Sakit apa? Mukosa.

Anak perempuan berkerudung merah itu menghampiri aku dan Bumi begitu saja. Kulitnya gelap, matanya berbinar polos, wajahnya ceria.

“Dede, hai Dede,” katanya menyapa Bumi.

Anak perempuan yang belakangan mengenalkan dirinya sebagai Ivi itu terlihat sendirian. Umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Mungkin ia bosan menunggu dokter bersama orangtuanya. Sehingga memutuskan berkeliling rumah sakit itu. Aku dan Bumi juga sedang menunggu Dokter Inayat merampungkan operasinya. Kunjungan kami untuk melihat perkembangan Bi, adik Bumi yang beberapa pekan lagi lahir. Ayah Bumi sedang salat Jumat di masjid seberang rumah sakit.

“Bosan ya nunggu dokternya. Lama,” kata Ivi pada kami.

Rupanya dia sedang menunggu juga. Mungkin dia menunggu dokter anak yang sedang salat Jumat.

“Nunggu dokter siapa?” Tanyaku.

“Nggak tau namanya. Tapi dokternya sedang operasi,” jawab gadis kecil itu.

Mungkin dia sedang menunggu dokter yang sama dengan kami. Bisa saja  dia menemani ibunya untuk kontrol kandungan.

“Siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

“Aku.”

Tapi Ivi tidak terlihat sakit. “Sakit apa Ivi?”

Gadis itu mendadak agak menekuk muka. Dan menjawab dengan gumam. Aku mendengar dia samar-samar mengucapkan, “Mukosa.”

“Mukosa itu apa?” Tanyaku lagi.

“Aku mau divisum sama dokter.” Katanya.

Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Khawatir pertanyaan soal sakit akan mengganggu dirinya. Walaupun aku tidak paham sakit apa yang dia jelaskan.

Bumi yang bosan menyimak percakapan kami, turun dari kursi. Ia mulai berjalan lagi ke sana sini. Ivi mengejar Bumi, menuntunnya seperti adik sendiri. Lalu mereka berdua menghampiriku lagi. Bumi dan Ivi sama-sama takjub melihat pintu depan rumah sakit yang otomatis bergeser terbuka saat ada orang yang berjalan di depan pintu.

“Ivi pikir ada orang yang ngedorong pintunya. Jadi kalau ada yang mau lewat, dia siap-siap dorong pintunya. Tapi Ivi cari-cari nggak ada.” Muka polosnya terlihat malu.

Seorang perempuan sebaya denganku menghampiri kami. Berbaju oranye lengan panjang. Wajahnya yang kusut berubah lega saat melihat Ivi. Perempuan itu mamanya Ivi.

“Hei sudah. Jangan terlalu dekat pintu nanti kejepit.”

Ivi menghampiri mamanya. Menceritakan teorinya tentang ada orang yang mendorong pintu otomatis. Wajah mamanya terlihat malu.

“Bukan, nak. Itu otomatis. Maklum orang kampung, nggak pernah lihat begituan,” kata mama Ivi dengan muka menahan malu.

“Biasalah anak-anak, suka polos,” kataku.

Lalu Mama Ivi bercerita, saat ke toilet tadi dia dan Ivi untuk pertama kalinya melihat mesin pengering tangan. Mereka berdua terkaget-kaget saat mesin itu tiba-tiba berbunyi. Rasa terkejut itu baru reda saat petugas pembersih toilet menjelaskan, kalau benda itu disebut pengering tangan otomatis.

“Kami orang kampung. Nggak pernah lihat begituan,” kata Mama Ivi nyengir.

“Di rumah sakit ini nggak terima pasien BPJS ya. Untung saya dibayarin pak polisi,” katanya.

Bumi sudah kudekap dalam aisan, saat bersiap mengejar Ivi yang kembali berkeliling rumah sakit. “Kakak.. Kakak..” Bumi menunjuk-nunjuk Ivi yang berlari.

“Iya, Bu. Di sini nggak bisa BPJS. Yang sakit siapa Bu? Mau berobat ke dokter mana?” tanyaku menyambut perbincangan yang ia mulai.

Mata perempuan itu mendadak berubah suram. “Anak saya korban pencabulan, pemerkosaan, si Ivi itu.”

Pandanganku beralih pada Ivi yang masih berkeliling, matanya takjub melihat ini itu.

Lewat cerita Mama Ivi yang acak, pelan-pelan kronologis ceritanya tersusun. Peristiwanya terjadi pada satu Selasa sore. Sang Mama meninggalkan Ivi di rumah bersama kakeknya yang sudah renta, karena ia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Ivi kecil bosan di rumah, ditinggalkannya sang kakek dan pergi bermain.

Sampai datang laki-laki lajang yang umurnya sudah lewat 40 tahun, mendekati Ivi. Anak periang itu tak takut atau berprasangka buruk . Karena laki-laki itu tetangganya. Ivi kecil yang polos menurut saja saat pelan-pelan digiring ke rumah si tetangga. Bocah itu tak paham saat disuruh buka celana. Dia hanya tahu, sesudah peristiwa itu kemaluannya sakit setiap buang air kecil. “Kalau mau pipis, sakit,” kata Ivi padaku.

Peristiwa mengerikan itu ketahuan oleh sepasang suami istri, tetangga mereka yang lain. Dua orang ini lalu mengadu pada Mamanya Ivi. Hati sang Ibu remuk, saat Ivi mengiyakan laporan itu. Dan menceritakan peristiwanya dengan detail.

