Krisis Dua Profesi

Dicuplik dari opini Ashadi Siregar di Kompas, Senin 11 Agustus 2014

Dua profesi, jurnalis dan peneliti, pada dasarnya memiliki kesamaan episteme, yaitu obyektivitas. Jika pengabaian obyektivitas dianggap enteng, publik dihadapkan situasi krisis sebab dua profesi yang berbasis kepercayaan (credibility) dibiarkan bobrok.

Yang abadi bagi media jurnalisme dan lembaga penelitian adalah kepercayaan publik. Kepentingan pragmatis mungkin menguntungkan jangka pendek, tetapi kehilangan kepercayaan memerlukan upaya panjang membangun ulang hubungan organis dengan publik luas.

Partisanship oleh media biasa terjadi. Namun keberpihakan ini bersifat gradual, tidak absolut. Biasanya karena mendukung gagasan tertentu yang berkesusaian dengan visi media. Dukungan pada gagasan diikuti simpati, tecermin dari pemberitaan tentang kandidat bersangkutan. Namun bukan berarti menutup sama sekali peluang pemberitaan atas kandidat lain.

Krisis dalam kerja jurnalisme yang tampak dalam Pilpres 2014 lebih dari partisanship yang biasa dikenal. Belum pernah dunia jurnalisme semabuk sekarang. Media pers dijalankan tanpa rikuh sebagai partisan dengan berpihak secara mutlak kepada kontestan politik. Keberpihakan ini di satu sisi dengan memberi tempat total kepada yang dipihaki, di sisi lain tak memberi tempat ke kompetitor. Atau kalau memberitakan kompetitor secara tendensius bersifat negatif, tanpa narasumber dari pihak yang diberitakan. Karena itu, disebut kampanye gelap. Asas keseimbangan dan ketidakberpihakan yang jadi ciri netralitas dalam kerja jurnalisme tak lagi dihormati.

Advertisements

Saripati Buku–Catatan dari Penjara Perempuan, Nawal El Saadawi

Kepada Nawal,
Darimu aku belajar lebih kuat soal kemerdekaan berpikir, kritis, berpendapat dan bersuara. Terimakasih.

-Jika pun mati, tak meluncur begitu saja dalam kegelapan malam tanpa menimbulkan huru-hara! Kita harus mengamuk berulang-ulang- Nawal El Sadaawi

(6) Semenjak musim dingin tahun 1972, aku merasa asing di negeriku sendiri. Mengapa begitu? Karena aku telah mengarang buku yang mengandung gagasan-gagasan baru dank arena dalam salah satu kuliah yang kuberikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Ain Shams di Kairo, aku telah berkata blak-blakan dan mengemukakan pandanganku mengenai kaum perempuan, masyarakat, ilmu kedokteran, sastra dan politik, aku pun tak memisah-misahkan pokok-pokok pembicaraan ini.

Aku hanya menuliskan hal-hal yang didiktekan oleh pikiranku.

(6-7) Namaku tertera pada daftar hitam pemerintah. Jika pihak penguasa marah pada seorang pengarang, pengarang bersangkutan dapat diberangus dan suaranya dibungkam, sehingga tak terdengar lagi oleh siapa pun. Seorang pengarang tak mungkin mencapai puncak kesusastraan dan bertahan di sana, jika tak direstui oleh pemerintah.

(7) Takut akan watak budak,, manusia jadi budak.

(12) Pada setiap tahap kehidupanku aku hanya menanti suara kecil yang timbul dari lubuk hati yang paling dalam ini.

(13) Ia biasa membaca koran pada pagi hari, sedangkan aku membiarkannya sampai malam hari. Jika kubaca pagi-pagi, dustra-dusta yang termuat di dalamnya merusak suasana hatikut dan ketentraman hati yang kuperlukan untuk menulis novel, jadi sirna.

(20) Tidak mengetahui hampir sama dengan keadaan mati, atau lebih baik dikatakan sama dengan keadaan mati. Andaikata kita tahu apa yang dinamakan mati, maut, atau ketakutan maka tak ada orang yang akan takut pada maut.
Tidak mengetahui adalah sesuatu hal yang menakutkan. Orang tak akan merasakan ketakutan, jika ia mengetahui. Perjalanan mengherankan ini dari pintu rumahku ke penjara meminta waktu beberapa jam, dan aku mengalami ketidaktahuan yang paling aneh selama hidupku.

(55) Cacat yang memalukan ialah penindasan, bohong serta penghapusan daya pikir manusia, baik daya pikir manusia perempuan ataupun laki-laki.

(66) Di mana pun ku pergi, ke mana pun aku melakukan perjalanan, betapapun jauhnya tempat, betapa pun tidak ramahnya, aku akan mengamati sekelilingku dalam kegembiraan dan konsentrasi, seolah-olah aku tidak pernah mengetahui wujud tempat itu. Wajah-wajah yang mengelilingiku, tak peduli bagaimanapun anehnya mereka dalam pandanganku, tampak seolah-olah telah terlihat sebelumnya.

(68) Kita tidak akan mati, atau jika kita mati, harus dengan marah-marah, harus memukul-mukul tanah dan menimbulkan goncangan. Kita tidak akan mati tanpa mengadakan revolusi.

(71) Setiap kali aku mengalami ‘pertama kali’ suatu hal, reaksiku gemetar, aku akan merasakan senang luar biasa dan ketakutan. Namun rasa senang selalu mengatasi ketakutan.

(85) Biar saja mereka merekam apa saja yang mereka inginkan, namun kita tetap bernafas dalam cara yang kita inginkan, dan mengatakan apa yang ingin kita katakana, karena kita berada di dalam penjara ini justru karena menuntut kebebasan dan menolak untuk diikat. Apakah kita akan membelenggu kita sendiri di dalam penjara ini? Apakah kita akan mencekik leher kita dengan tangan kita sendiri? Apa yang masih dapat terjadi dengan kita? Yang masih kurang bagi kita sekarang ini ialah maut.

(98-99) Yang baru saja anda katakana tentang perempuan tak bersalah yang akan meninggalkan penjara setelah terbukti tak bersalah, Tuan. Saleh, sangat membingungkan pikiran, maupun bagi nalar. Apakah anda tak melihat bahwa kata-kata ini berlawanan dengan hukum? Andaikata perempuan tak bersalah ini dibebaskan dari penjara sesudah sebulan – atau satu tahun – lalu, siapakah akan mengganti kerugiannya setelah sekian hari dan malam dihabiskannya di penjara itu? Bagaimana mungkin anda mengatakan itu kepada kami begitu saja, lalu pergi saja, sambil tersenyum, dengan hati nurani yang tenang? Bagaimana anda bisa berkata, “Bagus, bagus, jadi tak masalah kan?”

Masalah pertama, Tuan. Saleh, ialah bahwa pertama-tama perempuan tak bersalah seyogyanya tidak dijebloskan ke penjara ini. Kedua, kami telah disekap di sini selama berhari-hari, berminggu-minggu dan tak sekali pun ada yang memulai prosedur penyidikan pada kami. Tak seorang pun di antara kami yang tahu apa yang dituduhkan kepada dirinya. Rumah kami dimasuki dengan kekerasan oleh angkatan bersenjata, tanpa surat perintah dari Kejaksaan Agung, dan hingga hari ini keluarga kami tak ada yang tahu tentang keadaan kami dan kami tak sedikit pun tahu tentang keadaan mereka.

Di antara kami ada ibu-ibu yang meninggalkan bayi yang masih menyusu, dan mahasiswa yang dikeluarkan dari Universitas mereka, dan karyawati-karyawati yang diberhentikan dari pekerjaan atau dari jabatan mereka. Satu orang di antara kami hamil berat dan tak dapat bantuan medis, sementara ada pula yang jadi terinfeksi penyakit scabies. Kami semua terancam oleh penyakit-penyakit yang menyebar luas di sini dan ditularkan oleh lalat dan serangga maupun melalui udara yang berisi asap, debu serta kuman-kuman kotoran dan TBC.

Jadi apakah mungkin tempat ini dinamakan tempat aman? Dan menyatakan bahwa kita mengikuti aturan hukum? Mana hukumnya? Dan mengapa belum juga dimulai penyelidikan? Bagaimana kami dimasukan ke penjara tanpa dasar pemeriksaan?

(101) Satu jam dipenjara tanpa melakukan kejahatan adalah sama dengan kesalahan sepuluh tahun.

(143) Seorang perempuan hendaknya diagungkan karena prestasi pribadi, dan
bukan karena ia istri orang yang berkuasa dan berpengaruh.

(180) Tak ada yang lebih bersifat membunuh manusia, daripada dipaksa menunggu. Dalam penjara, orang tidak meninggal karena kelaparan, atau karena kepanasan atau kedinginan, atau karena dipukul atau penyakit atau karena serangga. Tapi orang bisa mati karena dipaksa mati. Menunggu menyebabkan waktu diubah jadi keabadian, objek nyata menjadi ketiadaan, dan berarti menjadi tanpa arti.

(193) Di penjara, di antara kehilangan-kehilangan yang diderita oleh seorang tahanan adalah kehilangan profesinya. Karena orang kehilangan sifat kemanusiaannya, kepribadiannya, kebebasan dan namanya, mengapa tidak kehilangan keahliannya sekalian.

(196) Siapakah aku ini? Tahanannomor 1536. Mereka telah melucuti segala sesuatu dariku, bahkan namaku. Namun aku tetaplah diriku sendiri, dan aku lebih suka jadi tahanan di sini daripada ‘dokter penjara’.

(197) Semenjak menjadi dokter, aku merasa asing di lingkungan dokter-dokter macam begini. Mereka seperti pemilik toko, menjual kesehatan dan perawatan medis kepada kaum miskin yang bahkan tak mampu membayar harga makanan.

(210) Aku dengan penaku seolah memukul kepala hitam yang korup yang hendak melarikan kebebasan dan kehidupanku, merusak diriku yang asli dan memaksa menjual pikiranku serta mengatakan ya, padahal aku ingin mengatakan tidak.

(210-211) Pena adalah benda paling berharga dalam hidupku. Kata-kataku yang dicurahkan pada kertas, bagiku lebih berharga dari anak-anakku, suamiku, juga dari kebebasanku.

(211) Aku lebih suka ditempatkan di penjara daripada menulis sesuatu yang tidak berasal dari pikiranku. Kata-kata yang jujur memerlukan keberanian yang mirip dengan keberanian untuk melakukan pembunuhan – ya, mungkin lebih dari itu.

Apakah kebebasan berpendapat merupakan kejahatan? Kalau begitu, biarlah penjara menjadi satu-satunya tempat perlindunganku.

(214) Sekarang aku merasa sangsi tentang segala sesuatu. Apa gunanya aku menulis? Kata-kata mati, mati pada sehelai kertas. Lagi pula, untuk siapa aku menulis? Apakah ada yang menulis sepatah kata untuk membelaku. Dan waktu aku dipenjarakan.

(222) Aku teringat suara rekan penulis terhormatku dulu. “Aku hanya pegawai negeri..!” Pengarang itu pegawai negeri… sang pemikir itu pegawai negeri.. sang filsuf itu pegawai negeri… jadi, tidak ada pengarang, pemikir ataupun filsuf. Apa perbedaan antara petugas Dinas Rahasia yang pegawai negeri dan sang pengarang yang pegawai negeri? Dua-duanya melaksanakan perintah. Tak ada yang ingin kehilangan gaji pegawai negerinya, atau kedudukan mereka.

Aku berpikir menurut kehendakku… dan aku menulis dengan jari di tanah – apa yang ingin kutuliskan… tak ada yang mengancam diriku dengan PHK, karena aku memang berada dalam pemenajraan. Tak ada yang dapat mengancam akan membunuhku, karena hidup di sini tak berbeda dari keadaan mati.

