gemuruh pada sore berangin ribut

adzan Ashar memekik nyaring

seperti melawan ributnya angin sempoyongan yang datang menampar

layangan koyak pasrah, terhempas di atap seng

awan gelap tersedak, menumpahkan hujan tipis-tipis yang lekas membanyak

menabrak masuk lewat jendela

dalam ruang yang baru dimampiri hujan, ada gemuruh yang juga berdenyut

mengacak-acak hati yang sulit ditata rapi

gejolak yang tak juga tentram meski angin ribut telah pamit undur diri

*

-sarang enje, 10 januari 2013-

dengan kaki kiri yang masih nyeri.

dalam diam

dalam diammu

memukul gelisah di sini

meracau cemas

berpikir

mencerna

mengurai

menerka

mereka-reka

tak terselami

beraduk gelisah

saling-silang pikiran batin

membuncah rindu

kata tanya bergumpal, tertelan

dalam diammu yang tak terjemahkan

-eNJe-

Sarang, 26 November 2012

Masih terbatuk-batuk

Doa Apa?

Kita sekarang berjauhan

Tak punya urusan apa-apa, atau ikatan apapun juga

Sempat terbersit merapal sepetik doa

Tapi doa apa?

Bahkan aku tak bisa memaafkan diri sendiri

Enyah

-eNJe-

Sofa sudut yang biasa, kali ini sendiri

Kenapa Laila?

Kenapa Laila, senyummu sumringah benar hari ini

Sedang biasanya kau kerap menyusup bersembunyi di belakang punggungku

Kenapa Laila, tarianmu rancak sekali di tengah ramai

Padahal biasanya kau gemetar saat menerobos riuh

Kenapa Laila, tadi tawamu berderai begitu lapang

Sedangkan sebelumnya kau selalu pucat hingga tak kuasa berlisan

Kenapa Laila, kegembiraan itu kau percik kepada setiap orang yang kau jumpa

Sementara kemarin kemarahan yang kau pelihara begitu didih meletup-letup

Mari sini Laila, mendekatlah… biar kupeluk…