Mama Ivi pun bergegas melapor ke polisi. Petugas yang memeriksa, meminta Mama Ivi mengurus visum ke dokter terlebih dahulu. Sebagai barang bukti untuk menjerat si pelaku. Dan untuk itulah mereka berdua ada di rumah sakit ini

Hatiku mencelos.  Ternyata yang anak itu tadi bilang waktu kutanya apa  sakitnya ialah perkosa, bukan mukosa. Aku salah dengar.

Hidup Mama Ivi suram. Dari suami pertamanya, ia punya dua anak. Ivi yang sekarang kelas 3 SD, dan kakak perempuannya yang berumur 16 tahun. Kakak Ivi tidak sekolah. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi mama, kakek dan dua adik perempuannya. Mama Ivi sudah bercerai dari suami pertamanya itu. Ia sendiri juga kerja serabutan, membantu tetangga-tetangga mencuci dan menyetrika. Tiga tahun lalu ia menikah lagi. Dapat satu anak perempuan lagi. Tapi belum genap setahun umur putrinya itu, si bapak berselingkuh dengan tetangga sendiri dan kabur meninggalkan keluarga.

“Kemarin ada wartawan nanya ke polisi. Untung polisinya baik. Dia bilang ke wartawan, jangan ditulis. Kasian. Saya juga nggak mau kalau Ivi sampai masuk koran. Malu. Gimana nanti masa depan Ivi. Nanti dia jadi rendah diri,” kata Mama Ivi lagi.

Tentu saja dia tidak tahu, tidak sadar sedang berbicara dengan wartawan. Sepasang suami istri wartawan. Tapi sudahlah, kami pun tak ingin memberitakan cerita Ivi.

Dari jauh aku melihat Dokter Inayat berkemeja merah muda dan kaca mata dengan rantai yang terkalung, berjalan menuju ruang prakteknya. Ivi, menjadi pasien pertama.

Anak itu tetap ceria saja sesudah menjalani pemeriksaan. Mama Ivi memegang secarik kertas hasil diagnosa awal si dokter. Dokter menggambar vagina di situ. Pada keterangannya dituliskan kalau v bengkak akibat gesekan. Tapi untungnya, selaput dara masih utuh.

Ada lega di raut wajah mamanya. “Kami mau balik ke kantor polisi untuk kasih ini. Sampai ketemu lagi ya,” kata ibu-anak itu berpamitan.

Kalau bukan melihat hasil visum Dokter Inayat, belumlah tentu kami percaya. Bukan karena sudah kebas hati. Melainkan mencegah hati terlampau iba sebelum faktanya jelas. Tak sedikit yang mengarang cerita demi mendapat belas kasihan atau ingin mencari untung.

Semoga Ivi baik-baik saja. Kubekali dia susu ultra cokelat dan sebungkus astor. Kukatakan padanya, “Cerita yang tadi rahasia kita ya. Ivi jangan ceritakan sama orang.” Mukanya bingung, tapi ia mengangguk juga.

4 September 2015

Catetan: Nama Ivi ialah samaran. Bukan nama sebenarnya gadis kecil itu.

dan meledaklah…

Rasa kecewa ini malam.. 
Sekuat rasa patah hati sakitnya. 
Iya, bisa begitu. 
Ketika dikecewakan bertubi-tubi..., 
berbaikan, berdamai pun rasa tak berguna. 

Berterima kasih itu perlu. 
Tidak usah dengan memberi hadiah dan bersujud-sujud. 
Berlaku saja seperti seharusnya. 
Tepatkan komitmen itu. 
Untukmu sendiri, tak secuil pun aku mengail untung atas itu. 

Hilang rasa melihat peringatan dibantah-bantah dengan berapi-api, 
sekuat tenagamu. 
Hati patah-patah dibuatnya. 
Tak ada rasa hormatmu. 
Tak usah jauh bicara soal kedudukan, 
sederhana saja, saling menghargai sebagai sesama manusia. 
Itu saja. 

Sekarang urus hidupmu sendiri. 
Selamatkan dirimu sendiri. 
Pertalian kita itu masa lalu. 
Sakit ini legit. 
Cukup. 

Minggu, 23 November. 
Kedoya, Lobi 3.
Menunggu mobil anteran cawang.
Pulang ngorlip yang kemalaman.

Kabar untuk Salman…

Salman kecil… Kamu di mana sekarang? Bagaimana kabarmu? Cukupkah makanmu? Sekarang hujan deras di sini.. Apa kau ada di jalanan dan kehujanan?

Semalam tanpa sengaja aku bertemu dengan Abi dan Ibumu di Stasiun Depok. Hampir lewat tengah malam.. Aku dan Ibumu sama-sama terdampar di stasiun ini, menunggu kereta ke Bogor yang baru melaju di Cikini. Artinya kira-kira satu jam lagi kereta datang.

Aku sudah sangat lapar, jam makan malam sudah lewat tenggat. Kursi-kursi tunggu sudah penuh. Akhirnya aku duduk lesehan di lantai stasiun, bersandar pada pot bunga  besar. Mengunyah rangginang dari Su yang rasa enaknya terasa berlipat-lipat karena sangat lapar.

