Sri dan Anaknya Ingin Keluar dari Aleppo

SRI Budi Setyowati Sudardi, 42, sudah tidak bisa lagi mengendalikan kecemasannya. Perempuan itu mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan Muhanad, 4, anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, mereka saat ini berada di kota yang sama dengan Omran Daqneesh, 5, tinggal. Bocah yang foto dan videonya menghenyakkan dunia, setelah menjadi korban serangan udara di distrik Qaterji, Aleppo. Omar ditemukan di bawah reruntuhan rumahnya yang hancur lebur dengan luka di kepala.

Tak lama setelah peristiwa serangan udara itu, Sri bergegas melaporkan kondisinya ke Kantor Konsuler Indonesia cabang Aleppo. Memohon agar bisa dipulangkan segera ke Tanah Air. Ia tidak pernah membayangkan bisa terjebak di tempat yang menjadi sarang IS (Islamic State) tersebut.

“Saya pertama kali masuk ke Aleppo pada 2003. Kondisinya masih aman. Aleppo itu kota terbesar dan makmur di Suriah. Tapi sejak konflik berkecamuk tahun 2012, kondisinya berubah drastis,” ujar Sri membuka perbincangan saat dihubungi, kemarin.

Sri datang ke Suriah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Dalam perjalanannya, Sri menikah dengan pria setempat yang bekerja sebagai sopir taksi. “Perasaan saya was-was setiap saat. Khawatir mortar yang ditembakan pemberontak jatuh di rumah atau lingkungan sekitar. Anak saya, Muhanad, juga tidak bebas bermain,” tuturnya cemas.

Sri menuturkan, sejak awal 2016 kebutuhan menjadi sangat sulit dan langka. Terutama untuk air, listrik, gas juga makanan. “Kami sering tidak mandi selama sepekan atau baru mendapatkan stok makanan baru setelah beberapa lama,” keluhnya.

Sri sebetulnya sudah lama ingin keluar dari Aleppo. Tanpa konflik saja, ia sudah tak betah. Sebab, anak laki-lakinya itu kerap dipukuli oleh majikannya dan suaminya. Ditambah lagi situasi kian mencekam. Tak ada alasan lagi bagi Sri untuk bertahan di kota itu. Namun untuk pulang ke tanah kelahiran ternyata tidak mudah. Keluar dari Aleppo tidaklah sederhana. “Apalagi majikan saya menahan saya cukup lama. Berkat bantuan dari Konsuler KBRI Damaskus saya berhasil ditarik ke shelter KBRI Damaskus.”

Sri diantarkan petugas KBRI dari Aleppo ke Damaskus dengan mobil kedutaan. Bersama Sri, ada 10 orang TKI lainnya yang ikut ditarik. Termasuk juga Nani dan anaknya yang bernama Muhammad, 3. “Saya lega dan bersyukur sekali. Harapan saya ya ingin pulang. Saat ini KBRI Damaskus tengah memperjuangkan hak-hak saya yang masih tertinggal di majikan, termasuk juga dokumen administrasi.”

Pejabat Konsuler KBRI Damaskus Adkhilni M. Sidqi menuturkan, upaya mengeluarkan para TKI dari Aleppo bukan hal mudah. Para TKI itu terlebih dahulu ditempatkan di penampungan KBRI di Aleppo bersama puluhan TKI lainnya. Setelah kondisi dinilai cukup aman, tim dari KBRI membawa rombongan TKI ke Damaskus dengan mobil KBRI dan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. “Mustahil jika menggunakan mobil biasa, karena harus menembus puluhan pos pemeriksaan militer dan menembus reruntuhan kampung yang hancur dan ditinggalkan di tengah gurun,” ujarnya.

Saat ini, KBRI Damaskus masih mengupayakan agar para TKI itu bisa dibawa pulang ke Tanah Air. “Syarat administrasi kepulangan itu banyak. Izin tinggal (iqomah), exit permitt, gaji, tiket dan lain-lain. Untuk Sri saja, dia menunggak izin tinggal sebesar $1.000,” jelasnya.

