Sakit apa? Mukosa.

Anak perempuan berkerudung merah itu menghampiri aku dan Bumi begitu saja. Kulitnya gelap, matanya berbinar polos, wajahnya ceria.

“Dede, hai Dede,” katanya menyapa Bumi.

Anak perempuan yang belakangan mengenalkan dirinya sebagai Ivi itu terlihat sendirian. Umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Mungkin ia bosan menunggu dokter bersama orangtuanya. Sehingga memutuskan berkeliling rumah sakit itu. Aku dan Bumi juga sedang menunggu Dokter Inayat merampungkan operasinya. Kunjungan kami untuk melihat perkembangan Bi, adik Bumi yang beberapa pekan lagi lahir. Ayah Bumi sedang salat Jumat di masjid seberang rumah sakit.

“Bosan ya nunggu dokternya. Lama,” kata Ivi pada kami.

Rupanya dia sedang menunggu juga. Mungkin dia menunggu dokter anak yang sedang salat Jumat.

“Nunggu dokter siapa?” Tanyaku.

“Nggak tau namanya. Tapi dokternya sedang operasi,” jawab gadis kecil itu.

Mungkin dia sedang menunggu dokter yang sama dengan kami. Bisa saja  dia menemani ibunya untuk kontrol kandungan.

“Siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

“Aku.”

Tapi Ivi tidak terlihat sakit. “Sakit apa Ivi?”

Gadis itu mendadak agak menekuk muka. Dan menjawab dengan gumam. Aku mendengar dia samar-samar mengucapkan, “Mukosa.”

“Mukosa itu apa?” Tanyaku lagi.

“Aku mau divisum sama dokter.” Katanya.

Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Khawatir pertanyaan soal sakit akan mengganggu dirinya. Walaupun aku tidak paham sakit apa yang dia jelaskan.

Bumi yang bosan menyimak percakapan kami, turun dari kursi. Ia mulai berjalan lagi ke sana sini. Ivi mengejar Bumi, menuntunnya seperti adik sendiri. Lalu mereka berdua menghampiriku lagi. Bumi dan Ivi sama-sama takjub melihat pintu depan rumah sakit yang otomatis bergeser terbuka saat ada orang yang berjalan di depan pintu.

“Ivi pikir ada orang yang ngedorong pintunya. Jadi kalau ada yang mau lewat, dia siap-siap dorong pintunya. Tapi Ivi cari-cari nggak ada.” Muka polosnya terlihat malu.

Seorang perempuan sebaya denganku menghampiri kami. Berbaju oranye lengan panjang. Wajahnya yang kusut berubah lega saat melihat Ivi. Perempuan itu mamanya Ivi.

“Hei sudah. Jangan terlalu dekat pintu nanti kejepit.”

Ivi menghampiri mamanya. Menceritakan teorinya tentang ada orang yang mendorong pintu otomatis. Wajah mamanya terlihat malu.

“Bukan, nak. Itu otomatis. Maklum orang kampung, nggak pernah lihat begituan,” kata mama Ivi dengan muka menahan malu.

“Biasalah anak-anak, suka polos,” kataku.

Lalu Mama Ivi bercerita, saat ke toilet tadi dia dan Ivi untuk pertama kalinya melihat mesin pengering tangan. Mereka berdua terkaget-kaget saat mesin itu tiba-tiba berbunyi. Rasa terkejut itu baru reda saat petugas pembersih toilet menjelaskan, kalau benda itu disebut pengering tangan otomatis.

“Kami orang kampung. Nggak pernah lihat begituan,” kata Mama Ivi nyengir.

“Di rumah sakit ini nggak terima pasien BPJS ya. Untung saya dibayarin pak polisi,” katanya.

Bumi sudah kudekap dalam aisan, saat bersiap mengejar Ivi yang kembali berkeliling rumah sakit. “Kakak.. Kakak..” Bumi menunjuk-nunjuk Ivi yang berlari.

“Iya, Bu. Di sini nggak bisa BPJS. Yang sakit siapa Bu? Mau berobat ke dokter mana?” tanyaku menyambut perbincangan yang ia mulai.

Mata perempuan itu mendadak berubah suram. “Anak saya korban pencabulan, pemerkosaan, si Ivi itu.”

Pandanganku beralih pada Ivi yang masih berkeliling, matanya takjub melihat ini itu.