Wajah-wajah para penumpang yang menunggu kereta, muram. Badan sudah letih, mata sayu mengantuk, kereta masih jauh. Tak ada yang berselera berbincang. Setiap orang terbenam dalam pikiran sendiri-sendiri, atau hanya melamun menahan kantuk.

Karena sepinya malam, suara Abi dan Ibumu yang berbincang bisa didengar semua orang yang menunggu kereta datang. Aku pikir mereka sedang mengobrol biasa. Baru belakangan aku sadar kalau mereka sedang bertengkar. Adik bayimu, Salman, digendong Ibumu yang malam itu berkemeja merah dan berkerudung hitam. Badannya tipis, mukanya tirus duka, tanpa ada gairah hidup.

Di gendongan Ibumu, adik bayi perempuan itu tertawa-tawa minta diajak main. Dia belum mengerti kalau Abi dan Ibu sedang bertengkar.

Lalu kudengar Ibumu berkata pada Salwa, kakak laki-lakimu yang berkemeja garis-garis hijau hitam. “Nanti kamu ikut abi ya…” kata Ibumu sambil mengusap kepala Salwa. Kakakmu yang berumur empat tahun itu diam saja. Kepalanya mendongak menatap wajah Abi dan Ibu berganti-ganti. Matanya menyorotkan luka dan kebingungan.

“Mana Salman?” tanya Abimu tak sabar.
“Ada, pokoknya ada lah,” kata Ibumu ketus.
“Kenapa gue nggak boleh, nggak bisa ketemu Salman?” cecar Abi lagi.
Ibumu diam saja, Salman.. Tak menjawab Abimu. Abi kelihatan sedang rindu dan sangat mengkhawatirkanmu.
“A, di mana Salman? Elu jual ya? Elu suka nongkrong di mall kan? Minta-minta? Malu A, malu,” kata Abi yang mulai tidak peduli keadaan sekitar.

“Enggak.” cetus Ibumu.

Adik bayi perempuan masih tertawa-tawa minta diajak main. Tangannya berusaha menggapai-gapai daun dari pohon bougenvile yang potnya kusandari. Salwa kakakmu diam saja. Tentu tak berani ikut campur urusan orang tua.

Abimu terus-terusan mendesak tanya, “A, mana Salman A? Mana Salman?!” Kata Abi berulang-ulang. Dari balik jaket jeans belelnya yang tua, terlihat dadanya naik turun menahan marah.

Maaf Salman…, lanjutan cerita ini tentu melukaimu.. Tapi begitulah adanya, Salman. Begini jawaban Ibumu…

“Salman siapa?” Tanya ibumu.
“Lah, Salman A, Salman. Salman anak kita.”
“Salman siapa? Anak cuma dua, dua-duanya ada di depan mata.”
“Salman A, adiknya Salwa. Mana Salman?” Abi mengacak rambutnya sendiri, pusing dengan ulah Ibumu, Salman. Luka dan rindunya padamu menguar, meletup.
“Ih gila. Anak dua, dua-duanya di sini malah dicari-cari. Salman siapa? Ini anak dua-duanya sudah di sini. Gila ih…”
“Gila lu A, anak sendiri lu jual. Ga boleh gitu A, jangan pilih kasih sama anak, A. Kasih tau gue, Salman di mana?! Gue lapor polisi nih.” Abi mulai mengancam…
“Salman siapa? Lapor aja sana.”
“Bener ya gua lapor polisi?! Hayo A, sini lu ikut ke kantor polisi. Kita lapor, anak kita hilang.”
“Enggak. Kalo lu mau lapor polisi, ya lapor aja sana.  Gue gak ikut.”
“A, yang bener lu, A. Di mana Salman? Lu jangan gitu A, lu berhijab tapi hati lu kotor. Dia gak berhijab, tapi orangnya baik,” kata Abimu. Entah siapa ‘dia’ yang dimaksud Abimu, Salman. Aku tidak mengenalnya.
“Oh baik ya. Saking baiknya sudah tinggal serumah walaupun belum menikah?” Suara Ibumu terdengar getir. Lukanya sudah tak berair mata, tak ada nada emosi. Tangannya mengusap-usap punggung adik bayi yang masih terus minta diajak main.

“SALMAN MANA A???!!!!”
“Salman siapa?!”
“PLAK…..!!”  Abimu mendidih sudah. Hilang sabar menghadapi Ibumu.
Kemudian, Salman. Seorang laki-laki yang dari tadi mau tak mau menyimak pertengkaran Abi dan Ibumu terpaksa ikut campur. Dia memanggil satpam, meminta agar mengusir Abi dan Ibumu.

Cekatan satpam datang menghampiri Abi dan Ibumu. Ibumu yang pipinya pedas memerah, tetap tak berair mata. Justru sorot matanya menantang. “Memang, Pak. Memang begitu dia orangnya. Suka nyakitin,” cetusnya.

Satpam muda itu mengusir Abimu.. Mulutnya terkunci. Mungkin Abi merasa sia-sia kalau terus mendesak Ibumu. Ibumu tetap tak bicara di mana kau berada, Salman. Kemarahannya hanya jadi tontonan kami, para penunggu kereta.

Perpisahan keluargamu di Stasiun Depok malam itu begitu pahit, Salman. Abi menggandeng kakakmu, Salwa. Kakakmu diam saja. Kakinya tersandung-sandung mengikuti langkah Abimu yang cepat. Kepalanya menoleh ke belakang. Matanya menyorot Ibumu dengan luka. Ibumu buang muka, Salman… Entah seperti apa rupa luka hatinya, sampai ia tak punya belas-kasihan lagi pada Salwa yang terluka di depan matanya. Aku sedih, Salman. Aku berduka untukmu, Salwa dan adik bayimu.

