Sri dan Anaknya Ingin Keluar dari Aleppo

SRI Budi Setyowati Sudardi, 42, sudah tidak bisa lagi mengendalikan kecemasannya. Perempuan itu mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan Muhanad, 4, anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, mereka saat ini berada di kota yang sama dengan Omran Daqneesh, 5, tinggal. Bocah yang foto dan videonya menghenyakkan dunia, setelah menjadi korban serangan udara di distrik Qaterji, Aleppo. Omar ditemukan di bawah reruntuhan rumahnya yang hancur lebur dengan luka di kepala.

Tak lama setelah peristiwa serangan udara itu, Sri bergegas melaporkan kondisinya ke Kantor Konsuler Indonesia cabang Aleppo. Memohon agar bisa dipulangkan segera ke Tanah Air. Ia tidak pernah membayangkan bisa terjebak di tempat yang menjadi sarang IS (Islamic State) tersebut.

“Saya pertama kali masuk ke Aleppo pada 2003. Kondisinya masih aman. Aleppo itu kota terbesar dan makmur di Suriah. Tapi sejak konflik berkecamuk tahun 2012, kondisinya berubah drastis,” ujar Sri membuka perbincangan saat dihubungi, kemarin.

Sri datang ke Suriah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Dalam perjalanannya, Sri menikah dengan pria setempat yang bekerja sebagai sopir taksi. “Perasaan saya was-was setiap saat. Khawatir mortar yang ditembakan pemberontak jatuh di rumah atau lingkungan sekitar. Anak saya, Muhanad, juga tidak bebas bermain,” tuturnya cemas.

Sri menuturkan, sejak awal 2016 kebutuhan menjadi sangat sulit dan langka. Terutama untuk air, listrik, gas juga makanan. “Kami sering tidak mandi selama sepekan atau baru mendapatkan stok makanan baru setelah beberapa lama,” keluhnya.

Sri sebetulnya sudah lama ingin keluar dari Aleppo. Tanpa konflik saja, ia sudah tak betah. Sebab, anak laki-lakinya itu kerap dipukuli oleh majikannya dan suaminya. Ditambah lagi situasi kian mencekam. Tak ada alasan lagi bagi Sri untuk bertahan di kota itu. Namun untuk pulang ke tanah kelahiran ternyata tidak mudah. Keluar dari Aleppo tidaklah sederhana. “Apalagi majikan saya menahan saya cukup lama. Berkat bantuan dari Konsuler KBRI Damaskus saya berhasil ditarik ke shelter KBRI Damaskus.”

Sri diantarkan petugas KBRI dari Aleppo ke Damaskus dengan mobil kedutaan. Bersama Sri, ada 10 orang TKI lainnya yang ikut ditarik. Termasuk juga Nani dan anaknya yang bernama Muhammad, 3. “Saya lega dan bersyukur sekali. Harapan saya ya ingin pulang. Saat ini KBRI Damaskus tengah memperjuangkan hak-hak saya yang masih tertinggal di majikan, termasuk juga dokumen administrasi.”

Pejabat Konsuler KBRI Damaskus Adkhilni M. Sidqi menuturkan, upaya mengeluarkan para TKI dari Aleppo bukan hal mudah. Para TKI itu terlebih dahulu ditempatkan di penampungan KBRI di Aleppo bersama puluhan TKI lainnya. Setelah kondisi dinilai cukup aman, tim dari KBRI membawa rombongan TKI ke Damaskus dengan mobil KBRI dan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. “Mustahil jika menggunakan mobil biasa, karena harus menembus puluhan pos pemeriksaan militer dan menembus reruntuhan kampung yang hancur dan ditinggalkan di tengah gurun,” ujarnya.

Saat ini, KBRI Damaskus masih mengupayakan agar para TKI itu bisa dibawa pulang ke Tanah Air. “Syarat administrasi kepulangan itu banyak. Izin tinggal (iqomah), exit permitt, gaji, tiket dan lain-lain. Untuk Sri saja, dia menunggak izin tinggal sebesar $1.000,” jelasnya.