Lewat cerita Mama Ivi yang acak, pelan-pelan kronologis ceritanya tersusun. Peristiwanya terjadi pada satu Selasa sore. Sang Mama meninggalkan Ivi di rumah bersama kakeknya yang sudah renta, karena ia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Ivi kecil bosan di rumah, ditinggalkannya sang kakek dan pergi bermain.

Sampai datang laki-laki lajang yang umurnya sudah lewat 40 tahun, mendekati Ivi. Anak periang itu tak takut atau berprasangka buruk . Karena laki-laki itu tetangganya. Ivi kecil yang polos menurut saja saat pelan-pelan digiring ke rumah si tetangga. Bocah itu tak paham saat disuruh buka celana. Dia hanya tahu, sesudah peristiwa itu kemaluannya sakit setiap buang air kecil. “Kalau mau pipis, sakit,” kata Ivi padaku.

Peristiwa mengerikan itu ketahuan oleh sepasang suami istri, tetangga mereka yang lain. Dua orang ini lalu mengadu pada Mamanya Ivi. Hati sang Ibu remuk, saat Ivi mengiyakan laporan itu. Dan menceritakan peristiwanya dengan detail.

Mama Ivi pun bergegas melapor ke polisi. Petugas yang memeriksa, meminta Mama Ivi mengurus visum ke dokter terlebih dahulu. Sebagai barang bukti untuk menjerat si pelaku. Dan untuk itulah mereka berdua ada di rumah sakit ini

Hatiku mencelos.  Ternyata yang anak itu tadi bilang waktu kutanya apa  sakitnya ialah perkosa, bukan mukosa. Aku salah dengar.

Hidup Mama Ivi suram. Dari suami pertamanya, ia punya dua anak. Ivi yang sekarang kelas 3 SD, dan kakak perempuannya yang berumur 16 tahun. Kakak Ivi tidak sekolah. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi mama, kakek dan dua adik perempuannya. Mama Ivi sudah bercerai dari suami pertamanya itu. Ia sendiri juga kerja serabutan, membantu tetangga-tetangga mencuci dan menyetrika. Tiga tahun lalu ia menikah lagi. Dapat satu anak perempuan lagi. Tapi belum genap setahun umur putrinya itu, si bapak berselingkuh dengan tetangga sendiri dan kabur meninggalkan keluarga.

“Kemarin ada wartawan nanya ke polisi. Untung polisinya baik. Dia bilang ke wartawan, jangan ditulis. Kasian. Saya juga nggak mau kalau Ivi sampai masuk koran. Malu. Gimana nanti masa depan Ivi. Nanti dia jadi rendah diri,” kata Mama Ivi lagi.

Tentu saja dia tidak tahu, tidak sadar sedang berbicara dengan wartawan. Sepasang suami istri wartawan. Tapi sudahlah, kami pun tak ingin memberitakan cerita Ivi.

Dari jauh aku melihat Dokter Inayat berkemeja merah muda dan kaca mata dengan rantai yang terkalung, berjalan menuju ruang prakteknya. Ivi, menjadi pasien pertama.

Anak itu tetap ceria saja sesudah menjalani pemeriksaan. Mama Ivi memegang secarik kertas hasil diagnosa awal si dokter. Dokter menggambar vagina di situ. Pada keterangannya dituliskan kalau v bengkak akibat gesekan. Tapi untungnya, selaput dara masih utuh.

Ada lega di raut wajah mamanya. “Kami mau balik ke kantor polisi untuk kasih ini. Sampai ketemu lagi ya,” kata ibu-anak itu berpamitan.

Kalau bukan melihat hasil visum Dokter Inayat, belumlah tentu kami percaya. Bukan karena sudah kebas hati. Melainkan mencegah hati terlampau iba sebelum faktanya jelas. Tak sedikit yang mengarang cerita demi mendapat belas kasihan atau ingin mencari untung.

Semoga Ivi baik-baik saja. Kubekali dia susu ultra cokelat dan sebungkus astor. Kukatakan padanya, “Cerita yang tadi rahasia kita ya. Ivi jangan ceritakan sama orang.” Mukanya bingung, tapi ia mengangguk juga.

4 September 2015

Catetan: Nama Ivi ialah samaran. Bukan nama sebenarnya gadis kecil itu.