(223) Aku merasa lebih senang di sini, di tanah, di tengah-tengah debu, daripada di posisi petugas Dinas Rahasia pada ambang pintu yang lebih tinggi namun terikat oleh kekangan-kekangan kedudukannya, atau daripada tempat rekanku sang pengarang agung, yang berada pada puncak kebolehan mengarangnya, dengan hati yang kecut di dada, serta gaji di kantongnya yang – betapa pun mungkin dinaikkan, tetap terlalu kecil bila dibandingkan dengan kerugiannya karena kehilangan kebebasan berpendapatnya.

(233) Kemampuan untuk menulis bagiku senantiasa berkaitan dengan kesempatan untuk memisahkan diri sama sekali, hanya bertemankan diri sendiri, karena aku tak mampu menulis kalau tak dapat berserah diri kepada keheningan.

(256) Andaikata suara-suara menggelombang yang membela kebebasan berpendapat dan pembicaraan dikeraskan di seluruh dunia untuk menuntut pembebasan diriku serta pembebasan semua orang yang dipenjarakan tanpa pengadilan, tuduhan atau kejahatan, mengapa tak satu pun suara terdengar di Mesir sendiri? Sampai sedemikian jauhkah mulut orang dibungkam? Apakah ketakutan telah bersarang sedemikian abadi dalam pikiran dan jiwa orang?

(263) Sikapku yang bertahan menang atas dia, dan aku duduk dekat jendela. Kemenangan kecil dan sederhana, namun juga penting. Aku bertindak sesuai dengan kehendakku, tak peduli pada apa pun.

(300) Ini negara tanpa hukum dan keadilan dan penyidikan ini sama sekai tak ada gunanya dan sungguh tidak adil.

(337) Apa yang dapat kami lakukan? Maut sedang mendekati kami – apakah kami lalu harus berdiam diri saja? Apakah kami akan meninggal? Setan perlawanan dalam diriku mulai bangun dan mengulang-ulang kata-katanya: Kau tak akan mati, Nawal. Jika pun mati, tak meluncur begitu saja dalam kegelapan malam tanpa menimbulkan huru-hara! Kita harus mengamuk berulang-ulang!

(342) Nama baik saya sebagai nasionalis sama berharganya dengan nyawa bagi saya, kataku amat marah. Saya tak akan berdiam diri berkenaan dengan kebohongan, pemfitnaghan dan penyeretan nama baik saya dalam lumpur seperti ini!

(350) Aku berhak mengetahui dibawa ke mana oleh mereka, apakah ke surge atau ke neraka. Aku tidak terlalu peduli ke mana aku dibawa dari tempat yang satu ke tempat lain. Yang penting dijelaskan. Aku ini manusia, bukan sebuah keranjang yang bisa dibawa seenaknya. Mengetahui adalah hakku. Sesudah itu, masa bodoh aku dibawa ke mana.

(352) Kukatakan bahwa penguasa, betapa pun istimewa orangnya dan berpikiran jujur, tak akan mungkin memerintah seorang diri sebagai perorangan. Aku katakana bahwa senantiasa terdapat golongan yang menjauhkan penguasa dari rakyat dan mengubah penduduk menjadi suatu massa besar penonton. Aku katakana bahwa demokrasi tak akan tercapai tanpa eksistensi jaminan-jaminan hukum untuk melindungi orang-orang yang berpendapat lain dari tirani pihak penguasa. Jika tidak, kecemasan, rasa khawatir akan menguasai pikiran laki-laki dan perempuan Mesir.

(365) Aku mulai mencatat kenang-kenangan ini sewaktu ditahan di penjara tanpa mempunyai kertas ataupun pena. Aku tak diizinkan membawa barang-barang berbahaya demikian ke dalam sel. Aku biasanya duduk di lantai sambil bersandar ke dinding, menghadap dinding yang satu lagi, lalu menulis dalam angan-angan, tanpa memerlukan pena atau pun kertas. Dalam angan-angan kutulis halaman demi halaman, dan sesungguhnya sanggup melihat kata-katanya terukir di hadapanku, tertulis – atau lebih baik terukir – pada dinding itu sendiri. Pada malam hari kubaca ulang di luar kepala, merevisi tulisanku, menambahkan bagian-bagian tertentu dan menghapus bagian-bagian lain, seolah-olah aku menulis dengan pena pada kertas.

(369) Agama tidak terlepas dari pemerintahan di negara mana pun di dunia. Agama bisa saja muncul di balik bahasa politik yang baru, namun segera cukup menampilkan diri dalam masa krisis, seperti ketika perang dinyatakan oleh suatu negara.

Seorang presiden atau kepala negara mungkin seorang atheis, namun di atas mimbar, di hadapan massa, pemimpin berpegang pada kitab suci – apakah Injil, Taurat atau Alquran – dan membaca ayat-ayatnya yang mendukung praktek perang dan pembunuhan, atau sebaliknya, penyelesaian perselisihan, negosiasi ataupun perdamaian. Dalam kampanye pemilihan, alangkah seringnya serta kerasnya suara para calon pejabat tertinggi yang menyatakan bahwa Tuhan berada di pihak mereka.

(370) Di Eropa dan Amerika Utara, seorang kepala negar amungkin saja sangat dikecam oleh partai oposisi atau anggota-anggota cendikiawan yang independen, namun para pengecam ini tidak dimasukkan ke dalam penjara, sebagaimana terjadi di negara-negara Arab atau di negara lain dengan pemimpin dictator. Namun, demokrasi bukanlah sekadar kebebasan mengkritik pemerintah atau kepala negara, atau mengadakan pemilihan secara parlementer. Demokrasi sejati tercapai hanya jika rakyat – perempuan, pria, orang-oran muda, anak-anak – memiliki kemampuan untuk mengubah sistem kapitalis industri yang telah menindas mereka sejak masa dini perbudakan: sebuah sistem yang didasarkan atas pembagian kelas, golongan sistem patriarki, serta kekuasaan, militer, suatu sistem hierarkis yang menindas manusia hanya karena mereka dilahirkan miskin, atau sebagai perempuan, atau sebagai orang berkulit hitam belaka.

(371) Waktu keluar dari penjara, aku dapat menempuh dua macam jalan. Aku bisa ikut menjadi budak terhadap lembaga yang berkuasa, dan mendapatkan keamanan, kesejahteraan, anugerah-anugerah negara dan julukan ‘pengarang agung’; aku bisa melihat fotoku terpampang di surat-surat kabar serta di televisi. Atau aku dapat menempuh jalan yang susah, suatu jalan yang telah mengantarku ke penjara. Aku memilih jalan kedua, maka aku jadi terancam secara permanen tidak hanya dengan pemenjaraan, melainkan juga pembunuhan. Aku senantiasa hidup di bawah perlindungan penjaga bersenjata selama 24 jam sehari. Aku tak mengerti apa artinya. Pejabat Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa itu perlu untuk melindungi jiwaku. Aku bertanya siapa yang mengancam nyawaku. Kaum teroris, jawabnya. Siapa kaum teroris itu, kutanyakan lagi. Golongan yang berkedok agama, jawabnya.

(373) Bahaya sudah merupakan bagian dari kehidupanku semenjak aku mengangkat pena dan mulai menulis artikel. Dalam dunia penuh kebohongan, tak ada yang lebih berbahaya daripada kebenaran. Tak ada yang lebih berbahaya daripada pengetahuan dalam dunia yang memandang pengetahuan sebagai dosa semenjak masa Adam dan Hawa.

(374) Menulis adalah kehidupanku. Tak ada kekuasaan di dunia yang dapat memisahkan karya-karya tulisanku ini dariku. Sudah terlanjur ditulis dan diterbitkan. Semenjak masa kanak-kanak, suatu mimpi mendekap dalam khayalanku: kutulis kata-kataku dan orang membacanya – hari ini, besok, lusa. Kapankah tidak menjadi masalah, karena yang penting ialah dibaca orang.

saripati buku: Saya Terbakar Amarah Sendirian

Pramoedya Ananta Toer dalam perbincangan dengan Andre vitchek dan Rossie Indira

(3) Apa yang dulu kami cita-citakan dan perjuangkan dengan yang sekarang merupakan dua hal yang sangat bertolak-belakang. CIta-cita dahulu adalah keutuhan nasional dalam segala hal. Soeharto membuat semuanya rusak. Persekutuan antara Angkatan Darat dan Golkar melahirkan Orde Baru-yang bertanggungjawab atas pembunuhan kurang-lebih dua juta orang. walaupun jumlah yang tepat tidak diketahui sampai sekarang.
Bahkan generasi muda yang kita salut karena berhasil menurunkan Soeharto tidak mampu melahirkan seorang pemimpin, sampai sekarang.

(4) Saya dibesarkan dalam keluarga beraliran nasionalis kiri yang tentu saja tidak setuju dengan sistem kolonial. Pandangan-pandangan saya cenderung beraliran kiri, yang berarti saya tidak mengekor pada kekuasaan, tetapi pada rakyat.

(5) Individualitas tidak diajarkan dalam keluarga kita. Keberanian individual tidak pernah ada, kecuali di Aceh. Yang ada adalah semangat kelompok saja. Masyarakat kita berani hanya kalau mereka berada dalam satu kelompok. Hasilnya, ya, seperti yang banyak terjadi sekarang ini: tawuran desa lawan desa, kampung lawan kampung, pelajar lawan pelajar, bahkan tawuran mahasiswa lawan mahasiswa! Semua ini begini karena kurangnya individualitas dan kepribadian.

(6) Di dalam kehidupan keluarga di Indonesia sekarang ini, keluarga tidak mengajarkan anak-anaknya untuk berproduksi, mereka hanya diajarkan bagaimana mengonsumsi saja. Hasilnya adalah rakyat tidak tahu lagi bagaimana cara berproduksi, hanya jadi kuli. Jadi suruhan saja dalam hidupnya. Dan ketika mereka tidak bisa berproduksi, mereka berusaha dengan korupsi: membuat orang lain korupsi atau dirinya sendiri yang melakukan korupsi. Indonesia sekarang ini bersatu, tapi untuk hal-hal yang tidak benar. saya kira ini jawabannya mengapa Indonesia sekarang ini jadi begini. Benar atau tidak, saya tidak tahu.

(8) Kebanyakan sih tidak bisa menghilangkan rasa minder tersebut. Itu sebabnya mengapa sampai seakrang orang yang kagum atas segala sesuatu yang berasal dari luar negeri: mereka selalu memilih barang luar negeri ketimbang bikinan dalam negeri sendiri. Yang membuat saya sedih adalah bahwa hal ini termasuk dalam penggunaan bahasa. Di sini, semakin bisa menguasai bahasa-bahasa (asing) semakin bangga rasanya. Hal ini berarti tidak mempunyai kepribadian. Kita tidak bangga dengan diri kita sendiri.

(21) Orang Indonesia itu aneh, beraninya kalau punya jabatan, kalau sudah tidak punya jabatan jadi bukan siapa-siapa lagi.

(22) Karena di penjara kami sangat sedikit mendapat makanan. Saya ingat, pernah dalam satu hari enam orang yang dekat dengan saya mati karena kelaparan.

(31) Ketika mereka mau menahan saya, mereka berkata: “Mari Bung Pram, kami akan amankan.” Itulah pertama kalinya saya mengetahui bahwa diamankan berarti ditahan (tertawa).
Segeralah setelah itu saya ditahan dan semua milik saya dirampas, termasuk apa yang saya pakai pada saat itu, termasuk jam tangan. Penahanan ini terjadi pada tanggal 31 Oktober 1965. Saya dibawa dengan truk dan dipukul pakai popor senapan beberapa kali sampai hampir tidak sadar. Sampai sekarang mereka belum mengembalikan apa yang sudah dirampas dari saya, bahkan 37 tahun kemudian. Rumah saya yang di Rawamangun sampai sekarang belum dikembalikan.