Sejak 2012, kata Sidqi, KBRI Damaskus sudah memulangkan sekitar 13 ribu TKI. KBRI tidak memiliki data jumlah WNI yang berada di sana. Karena kebanyakan dari mereka masuk secara ilegal. “Kami tidak tahu jumlah pastinya. Karena banyak yang masuk secara ilegal. Pemerintah kita sudah menghentikan pengiriman TKI ke Suriah sejak 2011,” tuturnya.

Untuk menemukan para TKI yang tersebar di Suriah itu, pihaknya terus berupaya menyebar nomor telepon para petugas dari KBRI dan menugaskan para pengacara di wilayah-wilayah Suriah untuk mendampingi para TKI yang ditemukan untuk bisa segera ditarik pulang. KBRI Damaskus saat ini memiliki tiga tempat penampungan di Suriah yakni di Damaskus sendiri, di Lattakia dan Aleppo. “Kami terus berupaya agar para TKI itu bisa segera pulang ke Tanah Air,” tutupnya. (Nurulia Juwita)

Advertisements

Saat Waktu Banyak Terbuang di Perjalanan (KRL Commuter Line)

SAMBIL mengoperasikan gadget di genggaman tangannya, wanita berkemeja biru muda itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Sesekali ia menerima telepon dan berkomunikasi dengan rekan kerjanya untuk meminimalkan rasa bersalahnya karena akan datang terlambat di kantor. “Aduh… ini kereta mau datang jam berapa, sih?! Sudah terlambat naik (kereta) yang depan, ini malah lama banget,” kata Lidya, wanita itu, dengan gusar.

Tidak hanya warga Jombang, Ciputat, itu saja, kala itu ratusan calon penumpang lain sudah mulai menumpuk di peron. Mereka menunggu KRL commuter line menuju Stasiun Tanah Abang. Kereta seharusnya datang 27 menit yang lalu.

Lidya mengeluhkan KRL sering terlambat. Keberangkatan kereta bisa sangat jauh dari prediksi dan jadwal di atas kertas. Untuk menuju lokasi tempat kerjanya di Cideng, Jakpus, ibu dua anak itu menghabiskan waktu 20 menit. Belum lagi, perjalanan mesti disambung dengan kendaraan angkutan umum dari stasiun tujuan. “Ini padahal saya sudah janji dengan klien untuk bertemu di kantor.”

Masalah serupa juga dialami Iwan, 43. Ia terpaksa berangkat beberapa jam lebih awal karena sudah terlalu sering ditegur atasan. Ia mengeluhkan waktunya yang habis di perjalanan karena jadwal kereta penuh ketidakpastian. “Kan malu kalau alasan keretanya telat terus. Takut kena pecat karena perusahaan juga punya aturan,” kata dia.

Iwan mengatakan ketakutan yang menghantui di setiap perjalanan KRL ialah kena sial akibat ada gangguan teknis. Gangguan itu menghambat perjalanan kereta bukan dalam hitungan menit lagi, melainkan sampai beberapa jam. Pernah sekali waktu kereta baru beroperasi setelah hampir 7 jam akibat kerusakan jaringan listrik aliran atas (LAA). “Pernah pemberangkatan ditunda dari pukul 10.30 sampai 17.00. Katanya gara-gara ada gardu yang meledak.”

Lain halnya bagi Yana, 29. Gara-gara kereta sering datang terlambat, ia justru jadi mendapat teman seperjalanan. Rasa jenuh menunggu kereta kerap melahirkan perbincangan antarpenumpang. “Naik kereta itu enak. Jadi banyak teman, soalnya (kedatangan kereta) sering terlambat. Karena sama-sama senasib, jadi gampang akrab,” selorohnya. (DA/J-4)

Tidak hanya bagi penumpang, kereta yang datang terlambat membuat para petugas di stasiun ikut pegal hati karena mereka kerap jadi sasaran pertama kekesalan para penumpang.

Pelayanan masih Terkendala Faktor Alam (KRL Commuter Line)

WAKIL Kepala Stasiun Bogor Herry Susanto mengatakan faktor alam masih menjadi penyebab gangguan di beberapa lintasan KRL commuter line, termasuk di Stasiun Bogor. “Di Bogor, sebagian besar karena alam seperti banjir, air menggenang, dan longsor layaknya kejadian di Cilebut,” paparnya saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Genangan air atau banjir, kata dia, menyebabkan persinyalan tidak berfungsi normal, tapi tidak sampai menyebabkan tertahannya kereta hingga sekian waktu dan membatalkan perjalanan.