Adik bayimu masih tertawa-tawa, Salman. Dia tidak mengerti perpisahan Abi, Ibu dan kakaknya Salwa. Aku ingin memeluknya, Salman. Tapi tak enak hati pada Ibumu yang tengah berusaha mendamaikan hatinya. Kereta datang… Ibu dan adik bayimu lenyap di tengah gerombolan penumpang.

Aku tidak mengerti…. Pertengkaran serupa apa yang melenyapkan rasa cinta Abi dan Ibumu. Sampai mereka tega saling mematah-matahkan hati. Lupakah mereka pada suka cita pernikahan mereka dulu? Lenyapkah kenangan kegembiraan mereka menyambut kelahiranmu, Salwa dan adik bayimu. Entahlah, Salman.. Aku tidak mengerti.

Hanya kukirim secarik doa.., semoga kau baik-baik saja, Salman.., juga Salwa dan adik bayimu…

Bumi–Selamat Jalan Nyai…

Alhamdulillah.., akhirnya kau bisa tidur nyenyak juga setelah semalam hanya tidur dua jam. Lekas sembuh ya, Nak. Biar bersih napasmu.. Lega…

Untuk kesehatanmu.., nanti ibu ceritakan dalam episode lain. Kali ini, sambil menemanimu yang tidur nemplok di pelukkan Ibu, akan Ibu ceritakan tentang Nyai. Mama ayahmu.

Nyai berpulang pada hari baik. 2 Agustus 2014. Enam hari setelah lebaran. Setelah tuntas bermaafan dengan keluarga, sanak saudara, tetangga, sahabat-sahabat, dan kerabat lainnya. Hari itu, jam 01.16 WIB, Ayah menelepon mengabari kita.

“Mama sudah nggak ada…” Kata ayahmu datar. Kami berdua kemudian terdiam. Hening yang kosong. Waktu seperti ikut berhenti berdetak bersama perginya Nyai..

Untunglah ayahmu masih sempat bertemu, dan menemani Nyai di saat-saat penghabisan waktunya. Ayah berangkat ke Bandung 1 Agustus 2014, naik travel Cipaganti jam 20.30 WIB. Dari Bogor ke Bandung.

Segera setelah mendapat kabar dari Kyai kalau kondisi Nyai kritis. Ayah langsung ke rumah sakit Bromeus tempat Nyai dirawat. Sampai di sana pukul 00.30 WIB, setengah jam lebih sebelum Nyai wafat..

Kita berdua tidak bisa ikut ayah. Waktu kabar dari Kyai datang, Ibu masih di kereta, perjalanan pulang kerja dari Kedoya, Jakarta. Kereta dari Manggarai lama sekali datang. Bikin Ibu tertahan lama di perjalanan. Lagi pula, kondisimu sedang tidak terlalu baik. Tak sampai hati rasanya membawamu dalam perjalanan jauh.

Saat ayahmu sampai di kamar Maria 2209, Nyai sudah tidak sadar. Kata Ayah, Nyai tertidur setelah mengobrol dengan Wa Umi dan Wa Upi yang tiba lebih dulu, pukul 22.00 WIB. Mereka tinggal di Jakarta. Dalam tidurnya itu, kondisi Nyai terus melemah. Beberapa menit sekali para dokter ahli datang ke kamar Nyai untuk memeriksa kondisinya. Berbagai obat dimasukkan ke dalam infus untuk memacu hidupnya. Tapi, Nak, Bumi, badan Nyai tidak merespon segala upaya dokter itu…

Para dokter kemudian meminta persetujuan Ayah, Wa Bunda dan Wa Ayah yang sedang menunggui Nyai untuk memompa jantung Nyai secara manual. Di depan mata ayahmu, Nak, dada Nyai ditekan secara bergantian oleh tiga dokter. Namun tak ada tunas harapan. Sampai dokter mengecek denyut di leher Nyai. Sudah berhenti. Nyai kesayangan kita semua sudah berpulang ke rumah Allah.

Ada lega hati juga.., karena kita bertiga sempat menuntaskan keinginan terakhir Nyai untuk berlebaran di Bandung. Nyai ngotot sekali ingin kita ke Bandung. Terutama bertemu ayahmu, anak bungsu kesayangannya. Anak laki-laki satu-satunya.

Ibu bingung bagaimana memenuhi keinginan Nyai. Niat untuk berlebaran di Bandung sudah ada sejak awal puasa. Rencana itu sudah Ayah Ibu tuliskan dalam agenda di ingatan. Kami sudah membeli dua toples kue lebaran untuk oleh-oleh. Ada juga kemplang anggur mentah khas Palembang kesukaan Nyai. Segala oleh-oleh itu sudah kami susun di dalam sebuah kotak kardus.