Advertisements

kangen…

Sendirian, perjalanan pulang terasa lebih panjang. bahkan duduk di kereta yang biasanya terasa mewah jadi sangat membosankan. Rasa tak sampai-sampai di ujung rel sana. Pejam mata ataupun musik tidak membantu. Aku rungsing seperti Bumi menjelang waktu tidurnya.

Di hari-hari biasa, perjalanan kita bermuara di stasiun. Bisa Tebet, Cawang, atau Manggarai. Kita berbagi strategi dan semangat, dalam letih bertarung melawan pekerja-pekerja malam lain, untuk mendapatkan kursi. Tak kemaruk seperti di parlemen, cukup satu saja. Kita biasa duduk bergantian. Aku mendapat giliran lebih dulu.

Pada satu setengah jam itu, perjalanan punya kita berdua. Bertukar cerita tentang kejadian sepanjang hari, saling bercanda, bermain gim, atau mengagumi perkembangan Bumi lewat foto dan video yang kita simpan. Lalu tersenyum dan tertawa haru berdua.

Kadang kita hanya bisa berdialog lewat pandang dan seulas senyum kalau kereta terlalu penuh. Bisa juga tertidur pulas kalau sedang kelewat lelah dan kurang istirahat. Aku paling suka terlelap telungkup di pangkuanmu. menghindar senggol tangan penumpang laki-laki di kanan atau kiri. sekaligus mengistirahtkan tulang punggung yang makin rapuh.

Malam ini, tak ada teman seperjalanan berbagi cerita, pelindung yang memberi rasa aman, dan meredakan letih. Tidak bisa bermanja-manja setelah hari panjang yang penat.

Jalan raya di sebelah rel memamerkan kerlap-kerlip lampu kendaraan yang tertahan kemacetan. Kereta terus melaju. Mata dan pikiran masih menghitung stasiun yang dilewati. Perjalanan lambat, gerbong-gerbong masih penuh. Kenapa mereka belum turun juga? Tunggu aku di Stasiun Bogor.

21:53
Bubu sembilan bulan

Menu Makan Bubu–Pure Sayur Umbi

Bahan:
labu kuning kupas, cuci, potong kecil-kecil
Wortel kupas, cuci, potong kecil2
Kentang secukupnya

Cara membuat:
Kukus ubi jalar, wortel dan kentang dalam dandang panas hingga lunak
Haluskan dengan penyaring khusus dengan cara ditekan-tekan dengan menambah air bekas mengukus sayuran sesuai kekentalan yang dikehendaki.
Sajikan segera.

Menu Makan Bubu–Sari Kacang Hijau

Bubu mulai makan ini umur 6 bulan.

Bahan:
Kacang hijau segenggam, cuci bersih
Air untuk merebus
Susu secukupnya

Cara membuat:
Rendam kacang hijau selama satu jam. Kemudian rebus sampai lunak. Saring. Tambahkan susu secukupnya saat akan disajikan.

Catatan:
Sari kacang hijau bisa dibikin untuk 2-3 kali makan. Simpan di wadah tertutup di dalam kulkas. Panaskan secukupnya saat hendak disajikan.

Bumi Belajar Makan (4): Ayo kita makan sayuran dan lain-lain!

edit1546271_10204993764831260_2242814890554278781_n

Genap tujuh bulan umurmu, Nak! Sejauh ini kita sudah berhasil makan buah-buahan dan umbi-umbian tunggal dengan susu. Untuk sayuran, sudah mencoba labu siam dan wortel. Kau masih kurang suka sayur. Memang begitu katanya, kalau anak-anak sudah mengenal buah-buahan lebih dulu, cenderung tidak suka sayur-sayuran. Tapi kita harus biasakan ya, Nak. Biar terbiasa sampai dewasa. Seperti Ayah dan Ibu yang sangat suka makan sayur. Terutama Ibu. Penggemar lalap dan segala macam sayur. Termasuk yang pahit-pahit seperti pare dan daun pepaya.

Ibu sekarang sedang rajin membaca beberapa buku resep masakan bayi, memilih-milihkan menu buatmu. Agar bubur untukmu bukan sekadar lengkap, dijadikan satu dan diblender. Tetap kombinasinya tepat dan ada cita rasa yang enak.

Untukmu, Ibu pilihkan beberapa bahan makanan tambahan yang aman dikonsumsi bayi. Ini catatan ibu:

Seledri
mengandung kalsium dan fosfor yang lumayan. Dalam 100 gram seledri terdapat 50 miligram kalsium, dan fosfor 40 miligram. Kandungan fitonutrien dalam sledri yakni kolin dan saponin bermanfaat meningkatkan kecerdasan dan mengobati penyakit tipus, alergi serta gatal-gatal.