Soal gangguan sinyal yang kerap menjadi alasan keterlambatan kereta, menurut dia, hampir tidak pernah terjadi di Bogor. Namun, ia tidak menampik keterlambatan jadwal tetap sering terjadi di Stasiun Bogor. “Kalaupun ada gangguan, kita bisa merespons dan menanganinya. Tidak ada yang sampai menahan kereta. Di Bogor itu hanya terlambat dan itu pun tidak lama,” ungkapnya.

Untuk menjaga kondisi kereta agar tetap prima, perawatan terus dilakukan secara berkala. Di Stasiun Bogor ada tiga unit yang selalu merawat dan memelihara semua peralatan. “Jadwal pemeliharaan ada di setiap unit. Kapan harus ada pergantian dan pemeliharaan.”

Unit-unit tersebut yakni UPT Persinyalan, UPT Listrik Aliran Atas (LAA), dan UPT Jalan dan Jembatan. “Semua itu ada kaitannya dengan sinyal di unit persinyalan. LAA semua mengenai jaringan listrik di atas KA, pembangkit listrik sesuai dengan jalan. UPT Jalan dan Jembatan di antaranya menangani soal pergeseran rel,” paparnya.

Meski satu sama lain saling terkait dan terintegrasi, masing-masing memiliki jadwal perawatan sendiri. Kepala UPT Persinyalan Warisman mengungkapkan ada mekanisme sendiri-sendiri. Ada perawatan yang dilakukan harian, ada pula yang dilakukan per minggu atau bulanan. “Tidak bisa secara detail karena terlalu teknis dan penyakit dari gangguan itu berbeda-beda.”

Herry menambahkan terdapat beberapa kegiatan atau program yang sudah, tengah, dan akan dilakukan di Stasiun Bogor. Dia menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan ialah pengalihan lahan parkir, pembangunan area publik, pengadaan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 100 x 20 meter, serta pembangunan double decker dan fasilitas penumpang. Adapun kegiatan yang akan dilakukan ialah pemindahan loket. “Loket akan direlokasi untuk memperlancar penumpang. Kalau tidak direkayasa, arus penumpang semerawut,” pungkasnya. (DD/J-4)

Tidak Cukup Menambah Jadwal (KRL Commuter Line)

POHON yang tumbang di Stasiun Universitas Indonesia, Sabtu (31/1), bukan menjadi satu-satunya peristiwa yang menyebabkan kedatangan kereta rel listrik (KRL) terlambat. Masalah ketepatan waktu masih menjadi persoalan utama bagi transportasi tersebut. Penambahan jadwal perjalanan KRL yang dilakukan awal Desember lalu nyatanya tidak berbanding lurus dengan perbaikan akurasi jadwal keberangkatan KRL.

Kamis (29/1), misalnya, hujan deras yang mengguyur Bogor hingga sebagian wilayah Jakarta yang dilalui KRL menyebabkan gangguan sinyal. Akibatnya, perjalanan kereta Bogor-Jakarta tertahan hampir 1 jam. Penumpukan penumpang pun terjadi.Tidak hanya itu, setiap hari para pelaju kereta kerap dipaksa memaklumi jadwal keberangkatan kereta yang banyak meleset.

“Yang paling banyak dikeluhkan penumpang ialah keterlambatan kereta. Itu bisa saja macam-macam alasannya. Bisa karena kereta mogok, gangguan sinyal, atau entah apa lagi,” ujar koordinator Komunitas Pecinta Kereta Api Jabodetabek KRL Mania, Nurcahyo, di Jakarta, Jumat (30/1).

Cahyo, yang saban hari memakai jasa kereta api rute Depok-Cawang, mengeluhkan jadwal KRL yang kerap meleset membuat waktu para pengguna kereta banyak terbuang untuk menunggu kereta. Dari data yang mereka pelajari, di Stasiun Jatinegara, misalnya, kemacetan terjadi karena ada pertemuan antara kereta yang keluar atau masuk dari dan ke Jawa. “Nah biasanya kalau sudah begini KRL mengalah dan harus menunggu bisa sampai 20 menit. Kan repot kalau pas berangkat kerja harus macet seperti ini.”