Sejak 2012, kata Sidqi, KBRI Damaskus sudah memulangkan sekitar 13 ribu TKI. KBRI tidak memiliki data jumlah WNI yang berada di sana. Karena kebanyakan dari mereka masuk secara ilegal. “Kami tidak tahu jumlah pastinya. Karena banyak yang masuk secara ilegal. Pemerintah kita sudah menghentikan pengiriman TKI ke Suriah sejak 2011,” tuturnya.

Untuk menemukan para TKI yang tersebar di Suriah itu, pihaknya terus berupaya menyebar nomor telepon para petugas dari KBRI dan menugaskan para pengacara di wilayah-wilayah Suriah untuk mendampingi para TKI yang ditemukan untuk bisa segera ditarik pulang. KBRI Damaskus saat ini memiliki tiga tempat penampungan di Suriah yakni di Damaskus sendiri, di Lattakia dan Aleppo. “Kami terus berupaya agar para TKI itu bisa segera pulang ke Tanah Air,” tutupnya. (Nurulia Juwita)

Advertisements

Soal Tanggung Jawab, Su..

Tanggung jawab itu bukan sekadar mengakui kesalahan dan mengucapkan maaf. Tanggung jawab itu, berusaha melakukan yang terbaik dan tidak melakukan kesalahan. Jika terlanjur melakukan kesalahan, berupaya melakukan perbaikan dan kerjakan lebih dan lebih baik.

Melakukan kesalahan secara sadar terus menerus kemudian meminta maaf, dan mengulanginya lagi dan meminta maaf lagi, tak ubahnya dengan menyingkirkan diri sendiri dari peradaban.

Semoga berhasil, Su. Aku sudah lelah bertengkar.

saripati buku: Less Miserables – Victor Hugo

(22) Manusia memiliki raga yang menjadi beban sekaligus godaan baginya. Dia menyeretnya ke mana pun dan membungkuk kepadanya. Dia harus menjaganya, mengekangnya, dan mematuhinya. Kesalahan pun masih dapat terjadi, bahkan dalam kepatuhan seperti ini. Walaupun hanya kesalahan ringan, semua ini adalah kejatuhan, tetapi jatuh dengan kedua lutut untuk berdoa.

Menjadi seorang suci adalah luar biasa. Menjadi seseorang yang tulus adalah aturannya. Yah, jatuhlah dalam dosa jika kalian mau, tapi tetaplah menjadi orang yang tulus.

Dosa yang paling kecil adalah hukum yang dibuat oleh manusia. Tidak mempunyai dosa sama sekali adalah mimpi. Karena semua pasti memiliki dosa, hal yang manusiawi. Dosa itu bagaikan sebuah gravitasi.

(25) Terkadang hal-hal yang paling mulia adalah yang paling sulit untuk dimengerti.

(27) Dia tidak menyuruh untuk menghilangkan kesedihan dengan melupakannya, tapi dia mengajarkan untuk memperbesar dan menghargainya dengan harapan.

(27-28) Perhatikan bagaimana sikap yang anda tunjukkan kepada mereka yang sudah mati. Jangan memikirkan hal yang dapat membinasakan. Tataplah ke depan. Anda akan melihat cahaya dari orang tercinta di kedalaman surga.

(38) Ini adalah warna perbedaan. Pintu seorang dokter tidak boleh tertutup, pintu pendeta harus selalu terbuka. Jangan menanyakan nama orang yang membutuhkan perlindungan anda. Orang yang paling malu menyebutkan namanya adalah orang yang paling membutuhkan perlindungan.

(43-44) Jangan pernah kita takut terhadap perampok atau pembunuh. Itu semua adalah bahaya dari luar, bahaya kecil. Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok yang sesungguhnya. Sifat buruk adalah pembunuh yang sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri kita sendiri. Tidak masalah apa yang mengancam kepala atau dompet kita! Mari kita hanya berpikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita.