Bayam
Sayuran berwarna hijau ini mengandung vitamin A (dalam bentuk betakaroten) yang tinggi, yakni 1872 mikrogram/100 gram. Selain itu, bayam juga kaya vitamin B, vitamin C, asam folat, serta mineral kalsium, fosfor, mangan dan zat besi. Bayam juga sangat penting untuk pembentukan otak bayi. bayam merah juga sumber vitamin dan mineral terutama kalsium. Dalam 100 gram bayam merah, terdapat 368 miligram kalsium. Selain itu, bayam merah juga kaya akan fosfor dan zat besi, serta vitamin A,B1 (tiamin) dan C. Bayam juga berkhasiat meningkatkan stamina, menjaga kesehatan mata serta mencegah animea dan sembelit.

Labu siam
Kaya akan fosfor dan kalsium. Dalam 100 gram labu siam mengandung 25 miligram fosfor dan 14 miligram kalsium.

Wortel
Mengandung antioksidan yang melindungi otak dalam bentuk karotenoid dan vitamin C. Selain itu juga baik bagi kesehatan mata anak.

Brokoli
Mengandung sulforatan, zat antioksidan yang paling ampuh. Selain itu, fitonutrien dalam brokoli seperti klorofil dan flavonoid mampu mempercepat proses penyembuhan setelah tubuh mengalami sakit berat. Brokoli direndam air garam supaya bersih dari ulat dan kotoran lainnya.

Tomat
Salah satu zat gizi yang banyak terdapat dalam tomat adalah selenium. Bersama asupan vitamin E dalam jumlah yang cukup, selenium memperlambat laju perusakan sel tubuh oleh senyawa radikal bebas. Tomat dapat mengobati flu dan gusi berdarah. Selain itu, minum jus tomat satu jam sebelum makan dapat meningkatkan nafsu makan anak.

Jagung
Berguna untuk pertumbuhan tulang dan membangun otot. Karena magnesiumnya tinggi. Selain itu, fosfor yang terkandung pada jagung kuning berguna meningkatkan fungsi otak dan sistem saraf.

Buncis
Memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap, seperti serat, vitamin C, vitamin B kompleks dan fosfor. Karenanya buncis bermanfaat memperlancar saluran pencernaan, mencegah sembelit dan membantu kemampuan anak berkonsentrasi.

Kacang panjang
Baik dikonsumsi anak karena kandungan zink yang membantu proses pembentukan sejumlah enzim dalam tubuh. Misalnya zink yang dikombinasi dengan vitamin C dapat menangkal batuk, pilek dan flu.

Bawang bombay
Mengandung mineral dan vitamin yang dibutuhkan tubuh. Antara lain kalsium, kalium, zat besi, fosfor, vitamin C dan vitamin E. Bawang bombay juga sangat baik menjaga kesehatan tulang karena mengandung komponen yang dapat menghambat osteoclast (sel pengurai tulang yang membuat tulang keropos).

Keju
Produk olahan susu dengan nilai gizi yang baik. Keju kaya akan protein, lemak, kalsium dan fosfor yang membantu pertumbuhan tulang dan gigi.

Telur
Zat besi banyak terkandung dalam telur. Zat besi sangat penting bagi kesehatan fungsi otak. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan lemahnya daya konsentrasi.

Tempe
Bergizi tinggi karena terbuat dari kacang kedelai yang banyak mengandung protein. Protein baik untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh. Protein juga berperan membentuk antibodi, mengangkut zat-zat gizi, memelihara asam basa tubuh, dan mengatur keseimbangan cairan. Selain itu, kedelai juga mengandung delapan asam amino penting yang berperan sebagai zat pembangunan bagi tubuh dan meningkatkan kecerdasan anak.

Makaroni
Produk olahan tepung gandum dan terigu. Makaroni kaya akan karbohidrat, kalsium dan fosfor yang penting untuk pertubuhan tulang dan gigi. Dalam 100 gram makaroni terdapat energi 353 kkal, protein 8,7gram, lemak 0,4 gram dan karbohidrat 78,7 gram.

Roti tawar
Memberi sumbangan energi bagi tubuh.