Pada saat itu istri saya habis melahirkan di tempat lain. Dia diberitahu oleh seorang tetangga bahwa saya ditahan. Dia segera pulang ke rumah, tapi sudah tidak bisa masuk rumah lagi. Pada saat itu dia menyaksikan pembakaran kertas-kertas saya di belakang rumah, termasuk delapan naskah yang belum diterbitkan. Seluruh isi perpustakaan saya dibakar. Pembakaran naskah tersebut adalah hal yang tidak bisa saya maafkan! Pembakaran buku sama dengan perbuatan setan. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya budaya mereka. Bertolak-belakang dengan budaya menulis karena merupakan kerja kreatif.

(32) Teman saya itu menyarankan agar saya melarikan diri, tapi saya pikir saya harus pergi ke mana. Ini kan rumah saya dan saya harus mempertahankannya. Tapi pada akhirnya saya ditahan juga, karena saya tidak bisa melawan satu pleton tentara sendirian.
Pada saat itu saya juga bekerja di beberapa tempat. Salah satunya saya bekerja sebagai penasihat di pabrik pensil. Ketika mereka meyadari bahwa keadaan sudah sangat kacau, mereka datang membawa gaji saya untuk tiga bulan. saya juga bekerja sebagai dosen di Universitas Res Republica, dan mereka juga membayar gaji saya selama tiga bulan. semua ini terjadi sebelum saya ditangkap, dan tentu saja saya membawa semua uang tersebut pada saat saya ditangkap. Mereka merampas itu juga. Keluarga saya sudah mengungsi terlebih dahulu karena keadaan genting. Saya kehilangan semuanya, dan saya tidak bisa membiayai keluarga saya.

(33) Yang ditanyakan kepada saya hanyalah nama dan alamat saya, tapi berulang-ulang. Seperti yang sudah saya katakan, tidak ada pengaiayaan, tapi semua milik saya dirampas. Semua kertas-kertas dan naskah saya dibakar, dan setelah itu buku-buku saya dilarang. Saya yakin hal ini semua sudah direncanakan.

Sama sekali tidak ada interogasi dan tidak ada proses verbal. Saya bisa dibilang hilang begitu saja. Hanya bertahun-tahun kemudian, setelah saya dibebaskan dari kamp konsentrasi di Pulau Buru dan masih dalam tahanan rumah, pada tahun 1988 tiga orang jaksa dari Kejaksaan Agung datang untuk memeriksa saya. Dengan mereka inilah pertama kalinya ada proses verbal, ada dua proses verbal. Saya menuntut supaya dibuka ke pengadilan, dan mereka setuju. Tapi tentu saja tidak pernah ada pengadilan.

(34) Tentang masih selamatnya saya, saya punya satu hal yang perlu diceritakan: suatu kali kelihatannya ada perintah untuk membunuh saya, tapi komandan kampnya tidak berani untuk melaksanakannya. Setelah itu, sudah terlalu banyak tekanan dari dunia internasional, sehingga saya masih selamat sampai sekarang.

(37) salah seorang rekan tahanan di Buru melihat ikan di tebat. Dia sering kehilangan ikan-ikannya, dan ternyata militer yang mencuri. Sewaktu mereka tahu bahwa rekan saya ini yang mengintip mereka dalam menjalankan aksi pencurian ikannya, mereka menembaknya langsung di tempat. Dia mati seketika.

Kemudian, seorang teman tahanan juga menyimpan sesobek kertas koran bekas bungkus. Kami tidak diperbolehkan membaca samasekali, dan ketika tentara mendapatkan bahwa dia menyimpan sepotong koran bekas, mereka mengikat dan menggantungnya. Dua hari kemudian kami menemukan mayatnya mengapung di sungai.

(38) Suatu ketika saya hampir saja ditembak, tapi seorang teman memukul senapan penjaga yang akan menembak saya sehingga tidak kena saya. Mau tahu alasannya mengapa mereka mau menembak saya? Ketika kami dikirim ke Buru, setiap tahanan hanya diperbolehkan membawa dua stel pakaian. Dan karena kami harus bekerja di ladang atau di sawah setiap hari, tentu saja pakaian saya lama-kelamaan rusak, tidak bisa dipakai lagi. Dan karena pada malam hari di gubuk terasa dingin sekali, maka saya harus puny apaling tidak satu set pakaian untuk tidur. Jadi untuk ke ladang saya memakai cangcut karung plastic. Ketika militer melihat saya, mereka bilang saya menghina kebudayaan Timur dengan memakai pakaian itu. Benar-benar mereka akan menembak saya hanya karena pakaian yang saya pakai pada waktu itu!

Satu hal yang jelas sekali adalah bahwa kalau saya tidak dimonitor oleh masyarakat internasional, maka pasti saya sudah mati sekarang.

(39) Pengalaman saya sebagai tahanan politik, saya tahu persis bahwa pihak pemerintah akan merampas apa yang saya tulis. Itulah sebabnya saya mengetik naskah dalam beberapa copy. Satu copy saya sebarkan di antara teman-teman tahanan sehingga mereka bisa membaca dan mengingatnya. Satu copy lagi saya berikan ke gereja, yang kemudian menyeludupkannya ke luar Buru dan kemudian mengirimkannya ke Eropa, Amerika Serikat, atau Australia. Pada akhirnya saya memang benar, mereka merampas semua naskah saya pada waktu meninggalkan Buru, termasuk surat pribadi dari Presiden Harto pada saya. Tapi tidak ada batasan untuk menulis.

(41) Kami masih harus lapor seminggu sekali ke Kodam yang ada di daerah masing-masing. Dua tahun kemudian berkurang menjadi sebulan sekali, dan di tahun 1992 saya membuat pernyataan bahwa saya menolak wajib lapor. Sejak itu setiap minggu saya dikunjungi oleh seorang intel (tertawa).
Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati. Dan saya selalu berjuang.

(45-46) Sudah sejak awal kaum elit disuap oleh para penjajah, dan Jawa jatuh ke tangan penjajah itu tanpa perang. Para pemimpin kita semua tidak punya moral. Dan sejak itu tidak ada yang berubah. Sekarang para penjarah dari seluruh dunia menjarah lautan kita, tapi Angkatan Bersenjata kita yang seharusnya melawan invasi asing ini malah dihadapkan pada rakyatnya sendiri.

(48) Saya berikan kebebasan kepada anak-anak saya, tapi juga saya katakana kepada mereka bahwa mereka harus bertanggungjawab atas hidup mereka sendiri. Itu sebabnya saya sangat tersinggung kalau cucu-cucu saya minta uang. Saya tidak pernah lakukan hal itu sepanjang hidup saya. Dan ini menurut saya adalah kerugian terbesar saya dipenjarakan selama 14 tahun, karena saya tidak bisa mendidik anak cucu sendiri. Kalau saya melihat cucu saya minta uang, saya merasa hal ini adalah akibat karena saya tidak ada di sisi mereka selama saya dipenjarakan.

(50-51) Dan kalau kita tidak bisa berproduksi, maka kita hanya bisa menjadi kuli saja. Tanpa produksi tanpa karakter! Sekarang Indonesia hanyalah sebuah negara kuli, jadi yang bisa diekspor, ya, kuli, dan menjadi negara pengekspor kuli terbesar di dunia. Merekahanya bisa mengerjakan apa yang diperintahkan dan mau melakukan apa saja asal dibayar. Jangankan bicara tentang kreativitas, hal itu tingkatan selanjutnya.

(54) Pada saat orangtua memasukkan anaknya ke sekolah dasar, mereka sudah diminta bayaran yang sagat tinggi. Hal yang sama terjadi sampai di perguruan tinggi. Ketika mereka lulus dari perguruan tinggi, mereka jadi pengangguran. Kenapa bisa begini jadinya? Siswa-siswa kita ini tidak pernah diajarkan bagaimana berproduksi dan berkreasi. Orang hanya dididik di atas kertas saja. Yang ada hanyalah gudang pengetahuan saja.

(56) Pendidikan dijadikan alat pemerasan di Indonesia. Hal ini terjadi mulai sekolah dasar sampai universitas. Dan ketika lulus, banyak yang jadi penganggur.

(58) Kemerdekaan sudah pasti harus diperoleh. Tapia pa yang dilakukan setelah merdeka yang lebih penting. Orang menjadi tidak menghormati hukum karena tidak ada yang ditakuti lagi. Sebelumnya mereka takut kepada Belanda. Yang saya tahu, setidaknya di Indonesia sekarang ini, tidak ada kaum elit yang tahu wawasan ke-Indonesia-an untuk membangun negeri ini. Semua inginnya menjadi petinggi, pembesar, tapi tidak ada prestasi pribadinya. Kosong! Bisanya Cuma ngomong saja!

(59) Kaum elit Indonesia sekarang ini bertindak sama dengan apa yang dilakukan kaum penjajah dahulu. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana memperoleh uang untuk dirinya sendiri.

(65) Dua pilar yang dibangun pasca tahun 1965 adalah hiburan dan penindasan.

(68) Bahasa Indonesia jadi brengsek sekarang ini, apalagi kalau kita perhatikan apa yang ditulis oleh media massa. Kalau mereka tidak menemukan padanan suatu kata, maka mereka langsung menggunakan bahasa Inggris. Kan brengsek jadinya dan tidak berkarakter. Salah satu bahasa yang saya kagumi adalah bahasa Jepang.
Saya pernah menulis tentang sejarah bahasa Indonesia, tapi sayangnya naskahnya termasuk naskah yang dibakar pada masa rezim ini. Saya tidak pernah bisa menuliskannya lagi. Seperti yang anda tahu, menulis itu sulit untuk diulang.

(70) para penulis seharusnya punya tanggungjawab moral yang tinggi untuk bangsanya. Mereka tidak bisa menulis hanya semaunya saja.
Penghancuran naskah adalah hal yang paling menyakitkan dan sangat traumatis. Saya masih merasakan kepedihan itu sampai sekarang. Kalau saya ingat apa yang terjadi, saya masih merasa sangat kesakitan, terutama karena saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa menulis kembali buku-buku itu. Tapi pada saat itu saya sudah di dalam tahanan, jadi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan naskah-naskah itu. Naskah-naskah tersebut belum diterbitkan pada saat itu, karena pada saat itu saya dituduh komunis dan penerbit Indonesia takut untuk menerbitkannya.

(71) Apa yang mereka lakukan terhadap buku-buku saya merupakan pembunuhan karakter. Sekarang saya hanya merasa kasihan kepada orang-orang yang melakukan hal itu, karena itu hanya menunjukkan betapa rendah budayanya. Saat itu saya menganggapnya tantangan terhadap pribadi saya, dan saya menjawabnya dengan terus menulis di penjara. Tulisan saya merupakan jawaban dan menunjukkan kepada mereka bahwa budaya saya lebih tinggi daripada mereka. Begitulah saya melawan mereka. Saya tidak tahu bagaimana orang lain berjuang, tapi itulah yang saya lakukan. Saya selalu diajarka untuk selalu berjuang, dan inilah yang membuat saya masih hidup sampai sekarang! Banyak teman-teman saya yang sudah tidak ada lagi sekarang.

(74-75) Begitulah saya berkreasi: hanya dalam satu kali tulis saja, tidak pernah menulis kembali. Dan setelah buku itu diterbitkan, saya tidak pernah membacanya lagi. Kalau say abaca kembali maka selalu saja ada keinginan untuk mengubah sesuatu (tertawa).