(54) Mereka dengan naluri yang halus, mengerti bahwa beberapa bentuk kepedulian harus dipaksakan. Jadi, walaupun mereka tahu dia berada dalam bahaya, mereka mengerti bahwa pada tingkat tertentu mereka tidak lagi mengkhawatirkannya. Mereka memercayakannya kepada Tuhan.

(58) Kematian adalah hal yang sederhana. Orang tidak membutuhkan cahaya untuk itu.

(60) “……. Sementara ilmu adalah suatu kewenangannya yang dapat dipahami. Seseorang seharusnya hanya diperintah oleh ilmu.” “Dan juga hati nurani,” tambah Uskup.

(126) Dengan sedikit pemikiran, rasanya saya mengerti apa yang ada di hati kakak saya. Tak diragukan lagi, dia pasti berpikir bahwa laki-laki yang bernama Jean Valjean ini masih memikirkan kemalangannya, dan yang terbaik adalah mengalihkannya dan membuatnya percaya, walaupun hanya sebentar, bahwa dia sama seperti orang lain, dengan memperlakukannya sebagaimana layaknya.

(132) Jean Valjean dinyatakan bersalah. Ketentuan dalam undang-undang sudah jelas. Terjadilah masa-masa berat dalam peradaban kita, ada kalanya ketika hukum pidana membuat keputusan yang menghancurkan orang. Sungguh suatu catatan yang buruk ketika masyarakat mengundurkan diri dan melakukan pengabdian terhadap sesame mahluk hidup. Jean Valjean dihukum untuk menjalani lima tahun masa hukuman di atas kapal tahanan.

(133) “Sementara baut di kalung besinya dipancangkan di belakang kepalanya, dengan pukulan yang keras menggunakan martil, dia menangis, air matanya membuatnya tak berdaya, mereka mencegahnya untuk berbicara, dia hanya dapat mengatakan dari waktu ke waktu, “Saya adalah seorang tukang kebun di Faverolles.” Lalu, dengan masih terisak, dia mengangkat tangannya dan menurunkannya secara bertahap hingga tujuh kali, seakan-akan dia sedang mengurutkan tujuh kepala dengan tinggi yang tidak sama, dan dari gerakannya dapat disimpulkan apa yang sedang dilakukannya, apa pun itu, dia telah melakuannya demi memberi pakaian dan makanan kepada tujuh anak kecil.

Dia bukan lagi Jean Valjean, dia adalah nomor 24.601. Bagaimana nasib kakaknya? Bagaimana nasib ketujuh anak itu? SIapa yang bersedia memikirkan hal ini? Apa yang terjadi dengan segenggam daun dari pohon muda yang digergaji bagian akarnya? Selalu cerita yang sama. Mahluk-mahluk malang ini, ciptaan Tuhan ini, untuk selanjutnya tanpa sandaran, tanpa bimbingan, tanpa tempat berlindung, berkelana tanpa arah, siapa yang tahu? Masing-masing mungkin dengan jalannya sendiri, dan sedikit demi sedikit mengubur diri mereka dalam kabut dingin yang meliputi takdir yang sunyi, bayangan dan suram, yang menghilang dalam rangkaian ketidakberuntungan, dalam gerakan redup dari umat manusia.

(138) Bagaimana pun pintu untuk melarikan diri dari penderitaan adalah jalan masuk bagi keburukan, pendeknya, dia bersalah.

Apakah kelebihan berat hukuman itu sebanding dengan penghapusan kejahatan dan tidak menghasilkan pembalikan keadaan, dengan mengganti kesalahan pelaku dengan kesalahan penindasan, mengubah laki-laki yang bersalah menjadi korban, dari debitur menjadi kreditur, dan menyejajarkan hukum di samping laki-laki yang sudah melanggarnya?