Tapi ternyata, jatah libur lebaran di kantor Ibu tak sebanyak ayahmu. Ayahmu dapat libur seminggu. Ibu hanya tiga hari. Sehari sebelum lebaran sampai hari kedua lebaran. Bagaimana mengatur waktunya. Lebaran pertama saja kita harus di Bogor bersama Enin dan Atok yang datang dari Palembang untuk kita. Tentu tak sampai hati kita meninggalkan mereka berdua…

Lalu sisa satu hari di lebaran kedua saja. Ibu bingung, apakah harus membawamu yang baru dua bulan pulang pergi Bandung-Bogor dalam sehari. Kau masih terlalu rapuh, Bumi. Ibu sendiri sedang dalam kondisi tidak seratus persen, masih lemas karena pendarahan yang tak habis-habis. Bagaimana ini.. Ayah berusaha sebisanya mencari tiket travel, tapi tak dapat juga.

Tapi Allah memberi jalan dengan caranya. Atok Fuad dan Tante Renny (yang tidak mau dipanggil nenek), adik Atok, meminjamkan mobil Avanza-nya kepada kita. Lebaran hari pertama itu juga, Atok dan Enin mengajak kita berangkat ke Bandung.

Perjalanan tersendat oleh macet, Atok yang menyetir sempat menabrak mobil dan ribut-ribut sedikit di pinggir jalan. Akhirnya kemudi diambil alih ayahmu. Dengan segala rintang itu, kita baru sampai di Bandung jam 20.00 WIB. Masih nyata, Nak, tergambar wajah gembira Nyai dan Kyai menyambut kedatangan kita. Nyai yang membukakan pintu. Sementara Kyai duduk menunggu di ruang tamu. Kyai tak kuat berdiri terlalu lama.

Hari itu adalah perjumpaan pertamamu dengan Kyai. Ibu langsung menyerahkanmu pada Kyai. Dengan penuh sayang Kyai menggendongmu. Kyai mengamati wajahmu lekat-lekat. Putih bersih, mirip ayahmu. Saking miripnya dengan ayahmu, Nyai suka memanggilmu Anda, nama panggilan ayahmu.

“Anda, mau susu? Anda junior ini. Mirip nian,” kata Nyai waktu menggendongmu. Kata Nyai, berat badanmu sudah terasa bertambah banyak. Nyai bilang tak kuat lagi menggendongmu terlalu lama. Tangannya sakit. Nyai senang melihatmu tumbuh sehat, dan jangkung. Betul-betul mirip ayahmu.

Pada pertemuan terakhir kita dengan Nyai itu, Nak, Bumi, Nyai masih kelihatan sehat, gagah. Masih kular-kilir ke dapur, masih cerewet mengobrol. Dengan manja Ibu mengadu pada Nyai, kita semua lapar. Belum makan dari siang karena semua tempat pemberhentian makan di jalan tol penuh.

Sigap Nyai mengajak Awi menyiapkan makan untuk kita. “Cuma ado lontong dak apo-apo? Apo nak nasi? Kalu nasi harus masak dulu,” kata Nyai sambil membereskan ini-itu di dapur. Ibu bilang tak apa-apa lontong ketupat. Apa saja boleh.

Dengan cekatan Nyai menyiapkan lontong ketupat, opor ayam, sayur buncis dan sambal. Nyai meminta Awi menggoreng pempek. Segala toples kue di ruang tamu dibuka tutupnya. Ibu, Enin dan Atok dibuatkan teh manis hangat. Obrolan Ibu dengan Nyai hanya sepotong-sepotong. Ah andai tahu itu kesempatan terakhir bertemu Nyai… Ibu akan mengobrol banyak-banyak. Nyai sangat senang kalau ditemani mengobrol. Nyai suka bercerita apa saja…

“Wita, maaf.. Mama idak buat tekwan. Dak sempet. Taun ini jugo uwong nak mesen pempek Mama tolak. Dak sanggup lagi gaweke nyo…,” kata Nyai penuh rasa bersalah. Pempek buatan Nyai nomor satu enaknya. Waktu Ayah-Ibu menikah saja, Nyai membuat pempek banyak sekali untuk disuguhkan pada tamu. Sebentar saja pempek sudah ludes. Banyak yang tak kebagian.

Nyai tau betul, Ibu senang sekali makan tekwan buatan Nyai. Biasanya, setiap Ibu dan Ayah ke Bandung, Nyai sudah menyiapkan tekwan. Bahkan waktu Nyai ke Jakarta, menginap di rumah kontrakan Ayah dan Ibu, khusus membawa tekwan dari Bandung. Kuahnya dibuatkan Awi di sana.

“Nggak apa-apa Mama..,” kata Ibu. Ibu tau kondisi Nyai sudah tidak seprima dulu. Sebelum puasa datang, ada miom terdeteksi di rahim Nyai. Rahim Nyai harus diangkat. Tapi Nyai kelihatan agak takut, ragu-ragu. Nyai mengulur waktu, ingin puasa ramadan dulu katanya. Kita semua mengkhawatirkan kondisi Nyai.., tapi kita tidak bisa terlalu mendesak dan memaksa Nyai….

Malam itu, waktu bertiga dengan Awi dan Nyai di dapur, Ibu sempat curhat. Bingung bagaimana nasibmu kalau Atok dan Enin pulang ke Palembang. Ibu harus bekerja dan tidak bisa seharian bersamamu. Kata Nyai, sebaiknya Bubu tinggal di Bandung saja. Biar Nyai yang menjaga. Ah, Bumi, begitu sayangnya Nyai, Kyai dan Awi kepadamu. Sama besarnya dengan rasa sayang Atok dan Enin kepadamu.