Masalah gangguan sinyal atau kereta mogok, lanjut dia, sering terjadi di Stasiun Manggarai, UI, Jatinegara, Kampung Bandan, Depok, dan Citayam. Ia menegaskan pihak KAI harus mencari solusi agar masalah-masalah seperti itu bisa segera diatasi. Perjalanan dengan menggunakan KRL, kata dia, seharusnya bisa lebih efektif.

Infrastruktur rel

Mulai kemarin, KRL commuter line kembali menambah jadwal keberangkatan untuk memperbaiki layanan penumpang. Rute yang baru ditambahkan ialah Depok-Jakarta Kota, Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Jatinegara, Jatinegara-Depok, dan sisanya rute Jakarta Kota-Bogor. Namun, penambahan jadwal kereta tersebut seharusnya diiringi dengan pembenahan infrastruktur rel.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunnisa mengakui persoalan keterlambatan kereta itu terjadi karena tidak seimbangnya infrastruktur rel dengan jumlah perjalanan kereta selama ini. “Masyarakat lupa bagaimana rel-rel kita itu tidak hanya dilalui KRL saja, tetapi juga kereta barang sampai kereta penumpang ke luar Jabodetabek,” ujarnya.

Menurut dia, dengan lalu lintas kereta yang banyak, ditambah dengan pelintasan yang sama untuk kereta barang dan kereta luar dan itu sering terjadi saat ‘peak hour’, antrean perjalanan kereta tidak bisa dihindarkan lagi. Ia menjelaskan, untuk KRL Jabodetabek saja, jumlah perjalanan awal 2014 sebanyak 560. Hal itu bertambah sepanjang 2014 di saat KRL Jabodetabek menambah jumlah perjalanannya sebanyak 751. “Padahal, jumlah rel tidak bertambah,” jelas Eva.

Ia menambahkan pihaknya bukan tidak memikirkan jalan keluar dari keterbatasan infrastruktur tersebut. Saat ini pemerintah sudah mulai memikirkan pembangunan rel ganda.

Sementara itu, Senior Manager Corporate Communication of PT KAI Daop 1 Jakarta Bambang Prayitno menambahkan, selain masalah infrastruktur, adanya gangguan sinyal menjadi masalah yang juga dihadapi. “Kalau soal sinyal itu temporer saja, sangat tergantung cuaca. Intinya, kalau ada masalah, segera kita atasi dan sekarang relatif lebih baik,” jelas Bambang. (Ths/J-4)

Melengkapi Dagangan, Menadah dari Pemilik

BUKU murah yang dijual di basement Blok M Plaza ini di antaranya merupakan buku bekas, termasuk buku-buku langka. Pedagang sendiri memiliki pemasok tetap yang menjual buku jenis ini. Salah satu pedagang buku bekas, Andika, mengaku mengkhususkan menjual buku bekas untuk kalangan mahasiswa dengan harga pas kisaran Rp10 ribu. Buku-buku bekas jenis ini menurutnya didapatkan dari para pemilik buku yang segaja menjual kepadanya. “Kalau buku bekas ini, ada pemilik buku yang sudah langganan ke saya. Mereka jual dan saya beli,” ungkapnya.

Dia menerangkan, meskipun buku tersebut bekas, kondisinya masih layak pakai dan sangat dicari mahasiswa-mahasiswa untuk kepentingan kuliah. “Karena untuk mahasiswa kan yang penting isinya bisa dibaca sesuai kebutuhan dan harganya murah.”

Meski buku yang dijajakannya bukan buku baru, Andika memiliki standar untuk kualitas buku-buku yang dijualnya. Karena, kata dia, pembeli juga enggan membeli buku yang halamannya tidak lengkap atau kertasnya sudah dimakan tikus. “Kita lihat kondisinya dulu, kalau masih bagus ada cover yang masih utuh, kondisi kertasnya masih baik, dan tidak banyak coretan, baru kita beli,” jelas Andika.