(75) Saya mulai menulis di tahun 1947, karena pada saat itu saya harus membiayai adik-adik saya. Pada saat itu saya menulis seperti orang gila untuk mendapatkan uang. Saya tidak bisa bekerja yang lain selain menulis (tertawa). Bisa dikatakan bahwa saya menulis untuk makan. Dari sejak awal kelihatannya pembaca menyukai tulisan-tulisan saya, jadi, ya saya teruskan.

(76) Saya mendapatkan inspirasi menulis dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggung saya atau membuat saya marah, saya mendapatkan inspirasi untuk melawan. Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.

(77) Saya mencoba untuk tidak terlalu mengharapkan apa-apa dari dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orangtua saya sendiri.

Saya hanya bisa menulis sekali saja. Keadaan dan perasaan yang dibutuhkan untuk menulis, kan, tidak bisa diulang kembali.

(78) Ketika mengalami ketidakadilan, saya tidak merasa marah. Tapi saya menyadari budaya saya jauh lebih tinggi daripada mereka yang membuat keadilan itu.
Kalau bicara cinta, sejak muda saya sudah lakukan semuanya untuk Indonesia. Banyak orang yang menganjurkan saya tinggal di luar negeri, tapi akar saya di sini.

(78-79) Saya masih berpikir tentang Indonesia sepanjang waktu, itulah mengapa saya masih merasa kesakitan yang luar biasa. Saya tidak punya organisasi ataupun media. Jadi, ya, begini ini, dideritakan sendiri. Dan saya sudah tidak bisa menulis lagi.

(80) Saya tidak pernah menganut suatu ajaran apapun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Belajar dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial.

(82) Saya sudah tidak ingin menulis lagi. Saya hanya tinggal menunggu hari akhir saja. Banyak orang yang mengatakan bahwa saya tinggal bicara saja dan mereka yang akan menuliskannya, tapi saya tidak biasa kerjasama dengan orang lain. Saya pikir sudah cukup yang saya perlu katakan.

(86) Kita harus mengubah pola pendidikan kdi keluarga dan di sekolah. Harus belajar untuk berkreasi dan berproduksi. Kalau kita sudah bisa berproduksi maka kita akan benar-benar merdeka. Kita akan termotivasi untuk berniaga dan membuat kreasi dengan nilai yang tinggi. Tapi kita tidak punya sistem pendidikan seperti itu, jadi bagaimana mau maju? Saya tidak tahu jawabannya, benar-benar tidak tahu.

(88-89) Mereka yang melakukan korupsi tidak punya budaya berproduksi. Tidak punya karakter. Korupsi sudah menjadi penyakit sosial. Di mana-mana orang narik kutipan di sepanjang jalan. Itu namanya mengemis paksa. Sangat memalukan. Orang mengemis kalau tidak berhasil maka mereka mengancam.

(92) Saya tidak percaya pada proses pemilu lagi. Tidak ada seorang pun calon presiden yang membciarakan hal yang memang benar-benar penting, dan tidak satu pun yang punya wawasan ke-Indonesia-an.

(96) Rakyat Indonesia selalu tidak mau belajar dari sejarah negerinya sendiri. Kebiadaban yang satu selalu diikuti dengan kebiadaban yang lain.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Laporan Kepada Komandan

-Pramoedya Ananta Toer-

(109) Pada awal April 1976 Letda Hanafi menyampaikan padaku, Dan Inrehab, Kolonel Sutikno, menghendaki agar aku menulis pengalamanku selama di Mako. Pada mulanya aku ragu karena pengalaman ini lebih banyak bertitik-berat pada kepengarangan yang terlalu sedikit diketahui umum, sedang kepengarangan itu sendiri mempunyai persangkutan yang integral dengan pemikiran dan kreasi bebas. Tidak semua orang suka melihat kenyataan ini.

(111) Setiap pengarang yang kreatif hampir selalu seorang individualis. Aku sendiri pun seorang individualis, berwawasan mandiri, sulit untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain, keadaan lain, apalagi bila sama sekali baru. Seorang individualis hanya mendengarkan apa yang menurut pikirannya sendiri lebih tepat atau lebih baik, tanpa atau kurang mengindahkan selebihnya.

Lagipula sudah umum ketahui watak militer menutupi kompleks rendah-dirinya dengan tabir gertakan, kemarahan dan ancaman.

Pada akhir tahun limapuluhan, pernah aku ajukan protes karena terlampau tingginya pajak pengarang, tanpa mempertimbangkan klasifikasi, karena penyusun buku sekolah dasar, yang dalam kerja beberapa hari bisa jadi jutawan disamakan dengan pengarang sastra yang bekerja lebih lama dengan penghasilan mungkin kurang dari seperseratus dari penyusun buku sekolah dasar. Jawabannya: pajak pengarang dinaikan jadi 20% untuk setiap sen yang diterima dari karyanya – sama tingginya dengan pajak menang lotre tanpa kerja.

(111-112) Pada 1956, Parlemen telah membatalkan kesertaan Indonesia dari Konvensi Bern, dan ini berarti hapusnya perlindungan hak cipta para pengarang Indonesia di luar negeri. Dan bagiku sendiri, dengan penghidupan hanya dari tulisan-tulisannya sendiri, honorarium dari luar negeri merupakan penunjang penting. Dengan keputusan Parlemen Indonesia itu luar negeri tak dimestikan membayar bila menterjemahkan karya Indonesia.

(112) Seorang pengarang adalah seorang pekerja individual, seorang yang bekerja saat seorang diri, mengutamakan pikiran, perasaannya sendiri. Kebiasaan kerja ini menimbulkan watak individualis, banyak kali melupakan atau tidak menggubris lingkungannya dengan tata-tertibnya sekali. Watak individualisnya menyebabkan ia tidak disukai oleh lingkungannya, apalagi oleh orang-orang yang mengutamakan tata tertib. Sebaliknya kemashuran menyebabkan ia dikagumi. Ia hidup dalam dua ekstrimistas di dalam masyarakatnya sendiri. Setidak-tidaknya di Indonesia.

(113) Sejak masuk dalam tahanan pada 1965 aku terlatih untuk tidak mempercayai kata-kata yang diucapkan oleh mulut, dan membatasi kepercayaan hanya pada kata-kata tertulis, dan itu pun kadang masih meragukan. Ucapan tertulis harus menjadi batas untuk tidak mengalami kemerosatan ke arah sinisme – artinya kehilangan kepercayaan, kebaikan pada manusia. Dan aku menolak sinisme, dan untuk selamanya pun harus menolaknya. Sinisme tetaplah suatu degradasi.

(113-114) Dari buku-buku kiriman istriku aku mendapat gambaran, kemajuan di bidang bahasa Indonesia menurut penilaianku cukup menyedikan. Dari Kamus Ejaan Bahasa Indonesia Standar susunan Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dapat dilihat, bahasa indonesia berkembang semakin tidak nasional, makin dimajikani oleh bahasa-bahasa internasional.

(114) Dari EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan peraturannya aku lihat ada pergantian beberapa huruf, sedang kelemahan dari ejaan padri-padri Kristen pada pertengahan abad yang lalu, melalui ejaan Van Ophuysen, melalui lagi ejaan Soewandi, masih tetap diteruskan sebagai warisan dalam EYD. Sebagai pengarang, artinya sebagai seorang pemakai bahasa secara aktif, dan mungkin juga kreatif, barang tentu buku-buku itu hanya mendatangkan kekecewaan, sekalipun memberi gambaran yang tak terbantahkan.

(114-115) Pada suatu malam Dan Tefaat memanggil dan memerintahkan agar aku membuat komik. Alasan itu pendek dan bisa segera selesai. Kesulitan mulai berdatangan. Aku terpojokkan. Dari luar pun aku termasuk golongan anti komik. Aku berpendapat, gambar dibuat hanya sebagai pembantu karena orang tak dapat membayangkan. Kebanyakan cerita-cerita komik kuanggap merugikan generasi muda, bukan hanya perseorangan atau pribadi. Dia adalah cerita yang ready-made, sehingga kanak-kanak tidak ditantang untuk mengembangkan daya fantasinya. Padahal justru pada masa kanak-kanak daya fantasi harus dikembangkan. Kematian daya fantasi pada masa kanak-kanak mengakibatkan ancaman kematian terhadap daya cipta di masa dewasa dan tuanya. Mereka akan tumbuh jadi pekerja teknis semata, kehilangan kemampuan untuk mempersembahkan pada nasionnya sendiri tambahan kekayaan rohani.

(115) Sebagai orang yang kehilangan hak-hak sipil aku hanya bisa mendengarkan. Lagipula sudah menjadi dugaan umum: seorang pengarang bisa menulis cerita apa saja, dengan bahan yang diambilnya dari langit, yang dinamai inspirasi. Padahal inspirasi hanyalah produk semata dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman, sedang bacaan tidak ada.

Menyusun cerita komik hampir-hampir mendekati menulis sebuah skenario, yang sama sekali tak pernah kulakukan sebelumnya. Maka pengalaman ini menyesakkan. Waktu hasil itu dikirim ke Jakarta, dalam hati aku menangis.

(115-116) Berdua kami ditempelengi dan aku sendiri mendapat tambahan semburan ludah. Dan waktu tinjunya tiba-tiba mengenai uluhatiku aku meliuk nyaris roboh. Setelah itu kami berdua diperintahkan pergi.

Aku pergi membawa kata-katanya yang masih juga terngiang di kuping: “kepala besar, ya, sudah diajak ngomong sama jenderal?” “Di Unit III jagoan, ya? Tak ada yang berani?” “Mestinya bangga saya ajak bicara.” “Ngomongnya sok!” “Sudah tua!”

Betapa rendah harga manusia Indonesia yang kebetulan sekarang ini adalah diriku. Perlakuan yang tak pernah dilakukan oleh seorang wanita yang pernah melahirkan diriku. Juga tak pernah kulakukan terhadap anak-anakku sendiri, apalagi terhadap orang lain. Dan ini adalah penghinaan dan penganiayaan kedua pada pribadiku seorang semasa Indonesia mengenal Orba, dan semasa Orba berhasil menciptakan kamp kerjakpaksa di atas bumi Buru ini. Sebuah kreasi yang tak pernah terimpikan oleh seluruh panjang gerakan kemerdekaan. Bahkan dalam pemeriksaan pada 1965 tak pernah terucap kata-kata penghinaan untuk alamat diriku pribadi.

(166) Tentu saja kusediakan waktu untuk merenungkan penghinaan dan penganiayaan, yang lukanya tak kan tersembuh ini. Mungkinkah karena jawaban-jawabanku pada para wartawan Jakarta? Atau karena itu satu-satunya cara yang dikenal sistem Orba ini untuk membikin yang seorang maka semua orang jadi takut? Karena orang yang takut gampang ditekuk-tekuk menurut kehendaknya? Akhirnya yang belakangan ini yang kuambil sebagai jawaban yang tepat.

Penghinaan dan penganiayaan memang santapan sehari-hari bagi tapol RI. Terutama yang keluar dari mulut para ulama yang didatangkan untuk memberi santiaji sebagai pelengkap dari alat-alat kekuasaan.

(117) Penghinaan pertama kuterima pada awal berdirinya Orba. Di tengah penahanan di Kodam. Seorang sersan mayor memberikan padaku koran Duta Masjarakat, memberitakan: aku telah “mencuri buku-buku” perpustakaan musium pusat. Memang tidak pedih, namun tetap melukai. Celakanya penghinaan pers itu justru jadi salah satu dasar pemeriksaan atas diriku. Tidak pedih, karena bisa menjawab: boleh dicocokkan dengan keterangan dari perpustakaan musium, buku apa saja yang hilang atas namaku; sebaliknya berapa puluh kali lipat dari jumlah itu yang telah kusumbangkan padanya. Walhasil aku simpulkan, pemukulan dan penghinaan mungkin sedang jadi peradaban orba. Dan dengan itu aku mulai tentram kembali.