Dan besoknya, hati seberat batu rasanya untuk pulang. Pertemuan hangat ini baru terasa sebentar. Tapi besok Ibu harus bekerja, tak bisa berlama-lama. Kita juga masih harus ke Cianjur, untuk bertemu Uu, Eyang Buyutmu. Dalam hati Ibu niatkan kuat-kuat, untuk mengatur waktu cuti bersama Ayah, supaya kita bisa di Bandung lebih lama.

Pagi-pagi Nyai dan Awi sudah bersibuk lagi. Menyiapkan ayam goreng dan sambal untuk bekal kita di perjalanan. Setoples kacang dan pempek yang enak itu. Serta menyiapkan sarapan untuk kita sebelum berangkat pulang ke Bogor.

Sebelum pulang, Nyai meminta kita mampir sebentar ke rumah sahabatnya yang masih tinggal berdekatan. Ayahmu memanggilnya Om dan Tante Yayat. Mereka ingin melihatmu, bertemu denganmu, Nak. Nyai berdandan rapi sekali. Nyai memang selalu apik, modis berdandan. Tapi hari itu Nyai kelihatan lebih cantik. Pakai baju terusan merah marun dengan bunga-bunga mawar yang melingkari bajunya, serta kerudung warna senada. Ibu lekat-lekat memandang Nyai. Nyai betul-betul kelihatan cantik. Sayang pujian itu tidak sempat terlontarkan. Hanya berdecap dalam hati Ibu.

Setelah dari rumah Om dan Tante Yayat. Kita melanjutkan perjalanan pulang. Nyai tidak ikut naik mobil. Pulang berjalan kaki saja katanya, dekat. Dari dalam mobil, dengan kaca jendela yang tak dibuka, kita melambaikan tangan tanda perpisahan. Ternyata, Nak, itu menjadi lambaian tangan perpisahan yang sesungguhnya. Besoknya Nyai dibawa ke rumah sakit Bromeus. Bukan karena miom, tapi sakit jantung dan berbagai komplikasi yang membawa Nyai pada masa kritis. Nyai betul-betul pergi selamanya…

Mari kita berdoa, Nak, Bumi, supaya Nyai damai dalam tidur panjangnya. Diberikan tempat yang baik, dipeluk Allah dalam cintaNya. Kita semua sayang Nyai, kita harus ikhlaskan kepergiannya..

Ah, mata Ibu basah lagi. Masih terlalu sedih pada perpisahan mendadak ini. Maaf… sampai air mata Ibu jatuh menetes di kepalamu. Untung kau tidak sampai terbangun. Kau butuh tidur, banyak istirahat. Baiklah Bumi, cerita tentang Nyai nanti kita sambung lagi. Lain waktu Ibu akan ceritakan tentang Nyai yang pemberani dan sangat sayang padamu. Cepat sehat ya, Nak. Tidurlah yang lelap. Mari kita juga doakan Ayah supaya tegar dan sehat-sehat di sana. Ayah harus membereskan banyak hal dan menemani Kyai dalam dukanya yang dalam. Kita berdua harus baik-baik dan bersabar di sini, menunggu Ayah kesayangan kita pulang. *

Ciapus, 3 Agustus 2014. Kamar Enin, sambil mendekap Bumi.
——–

Bumi–Satu Sore di Perempatan Lampu Merah

Sudah jam 17.00 WIB sekarang. Ibu ada di angkot M11, rute Srengseng-Tanah Abang. Perjalanan pulang dengan angkot biru muda ini memang lebih lambat. Sebelumnya Ibu harus naik angkot lain dulu dari kantor untuk sampai ke Srengseng. Bisa C03 butut yang berwarna kuning-putih. Atau angkot 09 yang merah.

Meski rutenya lebih jauh, tapi rasanya lebih nyaman, santai, ketimbang naik kopaja P16 yang menggila itu. Buktinya sekarang Ibu bisa sambil menulis untukmu. Mumpung duduk di bangku depan, sebelah supir. Jadi lebih leluasa menulis.

Nah, Bumi. Sembari angkot ini ngetem di pertigaan jalan Syahdan, Ibu akan bercerita lagi kepadamu. Kali ini tentang perjalanan pulang Ibu kemarin. Masih dengan bus kopaja.

Sopir kopaja yang Ibu tumpangi kemarin sudah menyetir seperti kesetanan sejak Ibu naik. Sampai di satu perempatan lampu merah, si supir sedang malas untuk mematuhi peraturan. Ia ingin menerabas lampu merah yang dianggap mengganggu perjalanannya.

Seorang pengendara sepeda motor sudah berhenti lebih dulu, tepat di depan garis batas lampu lalu lintas. Dia enggan menepi. Memang benar bapak tua itu. Semua orang juga tahu, kalau lampu lalu lintas menyala merah, maka kita diperintahkan berhenti. Kopaja itu menggeram, mengaung. Gas ditarik, ditekan. Klakson dibunyikan. Supir dan kernet kopaja berteriak-teriak meminta si pengendara sepeda motor minggir.

Karena ancaman supir kopaja kelihatan makin serius, akhirnya si pengendara sepeda motor menepi. Tapi dia tak ingin dianggap kalah. Dia menjeritkan umpatan marah kepada supir dan kernet kopaja. Ibu dan penumpang di dalam kopaja tidak bisa mendengar jelas makiannya. Hanya melihat mukanya memerah saking marahnya, terus berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah kopaja.