Selain buku pelajaran, Andika juga menyediakan beberapa buku langka. Hanya saja buku langka yang dipajang tidak selengkap buku-buku pelajaran. Untuk buku-buku langka tertentu, para pembeli harus memesan terlebih dahulu buku yang mereka inginkan. Para penjual biasanya mencari dulu buku yang dipesan tersebut. “Kalau ada yang pesan baru deh kita carikan bukunya. Dan, biasanya buku itu dijual sama pemiliknya,” terangnya.

Untuk harga beli buku langka sendiri, tergantung dari judul dan seberapa langka buku tersebut. Adapun, untuk harga jualnya tentunya tidak bisa disamakan dengan buku bekas yang paling rendah dijualnya Rp10 ribu. Semakin langka, semakin mahal bukunya. Terutama untuk buku-buku yang penulisnya sempat dilarang menulis di Indonesia. Buku langka ini dijual dengan harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Ia mencontohkan buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dipajangnya. Andika menjual dengan harga Rp350 ribu. “Kalau buku langka tergantung jenis bukunya apa dulu. Harga bisa disesuaikan,” tandasnya.

Untuk buku-buku bajakan, Sony, pedagang lainnya, mengaku mendapatkan buku dari daerah Bandung. “Kalau yang begini, kami langsung dapat dari Ban-dung. Mereka yang antar ke kami,” kata Sony. (Nel/J-4)

Banyak Peminat, Novel Populer Jadi Sasaran para Pembajak

BUKU dengan harga yang murah menjadi nilai tersendiri tidak hanya bagi para pecinta buku, melainkan juga bagi para pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan buku-buku untuk menunjang pembelajaran yang diikuti mereka. Tidak semua orang menyukai buku-buku bekas yang kondisinya sudah tidak sempurna. Ada pula yang menginginkan buku-buku masih mulus, licin, tetapi dengan harga semurah-murahnya. Bagi para pembeli buku tipe ini, harus berhati-hati, karena mungkin saja buku yang dibeli adalah buku bajakan.

Salah satu pedagang buku di Blok M Square Sony mengaku, di samping menjual buku-buku asli dirinya juga menjual buku bajakan. Buku bajakan yang dijual ini biasanya novel-novel populer, dan buku-buku materi kuliah yang banyak dicari mahasiswa. Karena peminatnya banyak, Soni selalu memenuhi stok barang dagangannya dengan buku-buku bajakan ini. “Ada yang bajakan, seperti buku kuliah buat mahasiswa. Itu banyak dicari mahasiswa,” ujarnya.

Misalnya saja buku mengenai pengantar ekonomi dan manajemen terbitan indeks dijual dengan harga Rp40 ribu. Padahal harga buku asli tersebut sekitar Rp75 ribu. Meski sudah dijual murah, para pembeli bisa menawar dengan harga yang lebih murah lagi. “Masih bisa ditawar sampai harga paling rendah Rp25 ribu,” terangnya.

Contoh lainnya, untuk rangkaian novel karya Harlequin dijualnya di kisaran Rp15 ribu-Rp20 ribu dari harga novel aslinya, Rp40 ribu. Sementara untuk seri Twilight dijual di kisaran Rp60 ribu-Rp75 ribu dari harga aslinya, Rp110 ribu.

Pandasurya, seorang pelanggan buku di BMS mengatakan para pembeli memang harus berhati-hati dan jeli melihat buku bajakan. Kebanyakan penjual tidak mengungkapkan asli tidaknya buku kepada para pembelinya. “Pembeli yang harus jeli. Sebab, penjual tidak akan mengaku kalau mereka jual buku bajakan,” ungkapnya.

Sebagai penggemar buku, ia memiliki kiat khusus untuk membedakan buku asli dan bajakan. Yang harus dilihat pertama kali, kata dia, adalah sampul dan kemasan buku yang akan dibeli. “Biasanya sampul buku bajakan warnanya jauh lebih pudar dibandingkan sampul asli yang sangat jelas dan terang,” jelasnya.