Tahu
Mengandung protein rendah lemak serta sarat akan mineral, terutama zat besi, magnesium dan kalsium. Ketiga mineral tersebut merupakan zat gizi penting untuk kesehata otak dan sistem saraf, serta pertumbuhan anak.

Kacang hijau
Kaya akan vitamin B1 ya ng berperan dalam metabolisme karbohidrat dan fungsi normal sel saraf. Zat besi dalam kacang hijau juga bermanfaat untuk mencegah animea sehingga meningkatkan konsentrasi pada anak.

Kismis
Digunakan sebagai sumber energi untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Setiap 100 gram kismis mengandung energi sekitar 300 Kkal. Kismis juga mengandung senyawa yang dapat melawan bakteri penyebab kerusakan gigi.

Hari Pertama Bubu di Tahun Pemilu

Perempuan itu enggan beranjak dari sofa panjang cokelat tempat suaminya tidur. Tubuhnya menolak berbaring di tempat tidur rumah sakit. Suami istri itu saling menggengam tangan, tidur meringkuk bersempit-sempitan di sofa seadanya yang disediakan di kamar itu. Mereka tengah saling menentramkan risau yang terus berdesau.

Hampir tengah malam ketika pintu kamar ruang Catleya itu diketuk. Suster mengantar sepiring nasi goreng. “Ini dimakan sekarang sebelum mulai puasa ya, Bu.”

Dijawab anggukan dengan muka enggan.
Kamar itu sudah bau pizza dan keju. Sang suami membeli seloyang pizza di restoran seberang rumah sakit, sesaat setelah kamar itu dipesan. Tapi pizza yang biasanya jadi kesukaan mereka berdua tak lagi nikmat. Menyelesaikan kunyahan seiris saja setengah mati lamanya. Tapi nasi goreng itu disentuh juga. Satu dua suap sekadarnya.
*
Mereka berdua sudah lama menunggu hari ini. Tanggal yang mereka tentukan sendiri untuk kelahiran anak pertama mereka. Rangkaian persiapan sudah dijalani sejak tadi pagi. Mulai periksa darah, tes jantung yang mengharuskan perempuan itu bertelanjang dada dan banyak kabel ditempeli di dadanya. Mesin-mesin berdenyut menghitung detak. Sampai mendaftar di ruang persalinan.

Di ruang persalinan itu, si perempuan diminta menghitung jumlah gerak bayinya. Ia diminta menekan sebuah tombol setiap bayinya bergerak. Mesin lain ditempelkan di perutnya untuk menghitung detak jantung si bayi. Perempuan itu berbaring sendiri, sang suami tak boleh masuk.

Hening dan degup kencang jantung si bayi, seperti menghitung cemas dirinya. Di ruang sebelah, dua perempuan lain tengah bertaruh nyawa lebih dulu, menjalani persalinan normal. Merintih, menjerit menahankan sakitnya. Dokter Inayat yang menangani persalinan mereka, meminta peran aktif suami mendampingi, merekam dan memotret proses lahir anak mereka.

“Kelahiran adalah proses yang menakjubkan. Kelahiran itu keajaiban yang luar biasa. Suami harus menyaksikan dan mendampingi istrinya,” begitu kata dokter Inayat pada setiap pasangan suami istri yang menjadi pasiennya. Termasuk pada perempuan itu dan suaminya.
*
“Tidurlah.. En perlu istirahat..” kata sang suami mengusap kepala istrinya.

Perempuan itu makin tak tenang, ia menghitung waktu. Hanya tinggal empat jam lagi sebelum proses lanjutan dilakukan. Operasi akan dimulai pukul 08.00 WIB. Dengan enggan ia menyeret kakinya, berbaring juga di kasur rumah sakit itu. Memaksa dirinya dan bayinya untuk tidur.

“Besok kita bertemu, Nak. Semoga semuanya lancar dan baik-baik saja,” gumam perempuan itu pada bayi di perutnya.
*
Suster tak menoleransi waktu. Tepat pukul 04:00 ia mengetuk pintu. Membangunkan perempuan itu. Dengan enggan dan pasrah ia membiarkan suster  menyemprotkan obat pencahar melalui anusnya. “Reaksinya kira-kira 10 menit lagi.” Kata si suster sambil tersenyum. Dan beranjak meninggalkannya lagi.

“Nanti siap-siap ke ruang operasi jam 07.00 ya, Bu.”