Si kernet pun menyahut makian itu. “MINGGIR AJA. DARIPADA DISEREMPET LU!”

Supir kopaja menginjak pedal gas lagi. Jalannya sudah tak terhalangi. Peduli setan pada lampu lalu lintas.

“Dasar orang kampung, diserempet baru tahu. Bikin repot aja. Ngapain datang ke Jakarta, menuh-menuhin Jakarta aja. Udah tau Jakarta sempit,” ia menggerutu sambil menyetir tak karuan. Kopaja oleng ke kiri dan ke kanan.

Lalu ada suara menyahut, “Ayah juga sama. Datang-datang ke Jakarta.”

Suara itu adalah milik suara bocah laki-laki polos yang duduk di kursi di sebelah supir kopaja. Kepalanya tak kelihatan dari bangku belakang yang berkarat. Hanya kakinya yang mungil menggantung, mengayun tak sampai ke lantai. Anak itu anak si supir kopaja.

Sebaiknya memang kita tidak tinggal di Jakarta, Bumi. Kata ayahmu, tinggal bisa di mana pun di bagian Indonesia Raya ini. Asalkan tidak di Jakarta. Kota ini mengerikan saking padatnya. Membuat orang-orang hilang akal, merasa paling benar sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Kota ini akan bikin siapa pun yang tinggal akan menua sebelum waktunya. *

Kopaja M11, hampir sampai Tanah Abang. Jumat, 1 Agustus 2014. Besok Ibu libur, Nak. Kita main sepuasnya bertiga ayah ya. Ibu love you, Bumi.
——–

Bumi–Waktu Ibu Pulang Naik Kereta

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh.., lewati rintang untuk aku anakmu…,” sepenggal lagu Iwan Fals itu dinyanyikan parau oleh dua pengamen yang baru naik ke bus paling sinting di Jakarta, Kopaja P16. Sialnya, Nak, Ibumu menjadi salah satu penumpang ketakutan di dalam bus ugal-ugalan yang sudah banyak mengunyah nyawa orang.

Dua kardus indomie, paket lebaran susulan dari kantor yang Ibu terima penuh syukur, sudah diikat tali rapia. Ibu letakkan di depan ibu, di depan kursi paling belakang agar lebih mudah diawasi. Tangan kiri Ibu memeluk ransel berat yang dijejali berliter-liter minyak goreng dan setoples kue, juga bingkisan lebaran dari kantor. Tangan kanan Ibu memegang erat-erat besi di jendela, agar tidak terjerembab ketika supir kopaja ini menginjak rem dan gas sesukanya. Rasa mual dan pusing karena laju bus tak karuan, Ibu tahan-tahankan.

Lalu sampailah bus mengerikan ini pada tempat penghentian terakhirnya di Tahan Abang. Tepat di depan Museum Tekstil. Ah Ibu harus hemat tenaga. Hari ini tak ada Ayahmu yang biasanya membantu membawakan barang bawaan Ibu. Daripada berjalan kaki, lebih baik naik ojek ke stasiun kereta. Ongkos Rp10.000 berhasil Ibu tawar jadi Rp7.000.

Nah, stasiun! Dengan semangat, Ibu menaikki tangga-tangga boncel stasiun kereta Tanah Abang. Menggedong tas ransel penuh minyak goreng dan menenteng dua kardus Indomie. Berjalan secepat-cepatnya, menuju kereta yang telah menunggu. Ibu tidak boleh ketinggalan kereta. Ibu ingin secepatnya bisa sampai ke rumah, memeluk dan menciummu penuh sayang.

Kereta penuh sekali. Tentu saja, karena sekarang jam 17.00 WIB. Waktunya orang-orang pulang bekerja, sama seperti Ibumu. Ibu terpaksa berdiri, karena semua kursi sudah penuh. Kardus Indomie dan tas yang berat itu, susah payah Ibu naikkan pada rak di atas kursi penumpang.

Dan melajulah kereta yang padat ini menuju Bogor. Pendingin ruangan di gerbong tempat Ibu berdiri ternyata mati. Hanya ada sebulat kipas angin berkarat yang berputar-putar putus asa.. Satu-dua stasiun kami masih bertahan. Keringat sudah berbutir-butir menetes. Saling menarik napas berebut oksigen yang cuma sedikit. Seorang bayi perempuan menangis kegerahan di dada Ibunya. Sampai stasiun ke-3, seorang lelaki membuka jendela di depan Ibu. Alhamdulillah, udara!. Penumpang-penumpang pun tersenyum, berterima kasih kepada laki-laki yang baik itu. Penumpang lain pun ikut membuka jendela-jendela gerbong yang lain agar udara segar bisa masuk.

Tangan Ibu menggenggam kuat-kuat besi di atas kursi penumpang untuk menjaga keseimbangan. Pura-pura tidak merasakan segala kesumpekan dan letihnya berdiri berdesakkan. Mengalihkan pikiran kepadamu. Sesekali Ibu menengadah ke rak barang. Memastikan tas dan kardus Indomie masih ada. Di kereta ini banyak sekali pencuri. Tempo hari saja di kereta jurusan yang sama, seorang bapak yang duduk di sebelah Ibu kehilangan tas ransel yang ia letakkan di rak barang. Padahal dia tidak tidur, dia sedang mengaji.