(118) Dan Tefaat membiarkan aku menulis semauku. Tetapi itu tak berarti tak ada hal-hal yang terjadi. Ada saja perwira minta dituliskan riwayat percintaannya, atau minta disusunkan surat cinta. Memang pengalaman cinta merupakan bagian terpenting dalam hidup seorang manusia. Tapi banyak yang lupa: yang terpenting itu tidak selamanya penting untuk orang ketiga. Dengan segala cara aku menolak sambil menunggu datangnya risiko. Tetapi alhamdulillah risiko itu tidak ada.

Kemudian aku bermaksud menulis sebuah roman tentang Periode Kebangkitan Nasional. Walau pekerjaan itu sudah mulai kucoba di Unit III, sekarang ini menjadi ragu, karena satu waktu akan dibaca orang lain, bukan olehku sendiri saja. Sedang mengandalkan pada ingatan saja bisa-bisa jadi kedodoran. Kalau toh ditulis juga, dan ternyata tidak akurat, orang akan bisa menuduh aku memalsukan sejarah, dan itu memang bukan bidangku. Dan setiap pemalsuan sejarah akan mengakibatkan bencana sosial.

Aku ingin menulis sebuah roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman. Jadi aku bukan keluarbiasaan di antara pengarang, nasional ataupun internasional sungguhan.

(119) Aku telah berjanji untuk menulis roman lagi pada umurku yang empat puluh tahun. Tepat pada umur tersebut aku justru masuk dalam tahanan, 1965, dan semua yang telah aku kumpulkan dengan susah-payah dan mahal binasa di tangan orang-orang yang tidak mengerti. Seperti dikatakan Jendral Soemitro memang seorang bisa mempunyai pride karena dokumentasinya, tapi dokumentasi bukan pride. Dia tulang punggung, kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun. Boleh jadi catatan-catatan atau salinan-salinan bisa diulang, tetapi bagaimana halnya dengan bahan-bahan otentik tanpa salinan, Nederland sebagai pusat dunia untuk indologi pun takkan bisa membantu.

Jadi aku tunda menulis novel sambil melatih diri untuk mengingat dan menggapai-gapai dalam kegelapan. Sementara itu timbul satu problem, kalau ada Periode Kebangkitan Nasional, tentu ada periode kejatuhannya, kejatuhan yang mendahului. Dengan demikian mulai aku siapkan menulis tentang kejatuhannya dahulu, yakni masa tengah pertama abad keenam belas. Untuk itu pun bahan tidak ada. Tahanan-tahanan yang aku kunjungi untuk mendapatkan bahan pada umumnya segan menerangkan, walalu tahu, karena menduga seorang pengarang tahu segala-galanya. Malahan mereka yang mempunyai bahan ala ketoprak pun segan untuk menerangkan.

(126) Aku sendiri tak punya sesuatu prasangka apalagi fobia terhadap komunisme, karena pada setiap yang nyata tidak boleh kututup mataku dengan dua tangan hanya karena tidak suka. Kenyataan perlu dilihat dengan mata terbuka dan diterima sebagai kenyataan.

(127) Pada tahun 1973 dalam suatu interpieu, wartawan Rosihan Anwar yang berkunjung ke Buru mengatakan: “Pengalamanmu tragis, Pram.” Maka segera aku jawab: “Jangan dikatakan suatu tragedi!” Boleh jadi untuk orang lain tragis, bahkan juga suatu tragedi, tapi justru inilah yang terjadi, karena setiap pengalaman adalah fondasi bagi orang yang dapat menilainya secara tepat untuk hidup selanjutnya, sekalipun hidup selanjutnya itu hanya tinggal beberapa tahun, bulan atau hari.

(129) Aku mengerti sepenuhnya mengapa sering menjadi sasaran laporan. Paling tidak karena faktor yang satu itu: kemashuran. Dengan menangkap seseorang yang punya nama, orang menganggap telah dapat menangkap kakap. Dengan melaporkan seseorang yang punya nama, orang menanggap telah melakukan suatu pekerjaan penting dan hebat.

(130) Sekalipun selama ini kehilangan kebebasaan dan hak-hak sipil, tak peduli kehilangan itu mempunyai dasar hukum atau tidak, sebagai pribadi – walaupun mungkin hanya sedikit dan tidak berarti – akupun masih punya kehormatan dan harga diri. Mungkin itulah milik terakhir padaku sekarang ini.

(131-132) Dalam mengetik roman tentang awal kejatuhan Nusantara itu pun aku diganggu oleh perasaan tidak puas, karena cerita itu tidak dilandasi oleh kepustakaan yang mencukupi. Memang di Unit III pernah aku ceritakan secara lisan, tetapi tulisan mempunyai syarat lebih banyak dan lebih ketat daripada lisan. Bahaya mendapat tuduhan memalsu sejarah tetap terbuka dan bisa dilakukan oleh seorang anak sekolah dasar pun. Walau sudah kucoba kerahkan kemampuan pengetahuanku, tetapi bila bahan dasarnya meleset, segala yang tertopang di atasnya tentu akan ikut meleset. Walhasil aku harus nilai karya ini hanya sebagai “naskah belum sempurna.” Dan predikat naskah belum sempurna mutlak tidak bisa dilepaskan.

(132-133) Kolonel Samsi MS minta agar aku menuliskan jawaban itu dan aku tuliskan. Kemudian ia mengatakan: “Karena yang menulis ini seorang tahanan, maka barang tentu akan dicari hal-hal yang negatif.

“Tidak apa,” jawabku, “Sebagai pengarang saya adalah manusia Indonesia penuh, dengan kekuatan dan kelemahannya, dengan kebenaran dan kekeliruannya. Soal penilaian adalah soal orang lain.”

(137-138) Ia bertanya tentang keluargaku, kemudian bertanya apakah tak ada niat untuk mendatangkan. Ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya ditujukan padaku. Dan selalu membikin aku terkenang pada istriku. Ia telah terlalu menderita mengurus suaminya sewaktu di RTC, terusir dari rumah sendiri tanpa membawa perbekalan, tidak aku tinggali belanja barang satu sen. Dan untuk waktu berapa tahun! Tiga kali dalam seminggu ia mengurus makanku, sehingga bukan saja aku tidak begitu perlu makan dari jatah RTC, bahkan dapat membantu teman-teman setahanan lain. Aku tak tahu darimana ia mendapatkan rejekinya. Padahal hanya aku tinggalkan nama suaminya, Pramoedya Ananta Toer. Kalau nama itu pernah berbuat baik dan punya nilai baik untuk kehidupan, tentu kehidupan akan menghidupi keluarganya yang ditinggalkan.

Pada suatu hari ia berusaha mendapat ijin bertemu untuk minta diri, sudah terlalu kurus, dan dengan air mata ia minta maaf tidak akan bisa mengurus makanku selama kepergiannya. Ia akan berangkat untuk diopname. Beberapa waktu setelah itu baru kuketahui dari orang yang mengurus kiriman makanan dari luar, istriku jatuh pingsan di antara para pengirim. Ia sendiri tak pernah bercerita. Ia terserang TBC. Pada 1960 waktu aku ditahan di RTM, dalam keadaan mengandung berat hampir melahirkan ia sering menunggu suaminya di sore hari di depan tempat penahanan. Setiap melahirkan ia menangis. Hanya pada waktu melahirkan terakhir 1965 ia tersenyum, karena itulah bayi lelaki yang dapat diberikannya padaku.

(138) Ia sudah cukup banyak mengurus suami dan anak-anaknya. Sampai dengan keberangkatanku ke Buru aku masih tak tahu pasti, di mana dia dan anak-anaknya tinggal setelah rumah itu didudukki. Dan aku tahu betul ia menyayangi rumah itu, karena ia sendiri ikut aktif membangunnya pada awal tahun 1958.

(139) Dalam pimpinanya produksi justru tidak turun, sebagai bukti, bahwa ketegangan sama sekali bukan faktor yang menentukan produksi. Pembukaan pasar, yang menghubungkan kebutuhan para tahanan dengan barang-barang konsumsi, memberikan udara baru. Tetapi bagaimanapun tahanan tetap manusia tanpa kebebasan, tanpa mahkota.

(140) Dulu di rumah ada padaku tujuh macam encyclopaedie, hampir sejua jawaban dapat diperoleh dari situ. Sekarang harus bertanya ke mana-mana, dan jawabannya belum tentu ada. Yang ada belum tentu pasti dan benar. Mau tak mau aku merindukan dan menyesali perpustakaan dan dokumentasi yang binasa. Padahal sudah aku usahakan sekuat daya agar semua itu tinggal selamat. Pada team yang menangkap aku, aku minta agar diselamatkan. Pada seorang Letkol di Kostrad, waktu aku dibawa ke sana pun aku berpesan, malah aku tambahkan: “Kalau negara hendak ambil itu, ambilah, jangan sampai dirusak, karena dia punya harga nasional.” Kenyataannya justru lain. Bukan hanya itu, istriku pernah memberitakan, kertas-kertas itu dijual orang di pinggir jalan. Mudah untuk dapat mengenalinya karena semua telah dicap dengan kata-kata “Perpustakaan Dokumentasi Pramoedya Ananta Toer.”

Aku bekerja hanya dengan modal sisa-sisa yang tertinggal dalam ingatan. Maka juga tak ada jalan lain bisa ditempuh daripada minta pendapat dan koreksi atas naskah yang telah tersusun pada teman-teman untuk bisa agak disempurnakan dalam penyusunan kembali kemudian. Dan tak ada orang yang paling tidak puas daripada aku sendiri sebagai pengarangnya.

(144) Nasehat untuk tidak membaca itu terdengar sinting, tidak realistis, tidak sesuai dengan realitas, bahwa manusia punya naluri untuk mengetahui lebih banyak daripada yang sudah ada padanya, bahwa ia pernah belajar membaca untuk membaca. Dan bahwa kegiatan terhebat otak manusia justru dalam mencari dan mendapatkan informasi. Maka setiap kali bila ada naseehat atau peraturan yang terdengar tidak realistis aku merasa, bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa, semakin bodoh.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Kembali ke Wanayasa

-Pramoedya Ananta Toer-

(57) Di sini ia memprotes, rakyatnya merasa dirugikan karena para tahanan sering mengambil kelapa atau atau mangga milik soak. Juga aku masih ingat pada kata-katanya, dalam Indonesia: “Pohon-pohon itu bukan tanaman burung, Bapak!” Dia tidak tahu para tahanan itu dalam keadaan lapar.

(58) Dan memasuki Wanayasa dengan rawa-rawanya yang banyak, dengan bekas-bekas kedudukan rumah yang kini dicangkuli, aku rasai sesuatu kesunyian mencekam di dalam dada. Betapa banyak yang telah kami bangun dalam tahun-tahun belakangan ini. Tanah perawan tanpa pohon buah-buahan, padang rumput dan hutan, telah kami jadikan sebuah desa yang berdikari, dilingkari oleh rumpun-rumpun pisang lebat.

(62) Orang bukan hanya terlalu lelah karena jalan setapak yang berat, juga karena pendatang-pendatang baru ini sebagian – sekali pun tidak seluruhnya – adalah penderita busung lapar dari tempat-tempat asal mereka diangkut. Ada yang membawa dirinya sendiri sudah limbung, apalagi dengan membawa perlengkapan.