Apakah hukuman ini, yang diperumit dengan usaha untuk melarikan diri yang dilakukan terus-menerus, tidak berakhir menjadi semacam kekejaman yang dilakukan oleh lebih kuat kepada yang lebih lemah, sebuah kejahatan golongan melawan kejahatan perorangan, sebuah kejahatan yang dilakukan setiap hari, sebuah kejahatan yang terjadi sembilan belas tahun lalu? Dia bertanya kepada dirinya apakah masyarakat dapat memiliki kewenangan untuk memaksakan anggotanya agar merasakan penderitaan yang sama dalam suatu kasus karena kesalahannya atas kurangnya pandangan ke masa depan yang tidak masuk akal, dan dalam kasus lain atas pandangannya ke masa depan yang tak kenal ampun, dan untuk memanfaatkan seorang laki-laki malang selamanya di antara hinaan dan perbuatan yang keterlaluan, standar pekerjaan yang berat dan hukuman yang berlebihan?

(139) Kemarahan mungkin adalah sesuatu yang bodoh dan tidak masuk akal, seseorang dapat merasa kesal dengan salah, seseorang merasa jengkel hanya jika terlihat sesuatu yang pada dasarnya adalah sebuah kebenaran di sisinya. Jean Valjean merasakan dirinya sangat jengkel. Lagi pula, masyarakat tidak pernah melakukan apa-apa untuknya selain menyakitinya, dia tidak pernah melihat apa pun kecuali wajah marah olehnya. Manusia hanya menyentuhnya untuk menyakitinya. Setiap hubungan dengan mereka selalu menjadi sebuah pukulan. Sejak dia kecil, sejak hidup bersama dengan ibunya, sejak hidup bersama kakaknya, dia tidak pernah menerima kata-kata dan tatapan yang ramah. Dari satu penderitaan ke penderitaan lain, dia akhirnya sampai pada keyakinan bahwa hidup adalah sebuah peperangan, dan bahwa dalam peperangan dialah yang ditaklukan. Dia tidak memiliki senjata lain kecuali kebenciannya. Dia memutuskan untuk mengasahnya di dalam kapal tahanan dan membawanya serta pada saat dia meninggalkan kapal itu.

(140) Dalam hal-hal tertentu, pendidikan dan pencerahan dapat berfungsi menambah kejahatan.

(146) Dari tahun ke tahun jiwanya mengering secara perlahan, tetapi dengan kepastian yang berakibat fatal. Ketika hati itu kering, mata pun mengering. Pada saat kepergiannya dari kapal, saat itu sudah sembilan belas tahun sejak terakhir kali dia menangis.

(149) Oh, barisan masyarakat yang keras kepala! Oh, hilangnya manusia dan jiwa dalam perjalanan! Lautan yang di dalamnya terdapat seluruh hal yang digelincirkan oleh hukum! Ketiadaan pertolongan yang membawa bencana! Oh, kematian moral! Lautan adalah kegelapan masyarakat yang tidak kenal ampun tempat hukum masyarakat melemparkan kutukannya. Lautan adalah tempat berkumpulnya kemalangan. Laki-laki ini, terjatuh dalam aliran di teluk ini, mungkin akan mati. Siapa yang akan menyadarkannya?

(162) “Nyonya Magloire, saya telah menahan peralatan perak itu selama ini. Mereka adalah milik kaum miskin. Siapakah laki-laki itu? Dia adalah seorang miskin.”

(258) Ingat ini, kawan-kawan, tidak ada yang namanya tanaman yang buruk atau manusia yang buruk. Hanya ada pembudidayaan yang buruk.”

(262) Kebahagiaan yang tertinggi dalam kehidupan meliputi keyakinan bahwa seseorang dicintai, dicintai sebagai dirinya sendiri-lebih baik kami katakana, dicintai walaupun sebagai dirinya sendiri, keyakinan ini dimiliki oleh laki-laki buta itu. Dilayani dalam kesusahan adalah bagaikan dibelai. Apakah dia kekurangan sesuatu? Tidak. Seseorang tidak kehilangan penglihatan ketika dia memiliki cinta. Dan cinta dalam arti sesungguhnya! Cinta yang didasari kebaikan! Tidak ada kebutaan selama ada kepastian.