Ada rasa kosong karena hari ini Ibu harus pulang sendirian, tanpa ayahmu. Kalau pulang berkereta berdua ayahmu, walau kereta penuh sesak dan harus berdiri berjam-jam, tentu tak terlalu terasa letih. Karena ada teman mengobrol sepanjang perjalanan.

Tapi sebenarnya ada rasa tenang juga, karena seharian ini ayah menemanimu di rumah. Ayah izin tidak bekerja karena sedang kurang sehat. Semoga dengan istirahat seharian dan bersamamu, Ayah bisa lekas sembuh ya, Bumi.

Di Stasiun Pondok Cina, setelah hampir satu jam berdiri, barulah ibu mendapat tempat duduk. Hanya keberuntungan, karena yang duduk di depan ibu turun. Kereta masih penuh. Bau keringat dan aroma letih masih menguar. Wajah-wajah penumpang terlihat lelah, kusut, tanpa semangat. Menanti Magrib datang, menuntaskan kewajiban puasa hari itu.

Kereta hari itu rupanya padat sampai ke pemberhentian terakhirnya di Bogor. Penumpang-penumpang turun meninggalkan stasiun penuh syukur. Perjalanan pulang Ibu belum selesai, Nak. Masih harus naik motor lagi untuk bisa sampai ke rumah.

Dua kardus indomie yang sudah diikat tadi, Ibu letakkan di bagian depan motor yang Ibu parkir di stasiun. Diapit dengan kedua kaki agar seimbang dan tidak oleng terjatuh. Tas ransel berat tadi disandang di bahu. Dan melajulah Ibu, menyetir motor menuju rumah. Dengan letupan perasaan tak sabar ingin lekas sampai, memelukmu dan ayahmu. Membacakan cerita Toto Chan kesukaanmu. Mengantarmu lelap dalam mimpi kanak-kanak yang gembira.

Semoga perjalanan pulang Ibu lancar ya, Bumi. Maafkan Ibu tidak bisa menemani tumbuh kembangmu selama dua puluh empat jam. Dengan berat hati merelakan separuh waktumu bersama Enin atau mungkin nanti Awi. Tapi Ibu sedang memaku cita-cita itu: bisa berhenti bekerja dan mengurus, merawatmu, menemanimu menikmati masa kanak-kanak. Semoga bisa lekas terwujud ya. Sementara ini, kita harus saling menguat-nguatkan hati dulu…*

Kereta Commuter Line Tanah Abang-Bogor, akhir Ramadan 24 Juli 2014.

——–

bubu.. tulisan ini ibu simpankan untukmu ya, nak. biar bubu juga bisa belajar tangguh.

Cerita wanita hamil tua selonjor di lantai KRL
Reporter : Laurencius Simanjuntak | Kamis, 17 April 2014 10:26
39
16Share Detail

Merdeka.com – Kepadatan kereta rel listrik (KRL) sebagai moda transportasi massal paling digandrungi adalah cerita lama. Setiap penumpang tidak hanya harus siap berdiri karena tak kebagian kursi, tetapi juga berdesak-desakan.

Wita (29), seorang karyawan swasta, hampir setiap harinya merasakan hal tersebut. Namun belakangan komuter yang tinggal di Bogor ini mendapat cerita baru soal kepadatan KRL ketika dia sedang hamil. Ini soal rasa empati penumpang yang mungkin mulai hilang.

Pernah di pertengahan bulan lalu, Wita yang sedang hamil tujuh bulan tidak kebagian kursi penumpang dalam perjalanan pulang dari Stasiun Cawang menuju Bogor. “Karena capek saya duduk di bawah aja,” kata Wita kepada merdeka.com, Kamis (17/4).

Dengan perut yang sudah membesar, mau tidak mau Wita harus duduk selonjor di lantai KRL. Meski melihat banyak penumpang laki-laki yang sedang duduk di kursi penumpang, Wita enggan merengek untuk minta duduk.

“Saya ga pernah minta kursi kalau naik angkutan umum. Kalau orang mau kasih duduk, alhamdulillah. Kalau ga ya ga apa-apa, ketimbang minta, tapi ngasihnya ga ikhlas,” kata dia.

Wanita yang menikah setahun lalu ini tidak pernah meminta kursi kepada penumpang lain karena dia tidak tahu kondisi mereka.

“Kita ga pernah tau kondisi orang di sekitar kita. Kalau dia sedang capek, habis lembur, sakit, lagi banyak masalah, sedang berduka atau apa,” kata Wita.

Soal heboh di media sosial tentang Dinda, wanita yang membenci ibu hamil karena sering minta duduk di KRL, Wita justru memakluminya.

“Dinda itu udah bilang kakinya sakit karena tulangnya geser. Jadi dia pun ga bisa berdiri terlalu lama. Sama seperti bumil. Ya dimaklumin aja,” kata dia.

“Kita ga tau kondisi kesehatan orang. Kita merasa perlu duduk karena hamil, misalnya. Padahal orang yang kita minta kursinya juga sedang dalam kondisi butuh duduk,” ujarnya.

Bagi Wita yang sedang hamil tua, membiasakan diri untuk tidak lemah atau tergantung orang lain, juga ikut mengajarkan anaknya yang dilahirkannya kelak agar tangguh.

“Kecuali udah mau pingsan ya gimana lagi, mau ga mau minta duduk,” ujar Wita.
——————
http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-wanita-hamil-tua-selonjor-di-lantai-krl.html