(64) Beberapa kali aku pernah ditawan, juga pernah melihat tempat-tempat bekas tahanan nazi di Ravensbruck, Buchenwald, melihat sendiri tahanan-tahanan Jepang, membaca tentang Auschwitz, tulisan-tulisan Anna Seghers tentang itu, Rumah Mati di Siberia Dostoyevsky, melihat sendiri daerah Siberia sampai ujung utara, dan sekarang aku sendiri memasuki pembuangan dalam lingkarang pagar kawat berduri yang itu juga.

Belum lagi kelelahan perjalanan yang berat itu tertembus dengan tidur malam, kentong telah membangunkan kami. Puh, dalam empat tahun belakangan ini kentongan atau lonceng begitu berkuasa atas diri kami, seakan kami sudah menjadi anjing percobaan Pavlov.

(65) Seorang tertangkap karena kelelahan sisa kemarin membikin ia belum mampu bergiat pagi itu. Dialah orang pertama yang mendapat hukuman merangkak sambil berseru: “Gerak badan main-main, gerak badan main-main.” Celakanya tidak lain dari diriku sendiri yang harus mengawasi pelaksanaan hukuman – suatu pekerjaan yang sungguh-sungguh menjijikan dan menghina harga diriku.

Empat tahun sudah sebagian terbesar dari kami ditahan, dan bagiku sendiri merupakan juga empat tahun ketegangan dan menjalani hukuman yang tak jelas bersumber pada tindak kesalahan apa – hukuman-hukuman yang tidak pernah melalui suatu pengadilan, di mana moral dididik untuk perasa terhadap yang salah dan tidak salah.

Hanya satu kejadian kecil, mungkin untuk kebanggaan diri, mungkin untuk kesenangan, mungkin untuk menjilat, bagi yang menjatuhi hukuman, namun tetap melukai bangunan kemanusiaan berabad.

(66) Aku merasa ketegangan masih akan berlanjut dalam “menuju ke hidup baru” ini. Sedang ketegangan, bukankah dia hanya beban bagi saraf manusia? Dan bukankah beban tanpa tujuan ekonomis, cultural ataupun edukatif, tak lain daripada hukuman sebagai kemewahan? Aku terpaksa belum dapat menyampaikan selamat jalan pada kerisauanku sendiri. Cerita jenis prasejarah ini nampaknya masih akan sangat panjang.

Dalam hal makan nampaknya ada ketentuan yang bisa dipegang. Nampaknya! Dan kami akan dijamin selama delapan bulan, termasuk gula, garam, ikan asin, tembakau. Masa kelaparan dalam empat tahun yang lewat rupanya sudah mendekati titik akhir.

Walaupun demikian jangan berilusi! Mengharapkan kebaikan hati Orde Baru sama dengan mimpi melihat kambing berkumis! Sistem kekuasaan yang dibangun dengan pembunuhan massal selamanya menjadi sistem yang lebih sibuk membenahi nurani sendiri. Jangan harap urusan makanmu beres!

Pada appel pagi itu seorang teman menjatuhkan diri dalam barisan. Bukan karena sakit. Telah dilihatnya seekor kadal lewat, ditangkapnya untuk disantapnya nanti. Banyaknya kadal memberi harapan, protein hewani akan segera dapat memulihkan kondisi badan. Berbagai warna ekornya merah, biru dan hijau tahi kerbau.

(66-67) Tapi juga pada pagi pertama itu kembali aku terkejut, kami diperintahkan membuka jalan. Tanpa alat! Karena memang belum ada. Jalan yang harus dibuka itu menerjang padang rumput, dua meter tinggi, rumput persegi tiga dengan sirip setajam silet sampai setinggi satu setengah meter. Semua dicabuti dengan tangan. Dan tidak setiap orang punya tipi. Dalam panas sengangar yang lembab di tengah-tengah padang rumput, dengan hanya pohon kusu-kusu kurus di sana-sini. Rumput tak mungkin tercabut bersih, apalagi sampai ke akarnya. Yang pasti telapak tangan dan jari-jari berdarah.

(67) Enam hari pencabutan rumput dilakukan. Tangan bukan hanya berdarah-darah juga pada bengkak. Peraturan baru datang: bukan lagi 600 gram beras, tapi 500. Yang seratus untuk tabungan! Sejak itu yang 100 bukan hanya tidak kunjung muncul, tanpa sesuatu pengumuman yang 500 pun beringsut-ingsut mengempes. Tembakau hilang. Gula hilang. Yang agak bertahan adalah ikan asin, itu pun sudah pahit seperti jamu.

Jelas permulaan yang baik ini pun bakal disusul oleh yang kurang baik dan kemudian busuk.

(68) Pada hari pertama mengayunkan cangkul, prestasi terhitung mulai enam meter persegi untuk setiap orang. dengan membaiknya kondisi tubuh karena mujahir dan ular dan kadal dan biawak, dan segala sesuatu yang bisa dinamakan daging, prestasi pun semakin naik, juga karena mulai ditemukan rahasia menggunakan cangkul. Uh, anak bangsa pencangkul ini!

(73) Aku sendiri lebih suka bekerja dalam kelompok kecil dalam kesunyian hutan atau padang rumput begini. Dapat memperoleh kemewahan merenung tanpa banyak gangguan.

(75) Tugas ini sangat berat, pertama karena bukan meningkatkan jalanan, tetapi membikin jalan baru sama sekali, tanpa ada jalan setapak bekas kaki orang. Theodolite hanya satu khayalan, apalagi venol dan tenolnya. Bahkan kompas pun tak ada. Alat tulis menulis sulit. Lebih buruk lagi: Kkami tak diperbolehkan menjenguk, apalagi punya peta. Kami belum mengenal lembah ini.

(77) Bagaimana pun kerja menembusi padang alang-alang, daerah rotan, tersasar dalam hutan kayu putih dengan lapisan ranting-ranting kayu di atas air, tanpa sepatu, telah selesai dengan berhasil. Waktu Air Mandidih nampak dari puncak pohon kelapanya dan rimbunan rumpun pisang serta  humanya dengan kayu hutan yang masih malang-melintang, hati bersorak: kami juga berhasil melakukan apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang ribuan tahun yang lalu.

(79) Pengalaman dalam hutan semasa ini membikin aku gamang terhadap rumpun rotan. Bukan hanya karena durinya. Dari setiap tiga rumpun yang aku rebahkan, 1 rumpun menjadi sarang ular hitam yang bersenang-senang tidur dalam ketiak pelepah. Biarpun orang memberitahukan, hanya ular berkepala segitiga. Yang berbisa, tak urung aku tetap gamang. Ular jenis lain bermacam-macam pada umumnya kurus dan panjang. Seekor ular kuning yang sangat kurus dengan kepala terlalu besar dan bergerak lambat berkali-kali ditemui, dikuliti untuk disantap setelah sejengkal dari kepala dibuang. Isinya hanya kerangka dan selapis tipis daging.

Waktu itu kami belum tahu rahasia memasak daging binatang-binatang aneh, maka bau busuknya tak dapat hilang. Tapi kelaparan mengharuskan orang makan apa saja (Di kemudian hari baru kami ketahui, sebelum memasaknya kandung-kencingnya harus disingkirkan terlebih dahulu. Dan binatang berkantong ini sudah mendekati kepunahannya).

(80) Rusaknya jalan Kapten Daeng Masiga-demikian nama jalan terpanjang di Buru Utara ini – membikin aku jadi sentimental. Setidak-tidaknya aku punya saham dalam pembuatannya sejak awal, dan keringat dan jerih-payah bersama yang lain-lain bertetesan sepanjang 8 km ini. Lagi pula jalanan semakin rusak ini karena terus menerus dipergunakan. Tetapi sentimentalitas dalam keadaan seperti ini hanyalah satu kemewahan sia-sia.

(81) Seorang di antara mereka, Jacob Vredenburg, seorang Belanda, memberikan padaku surat dari istriku melalui pagar kawat berduri, mengatakan surat itu telah diperiksa di Kejagung. Belum lagi sempat kubaca surat itu telah diambil oleh Kapten Enersidar, juga bekas perwira Cakrabirawa. Tapi kemudian Dan TEfaat Mayor Kusno menyerahkannya kembali padaku. Di dalamnya disebutkan mengirimkan obat-obatan, vitamin dan uang.

Apa yang menjadi rencana pemerintah tentu bukan urusan tahanan. Semua dapat dilakukan tanpa mendengarkan suara kami. Namun untuk memberi sedikit warna sosial pada kehidupan kami, aku mengajukan agar rumput savannah dimanfaatkan jadi pulp.

(82) Bagiku sendiri penahanan yang lama dan tidak menentu ini tidak membikin pribadiku menjadi hina, malah aku dapat menyertai perjalanan ke titik terdalam dari bangsaku sendiri. Titik terdalam, titik terendah. Mana mungkin merasa hina, aku tak melakukan perampokan dan perampasan sebagaimana dilakukan oleh Orde Baru atas milik dan kebebasanku.

(83) Walau Dan Unit kami menghendaki agar kepercayaan kami pada diri sendiri, kebanggaan jadi orang Indonesia, pulih kembali, namun pemberian dan harapan tertulis Bur Rusuanto masih terasa sebagai olok-olok. Sebab, kreasi apakah yang bisa dipersembahkan seorang tahanan yang tak memiliki dirinya sendiri lagi dan telah empat tahun harus menyesuaikan dengan kenyataan ini? Sedang kreasi bukankah hanya produk saja dari jiwa dan manusia bebas?

Olok-olok itu menjadi kurang beratnya setelah kutemukan tulisan Bur Rasuanto sendiri dalam salah sebuah edisi, yang menghendaki agar aku diajukan ke hadapan pengadilan. Tulisan itu terasa sebagai musik, karena hanya suatu pengadilan yang bebas yang akan menunjukkan kesalahan dan dosa-dosa yang benar-benar kuperbuat. Dalam empat tahun sebagai tahanan aku tidak menyadari kesalahanku.

(84) Kedatangan Jaksa Agung bagiku adalah berarti datangnya kertas, pena, tinta dan ijin menulis. Barangkali. Karena: yang kehilangan kebebasan adalah juga kehilangan mahkota hidup sebagai manusia. Dia tak perlu dan tak boleh berharap. Harapan hanya milik manusia bebas.

(85) Dalam empat tahun pula kegiatan pikiran sebagai landasan kegiatan menulis mengalami kelumpuhan. Kegiatan hanya otak, hanya menerima, bereaksi pun tidak diharapkan. Kerinduan untuk menulis telah jadi gangguan batin. Tapi lihatlah, justru pada waktu kertas, pena, tinta dan ijin diberikan aku tak dapat menulis. Pemusatan pikiran ternyata tidak semudah itu dapat dilakukan.

Maka aku jadi sadar: aku telah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Penahanan empat tahun tidak menentu ini ternyata telah menimbulkan kerusakan mental pada diriku. Pertanyaan yang kemudian timbul: adakah aku masih punya sisa kekuatan untuk memulihkan kemampuan lama, ataukah akan selesai di sini saja riwayat hidupku sebagai pengarang, yang selama ini dianggap sebagai berforum nasional? Sudah selesaikah fungsi sosial dan fungsi nasionalku sebagai pengarang?

Kwalitas dan kwantitas makanan makin memburuk. Makin sulit usaha pemulihan. Pikiran semakin tak mampu memusat. Untuk mengingat nama salah seorang di antara anak-anakku kadang dibutuhkan waktu sampai seminggu.

(86) Boleh jadi berat badanku telah hilang lebih dari sepuluh kilogram. Kekurusanku melebihi di masa pendudukan Jepang, yang waktu itu sudah aku anggap sebagai titik terdalam. Kenyataan ini mendorong aku untuk mengikuti jejak teman-temanku: makan segala macam daging yang disediakan di bumi ini.

