung polisinya baik. Dia bilang ke wartawan, jangan ditulis. Kasian. Saya juga nggak mau kalau Ivi sampai masuk koran. Malu. Gimana nanti masa depan Ivi. Nanti dia jadi rendah diri,” kata Mama Ivi lagi.

Tentu saja dia tidak tahu, tidak sadar sedang berbicara dengan wartawan. Sepasang suami istri wartawan. Tapi sudahlah, kami pun tak ingin memberitakan cerita Ivi.

Dari jauh aku melihat Dokter Inayat berkemeja merah muda dan kaca mata dengan rantai yang terkalung, berjalan menuju ruang prakteknya. Ivi, menjadi pasien pertama.

Anak itu tetap ceria saja sesudah menjalani pemeriksaan. Mama Ivi memegang secarik kertas hasil diagnosa awal si dokter. Dokter menggambar vagina di situ. Pada keterangannya dituliskan kalau v bengkak akibat gesekan. Tapi untungnya, selaput dara masih utuh.

Ada lega di raut wajah mamanya. “Kami mau balik ke kantor polisi untuk kasih ini. Sampai ketemu lagi ya,” kata ibu-anak itu berpamitan.

Kalau bukan melihat hasil visum Dokter Inayat, belumlah tentu kami percaya. Bukan karena sudah kebas hati. Melainkan mencegah hati terlampau iba sebelum faktanya jelas. Tak sedikit yang mengarang cerita demi mendapat belas kasihan atau ingin mencari untung.

Semoga Ivi baik-baik saja. Kubekali dia susu ultra cokelat dan sebungkus astor. Kukatakan padanya, “Cerita yang tadi rahasia kita ya. Ivi jangan ceritakan sama orang.” Mukanya bingung, tapi ia mengangguk juga.

4 September 2015

Catetan: Nama Ivi ialah samaran. Bukan nama sebenarnya gadis kecil itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s