(311) “Inspektur Javert,” jawab Tuan Madeleine, “Hukum tertinggi adalah nurani. Saya telah mendengar perempuan ini, saya tahu apa yang saya lakukan.”

(356) Seseorang tidak dapat mencegah pikiran mengulang suatu pemikiran seperti seseorang juga tidak dapat mencegah air laut kembali ke pantai. Para pelaut menyebutnya air pasang, orang yang bersalah menyebutnya penyesalan, Tuhan mengaduk jiwa manusia sebagaimana Dia mengaduk laut.

(459) Kejujuran, ketulusan, keterusterangan, keyakinan, rasa tanggung jawab, adalah hal-hal yang dapat menjadi sesuatu yang mengerikan jika diarahkan dengan keliru. Namun, bahkan walaupun mengerikan, tetap hebat. Keagungannya, keagungan yang istimewa dalam hati nurani manusia, melekat pada mereka di tengah kengerian. Mereka adalah kebajikan yang memiliki satu sisi buruk, kesalahan. Kegembiraan yang tulus dan tak kenal ampun dari seorang fanatic dalam luapan yang penuh atas kekejamannya menyimpan suatu sinar mulia yang menyedihkan.

**

Sepah Dibuang Bayarannya Mutilasi

Penulis: (Nurulia Juwita Sari/J-1) Halaman: 0302
Rubrik: MEGAPOLITAN

Asbak penuh abu rokok bersih kembali. Yati baru saja membuang isinya ke tempat sampah. Perempuan itu kembali ke tempat duduk pemeriksaan dan sesekali tertawa saat penyidik dan tim pengacaranya melempar guyonan, Kamis (30/10) sore. Walau sering tersenyum, wajahnya jelas menunjukkan keletihan setelah menjalani pemeriksaan lebih dari tujuh jam dan berakhir saat magrib tiba. Sepintas kurang meyakinkan jika Sri Rumiyati alias Yati alias Atik, 48, yang memutilasi Hendra alias Burung alias Tjo Yung Fa, suaminya sendiri, menjadi 13 bagian.

Penampilan ibu lima anak itu lembut dan keibuan. Yati sendiri mengaku tidak percaya dirinya telah berbuat sejauh itu. “Rasanya seperti mimpi. Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi, ini murni menjadi tanggung jawab saya sendiri,” ujarnya tegar.

Pembunuhan keji itu adalah puncak dari akumulasi kekesalan Yati atas kelakuan Hendra yang mematah-matahkan hatinya. Meski potongan tubuh dibuang terpisah di tiga angkutan umum, Satuan Kejahatan Keras Polda Metro Jaya dapat mengungkapnya.Yati mengenal Hendra sekitar delapan tahun lalu. Keduanya saling suka. Namun, cinta mereka cuma semusim. Perjalanan waktu mempertemukan kembali sekitar tiga tahun lalu.Yati yang telah berstatus istri Andi bertemu Hendra di pasar sedang berjualan kue. Kenangan manis masa lalu membuat pertemuan itu menjadi magnet. Maka cinta pun menemukan jalannya sendiri.

Setelah enam bulan pendekatan, Hendra meminta izin Andi, suami Yati, untuk menikahi sang pujaan. Entah kenapa, Andi menyetujuinya. Sebelum istrinya meninggalkan rumah, Andi berpesan agar Hendra menjaga Yati baik-baik.”Jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga kalian, kembalikan Yati ke rumah ini. Walaupun bukan istri saya lagi, saya akan menerimanya sebagai keluarga,” begitulah Andi mengungkapkan rasa kehilangannya.

Istri Hendra juga rela suaminya menikah lagi dengan Yati. “Biar ada yang ngurus,” cetus istri Hendra seperti ditirukan Yati.