(86-87) Tulisan pengobatan ini tak memuaskan, tapi dia pengobatan. Dengan sangat lambat pikiran mulai mau disuruh bekerja. Dan dalam menulis kutemukan kembali diriku sebagai manusia Indonesia, tetap terhormat, hidup dan bergerak dalam nilai-nilai, menemukan kembali manusia dalam segala ketelanjangannya, terbatas dari pretense dan ambisi, sebagai mahluk yang bukan tidak berdaya, bahkan menemukan dalam sejarahnya sendiri. Akhirnya manusia lebih penting dan menentukan daripada pretense dan ambisinya sendiri.

(87) Orang-orang utama dalam perkaranya, perampokan dan pembunuhan, telah bebas lima tahun yang lalu. Ia masih ditahan sebagai saksi yang tak pernah terpanggil, karena namanya tidak ada pada kejaksaan, hanya ada pada administrasi penjara Cipinang. “Kalau aku bebas lebih dulu,” janjiku padanya, “akan kuusahakan pembebasanmu.” Aku dikeluarkan dan dikenakan tahanan rumah. Memang ia bebas pada tahun itu juga setelah Jaksa Agung Suprapto melakukan inspeksi ke Cipinang. Ia ditendang ke luar penjara. Tapi ihwal 11 tahun ditahan tanpa perkara…? Apakah yang demikian akan menimpa diriku juga? Diri kami?

(87-88) Buku yang telah lebih separohnya kutulis itu telah siap aku hancurkan. Tanpa arti, tanpa makna. Hanya pengobat kerisauan pribadi. Tapi setiap tanganku bergerak hendak membakarnya, tercegah oleh kata hati: tulisan in iadalah dirimu sendiri.

Melakukannya tak ubahnya kau dengan percobaan orang Cipinang itu. Tulisan yang tak memuaskan itu tetap tak kuhancurkan.

(88) Kemudian Letnan Eddy Tuswara ditempatkan juga di Unit III sebagai Wadan. Ia memimpin sendiri Unit. Semua pekerjaan di luar urusan produksi padi dihentikan, bahkan dilarang. Hanya padi! Sayur-mayur pun tidak boleh! Memang menggelikan tapi itulah perintah. Kalau semua padi dan gogo jadi, kami hanya akan makan nasi.

(89) Aku mulai makan tikus yang terlalu banyak terdapat di sini, kecilkecil, hidup di bawah alang-alang, juga telur kadal untuk tidak punah karena turunnya gizi, kualitas dan kuantitas makanan. Walaupun ada bantuan susu bubuk untuk seluruh unit – entah dari siapa, – bantuan yang sangat berharga itu tidak boleh diharapkan akan berlangsung terus. Dan memang berhenti sampai setengah ketel yang ketiga. Maka protein hewani penghuni padang rumput harus dimanfaatkan.

(89) Pada tahun 1949 aku pernah menulis tentang seorang pengungsi yang berusaha mempertahankan hidup anak-anaknya dengan memberinya daging kucing. Ternyata aku sendiri harus melakukannya. Ular bukan daging luar biasa lagi. Daging itu menjadi lebih enak bila digoreng dengan lemaknya sendiri. Orang sudah mulai makan oret, membuang bagian atas dan tinggal badan yang berlemak, kadang mentah-mentah. Aku belum berani. Kemudian anjing mendapat giliran, entah hewan siapa. Orang tak perlu tahu.

Selama setengah tahun praktis kami tak memperoleh vitamin C, tak ada sayuran, tak ada buah-buahan. Aku tahu penglihatanku merosot, tak mampu dipergunakan untuk menyiangi huma atau menanam padi. Pergantian fokus yang serba cepat membikin kepala berputar. Apalagi menanam padi di sawah, dengan air yang terus-menerus bergerak. Vitamin A, jangan diharap. Kiriman vitamin dan obat-obatan dari istriku ternyata tak pernah datang sampai padaku.

(90) Keadaan makin menggelisahkan, penghinaan, pemukulan dan pemerasan. Pencacahan tanah paculan dengan telapak kaki untuk dilumpurkan pernah mendatangkan pukulan karena dianggap main-main oleh Tonwal (peleton pengawal) yang tak pernah melihat petani menggarap sawah.  Waktu membersihkan huma, dan mengumpulkan cabang-cabang kayu aku terkena tempeleng dan cekik, hanya karena kedapatan tidak melakukan tugas mencnagkul. Orang muda yang memukul ini jelas tak pernah tahu bagaimana kami dulu ikut mendirikan negara. Tugas kenangan dalam kwartal pertama tahun 1970 berisikan peristiwa satu-satunya di dunia.

Selain mencangkul sebagai kewajiban paksa tapol, aku pun punya kewajiban membawa pulang kayu bakar untuk dapur kelompok sendiri. Kalau seorang serdadu hendak mendapatkan tapol mengerjakan sambilan lain, dia cukup berlindung dan mengintip. Dia akan dapat menangkap seberapa dia suka. Apalagi dalam keadaan lapar tapol bisa menyelinap mencari tambahan lain.

(90-91) Pada tempelengan pertama suaranya yang keras, lebih tertujukan pada Eddy Tuswara daripada kepadaku. “Bapak sudah tua, sudah saya anggap orangtua sendiri. Kewajiban orang muda memperingatkan yang tua, kalau masih mau diperingatkan. Demi pancasila…,” sekarang Serma Karokaro mulai mencekik. Ia meneriakkan sila pertama sambil mendorong tubuhku sampai hampir terjengkang dari kursi. Bukan mulutnya lagi yang kemudian bicara tapi dua belah tinjunya.

Pulang ke barak teman-teman sekelompok sudah pada menunggu. Mereka menunduk melihat biru-biru pada mukaku. Tak ada yang jadi bertanya.

(91) Kemudian satu razia telah menyebabkan semua bukuku, cetakan dan tulisan, diambil, termasuk buku dari Bur Rasuanto. Beberapa hari setelah itu semua dikembalikan lagi. Juga yang tertulis tangan.

Panen huma yang berlimpahan membawa kami kembali pada nasi. Tak hanya nasi. Ditambah dengan singkong yang sudah mulai dapat dimakan. Kwantitas makanan menjadi agak baik, sejauh mengenai karbohidrat. Kami tak terpaksa lagi makan cabin yang dibuat dari panggang lempengan batang aren, yang bila memakannya harus sambil menyemburkan sepah. Jadwal kerja sangat ketat, namun orang masih dapat menyempatkan diri mengail ikan.

Tetapi makan, apalagi hanya nasi, bukan satu-satunya syarat kehidupan. Dengan terpenuhinya syarat terendah keperluan biologis maka predikat seseorang sebagai manusia belum berlaku. Karena kenyataannya orang tinggalah jadi mahluk biologis, hewan. Ada banyak syarat lain yang harus dipenuhi untuk membuat orang menjadi manusia dengan segala harkat dan kehormaannya. Sejarah umat manusia sejak dapat dikenal adalah rangkaian pergulatan untuk itu.

Dan dihentikannya jaminan makan dari pemerintah, menjadi jelaslah bagiku, bahwa kami harus hidup dengan petunjuk intuisi untuk hidup. Dan kenyataan ini harus kami terima.

(92) Kami di tengah-tengah savannah yang kedekut ini terserah pada intuisi untuk hidup. Kenyataan ini kenyataan nasional yang mungkin hanya pengejawantahan dari kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab. Kekuasaan yang menahan atau menghukumlah yang semestinya menjamin kelangsungan hidup yang ditahan dan dihukum. Juga pengumuman, bahwa kami harus berdikari sebagai kelanjutannya, adalah juga pengukuhan terhadap kenyataan ini. Suatu kenyataan yang harus diterima. Keterang-terangan, bahwa keadaan kami diidentikkan dengan transmigran, untukku pribadi semakin mengherankan, apalagi dengan anjuran-anjuran untuk mendatangkan keluarga.

(93) Dan justru pada masa ini pada suatu hari pendengaranku hilang sama sekali. Ini adalah degenerasi. Aku menjadi tuli. Keadaan ini mengejutkan dan membikin panic. Adakah aku takkan pernah dengar suara anak-anakku untuk selama-lamanya? Seminggu kemudian ketulian ini agak berkurang, tapi tidak juga mau hilang sama sekali. Aku tak mampu lagi mendengar dan menangkap suara pelahan. Akibatnya aku harus selalu bicara agak keras, suatu undangan tak langsung agar orang bicara agak keras padaku. Aku tahu aku telah jadi setengah cacat, dan ini harus aku terima dengan diam-diam. Di hadapanku terbayang masa suram, untuk waktu lama atau sebentar aku tak tahu.

Dalam appel waktu terang tanah serdadu yang menerima appel menyatakan kegusarannya. Kami dituduh jorok, tak tahu kebersihan. Hukuman: push-up limapuluh kali. Bagiku tidak soal. Di R.T.C Salemba, sebelum meninggalkan tikar ketiduran di subuh hari, sudah terbiasa melakukan push-up, paling tidak enampuluh lima kali. Melihat teman-temanku yang hanya mengangkat pantat hampir-hampir tak terbendung rangsang tawaku. Apalagi waktu hitungan sampai ke lima belas sebagian besar sudah lengket dengan tanah becek. Rangsang tawa itu mendadak digantikan oleh kerisauan baru. pada hitungan ke duapuluh lima benar-benar aku pun lengket dengan becekan. Sampai pada hitungan itu sang serdadu menghentikan hukumannya.

Kesalahan kami? Tentu saja tidak ada. Hanya ada ceceran tahi di gubuk Tonwal sampai ke tempat mandi di pinggir sungai. Dan tahi itu berwarna kuning muda, lumpur ubi jalar yang disemburkan perut kekenyangan. Tak ada di antara kami yang makan ubi jalar. Keluar malam pun tak mungkin tanpa ijin. Jelas kebun kami telah kena serbu sebelum waktu panen yang tepat tiba.

(94) Pada suatu hari datang Wadan Lettu Eddy Tuswara ke gubuk kami, minta diri hendak pulang ke Jawa. Datang juga surat dari Dan Unit Kapten Daeng Masiga yang minta diri, tak dapat datang sendiri karena kakinya sakit, dan meninggali aku sebuah anduk bekas dan selembar celana dalam. Tentu Dan Unitku tak bermaksud menghina aku. Beberpaa orang yang waktu mengerjakan sawah terpaksa mencangkul dengan telanjang bulat untuk dapat menyelamatkan pakaian untuk tidur, juga telah memberinya celana dalam. Dan menerima pemberiannya itu tak lain dari terjamahnya keadaanku pribadi. Dari R.T.C. Salemba kami tak boleh membawa pakaian lebih dari dua stel. Dan baju dipakai tiga bulan untuk bekerja di ladang atau di sawah akan hancur terkena keringat, air dan hujan.

(95) Dalam rombongan yang dikepalai seorang Letnan II kelahiran Cirebon, terdapat seorang kameraman Jerman, memperkenalkan diri dengan nama Fritz saja, kelahiran Wiesbaden. Dengan sepengetahuan Dan Unit baru dua hadiahkan padaku dua buah kemeja dan sebuah celana corduroy. Dengan demikian aku boleh simpan kemejaku dari bekas kantong bulgur, itu pun pemberian dari adikku yang menyusul ke pembuangan ini juga. Aku tak kan melupakan kesudian orang, yang tak pernah kukenal sebelumnya itu, seorang yang negerinya pernah kujamah dan sekarang putranya kutemui di tengah-tengah savannah ini. Ia memberikannya dengan tulus ikhlas. Pakaian itu memang bekas, dan memang hanya dengan itu ia dapat membantu.