Selera tidur perempuan itu hilang sekejap. Mulas di perut tak henti-henti. Terkantuk-kantuk ia duduk di kakus mengeluarkan isi perutnya. Sekalian saja ia mandi dan bersih-bersih, menyiapkan diri.
*
Pukul 07.00 suster menjemput dengan kursi roda. Sang suami belum bersiap. Baru saja rampung mandi. Masih agak mengantuk karena kurang tidur. Terpaksalah sang istri berangkat lebih dulu ke meja eksekusi.

Ruang operasi itu terdiri dari tiga ruangan. Dua ruang eksekusi, dan ruang pemulihan. Di ruang pemulihan ini pasien bersiap. Berganti baju, pasang infus dan lain-lain. Perempuan itu bukan satu-satunya pasien hari ini. Seorang laki-laki paruh baya sudah terbaring pasrah penuh doa di tempat tidur. Menunggu gilirannya dipanggil. Suster pengantar menyerahkan perempuan itu pada petugas-petugas ruang operasi.

Para petugas itu juga suster-suster yang khusus bekerja di ruang operasi. Juga ada seorang dokter anastesi. Mereka semua berbaju hijau dan memakai plastik tutup kepala serta masker dengan warna yang sama. Seorang petugas yang hanya nampak matanya, memasangkan infus di salah satu pergelangan tangan perempuan itu.

Mereka menyita kaca mata dan blackberry perempuan itu. Si pasien baru rela menyerahkan barang miliknya setelah dijelaskan oleh para petugas, bahwa dirinya kelak tak kan bisa melakukan apa-apa selama proses operasi. Termasuk memotret dan merekam peristiwa di ruang operasi.

“Suaminya nanti ikut ke dalam kan?”

“Iya..”

“Ya berarti nanti suaminya saja yang rekam dan foto-foto.”

Sesudahnya, petugas yang lain mengantar perempuan itu untuk berganti pakaian. Perempuan itu diminta melucuti seluruh pakaian di tubuhnya, dan mengganti dengan sehelai baju yang diberikan si petugas tadi.

Pakaian khusus pasien operasi itu tak ada kancing atau resleting. Hanya tali-tali yang harus diikatkan di belakang tubuh. Itu pun tak rapat menutup punggung dan bokong, ada celah kira-kira dua tiga senti yang terbuka. Membuat perempuan itu malu dan berusaha terus merapatkan sehelai pakaiannya itu.

“Sudah bercukur?” Tanya si suster.

Yang dimaksud adalah mencukur rambut kemaluan. Menjadi syarat wajib dalam operasi caesar.

“Sudah,” jawab perempuan itu singkat. Ia sudah meminta suaminya untuk mencukurkan dua hari lalu. Malu kalau harus dicukurkan oleh orang lain. Sementara diri sendiri sudah tak bisa melakukannya. Perut membuncit sudah menghalangi dan membuatnya sesak kalau harus menunduk-nunduk.

Dan akhirnya, petugas itu menyuruhnya berjalan sendiri ke ruang operasi. Cuma kepasrahan yang ia punya. Cemas atau tidak, proses ini tetap harus dijalani. Dan tak ada gunanya jika ingin mengulur waktu.

Seorang perempuan tua berwajah bundar dengan rambut keperakan mencoba tersenyum ramah dari balik maskernya. Ia adalah dokter anastesi yang akan membiusnya. Perempuan itu diminta memeluk sebuah bantal sesaat setelah duduk di meja operasi. Bantal itu untuk menahankan sakitnya.. Sebentar lagi.

Selang berapa detik saja, perempuan itu merasakan jarum tajam menembus tulang belakangnya. Lebih lama dan lebih dalam menusuk daripada suntikan biasa atau jarum infusnya tadi. Reaksi tubuh membuatnya memeluk bantal kuat-kuat, menahankan sakit. Dan hap. Begitu rupanya rasa dibius. Badannya mendadak sekaku kayu. Otaknya memerintahkan jari-jari kakinya bergerak. Namun tak ada reaksi apa-apa.

Perempuan itu panik dalam diam. Matanya menatap kakinya yang tak menuruti perintah, lalu pandangnya beralih pada senampan pisau dan gunting di sebelah kanannya. Para petugas membaca kepanikan dari matanya.

“Ibu tenang saja, jangan takut, jangan panik.”