Pasangan setengah baya itu pun mengontrak rumah di Kampung Teriti RT 04/04 Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten. Rumah sederhana, yang kelak menyisakan bercak darah di dinding kamar sempit, tempat keduanya biasa menghabiskan malam.

Awalnya Yati bahagia. Ia dimanja dan disayang. Karena itulah, pembuat kue itu rela berhenti berjualan demi rumah tangga. Ternyata manisnya tebu terus berkurang. Beberapa bulan kemudian, habis manis sepah dibuang.Yati mulai merasakan gelagat tidak baik saat putri kandungnya dari hasil pernikahan dengan Andi, enggan berkunjung. “Mama saja yang ke rumah, jangan kami ke rumah mama,” ucap putrinya menyiratkan ada perlakuan kurang baik dari Hendra terhadap putrinya.

Hendra juga tidak pernah lagi memberinya uang belanja. Hari berikutnya, mulai marah-marah tanpa sebab. Pernah ia mempertanyakan alasan Hendra marah-marah, tapi dijawab dengan tangan dan kaki.

Suatu hari paha kanan dan payudara Yati disundut rokok. Pernah pula ia disiram bensin dan diancam akan dibakar hidup-hidup. Hendra makin bertingkah dan jarang pulang. “Dia lupa janjinya bersikap adil, dia lebih sayang istri yang lain,” desahnya.

Yati masih bersabar dan tetap melayani kebutuhan Hendra sepenuh hati. Ia berharap kesabaran akan meluluhkan kekerasan sang suami. “Kalau manusia itu seharusnya mengerti, sudah dibaikin ya berubah, dia mah enggak, apa namanya kalau bukan binatang,” umpatnya.

Pada 28 September, amarah Hendra kembali meledak. Muka Yati ditampar. Setelah marah-marah, ia minta dipijat. Saat suaminya telungkup, Yati mengambil batu dan menghajar kepala. “Badannya gede, bingung mau dibuang ke mana, ya sudah saya potong-potong saja,” kenangnya datar.

Kini Yati menghabiskan waktu di dalam kamar tahanan dengan beribadah. Ia rajin salat lima waktu, salat dhuha dan tahajud serta berzikir. “Saya minta maaf sama Tuhan, saya mohon ampun,” katanya.

Suatu kali ia bermimpi didatangi Hendra yang penyayang. “Dalam mimpi itu dia baik banget, dia telanjang, baring di sebelah saya. Saya dipeluk mesra. Saya heran kok di mimpi bandannya utuh, padahal kan sudah saya potong-potong,” ungkapnya. (NJ)

*tulisan serius pertama, waktu mulei liputan di Jakarta. atas bimbingan dua guru di kompartemen megapolitan :  kak Shanty Sibarani (sansibar) dan bang mathias brahmana. terimakasih guru 🙂

Kepada Gadis Cemerlang (2)

Kaki ini lekat di bumi, jalanan tanah di hadapanku terputus. Berganti dengan hamparan rawa hijau yang lunak. Di tengah-tengah, ada sebentuk jalan yang hanya muat dilalui satu orang. Tak bisa dibilang jalan juga, karena sebenarnya itu lumpur yang disiram bubuk dan serutan kayu. Aku menelan ludah, mana jalannya? Aku berpikir gadis cemerlang ini sedang mengerjaiku.

Ia berjingkat lincah di depanku. Sudah setengah jalan melewati setapak rawa itu. Aku membaca langkahnya, jalan itu tidak bisa diinjak terlalu lama karena lunaknya. Badan akan melesak terbenam lumpur kalau kaki diam tidak bergerak.

“Ayo kakak,” katanya bersemangat. Ia tertawa-tawa melihatku terbelalak.

“Nggak ada jalan lain apa?”

Dijawab gelengan kepala, anak itu masih cengar-cengir.

“Memangnya rumahmu di mana?” teriakku lagi. Ia sudah semakin jauh.