Apa pun pertimbangannya aku menjadi sadar akan ketergantunganku sendiri.d an semua ini mengingatkan aku pada masa kecilku, dari keluarga tak mampu pula, kadang-kadang ke rumah orangtuaku meminta lungsuran. Dan ibuku yang selalu menyediakan, memberi mereka makan apa yang diminta dan air muka bahagia. Aku telah mendekati keadaan orang-orang tua ini, dan merasa malu pada diri sendiri.

(95) Kerja ladang dan sawah dengan cepat juga menghancurkan topi. Vulpen mas pemberian mayor Kusno terpaksa aku tukarkan dengan caping bamboo untuk berlindung terhadap terik matari dan hujan. Aku tak menulis lagi.

(96) Sejak waktu itu kami dinamai “Kelompok Teladan”, orang-orang yang diisolasi. Kemudian ternyata bahwa masa isolasi itu berlangsung selama dua tahun penuh. Hebat juga.

Memang bukan pertama kali aku masuk isolasi. Di R.T.C Salemba dua kali, masing-masing selama lebih dari sebulan. Atas dasar apa tindakan itu aku tak pernah tahu, karena memang tak pernah diberitahukan. Juga yang ketiga ini. Satu penahanan 1960-1961 telah aku jalani di R.T.M. (Rumah Tahanan Militer) dan penjara Cipinang, pun tak pernah ditunjukan padaku kesalahan sesungguhnya.

(96-97) Pada pertengahan tahun lima puluhan telah aku bubuhkan tandatangan protes pada pemerintah atas penahanan terhadap Mochtar Lubis, karena dilakukan tanpa ada kejelasan perkaranya. Ternyata perlakuan yang aku protes menimpa diriku sendiri secara berulang-ulang. Justru dalam isolasi tanpa keterangan ini aku semakin menghargai nilai-nilai yang telah distabilisasi oleh umat manusia.

(97) Prinsip-prinsip kebebasan dan kemerdekaan yang pernah diajarkan oleh guru-guruku sebelum revolusi 45, mendayu-dayu membikin aku jadi tafakur. Biar kenyataan di sekelilingku lain lagi bunyi dan nadanya, penghargaanku terhadap semua itu semakin jadi mendalam dan meyakinkan. Dan suara multatlui itu semakin santer terdengar. De plicht van een mens is mens te zijn – tugas manusia adalah menjadi manusia. Juga surat-surat yang baru kuterima semakin mengharukan.

(98) Dan dengan memasuki “Teladan” berarti aku harus meninggalkan bengkel pandai besi dan turun ke ladang jagung. Aku tak menulis lagi karena sudah tak mempunyai alat. Sebagai imbangannya setiap hari selama lima menit kucoba menebusnya dengan belajar bahasa Jerman. Siapa tahu kelak aku bisa membaca Jerman? Aku mencoba melupakan kenyataan, bahwa sesungguhnya terlalu sulit menjadi warganegara Indonesia. Dan semakin meresap kata-kata bijaksana J.A. Cronin dalam The Keys To God, bahwa jangan orang terlalu banyak makan, jangan menjadi terlalu gemuk, karena “pintu sorga itu sempit adanya”: bahwa ada banyak agama, ada banyak kepercayaan, tapi “akal adalah satu adanya.”

(99) Pada tanggal 2 Januari 1972 aku dan prof.Dr. Suprapto SH dibawa olehnya bersama Kelig dan Sali ke Namlea untuk di-jiko-kecil-kan (dimasukkan dalam kamp pengasingan jiko kecil, tempat para tapol diperlakukan secara sadis sampai pada pembunuhan oleh para pengawal tanpa pernah mengakibatkan tuntutan hukum). Letkol A.S. Rangkuti nampaknya tak membenarkan maksud Dan Unit malah menjamu kami berdua, jamuan tahun baru. Itulah untuk pertama kali dalam hampir tujuh tahun dijamu orang dengan kue-kue tahun baru yang diambilkan dari toko.

(100) Hanya satu ironi yang tak kan terlupakan: “Saudara-saudara di sini tidak seperti di Digul. Di sini saudara-saudara dibina.” Ya, satu ironi, yang mengingatkan aku pada Idrus dalam novelnya Open, bahwa Open tak suka pada guru Cuma-Cuma, ia hanya mau belajar pada guru yang dibayarnya… Dan bukankah sudah pada penghujung tahun 1949 dalam dunia sastra Indonesia kata menggurui senyawa dengan pengertian: tak dikehendaki, membosankan, intruding dan boring?

Aku nilai masa ini yang paling menggelisahkan. Hukuman berjatuhan tanpa dapat dipahami. Aku masih ingat waktu diharuskan mendorong gerobak dua kali pulang balik ke Air Mandidih dalam sehari, berarti 2x2x8 km atau 32 km, di atas jalanan yang dahulu kami bangun sejak awal. Pernah juga kelompok kami dikirim ke Bantalawarna, barang empat kilometer, sedang semua teman yang lain tidak boleh meninggalkan unit. Di sini kami meneruskan penggalian saluran yang membelah sebuah bukit rendah sampai tepat jam enam sore.

(102) Dalam pimpinan Kapten Sudjoso Hadisiswojo lima orang di antara kami meninggal dunia. Jumlah kematian terbesar. Seorang adalah Samtiar, dulu wartawan Harian Rakyat, seorang pasien rumah sakit, meninggal setelah dipukuli di pelataran rumah sakit. Yang lain adalah Kyun, seorang pemuda dari Malang, periang, rajin dan mengabdikan diri pada kepentingan semua temannya, melakukan segala pekerjaan dengan senang hati, kuat, tekun dan ramah. Pada suatu kali ia jatuh sakit dan harus diopname. Dalam sakitnya ai merasa sangat berhutan dan berdosa hanya tergantung pada mereka dari makan sampai minum, bahkan juga memasaknya. Ia mengalami mental breakdown. Dalam keadaan seperti itu ia dipukuli oleh Komandan kami. Kurang lebih dua hari kemudian, ia menyelinap pergi seorang diri di sebuah gubuk ladang jagung. Di sana ia minum endrine, mati dengan menderita kesakitan. 11 Maret 1972. Semua tawanan berduka cita atas kematiannya.

(103) Tak jarang di hutan orang harus menggergaji papan dalam kegelapan malam juga. Dua buah gereja diharuskan sudah jadi dalam satu malam seperti dalam cerita Bandung Bondowoso. Dan hadian dari pekerjaan itu adalah pukulan.

(104) Aku sangat berterimakasih telah diajak bicara oleh orang bebas dan dari dunia bebas. Namun beritanya tidak begitu menarik, karena sudah pernah kubaca tulisan Prof.John dari Universitas Melbourne tentang sastra Indonesia. Terbitan Australia ini kemudian diperkuat dalam terbitan Amerika Serikat. Juga pernah datag permintaan ijin padaku dari Australia untuk menerjemahkan Korupsi dalam Inggris. Dengan pertimbangan tulisan itu kurang baik untuk konsumsi internasional aku menolak. Permintaan ijin itu diulangi, bukan padaku, tapi pada Departemen P.D.K. Sehubungan dengan ini Kejaksaan Agung memanggil aku untuk membicarakan ijin terjemah itu. Dan ku telah terangkan pendirianku. Pejabat Kejaksaan Agung itu nampak senang dengan jawabanku. Tapi buntut pertemuan itu tak menyenangkan: ia minta kesudianku jadi informan untuk Kejaksaan Agung. Kuperlihatkan gigiku sebagai jawaban. Wow. Sekalipun berita itu tak begitu menarik, dapat kugambarkan, kedudukan sosialku sebagai pengarang Indonesia ternyata masih utuh, sama sekali tidak cedera. Angin segar. Dan tidak ada buntutnya.

(105) Sehabis appel semua tulisanku kubakar. Dan aku tidak menyesal. Ini bukan yang pertama kali naskahku binasa. Menulis lebih lanjut tentang masa ini hanya akan mengenangkan sesuatu yang mengganggu tidur.

Yang buruk terlampau banyak dan terlampau mudah dikumpulkan dalam kehidupan kami bertahun-tahun belakangan ini. Dan yang baik juga yang akan tetap hidup abadi, meruap jadi nilai yang kembali turun ke bumi, jadi pedoman hidup.

(106-107) Kembali dari “Teladan” aku mulai bekerja di bagian processing, menurunkan gabah dari gerobak dan menyaring sampahnya. Ada banyak waktu padaku. Sambil menunggu gerobak datang, saat gabah yang disaring sudah habis, aku pergunakan untuk menulis. Impian lama untuk membuat roman Kebangkitan Nasional mulai aku wujudkan. Dengan sangat cepat tulisan itu berjalan seperti meluncur. Aku tahu, tulisan itu hanya mencapai nilai sebagai konsep pertama. Sembilan buku tulis sudah berisi. Dan pada suatu pagi disita oleh Tonwal, diserahkan pada Dan Unit Kusnadi. Naskah diteruskan pada Wadan Tefaat Letkol Soetarto. Aku sendiri diproses verbal oleh jaksa Unit dan dipersalahkan. Aku tunjukkan surat dari bekas Dan Tefaat Kusno, tapi tanpa arti malah disalahkan karena yang harus aku tulis sendiri sebagaimana aku nyatakan naskah itu kubuat pada waktu senggang kerja, aku memohon – memohon! – agar diberi kesempatan di luar jam kerja untuk sekali lagi memberikan sesuatu pada Indonesia. Naskah itu tidak pernah kembali ke tanganku, seakan hak cipta, bukan hak milik lagi di Indonesia ini.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: Terakhir Kali Nonton Wayang

-Pramoedya Ananta Toer-

(51) Bagi para petani apalah beda antara akhir dan awal? Walhasil sama saja, selama tak jera pada pengkhianayan alam pikiran sendiri.

Hidup terasa menjadi sensitive, terasa amat panjang dalam kependekannya. Revolusi. Dan berkali-kali revolusi kalah. Dan di mana-mana. Apa salahnya kalah?

(54) Boleh jadi orang Belanda dan Jepang dari generasi nanti berkeruyuk bangga pernah membuat sekian lusin bangsa-bangsa Laut Selatan melakukan apa yang mereka perintahkan. Atau sebaliknya malu tersipu mengenang tingkah nenek-moyangnya. Mungkin dua-duanya tidak. Orang Inggris dan Amerika nampaknya tidak pernah peduli nenek-moyang mereka telah memperbinatangkan pribumi Afrika, setelah orang memburu-buru mereka dengan senapan, menangkapnya, menjualnya, mengangkutnya dengan kapal ke Amerika, dan menghisap tenaga, darah dan hidup mereka. Dan generasi terakhir bangsa-bangsa Eropa itu sampai sekarang tanpa mengedip masih melakukan apa yang leluhurnya lakukan. Setempat saja memang. Di Afrika Selatan.

(55) Pada waktu yang sama sejumlah bangsa sudah tumpah dari muka bumi, fisik dan cultural, apalagi politik. Survive! Ya, survive untuk meneruskan dan menadah injakan dan himpitan. Dan  bila sebagai Pandawa sudah mengalahkan Kurawa, injakan dan himpitan juga terpaksa diteruskan.

buku yang dibaca februari

1. Negeri Para Bedebah – Tere Liye (menyerah di halaman 188)

2. Tanah Tabu – Anindita S Thayf

3. Les Miserables – Victor Hugo

4. Jangan Main-Main (dengan kelaminmu) – Djenar Maesa Ayu

5. Si Parasit Lajang – Ayu Utami

6. Tiga Cinta, Ibu – Gus TF Sakai

7. Cerita Cinta Enrico – Ayu Utami

*ini catatan untuk diri sendiri, menjaga semangat membaca