Dengan bertenaga para petugas mendorong badan perempuan yang sudah kaku terbius itu rebah di meja operasi. Kedua tangannya direntangkan di kanan kiri dan diikat. Selang oksigen dipasangkan di hidungnya. Selembar kain hijau dipasang memalang pandangan matanya ke arah perut yang akan dibedah. Ia merasakan baju operasinya tadi disingkap hingga dada. Memaksa pikiran dan perasaannya tunduk pada kepasrahan, agar tak lagi coba melawan.

Kesadarannya hanya separuh. Matanya terkantuk-kantuk. Ia bisa merasakan oksigen mengalir kencang menggelitiki hidungnya. Dalam kerjap-kerjap itu ia melihat tim dokter sudah lengkap. Lalu disusul suaminya yang juga berpakaian serba hijau, wajahnya ditutupi masker, hingga hanya tinggal mata yang nampak. Dari garis di matanya, ia tahu suaminya tersenyum menguatkan. Namun perempuan itu tak sanggup bicara apa-apa, walau hanya sepatah kata. Hanya matanya sebentar pejam sebentar terbuka, menatap suaminya.

“Foto dulu dong pak,” ujar para dokter sebelum memulai operasi. Perempuan itu sempat melihat para dokter dan suster itu tetap bergaya meski wajah mereka ditutupi masker.

Dan 1.., 2.., 3… Ada lagu mengalun. Sealbum lagu Tulus mengalun jernih dengan volume maksimal dari speaker kualitas nomor satu di ruang operasi itu.

Perempuan itu pikir.., ia akan mendengar dialog-dialog mengerikan dalam hening selama proses operasi berlangsung. Dialog seperti, “Tolong ambilkan pisau nomor sekian.” Atau “Itu posisi pisaunya terlalu kiri.” Atau semacamnya. Tapi ternyata dialog yang dia dengar adalah bincang-bincang tentang pemilu presiden seperti di warung kopi. Hari itu, Selasa, 20 Mei 2014 bertepatan dengan pendaftaran terakhir pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di KPU.

“Saya sebetulnya pengen Dahlan Iskan jadi Presiden. Tapi ya bagaimana, konvensi Partai Demokrat begitu hasilnya. Tidak ada capres yang maju,” kata salah seorang dokter.

“Saya sreg saja sama Jokowi. Tapi saya kuatir ia terlalu dikendalikan Mega,” kata suara yang lain.

Dialog mereka berakhir dengan suara senada, kemungkinan akan memilih Prabowo Subianto di pilpres nanti. Ternyata dialog itu tak sampai sepanjang siaran dialog politik pada waktu tayang prime time di televisi. Karena tak lama sesudahnya dokter kepala memanggil suami si perempuan yang tengah digores perutnya itu.

“Bapak siap-siap, anaknya sudah mau keluar.”

Dan si suami yang dari awal sudah menguatkan mentalnya, masih terus kuat dan tetap tenang merekam juga memotret proses persalinan istrinya itu. Tentu ini saat paling mendebarkan dalam hidupnya. Menyaksikan kelahiran anak pertamanya.

Para dokter serius bekerja. Segaris kulit perut yang sudah digunting tadi, dibuka lebih lebar dengan kedua tangan dokter yang bersarung tangan. Lalu mereka mengambil alat serupa vacum untuk menarik kepala si bayi. Dengan bunyi “POP!” Kepala si bayi menyembul dari perut perempuan itu. Mata si bayi masih terpejam. Mungkin ia tidur. Dokter segera memasukkan selang ke hidung si bayi, menyedot banyak cairan.

Si bayi yang badannya masih berada di dalam perut perempuan itu mulai menangis. Karena selang yang menyolok hidung didorong sampai jauh melewati kerongkongannya. Itu tangis pertamanya.
“Selamat hari kebangkitan nasional, nak! Selamat bapak, ibu, bayi laki-lakinya sehat,” Kata si dokter kepala.

Tim dokter kemudian menarik badan bayi laki-laki itu keluar, mengurai tiga lilitan tali pusar di badan si bayi.

“Kalau lilitan tali pusarnya banyak, biasanya nanti anaknya jadi ganteng. Pantes pake baju apa aja,” masih kata si Dokter Kepala.

Bayi laki-laki berkulit putih itu kemudian dibawa keluar ruangan untuk ditangani dokter anak. Si laki-laki yang kini resmi menjadi ayah itu juga diminta keluar ruangan. Tugas penting menunggunya. Mengumandangkan adzan di telinga anaknya.