“Itu..!” DIa menunjuk ke tengah rawa. Aku melihat ada sepetak rumah panggung kayu. Dari jauh bentuknya samar, membaur di antara rawa-rawa hijau dan lumpur cokelat yang mengancam. Anak ini bersungguh-sungguh rupanya. Aku tak punya pilihan, sudah terlanjur berjanji akan berkunjung ke rumahnya. Aku menggulung pipa celana setinggi lutut.

“Tunggu…!”

Satu persatu tapak dijejak, kakiku melesak, berat. Perlu tenaga untuk mengangkat kaki dan bergerak maju. Mataku menghindar, tak ingin melihat lumpur-lumpur yang kupijak. Tapi rasa gatal dan jijik itu membuatku tak nyaman. Aku merasakan setiap serutan kayu yang menempel hingga ke betis. Lunaknya lumpur bergeranjul di telapak kakiku. Apakah ada lintah di bawah sana? Aku bergidik membayangkan penghisap darah itu menggendut, menempel di kakiku. Hiiiiii……

Susah payah, rasanya lama sekali, akhirnya aku sampai di tangga rumah kayu yang doyong itu. Rumahnya. Kalau tak salah, ada dua rumah di situ. Saling menempel. Aku duduk di tangga, kakiku kotor sekali. Aku masih tak berani melihat detil, khawatir menjerit kalau menemukan lintah yang menempel. Si gadis cemerlang sudah muncul, membawa seember air untuk membersihkan kakiku.

“Setiap hari kalau sekolah kau begini?” kataku sembari membasuh kaki yang kecokelatan dibalur lumpur.

“Iya. Ini masih mending kak. Kalau habis hujan lebih parah lagi.”

“Gimana sepatunya?”

“Ya kalau dari rumah dicopot dulu. Dijinjing. Roknya diangkat. Nanti kalau sudah di seberang numpang cuci kaki di wartel. Kalau udah bersih baru pake sepatu, berangkat deh.”

Aku menghela napas berat. Kagum sekaligus malu pada Gadis Cemerlang. Di sekolah ia tak pernah memperlihatkan kepayahan dan perjuangannya menuju sekolah. Dia selalu bersih, rapi sampai pelajaran terakhir selesai. Mata cerdasnya itu selalu haus ilmu pengetahuan, menagih setiap guru untuk mengajar lebih banyak lagi. Tak pernah merasa cukup. Mungkin ia tak ingin upaya susahnya menuju sekolah setiap hari, tidak membawa hasil apa-apa. Ia tak ingin kembali ke rumah dengan isi kepala yang tidak bertambah.

+

Dia tak hanya punya pikiran yang cemerlang, tetapi juga nyali yang lebih tajam. Pernah satu kali, aku mengajaknya pergi ke rumah rakit. Pemukiman rumah rakit itu berada di seberang Benteng Kuto Besak. Dipisah oleh sungai Musi.

Rumah-rumah didirikan di atas air. Ada yang mengapung seperti perahu, ada juga yang lebih kokoh karena cagak ditancap ke dasar Musi. Semua rumah terbuat dari kayu khusus, yang tahan lama di air. Sesekali aku mengajar juga di rumah-rumah itu. Mengajar anak-anak dan remaja yang sebagian putus sekolah untuk membaca, berpuisi atau berteater.

Rumah rakit hanya bisa dicapai dengan berperahu ketek. Membayar Rp7.000 sekali jalan. Menyebrang sekitar 15 menit. Aku mengajak gadis cemerlang kemari (juga beberapa temannya), untuk belajar. Sekolah itu tak hanya di ruang kelas, aku ingin Gadis Cemerlang ini juga belajar dari alam. Melatih kepekaan dan sensitivitas, bukan hanya rumus-rumus matematika, fisika dan kimia. Atau teori-teori pada pelajaran biologi kesukaannya.

Rumah yang kami tuju itu sulit dicapai. Tidak bisa menyebrang sampai ke rumah yang dituju. Karena kalau siang hari, air sungai surut. Jadi kami hanya bisa berperahu sampai rumah yang bisa terjangkau perahu. Sisa perjalanan, kami harus melewati papan-papan meliuk yang direkatkan menjadi jalan setapak.