Perbedaan lain yang bisa dilihat adalah jenis kertas dan kualitas jilid buku. Halaman dari buku bajakan biasanya lebih mudah terlepas karena dijilid seadanya. “Pilihannya ada di pembeli, dia harus cek langsung pas dia beli. Setelah itu dia yang tentukan tetap beli buku bajakan atau beli yang asli,” tutupnya. (Nel/J-4)

Berburu yang Murah di BMS

PULUHAN lapak penjual buku yang ada di Blok M Square (BMS), Jakarta Selatan, menjadi muara pertemuan para penggemar buku. Tempat itu menjadi alternatif untuk berburu beragam buku yang dibutuhkan. Karena dijual dengan harga lebih murah jika dibandingkan dengan harga di toko buku, kebanyakan buku tersebut ialah buku-buku bekas. Winson, seorang mahasiswa universitas swasta di Jakarta, menjadi salah satu pelanggan yang kerap berbelanja buku di sana. Penggemar komik itu sering mencari buku-buku komik bekas untuk melengkapi koleksinya.

“Kalau lagi belanja, saya bisa beli sepuluhan buku ataupun komik karena di sini murah,” ujarnya kepada Media Indonesia, saat sedang memilih buku di sebuah kios, kemarin. Puluhan pedagang buku bekas itu menempati kios di area blok A, basement BMS.

Para pedagang tersebut merupakan pedagang yang dulu berjualan buku murah di daerah Kwitang. Pada 2008, mereka digusur dari Kwitang. “Setelah digusur, kami sempat berjualan di Thamrin City selama setahun, kemudian 2009 baru menempati kios di sini,” kata Putra, salah seorang pemilik kios buku.

Kios-kios para pedagang itu relatif nyaman bagi para penjelajah buku. Karena letaknya yang berada di basement membuat mereka tidak khawatir akan panas dan hujan. Ruangan itu juga dilengkapi pendingin ruangan yang mengusir pengap. Namun, berbeda dengan di toko buku yang memiliki rak-rak rapi, para pedagang buku di BMS hanya memajang buku sekadarnya. Buku-buku lebih banyak diletakkan di atas sebuah meja dan ditumpuk-tumpuk seadanya. Karena kebanyakan buku yang dijual ialah buku bekas, para pemburu buku harus teliti memilih buku yang diinginkan dengan mengecek kondisi buku.

Tempat itu bisa dikata surga bagi para pemburu dan penggemar buku karena hampir semua jenis buku ada di situ, mulai buku-buku pelajaran, buku cerita anak-anak, novel remaja, dewasa, pop, sejarah, sastra, filsafat, sosial, budaya, hukum, ekonomi , politik, hingga kedokteran. Majalah dan buku-buku berbahasa inggris dan bahasa asing lainnya juga ada di sini.

Harga buku pun bervariasi, mulai buku-buku lama dengan harga Rp5.000, Rp10 ribu, Rp20 ribu, bahkan hingga Rp700 ribu untuk buku berseri seperti ensiklopedia. Ada pula buku-buku yang harganya bisa sampai setengah dari harga buku di toko-toko buku besar.

Lokasi strategis

Lokasi kios buku di BMS yang dekat dengan Terminal Blok M terbilang strategis. Kios buku yang kebanyakan buka sejak siang itu beroperasi hingga pukul 19.00 WIB. Kios buku BMS kerap menjadi tempat singgah para pengguna kendaraan umum di Terminal Blok M. Ada yang membeli satu dua buku, ada pula yang hanya cuci mata melihat buku-buku yang dijajakan. “Karena adanya terminal jadi orang-orang yang turun dan naik bus di terminal sering ke sini, dan memang ini lokasi strategis,” kata Putra.

Dalam sehari, para pedagang tersebut bisa mendapat omzet Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Pedagang lainnya, Rahmat, menuturkan berbeda dengan di toko buku, para penjual di BMS tidak memberi harga pas terhadap buku-buku yang mereka jual. Para pembeli harus pintar-pintar menawar harga dengan para pedagang. “Kita buka harga terendah Rp35 ribu sampai Rp50 ribu ke atas, tapi masih bisa ditawar sampai harga paling rendah,” terangnya.

Tidak mau kalah dengan toko buku terkenal, para penjual buku di BMS juga memberi diskon untuk buku-buku tertentu. Mereka berharap diskon yang mereka tawarkan bisa lebih menarik minat pembeli. “Di sini ada diskon untuk buku asli seperti buku-buku pelajaran. Makanya kalau pelajar lebih suka beli di sini,” kata Rahmat. (Nel/J-4)