Sementara si perempuan masih harus menjalani proses jahit yang membuat tubuhnya terguncang-guncang. Sebelum dikembalikan ke ruang pemulihan.

Dan di ruang pemulihan itulah, ia pertama kali menatap wajah bayinya. Perih pelan-pelan melipir memenuhi luka di perutnya yang basah. Air mata perempuan itu berlinangan. Bukan karena perih luar biasa yang makin lama semakin tegas terasa. Tapi karena rasa haru menatap anak pertamanya.

Untuk pertama kalinya ia menyentuh pipi halus bayinya. Sang bayi tertidur dalam bungkusan rapat bedong dan topi merah jambu yang diberikan perawat. Ada lekuk di tengah bibirnya yang kemerahan. Ada belah di dagu bayinya. Persis seperti dagunya…

“Halo, Nak. Akhirnya kita bertemu juga. Bumi Dipantara Perdana.” Kata perempuan itu mengecup kening sang bayi. “Bumi.. Bumi.. Bumi..” Perempuan itu memanggil di antara haru dan pedih lukanya, tangannya terus mengusap pipi anaknya. Sang bayi hanya menggeliat pelan, lalu tertidur lagi. Menyandarkan kepala di tangan ibunya..

Mbak wita   Kepala bubu ditarik  Di observasi dulu Dandan dulu ya bubu lagi bobo

Mantra Lempeng

Bumi.. Kadang kita harus menghadapi kondisi sulit. Tapi bagaimana pun, kondisi sulit itu harus berhasil kita lalui dengan baik. Paling tidak, kita harus berusaha menjalani, menghadapinya.

Kalau kondisi sulit itu berat buat kita, mari kita ucapkan mantra lempeng. Supaya yang berat itu terasa lebih ringan, dan bisa kita lalui lebih baik. Lempeng itu artinya tidak berpikir dan berusaha tidak merasa-rasa segala kesulitan. Jalani saja apa yang ada di depan mata. Hadapi tanpa keluh.

Misalnya seperti yang Ibu jalani sekarang ini.

Harga BBM  naik lagi, karena stok BBM bersubsidi sudah hampir habis. Negara harus berhemat kata Pak Presiden. Naiknya harga BBM itu bakal bikin harga-harga dan ongkos bakal naik. Termasuk ongkos ojek.

Biasanya, Ibu berangkat kerja dengan naik kereta sampai Stasiun Tanah Abang. Lalu menyambung ojek ke kantor Ibu di Kedoya. Lebih ringkes, cepat. Cuma setengah jam sudah sampai kantor. Total perjalanan rumah-kantor 2,5jam.

Tapi itu sudah masa lalu. Sekarang Ibu tidak pernah naik ojek lagi dari Stasiun Tanah Abang, kecuali kalau harus rapat pagi. Sebagai gantinya, Ibu naik kopaja yang jalannya nggak karu-karuan itu. Anggaran untuk ongkos, lebih baik dialihkan untuk kebutuhan kita yang lain. Ongkos ojek yang sudah mahal, kini jadi makin mahal, terlalu mahal, Nak.

Sekarang perjalanan ke kantor Ibu jadi lebih lama. Sekitar 3,5 sampai 4 jam. Banyak berjalan kaki, banyak berdiri, dan berkeringat. Buat Ibu yang hampir seumur hidup bukan pengguna angkutan umum, rute baru ini cukup melelahkan.

Karena itu, memang perlu banyak-banyak mengucapkan mantra lempeng tadi. Mengalihkan pikiran dari segala kesulitan dan kepayahan selama di perjalanan.

Lebih baik perjalanan panjang yang harus dilalui setiap hari itu Ibu nikmati. Melihat detail-detail peristiwa di jalanan agar terus bisa mengasah kepekaan. Terus berjalan, melangkah, menjalani yang harus dijalani tanpa harus diberat-beratkan. Atau sambil mengingat-ingat dirimu dan Ayah, itu bisa bikin hati Ibu lebih ringan dan bergembira.

Jadi, Bumi, fase sulit sesungguhnya akan membuat kita lebih berterima kasih ketika mendapat kemudahan. Selain itu juga membuat kita terus melipatgandakan rasa syukur ketika berhasil melewatinya.

Mari menjadi tangguh, Nak.