Kadang ada papan yang pakunya sudah tak kuat lagi, sehingga agak oleng kalau dipijak. Ada juga papan yang benar-benar tanggal. Sehingga menyisakan bolong di antara jalan setapak itu. Mata mesti awas betul melihat ke mana kaki memijak. Kalau tidak, bisa-bisa tergelincir mencebur sungai.

Perjalanan ini selalu membuatku berkeringat dingin. Melihat air sungai yang bergolak di bawah sana membuat nyali mengisut. Apalagi papan-papan ini tak ada pegangan. Kaki harus melangkah setapak-setapak. Jarak berjalan dengan teman, tak boleh terlalu dekat. Tak boleh terlalu banyak orang juga di sepanjang papan itu. Bisa-bisa oleng atau patah karena keberatan atau tidak seimbang.

Aku menyeringai, ketika melihat si gadis cemerlang terpaku. Hahahaha… gantian dong. Kataku dalam hati. Semacam pembalasan setelah setapak lumpur yang ia perkenalkan padaku waktu itu. Memang, baru sekali ini ia melihat jalan yang demikian, ia terbelalak.

“Kak, gimana ini?” katanya cemas.

Aku tertawa-tawa. “Jalan sendiri. Cari tahu gimana caranya. Ayo harus bisa!” Kataku sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkannya.

Ini pelajaran hidup, dik. Satu saat nanti, ketika kau sudah menjadi orang dewasa, kau akan menemui masalah rumit. Tidak selalu ada orang yang bisa memegang tanganmu, menuntun langkahmu untuk mencari jalan keluar, mencapai tujuan. Kau harus belajar mengatasi kesulitan sendiri, harus melangkah sendiri. Tidak terus bergantung pada orang lain.

Mata gadis cemerlang menjelajah, menelusur papan-papan itu hingga ke tempat tujuan. Berusaha mengenali medan yang akan dilaluinya. Kulihat senyum cerdasnya mulai merekah. Senyum keberanian dan percaya diri.

“AKU BISA KAK!” teriaknya.

Entah apa yang ada di pikiran anak itu. Lalu dia mulai menjejak kayu-kayu itu. Dan… berlari! Astaga, dia berlari!. Langkahnya cepat-cepat. Bahkan dia berhasil menyusulku! Siyal! Lagi-lagi, anak ini memperlihatkan kecemerlangannya. Padahal keberanianku jalan tertatih ini butuh adaptasi berbulan-bulan. Perlu mengenal medan dan mensugesti diri lama sekali. Sementara dia hanya memerlukan waktu semenit. Heuheuheu…

Dia sampai sepuluh menit lebih dulu dari aku. Terbahak-bahak menertawakanku. Mungkin kalau dia tak ingat aku ini gurunya, dia sudah tertawa hingga berguling-guling menyaksikan kepayahanku. Kau lulus, dik. Dapat nilai sempurna. Semoga kelak ketika menghadapi masalah sungguhan, kau tetap menjadi pemberani dan bisa melaluinya dengan baik.

+

P.S

Iya dik, aku tahu rasanya. Aku tahu sulitnya peperangan perasaan dan logika. Kau tahu kalau aku tahu itu. Amat sangat memahami apa yang kau rasakan. Tapi kabar baiknya, aku bisa melaluinya loh. Sudah bebas merdeka. Bisa bergembira, bisa menulis banyak, dan bikin prestasi.

Kau sudah belajar dari perjalanan ke rumah rakit bukan? Kalau kemarin kau bisa lebih cepat menyusulku. Kali ini pun kau pasti bisa pulih lebih cepat dariku. Kau selalu lebih hebat dariku, dik. Selalu.

-eNJe-

Ha es ef Kopitiam, Kemanggisan yang kering dan tidak macet.

21.00 WIB